
Rey memukul keras meja kerjanya dengan kepalan tangan yang kuat. Matanya menatap tajam foto ia dan Renata saat masih berhubungan. Foto itu sudah ia buang kenapa bisa ada di meja kerjanya lagi dan terpa.pang jelas membuat runyam saja.
Bingkai foto itu di ambil dengan kasar lalu di buka dan di robek gambar foto Rey dan Renata yang tak lagi berguna itu. Kemudian di buang ke dalam tong sampah.
"Argh ...." tetiak Rey keras sambil mengacak rambutnya dengan kasar. Gara -gara foto itu, hubungannya dengan Clara jadi memburuk kembali.
Kesalahpahaman berujung kekecewaan dan rasa sakit hati berkepanjangan.
Rey mengambil handuk kering dan menunggu Clara keluar dari dalam kamar mandi. Tadi terdengar suara air dari shower di nyalakan. Mungkin Clara sedang mandi.
Lima menit ...
Sepuluh menit ...
Lima belas menit ...
Dua puluh menit ...
Rey semakin cemas. Bukan itu saja, kedua kakinya juga mulai terasa pegal berdiri di depan pintu kamar mandi untuk menunggu belahan jiwanya keluar.
Jantung Rey semakin berdegup keras dan kencang. Rasanya semakin tak karuan. Pikirannya kembali buruk mengingat film -film action di televisi. Bisa jadi Clara bunuh diri atau melarikan diri melalui atap plafon. Atau ia terkulai lemas di lantai karena terlalu lama menangis.
Rey semakin panik dan mengetuk pintu kamar mandi itu dengan ketukan yang sangat keras.
Tok ... tok ... tok ...
"Clara!! Clara!! Kamu dengar suara saya? Buka pintunya Clara!!" teriak Rey dengan suara keras.
Clara tetap diam di dalam kamar mandi. Ia malah bernyanyi dan duduk di atas kloset yang tertutup.
Semua keran air memang di nyalakan oleh Clara agar Rey tak mendengar suara Clara yang cukup cempreng dan tak sesuai nada.
Rasa kecewa itu sudah menjalar di tubuh Clara. Seluruh nadinya juga meradakan sakit hati yang begitu dalam. Air matanya terus luruh turun dengan derasnya ke arah pipi dan leher.
Clara terus melafalkan syair lagu, "Bantu aku membencimu ... selepas kau pergi ... hu ... hu ... Aku bukan wonder woman mu yang bisa ... em bisa apa ya? Ah ... ganti ... Aku ini pasanganmu bukan selinganmu ... bebaskan diriku ...."
Rasanya benar -benar sesak sekali. Nasib pengantin baru yang di nikahi karena ada apanya bukan apa adanya.
"Hah!!" teriak Clara kesal. Clara ingin menenangkan hatinya dengan berteriak keras. Mungkin saja rasanya jadi lebih tenang.
Rey sudah tak tahan lagi ingin melihat keadaan Clara di dalam. Pikirannya benar -benar buruk dan semakin kacau.
Dengan satu pukulan dan tendangan maut, pintu kamar mandi itu terbuka lebar.
Brak!!
Clara sama sekali tak mendengar dan pura -pura tuli. Kedua kakinya di angkat dan di peluk erat hingga dengkulnya menempel pada dadanya.
"Clara?" panggil Rey lirih sambil membawa handuk kering untuk di berikan kepada Clara.
Benar saja, tubuh Clara memang basah. Ia sempat terguyur air dari shower yang mengucur tepat mengenai kepalanya.
"Clara!!" suara Rey makin keras. Namun Clara juga makin keras berteriak sambil menangis.
Rey menghampiri Clara yang memejamkan kedua matanya dan menyenderkan kepalanya di badan kloset. Handuk kering itu di rentangkan dan menutup tubuh Clara yang basah dan masih tertutup oleh pakaian yang di pakainya.
Rey berjongkok di depan Clara yang sama sekali tak peduli.
"Clara? Dengarkan saya dulu. Kamu jangan salah paham seperti ini. Ijinkan saya menjelaskannya," ucap Rey lirih sambil.memegang kedua tangan Clara yang memeluk kedua kakinya.
Clara tetap diam dan tak membuka kedua matanya. Bibirnya terus mengeluarkan syair lagu yang ia ciptakan sendiri bersama dengan nada cemprengnya.
"Clara? Apa kamu ingin tetap mendiamkan saya? Kamu ingin kita terus salah paham? Saya ini suami kamu? Tolong hargai," ucap Rey dengan nada memohon.
__ADS_1
Tangan Clara terus di genggam dan di usap pelan oleh Rey agar Clara tahi kehadiran Rey yang sedang meminta maaf atas kejadian baru saja.
Kedua mata Clara membuka lebar. Tatapan matanya lekat pada dua bola mata Rey. Tatapan itu datar dan sama sekali tak ada rasa yang bernyawa seperti biasanya. Celotehan dan kekonyolan mereka tak nampak. Semua terkesan serius.
"Apa Pak? Tadi Bapak bilang apa? Coba ulangi?" tanya Clara menyindir.
"Saya tidak ingin terus menerus salah paham," ucap Rey lirih sambil menggengam tangan Clara.
Clara tersenyum kecut dan terus menatap Rey dengan senyum mengejek.
"Salah paham? Salah paham itu sekali!! Berbuat salah itu sekali!! Tidak sengaja itu sekali!! Kalau yang Bapak lakukan berkali -kali itu namanya apa? Perlu Clara jawab atau Bapak bisa menjawabnya sendiri? Bapak kan dosen. Pasti bisa menjawab dong?" ejek Clara mulai kesal dengan sikap Rey yang sama sekali tak bisa tegas dalam hubungan ini.
"Maafkan saya, Clara," lirih Rey berucap.
"Hah?! Maaf? Uh ... Gampang banget ngomongnya. Clara aja ACC bab satu harus satu semester. Ini minta maaf atas kesalahn fatal minta di maafkan dalam.hitungan menit? Maaf Pak, hati saya itu bukan halte yang drngan mudah Bapak datang pergi sesuka hati Bapak dan ujung -ujungnya cuma bilang. Maaf. Oh ... amazing sekali," nyinyir Clara kelada Rey.
Clara melepas paksa genggaman tangan Rey dari tangannya. Kemudian ia berdiri dan melepas handuk yang di berikan oleh Rey. Rey masih bersimpuh dan menatap Clara dengan tatapan sendu. Clara berjalan menuju dalam kamar untuk mengganti pakaiannya.
Langkah Clara di hentikan lalu berucap, "Hati Clara lembut pakai perasaan bukan tiang listrik yang terbuat dari besi dan terus kokoh walaupun dinterpa badai sekali pun. Satu hal lagi, kalau Bapak masih mau jalan sama Renata, silahkan. Bebas."
Rey hanya menatap Clara dengan tatapan bingung. Susah juga menjelaskan semua ini pada Clara yang sudah hanyut dalam emosi.
Skip ...
Malam ini, Clara tidak ikut turun untuk makan malam bersama. Tadi Bunda Silva sempat menengok Clara yang hanya tiduran di kasur saja.
"Kamu kenapa Clara?" tanya Bunda Silva yang sengaja datang membawakan teh manis panas dengan bubur sop ayam khusus untuk Clara.
Clara mencoba tetap bisa tersenyum di depan Bunda Silva. Permasalahannya dengan Rey bukan dengan keluarga besar Rey.
Bunda Silva langsung duduk di tepi ranjang dan memegang kening Clara. Seolah ingin memastikan apakah Clara yang beralasan sakit itu memang sakit atau ada hal lain.
"Cuma gak enak badan aja, Bun. Maaf kalau gak ikut makan malam," ucap Clara berpura -pura sedih. Wajah Clara di tampakkan menyesal dan agak kesakitan. Untung saja sewaktu SMA, Clara pernah mengukuti eksteakurikuker theater. Setidaknya soal urusan mimik wajah, Clara bisa ikut memainkan perannya.
"Mau Bunda suapin?" tanya Bunda Silva denagn suara lembut.
"Ya sudah. Bunda ke bawah dulu ya. Mau temani Ayah makan malam. Bisa ngambek kalau gak di temani," ucap Bunda Silva.
"Iya Bunda," jawab Clara lirih.
Bunda Silva keluar kamar Clara dan Rey lalu turun berkumpul lagi di meja makan untuk makan malam.
"Hemmm ... Kemana si manja itu?" tanya Desy sambil memotong daging sapi untuk menjadi teman nasi putihnya masuk ke dalam mulutnya dan di kunyah bersamaan.
"Namanya Clara, Kak Desy. Bukan si manja, Clara gak manja," tegas Rey kesal.
Bunda Silva baru saja duduk dan tepat di samping Ayah David. Senyumnya lebar dan terlihat sangat bahagia sekali.
"Sama aja. Baru pindah itu gak usah sok -sokan minta di layani kayak ratu aja. Ini rumah mertua woy, bukan hotel," ucap Kak Desy makin kesal berteriak.
"Desy sudah. Clara itu lagi gak enak badan. Sepertinya sedang berbadan dua?" ucap Bunda Silva menerka.
Rey menatap Bunda Silva dan meletakkan alat makannya di atas piring lalu memelankan kunyahan makanan di mulutnya.
"Bunda serius? Clara hamil?" tanya Rey pelan kepada Bunda Silva untuk memastikan.
Bunda Silva mendongakkan wajahnya dan tertawa.
"Mana Bunda tahu. Clara itu istri kamu
Coba kamu cek saja. Bunda hanya menerka saja," jawab Bunda santai.
Rey mengangguk kecil dan mulai menghabiskan makan malamnya. Tadi, Rey sudah membujuk Clara untuk turun dan makan malam bersama tapi gadis itu tetap diam seribu bahasa. Dia tidak mau bicara tentang apapun kepada Rey. Tingkat kecewa dan rasa sakit hatinya sudah akut dan kepalang besae sekali.
__ADS_1
Desy memutar kedua bola matanya malas dan menatap Renata sambil tersenyum licik.
"Wah ... bakal ada suara tangis bayi lagi ini," ucap Ayah David tertawa.
Rey menatap ke arah Ayah David yang sedang menikmati ayam panggang buatan Bunda Silva. Rasanya meresap sampai ke dalam tulangnya yang enak untuk di hisap.
"Kenapa sampai harus tertawa Yah? Kan cuma suara bayi. Itu sudah biasa. Dulu bayi Kak Desy, baby Al dan dan baby Ara juga biasa saja suara tangisannya gak ada yang berbeda," tanya Rey bingung. Tatapannya tetap lekat ke arah Ayah David sambil meminta jawaban.
"Ya ada dong. Bagi Ayah ada yangg lucu. Iya gak Bun," ucap Ayah David terkekeh samnil mengedipkan satu matanya kepada Bunda Silva.
"Gak usah di dengarkan Rey. Suara bayi itu kan memang begitu seperti itu. Ayah kamu itu terlalu tinggi menghalunya," ucap Bunda Silva.
"Eitss ... Bagi Ayah, ada bayi itu menyenangkan. Suaranya lucunya itu lho," tawa Ayah David pecah seketika. Jiwa candaan recehnya kembali lagi.
"Paling juga seneng kalau ada bayi karena Ayah bebas 'ngelempengin burung' suaranya bisa bersahut -sahutan sama bayi menangis jadi gak kedengaran. Gitu kan?" ucap Desy malah menjelaskan dengan jelas.
Ha ... ha ... ha ... Ayah David tertawa keras dan hampir saja tersedak. Untung saja Bunda Silva gerak cepat memberikan air putih di dalam gelas. Kalau terlambat dikit bisa - bisa bakalan ada acara tahlilan besok malam. Kan gak lucu kalau baca berita, "Seorang Ayah mati tersedak di meja makan gara -gara membahas burung." Benar -benar tidak ada akhlak pemikirannya.
Renata hanya mengulum senyum dan menatap Desy. Mereka berdua memang satu frekuensi.
"Untung Ayah sendiri. Kalau gak udah ikut tertawa Rey. Kalau Ayah sendiri mau tertawa masih mikir, takut dosa," ucap Rey pelan dan menyudahi makan malamnya.
Rey sudah berdiri dan akan meninggalkan meja makan menuju ke lantai atas.
"Rey ... mau kemana?" tanya Renata pelan memanggil.
"Nemenin Clara," jawab Rey ketus.
"Rena mau tanya soal statistik. Bisa bantu?" tanya Rena pelan.
"Nanti saja. Clara sedang sakit," ucap Rey santai.
"Hemm ... Jadi istri kok sukanya cari perhatian. Mandiri dikit dong," ucap Desy dengan rasa tak suka.
"Desy!! Clara itu sudah jadi bagian dari keluarga kita. Dia sekarang sudaj menjadi aduk ipar kamu!! Gak boleh bicara begitu," tegas Bunda Silva kepada Desy.
"Bunda tuh selalu belain Clara saja. Desy ini anakn Bunda," teriak Desy kesal dan menyudahi makan malamnya.
Rey hanya mengegelngkan kepalanya pelan. Desy juga pergi dari sana menuju kamarnya. Lalu Renata? Ia bingung harus berbuat apa? Ia masih duduk diam menyelesaikan makan malamnya.
"Kamu mau pulang jam berapa Rena?" tanya Bunda Silva begitu menohok Rena hingga Rena tak bisa menjawab spontan.
"Ekhemm ... Mungkin setelah makan malam ini, Bun," jawab Rena lirih.
"Ya. Bagus. Anak gaids gak boleh main sampai malam. Lagi pula, kamu jangan terlalu sering ke rumah ini. Kalau ada urusan sama Rey untuk masalah kampus bisa kamu tanyakan di kampus. Bukan Bunda mau menggurui. Tapi, Rey itu sudah memiliki istri. Jangan sampai kedatangan kamu ke sini iru malah menimbulkan masalah. Paham kan maksud Bunda? Kita sama -sama perempuan," ucap Bunda menasehati. Tapi cukup menegna di hati.
"Tapi ... Rena kan ke sini bukan hanya ingin ketemu Rey saja, Bunda. Tapi ketemu Kak Desy, Ara dan Al. Mereka sudah Rena anggap adik -adik Rena," ucap Rena pelan.
"Tapi sekarang semuanya sudah berubah. Ada Clara yang harus kami jaga perasaannya. Karena kamu dan Rey pernah punya hubungan," ucap Bunda Silva pelan.
Renata hanya mengangguk pasrah. Baru kali ini ia di nasehati begitu mengena di hatinya.
Skip ...
Ceklek ...
Pintu kamar sudah terbuka dan di tutup lagi oleh Rey. Kedua mata Rey tertuju pada satu mangkuk bubur yang masih utuh dan saru gelas teh manis panas yang juga masih penuh.
Rey menghampiri Clara yang sudah memejamkan kedua matanya. Entah memang sudah tertidur pulas atau memang masih tidak ingin melihat Rey.
Rey duduk di tepi ranjang dan mengusap kepala Clara lembut dan di kecup kening Clara lembut.
"Saya sudah melupakan masa lalu saya. Saya hanya ingin dalam kehidupan saya hanya ada kamu saja. Maafkan saya, jika masa lalu saya membuag kamu kecewa. Tapi saya akan membuktikan kalau saya dan masa lalu saya memang sudah tidak ada keterkaitan. Saya sayang sama kamu, Ra," ucap Rey lirih.
__ADS_1
Laki -laki pendiam, cuek dan dingin itu lebih mudah melepaskan seseorang, walaupun mereka sudah lama berhubungan. Apalagi ada hal yang memnag membuatnya kecewa. Sudah tak ada lagi maaf dan ampun serta kesempatan lagi.
Jika seorang laki -laki sudah berani melangkah lebih serius dengan seorang perempuan, itu tandanya ia mulai menata hatinya untuk menjadikan wanita itu sebagai satu -satunya wanita di hatinya.