PAK DOSEN, I LOVE YOU

PAK DOSEN, I LOVE YOU
94


__ADS_3

Tatapan kedua mata Clara begitu tajam dan melotot ke arah Rey.


"Keluar Mas!! Jangan buat nafsu makan Clara hilang karena lihat muka Mas yang terlalu innocent itu. Clara malas!!" teriak Clara sambil berjalan menuju pintu kamar dan secara tidak langsung menyuruh Rey keluar dari kamar tersebut.


"Gak!! Mas gak mau keluar. Kita harus selesaikan baik -baik masalah ini. Mas mau jelaskan dari awal hingga akhir, sesuai fakta yang terjadi. Tolong dengerin semua penjelasan Mas, Mas itu gak cari pembelaan tapi Mas hanya mau jelaskan apa yang terjadi sebenarnya," ucap Rey melemah. Rey tidak tahu lagi, bagaimana ia harus membuat Clara percaya pada ucapan dan penjelasannya.


Clara menggelengkan kepalanya dengan cepat. Buat Clara ini semua adalah kesalahan fatal Rey, jadi tidak perlu penjelasan apapun. Clara tetap pada keputusannya untuk tidak memaafkan Rey dengan mudah.


"Kayaknya gak ada yang perlu di jelaskan lagi deh, Mas. Semua sudah jelas kan? Mas itu gak perlu bela diri buat belain nama baik si uler keket itu!! Clara mau istirahat!! Keluar sekarang atau Clara yang keluar!! Cepat!!" teriak Clara kesal dan masih dengan emosi yang tinggi.


"Clara sayang? Apa gak bisa sih tenangin diri kamu. Denegerin Mas?" tanay Rey masih mencoba merayu Clara.


"Gak bisa. Gak ada waktu juga. Sekarang ambil baju dan keperluan MAs untuk pergi ke kampus, dan cepat keluar kamar. Pagi ini Clara gak bikin sarapan, Mas minta aja sama si uler keket yang Mas sedekahin itu. Clara capek Mas!!" ucap Clara pelan seperti tak ada tenaga lagi


Rey mengalah, ia mengambil pakaian dan beberapa keperluannya untuk pergi ke kampus. Rey mengambil dompet hitamnya dan di berikan pada Clara.


"Ini di dalamnya ada sejumlah uang, dan dua kartu ATM, satu kartu memang untuk tabungan masa depan kita dan anak -anak kita nantinya, dan satu kartu lagi adalah penggajian dari kampus. Kamu ambil karena ini hak kamu sebagai istri. Maafin Mas, kalau kamu berpikir Mas tidak bertanggung jawab sama kamu, tidak transparan. Bukan begitu maksud Mas. Tapi, Mas selalu ingin bersama kamu, jadi kamu tidak perlu kan membawa uang sendiri, cukup kamu minta apa yang menjadi kebutuhanmu dan pasti akan Mas penuhi," ucap Rey denan suara lembut.


"Keluar Mas!! Bawa saja dompetnya. Clara gak butuh Mas. Clara masih bisa minta orang tua, atau setelah ini Clara kerja biar Clara punya uang sendiri. Suka atau tidak, Clara akan kerja!!" tegas Clara pada Rey yang terdiam terpaku menatap lekat kedua mata Clara yang terlihat membengkak. Ingin rasanya memeluk istri kesayangannya saat ini juga. meminta maaf, lalu mencium kening tanda sayang Rey pada istrinya.


"Ra ... Yakin gak mau maafin Mas?" tanya Rey kembali pada Clara yang dengan tegas menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Rey meletakkan dompetnya di atas kasur lalu berjalan keluar kamar.


"Pinnya tanggal pernikahan kita," ucap Rey pelan.


Clara melempar pandangannya ke arah lain. Hatinya masih sakit dan masih malas melihat wajah suaminya yang kini ada di depannya.


Rey keluar dari kamar tidurnya dan mandi di kamar mandi belakang. Clara menutup kamar tidurnya lalu mengunci rapat. Clara melanjutkan sarapannya dan berbaring kembali di atas kasur.


Setengah jam kemudian ...


Tok ... Tok ... Tok ...


"Ra ... Mas berangkat kerja dulu ya. Twins ... Papah berangkat ya," pamit Rey denagn suara lembut sekali.


Clara hanya menoleh ke arah pintu kamar dan menatap nanar. Biasanya Rey akan berpamitan dengan menciumnya dan mencium baby twinsnya. Tapi, semua akan berubah mulai hari ini dan hari -hari selanjutnya. Pelukan dan ciuman kasih sayang itu tidak akan ada lagi di dalamnya selama Clara belum memaafkan Rey.


Suara deru mobil Rey yang mesinnya sudah menyala lalu menekan klakson dan melajukan mobilnya dengan lambat.


Clara bangkit dari tidurnya dan berjalan ke arah keluar dari kamar tidurnya. Claraa mengunci pintu ruang tamu dan mulai membereskan rumah. Tubuhnya memang lelah, tapi setidaknya dengan mencari kegiatan di rumah, Clara bisa mendapatkan solusi dari permasalahannya kali ini.


Clara menyalakan ponselnya dan menelepon Ibunya di kampung.

__ADS_1


"Hallo Ibu ... Apa kabar?" tanya Clara pelan sambil berjalan ke arah dapur untuk membuat makanan. Sarapan roti yang sedikit tadi tak mampu membuat perutnya merasa kenyang.


"Clara? Kabar Ibu baik. Kamu gimana? Kandungan kamu, gimana?" tanya Ibu pada Clara.


"Clara baik Bu. Kandungan Clara juga sehat. Ini Clara sedang buat makanan untuk sarapan pagi," jawab Clara lembut. Mnedengar suara ibunya, hati Clara begitu tenang sekali. Rasanya ingin berada di pangkuan Ibunya saat ini.


"Lho kok baru buat sarapan? Reynya gak sarapan? Gak kamu buatkan sarapan?" tanay Ibu pelan.


"Mas Reynya buru -buru karena harus ngajar pagi. Tadi gak smepat sarapan, cuma bikin kopi sama makan roti aja," jawab Clara dengan sopan. Semarah apapun Clara, tidak terus memojokkan Rey yang saat ini bersalah dan menurunkan harga diri seorang suami di depan Ibu Clara.


"Lain kali, kamu bangunnya lebih pagi. Biar bisa buatkan sarapan untuk suami kamu. Rumah tangga itu di dasari pondasi yang kuat. Kamu harus menyiapkan sehgala kebutuhan suami kamu, denagn tanagn kamu sendiri, memuaskan dan melayani suami itu adalah tanggung jawab kamu, Clara. Jangan pernah beralasan apapun untuk tidak mengurus suami. Karena tidak ada celah pun, bisa ada masalah, apalagi ada celah, masalah itu akan makin mudah merongrong rumah tangga kamu," titah Ibu menasehati.


Ibu Clara seolah tahu, Clara sedang butuh nasihat baik dan positif. Ibu Clara seolah kontak batin dnegan apa yang di arsakan Clara saat ini. Air mata Clara menetes di pipi. Menikah muda dengan terpaksa itu tidaklah mudah. Tapi, jika uatu kepercayaan sudah ternoda, apakah masih bisa di maafkan? Apa yang kini harus Clara lakukan?


"Ibu ... Kok bicaranya begitu? Memang Clara punya masalah sama Mas Rey?" ucap Clara seolah menutupi apa yang sebenarnya terjadi.


"Clara. Kamu itu anak Ibu, astu -satunya. Tanpa kamu bicara degan jujur, Ibu tahu apa yang sedang kamu rasakan, semua itu Ibu dengar dari cara bicara kamu," ucap Ibu Clara dengan lembut.


"Arghhh Ibu bisa saja. Memang Clara lagi pengen belajar lembut," ucap Clara tertawa yang di paksakan.


"Lembut dari hati yang tulus ikhlas akan berbeda denagn lembut yang di paksakan. Satu pesan Ibu, jadilah wanita berkelas, jangan pernah marah atau berteriak di depan suami kamu, jika ia punya kesalahan. Kamu cukup lakukan apapun yang menurut kamu benar lewat diam dan lakukan seperti apa yang dia lakukan kepada kamu. Tapi inget, bukan membalas, tapi memberi pelajaran," ucap Ibu Clara menasehati

__ADS_1


__ADS_2