
Rey sudah keluar dari mobil dan menghampiri Polisi yang berdiri tegak di depan mobil sportnya sambil membawa sempritan. Sampai Rey menghampirinya pun, Polisi itu masih meniup sempritannya beberpa kali. Rey sediki panik. Tahu sendirilah, paling malas berurusan sama Polisi. Padahal UUD, ujung -ujungnya pasti duit. Sebenarnya tidak usah banyak cing cong cukup salam tempel pasti semua beres. Kaum +62 mana ada yanh tidak beres dengan pelicin? Semua itu cuan yang berbicara.
Clara menatap aneh pada Polisi itu. Tidak biasanya di jalan itu ada Polisi. Pos Polisi pun tak ada, dan ini bukan jalan pertigaan atau perempatan yang ada lampu lalu lintasnya. Terus, laju mobil Rey pun sangat lambat sekali. Hanya memang Clara tak memakai sabuk pengaman. Alamak!! Sabuk pengaman!!
"Dasar Polisi cari -cari tambahan uang makan," kesal Clara smabil menyandarkan tubuhnya dan melipat tangannya di depan dada.
Clara terus menatap perdebatan antara Rey dan Polisi itu. Semakin di tatap lekat semakin terasa aneh bagi Clara. Kedua mata Clara mengedar pandangannya dan menatap ke arah sekelilingnya.
"Gak ada mobil polisi atau motor polisi seperti yang sedang patroli," batin Clara di dalam hati.
Rey menggaruk kepalanya dan terpaku menatap Polisi di depannya. Perawakannya tegap, gagah, kekar dan kuat. Lelaki itu memakai pakaian seragam polisi lengkap dengan aksesorinya dan topi khas polisi. Rey menatap bordir nama yang ada di atas dada. Jelas nama itu tertulis Selamet.
"Cobaan apa lagi ini," batin Rey pada dirinya sendiri.
"Siang Pak Selamet ... Kenapa mobil saya di berhentikan?" tanya Rey pelan mencoba berbasa basi.
Polisi itu menatap Rey dan menurunkan sempritannya.
"Karena kamu menghalangi saya," jawab Polisi itu dengan sikap angkuhnya. Kumisnya yang agak panjang di pelintir menggunakan tangan mirip seperti Pak Raden.
Rey melotot tajam. Ia tak terima dengan alasan Polisi itu. Hanya karena menghalangi jalan? Kok aneh? Kirain Rey, ia di berhentikan karena Clara tidak memakai sabuk pengaman atas permintaannya tadi. Ia tak mau istri dan calon bayinya metasa sakit seolah terikat dengan sabuk pengaman yang melingkari tubuhnya.
"Menghalangi Bapak? Kok bisa? Ya sudah saya ambil jalur lain. Saya lanjutkan perjalanan saya," ucap Rey lansung berbalik badan dan akan masuk ke dalam mobilnya.
"Hey ... Kena tilang. Sini atau saya tembak kamu," tegas Polisi itu dengan berteriak keras.
Wajah Polisi itu serius membentak Rey dan tangannya bersiap mengambil pistol di bagian pingganganya.
Rey menoleh dan akan berjalan memghampiri Polisi itu. Ia mengalah saja dari pada harus ribut perkara tilang.
"Ya sudah cepat tilang. Biar saya tanda tangani. Tapi alasan tilangnya apa? Masa hanya karena menghalangi jalan Bapak. Dasar Polisi aneh," cetus Rey asal dengan geram.
"Ohh ... Kamu berani sama Polisi. Akan saya tembak kamu!!" teriak Polisi itu keras. Tangannya dengan cepat akan mengambil pistol dan ...
Crut ... crut ...
Pitol itu adalah pistol mainan. Rey melongo tak percaya. Apa -apaan ini. Sebuah permainan kah?
Polisi itu tertawa keras dan terus menembakkan pistol air itu pada Rey yang masih berdiri terpaku menatap Polisi gadungan itu seperti patung.
"Mas masuk!! Dia orang gila!!" teriak Clara keras dan membuka kaca jendela mobil di bagian Rey.
Rey menoleh ke arah Clara dan bergegas masuk ke dalam mobil.
Dadanya bergemuruh kencang. Rey sedikit trauma pada orang gila. Mereka bisa se -nekat itu. Dulu pernah ada kejadian buruk. Rey di kejar orang gila smapai kelelahan. Eh ... ternyata orang gila itu memang sedang lari karena ia merasa sebagai atlet lari yang akan melakukan lomba estafet. Oh my god ...
__ADS_1
Clara tertawa keras. Rasanya mulutnya tak bisa berhenti ingin terus terkekeh melihat kejadian baru saja. Rey sudah serius ternyata menanggapi orang gila.
Rey melirik ke arah Clara kesal.
"Seneng? Bahagia? Lihat suaminya gemeter tadi di semprit? Ternyata polisi gadungan?" cetus Rey geram sekali. Wajahnya merah padam dan kembali melajukan mobilnya ke jalur di sebelahnya.
Bibir Clara mengatup sempurna. Tidak baik tertawa keras dan bahagia di atas penderitaan orang lain.
"Maaf. Bukan seneng. Tapi lucu, Mas. Mas Rey nanggepinnya serius ehh ... Malah di tembak pake pistol air ... Gimana Clara gak ngakak bolak balik lihat kalian berdua. Amit -amit jabang bayik," ucap Clara masih mengulum senyum menahan tawa.
"Kamu itu. Bukannya suami itu di buat tenang. Ini masih gemeter sayang," ucap Rey spontan.
"Widih ... Sayang gak tuh sama Clara," goda Clara sambil mencubit lengan Rey gemas.
"Ya Sayanglah ... Kalau gak sayang, gak bakal Saya urus dong kamunya," jawab Rey santai. Kaca mata hitam itu masih betah ada di wajahnya.
"Uhukk ... Sayang gak tuh," goda Clara kembali.
Rey ikut tertawa dan melepas kaca mata hitamnya. Ia lalu meminggirkan mobilnya dan berhenti di pinggir jalan. Jalanan itu sepi. Rey sengaja mengambil jalan lain dan bukan jalan raya seperti biasanya. Ia sengaja ingin membawa istri berjalan -jalan menikmati pemandangan indah.
"Kok berhenti Mas? Ini sepi lho? Nanti kalau ada setan lewat gimana?" tanya Clara pelan.
"Ya tangkap lah. Ngapain takut sama setan," jawab Rey asal. Rey menatap Clara yang juga menatapnya.
"Mas mau ngapain? Jangan macem -macem," ucap Clara pada Rey.
Clara menatap sekeliling yang sunyi sepi.
"Gak ah ... Mas Rey mau apa? Mau buang Clara? Entar ada netizen lho, yang bakal bikin berita viral. Seorang istri cantik sedang hamil baby twins sekitar satu bulan telah di buang oleh suaminya sendiri karena ..." ucapan Clara pun terhenti kala Rey langsung menutup bibir Clara dengan bibir hangatanya. Satu ciuman mesra tanpa ada nafsu di sana.
"Gak usah bawel. Otak kamu mulai geser terlalu banyak nge -halu," ucap Rey melepas ciumannya.
Clara takjub dan senang dengan perlakuan Rey yang mesra dan spontan.
"Kenapa? Kurang? Mau di cium lagi bibirnya?" tanya Rey lembut sambil mengusap pipi Clara. Clara hanya terdiam menatap Rey dengan mulit terbuka sedikit.
"Mau ...." jawab Clara spontan. Pikirannya dan hatinya sejalan dengan mulutnya yang mulai berani bilang mau.
Rey lekat menatap Clara dan tersenyum. Ia kembali menenggelamkan bibjrnya yang sedikit tebal mulai bermain di dalam rongga mulut Clara. Nikmat sekali rasanya. Tahu sendiri, kalau Rey sudah memulai tandanya harus di akhiri dengan maksimal dan sempurna. Tangannya mulai bergerilya mencari yang empuk -empuk membuat hatinya berdesir hebat.
Tok ... tok ... tok ...
Suara ketukan di kaca jendela membuat pertautan kedua bibir dan tangan Rey yang sudah berhasil menelusup masuk dengan membuka beberapa kancing baju kemejanya. Baru saja turun ke bagian leher dan ingin merasakan kolam susu tanpa ada air susunya.
"Mas ada yang ketuk -ketuk," bisik Clara langsung menjtup kemejanya.
__ADS_1
"Arghh ... kenapa sih ... selalu saja ada yang ganggu," kesal Rey yang langsung bangkit dan merapikan rambutnya lalu membuka kaca jendela mobil.
"Pak? Mobilnya mogok? Atau.kehabjsan bensin? Atau ...." ucap lelaki setebagj baya itu menatap Rey dan Clara yang tertunduk sambil menutup dadanya dengan bonke bantal yang ada di sana.
"Tidak. Saya mau turun ke bawah. Bisa parkir di sini kan?" tanya Rey kemudian.
"Ada saung kosong Pak. Kalau mau ... murah cuma lima luluh ribu saja," tawar lelaki itu pada Rey.
Lelaki itu mengira Rey butuh tempat untuk melampiaskan. Padahal mereka sudah suami istri. Memang suaminya saja yang tidak bisa menahan.
"Saya gak butuh!! Buat apa saung? Saya mau minum es kelapa muda di bawah," cicit Rey lantang.
Temannya pernah mempromosikan tempat itu pada Rey. Tempatnya enak, sunyi dan sepi. Cocok buat nongkrong. Di sana sedia es kelapa muda yang nikmat. Temannya itu menawarkan saat Rey masih sendiri dan belum menikah. Jadi Rey pikir, sekarang saat yang tepat mengajak Clara ke tempat yang enak itu.
Lelaki itu makin bingung dengan ucapan Rey. Rey mau minum es kelapa muda tapi sudah membawa pasangan.
"Ekhemm ... Anda tak paham es kelapa muda di sini?" tanya lelaki itu mencoba menyelidiki. Sepertinya Rey salah paham dengan kata es kelapa muda yang di maksud.
Clara langsung menatap lelaki itu dan penasaran.
"Ya ... Es kelapa muda kan? Buahnya yang bulat dan segar," jawab Rey santai.
Lelaki itu hanya tersenyum.
"Anda salah tempat Pak. Lebih baik anda lanjutkan perjalanan anda dan cari saja di kota besar es kelapa mudanya," ucap lelaki itu menjelaskan.
Rey masih terpana bingung. Ada orang mau jajan dan main malah di tolak.
"Kok di tolak? Saya dan istri saya mau es kelapa muda. Dia sedanh ngidam," ungkal Rey kemudian.
"Iya maaf Pak. Karena es kelapa muda di sini berbeda Pak. Memang sama nikmatnya tapi ...." ucapan lelmaj itu terhenti. Rasanya malu untuk lebih lanjut menjelaskan.
"Apa sih? Saya gak paham," tanya Rey ketus.
"Itu Pak. Es Kelapa Muda di sini berarti Silahkan Kenalan Lakukan Pada Mamah Muda. Itu Pak kepanjangan es kelapa muda di sini," jawab lelaki itu sedikit ragu.
"Hah? Maksud kamu kayak kafe kedap kedip gitu?" tanya Rey cepat.
Lelaki itu hanya mengangguk dam lergi begitu saja.
Rey terhenyak. Ia salah arah. Malu juga sama Clara. Di kiranya ia suka ke tempat ini.
Rey langsung tancap gas dan melajukan mobilnya drngan kencang. Likirannya kacau.
Sontak Clara tertawa keras sambil menghida Rey.
__ADS_1
"ES KELAPA MUDA. MAU PAK REY?" goda Clara senang.
Rey hanya melirik Clara dan melengos. Ia malu setengah mati.