PAK DOSEN, I LOVE YOU

PAK DOSEN, I LOVE YOU
91


__ADS_3

Ya, Wanita yang selalu tampil cantik dan menarik pada masanya karena sering menjadi sorotan dan pusat perhatian bahkan sampai saat ini. Renata melangkahkan kakinya dengan begitu mantap saat memasuki rumah baru milik Arga dan Nita. Renata memnag memiliki undangan khusus dari Arga agar datang ke rumahnya. Tentu, undangan ini sudah di koordinasikan pada Rey yang memberikan wewenang besar pada Arga untuk mengundang tamu siapapun pada acara syukuran atas kehamilan istrinya, Nita.


"Ta? Kamu ngundang dia? Ulet bulu?" tanya Clara Kesal.


Nita mengangkat bahunya pelan.


"Aku gak tahu Ra. Serius!! Aku benar -benar gak tahu ada undangan untuk Renata," ucap Nita yang semakin bingung. Jelas, ia kan yang memasukkan undangan dan menempelkan nama -nama undangan sesuai daftar list yang sudah mereka sepakati, tapi kenapa ada uler keket masuk juga dalam acaranya.


"Bohong aja kalau kamu gak tahu. Males tahu lihatnya. Jujur, aku masih kecewa saat setelah menikah dan di ajak ke rumah Bunda Silva, bayangin aja, ada foto Renata berdua sama Mas Rey dimeja kerjanya. Kira- kira gimana perasaan aku? Walaupun pernikahan aku sama Mas Rey karena kesalahan satu malam," jelas Clara dengan menggebu -gebu.


Nita menoleh ke arah Clara yang terlihat berapi -api.


"Kamu cemburu Ra?" tanya Nita menggoda Clara.


Clara menoleh ke arah Nita.


"Aku gak cemburu cuma kesel dong, Ra. Gimana sih rasanya. Kita menikah dengan seseoarng yang belum bisa melupakan masa lalunya," ucap Clara kesal.


"Iya itu namanya cemburu kaleee ... Ya, kamu jangan kalah dong sama Renata. Tunjukkin, kalau kamu itu punya nilai lebih dari Renata, makanya Pak Rey itu lebih memilih kamu, bukannya kamu malah menggerutu gak jelas kayak gini. Gak ada gunanya kamu mengumpat di belakang Renata, toh dia gak tahu," ucap Nita mencoba memberi saran.


"Cihhh ... Kamu tuh, sahabat macam apa? Seharusnya kan, kamu itu membela aku, ini kok kesannya malah membela si uler keket sih," ucap Clara ketus.


Clara mencoba menenangkan hatinya yang sudan mulai panas karena api cemburu. Hah? Clara cemburu? Sudah jelas ini rasa cemburu yang berlebihan. Itu tandanya Clara mulai takut kehilangan Rey. suaminya.


Tubuh Clara medadak mulas dan duduk brsndar pada sofa yang ia duduki sejak tadi.


Renata berjalan masuk ke dalam rumah dan menghampiri, ketiga lelaki yang ternyata sudah ia kenal lama. Perutnya yang terlihat membuncit karena kehamilannya.


Nita menggenggam tangan Clara dan mengusap punggung tangan sahabatnya dengan lembut.


"Kamu tahu, Pak Rey itu sudah gak pernah peduli lagi sama Renata. Padahal Renata itu masih berusaha keras kembali denagn Pak Rey," ucap Nita jujur.


"Kamu tahu sesuatu?" tanay Clara melotot ke arah Nita.


"Gak juga sih. Cuma waktu itu, Pak Arga sempat cerita, kalau ia di datangi oleh Renata yang ingin bertemu Rey. Renata itu malu datang ke kampus kamu, secara perutnya itu buncit karena dosennya sendiri, dan dosennya gak mau tanggung jawab. Kamu? Rey bahkan mau tanggung jawab dan menikahi kamu segera. Jadi, menurut aku, kalau masih ada hal yang tertinggal dari masa lalunya, ya, kamu jangan kayak anak kecil dong. Takutnya Pak Rey malah ilfil sama kamu, Ra," ucap Nita pada Clara.


"Au ah. Males jawabnya," jawab Clara pelan.


Arga melambaikan tangan pada Nita dan Nita mengangguk dengan senyuman. Ia berpamitan pada Clara untuk menghampiri Arga yang memanggilnya.


"Aku kesana bentar ya, Ra. Pak Arganya manggil. Kamu jangan kemana -mana," titah Nita yang bergegas berdiri dan berjalan menuju tempat Arga berdiri.

__ADS_1


"Ekhemm Ta ..." panggil Clara pelan.


"Kamar mandi dimana?" tanya Clara pelan.


"Itu di sana," jawab Nita spontan memberitahu.


"Oke. Makasih ya. Mau pipis," ucap Clara pada Nita.


Clara hanya melihat dari kejauhan. Posisinya kini sudah berpindah ke arah kamar mandi dan masih menatap ke arah lima orang yang sedang bercengkerama. Renata memang terlihat sangat friendly sekali dan begitu perhatian pada Rey. Kedua matanay tidak lepas mengekor gerak gerik Rey yang terlihat bersemangat sedang menceritakan sesuatu hingga lelaki itu lupa keberadaan Clara yang sudahtak lagi berda di sofa di bawah anak tangga.


'Bisa -bisanya lupa sama Clara. Kalau sudah kumpul sama teman dan mantan malah di cuekin. Nyebelin!! Dasar lelaki gak peka!!' kesal Clara yang sudah masuk ke dalam kamar mandi di dekat taman samping. Kamar mandi itu memang di peruntukkan untuk tamu.


Rasanya ingin berteriak keras di dalam kamar mandi itu. Melihat kedatangan Renata yang memukau dan membuat beberapa para tamu undangan khususnya kaum adam menatap ke arah Renata.


Melihat Renata yang datang terus menyalami Rey dan mencium pipi kiri dan kanan.


'Gila!! Dasar dosen mesum!!' kesal Clara.


ceklek ...


Clara membuka pintu kamar mandi dan akan keluar dari kamar mandi itu.


Clara yang dari tadi menunduk langsung mengangkat wajahnya menatap Rey yang menyodorkan tissue kering padanya.


"Kenapa sih? Harus pergi dari tempat itu, dan mengurung diri di kamar mandi. Mas cari kamu dari tadi," ucap Rey pelan sambil mengusap sisa air mata di pipi Clara.


Clara hanya diam tak menjawab pertanyaan Rey.


"Kamu cemburu? Dengan kedatangan Renata? Hemmm?" tanay Rey pelan.


Clara mengangguk kecil. Ia memang cemburu.


Rey tertawa menatap wajah polos dan jujur Clara yang mengangguk pasrah.


"Kenapa harus cemburu sih?" tanya Rey pelan mengangkat dagu Clara.


Bibir Clara mengerucut dan menatap kesal ke arah Rey.


"Emangnya cemburu bisa di tunda? Atau bisa gak jadi? Cemburu kan cemburu aja, tiba -tiba hatinya panas, kesel, emosi, iya kan?" ucap Clara mengungkap emosinya dnegan kesal.


"Ya seharusnya di tunda atau bahkan di buang. Buat apa cemburu? Kalau sebenarnya malah membuat kamu stres begini," ucap Rey santai.

__ADS_1


"Pinter ya? Masih bisa ngasih alasan yang aneh dan gak masuk akal!! Mas, ini hati punya perasaan bukan tiang PLN, terbuat dari besi dan kuat anti karat," ucap Clara kesal.


Clara sudah malas bicara dengan suaminya. Ia memilih keluar ke arah taman samping dan berjalan melipir ke menuju depan.


Rey berbalik ke arah teman -temannya dan berpamitan. Paling susah kalau istrinya sudah merajuk seperti ini.


"Sorry, aku balik duluan ya. Ada insiden kecil," ucap Rey pelan.


"Gak apa -apa Rey. Santai aja. Terima kasih sudah datang. Giliran kamu kapan nih? Syukuran atas penikahan?" tanya Arga pelan.


"Aku lagi cari waktu yang tepat. Kerjaanku masih banyak. Apalagi sekarang ngajar," ucap Rey tenap mengeluh.


"Ekhemmm Rey ... Makasih ya transferannya. Kalau gak ada kamu, aku gak tahu gimana nasib aku waktu," ucap Renata.


"Sama -sama Renata," ucap Rey pelan.


Klunting ...


Clara tak sengaja menjatuhkan sendok kecil yang ada di meja saat masuk kembali dari arah taman samping. Jelas ucapan Renata terdengar sampai ke telinganya, apalagi dengan lantang Renata bicara soal tranfseran uang yang di berikan Rey untuk Renata.


Rey menoleh ke belakang dan menatap Clara yang juga sedang emnatapnya.


Nita segera berlari ke arah Clara.


"Ra ... Kamu gak apa -apa!" tanya Nita yang memelankan langkahnya karena Clara tidak mau di dekati.


"Sudah ... Aku lagi gak mau berdebat," ucap Clara lirih.


Clara berusaha berjalan menuju keluar rumah itu.


"Clara!! Jangan salah paham dulu!!" ucap Rey yang ingin menyentuh lengan Clara.


"Gak malu berantem di sini. Banyak orang yang lihat. Bersikap dewasa dikit Mas!! Kamu itu punya istri, gak semena -mena main transfer uang di belakang Clara!!" tegas Clara mulai memuncak.


"Clara ... Ini salahku. Maaf waktu itu aku cuma minta tolong sama Rey ...." ucap Renata berusaha meyakinkan Clara.


Clara menoleh ke arah Renata yang berani mendekatinya.


"Hah? Apa? Minta tolong? Tanpa saya tahu? Sudahlah ...." ucap Clara kesal.


Clara mengumpulkan tenaganya dan berjalan cepat keluar dari rumah besar Nita.

__ADS_1


__ADS_2