
Semalaman padam listrik membuat kacau semuanya. Mulai dari Clara yang kelaparan sampai si joni yang sama sekali gak kenyang -kenyang.
Entah sampai jam berapa keduanya terus bermain 'petak umpet' tanpa ada pencahayaan sama sekali. Sampai pada akhirnya Clara menyerah dan minta di antar untuk mengambil makanan di ruang makan. Perutnya sudah perih dan tak bisa lagi menahan rasa lapar. Belum lagi semua energinya terkuras walaupun cuma berteriak kenikmatan. Tetap sembilan puluh sembilan persen Rey yang menjadi komandan utama.
Awalnya Clara hanya ingin mengambil beberapa potongan martabak telur dalam piring dan membawa air secukupnya lalu menikmari makanan itu di dalam kamar. Kebetulan mereka ganya bisa menemukan satu batang lilin saja di laci nakas. Lilin itu pun juga sudah tinggal setengah batang saja.
"Sayang tidak mau ambil makanan? Biar gak bolak balik. Ini gelap banget lho," titah Clara pada Rey.
Rey menyorot lampu senter dari ponselnya ke arah meja makan. Ia melihat makanan mahalnya sudah di siapkan Clara tadi.
"Bolehlah itu, nasi putih pakai sate kambing saja dan bumbu kacang, itu martabaknya tambahin lagi," pinta Rey pada Clara. Memdadak perutnya mulai ikut berontak setalh melihat makanan mahal yang ia beli. Bukan mahal makanannya tapi mahal karena kecerobohannya sendiri. Masih ada rasa jengkel tapi sudah terlampiaskan tadi bersama si joni.
Tanpa banyak bicara Clara mengambilkan nasi putih yang cukup banyak dengan sate kambing yang sudah di pisahkan antara dagingnya dan tusukannya lalu di kucurkan oleh bumbu kacang di atasnya, banyak sekali. Rey juga membawa satu botol besar air mineral dan dua gelas kosong. Mereka kembali lagi ke kamar tidur dan menikmati makanan itu di sana.
Clara sudah duduk di sofa uang ada di dalam kamar dan meletakka du piring makanan mereka. Satu batang lilin sudah di nyalakan di ars meja. Lampu senter juga masih nyala dari ponsel Rey yang sengaja di letakkan di atas nakas dekat kasur agar menyorotkan sinarnya ke segala arah ruangan di dalam kamar tidur tersebut hingga terasa seperti kamar remag -remang.
Clara sudah menghabiskan beberapa potong martabak telur. Perutnya mulai terisi sedikit demi sedikit dan terasa kenyang. Martabak telur itu potongannya besar dan isinya padat sekali. Campuran daun bawang, daging cincang dan kornet sapi membuat sensasi rasanya agak beda. Di fambah lagi kulit martabak yang renyah dan kering.
"Ada yang janji mau nyuapin," ucap Rey yang baru saja duduk di samping Clara. Ia sibuk menyimlan ponsel di nakas dan menyalakan lilin.
"Manjanya ...." ucap Clara masih mengunyah martabak telur tersebut.
"Manja sama istri sendiri gak apa -apa dong, asal jangan sama istri orang," tawa Rey memggelegar di seluruh ruangan.
"Ekhemm ... Ada niatan gitu?" tanya Clara dengan tatapan lekat. Ia sudah siap membawa piring di tangannya dan mulai menyuapi Rey.
"Niatan apa?" jawab Rey menerima satu suapan dari Clara ke dalam mulutnya. Rey mulai mengunyah makanan yang sudah agak dingin itu.
"Itu mau godain istri orang," cicit Clara kesal.
"Istri siapa?" ucap Rey pura -pura bingung.
"Dih ... tadi bilang dari pada manja sama istri orang. Sama siapa?" tanya Clara serius.
"Gak ada Ra. Istri siapa? Istrinya Arga juga sahabatmu. Jadi gak mungkin kan?" ucapan Rey malah memicu pertengkaran.
"Terus kalau Nita bukan sahabat Clara, mau mjnta manja -manja sama dia. Gitu?" tanya Clara makin di buat kesal.
__ADS_1
Rey memegang tangan dagu Clara dengan gemas.
"Gak akan pernah menggoda atau minta manja dengan wanita manapun. Istri ku sudah cukup membuatku bahagia dan selalu membuatku puas," ucap Rey lembut sambil mengedipkan satu matanya lada Clara.
Tatapan Clara makin lekat pada dua bola mata Rey.
"Yakin?" tanya Clara kemudian.
"Yakin sekali," jawab Rey lantang.
"Kok Clara gak yakin ya?" ucap Clara tertawa.
"Kenapa juga harus gak yakin. Saya yang gak uakin sama gadis labil kayak kamu," tegas Rey pada Clara.
"Kok malah jadi ke Clara sih? Clara gak ngapa -ngapain juga," ucap Clara ikut kesal.
Intinya memang keduanya mulai di hantui rasa cemburu yang besar.
"Karena perempuan lebih memakai perasaan jika berteman dengan laki -laki," ucap Rey masih menerima suapan dari Calra dan mnegunyah lembut di dalam mulutnya.
"Gak juga. Laki -laki juga pakai logika kalau berteman denga peremluan," ucap Clara asal.
"Logika nafsu," tawa Clara keras.
"Hemmm ... dasar mahasiswi payah," ucao Rey kesal.
"Memang Clara payah. Kenapa juga mau," ucap Clara mulai emosi.
"Apa cuma karena mau tanggung jawab aja," imbuh Clara masih saja ragu dengan perasaan Rey.
"Gak Clara!! Kalau saya bilang gak ya gak. Saya sama sekali tidak begitu. Kalau kamu tidak hamil pun, saya akan berusaha cepat menghamili kamu. Karena saya memang sudah jatuh cinta sama kamu. Tolong jauhkan pikiran kamu dari apapun yang membuat kamu selalu ragu dan overthinking. Saya tidak seburuk yang kamu kira Clara. Malahan sekarang saya yang takut kehilangan kamu, Clara. Saya kamu tetap percaya pada Saya dan pernikahan kita bukanlah suatu permainan. Saya kira kamu cukup paham dengan maksud ucapan saya," ucap Rey tegas menjelaskan.
Clara menunjukkan jari kelingkingnya.
"Janji ya? Gak ada salah paham lagi," ucap Clara kemudian.
Rey terkekeh melihat sikap Clara yang polos.
__ADS_1
"Janji sayang," jawab Rey mantap. Keduanya saling mengaitkan jari kelingkingnya seperti anak kecil yang sedang berbaikan saja.
Rey hanya merasa bakal ada sesuatu yang tak beres setelah ini.
Skip ...
Pasangan berbeda usia itu masih pulas tertidur dengan posisi berpelukan di sofa kamar tidur mereka. Tadi malam keduanya terus menikmati makanan hingga kekenyangan dan tertidur di sofa.
Saat ini sudah pukul setengah tujuh pagi. Tapi kamar tidur itu masih sunyi senyap tanpa ada pergerakan sama sekali.
Posisi mereka saling berhadapan dan saling berpelukan.
"Eunghh ... Jam berapa sih? Kok udah terang," tanya Clara yang masih mengantuk dan masih berada dalam dekapan sang suami.
Rey membuka kedua matanya perlahan lalu menatap Clara dan mengecup kening istri labilnya itu.
"Pagi sayang," sapa Rey dengan suara agak serak.
"Pagi sayang? Ini jam berapa," tanya Clara mengulang.
Rey menatap jam yang ada di dinding tepat di atas tempat tidur mereka dan ...
"Setengah tujuh sayang," ucap Rey cepat.
"Apa setengah tujuh?" tanya Clara kaget.
Clara bergegas bangkit dan masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi. Rey pun ikut masuk ke dalam.
"Ih ngapain sih ikut masuk," teriak Clara yang masih membersihkan sisa busa di rambutnya.
"Biar cepet Clara. Kamu tenang saja," ucap Rey cepat membuka pakaiannya dan ikut berada di bawah guyuran air shower bersama Clara. Rey tahu ketakutan Clara pagi ini.
"Awas aja kalau macem -macem," tegas Clara pada Rey.
Rey menatap ke lantai saat rambutnya mulai di beri shampo dan menggaruknya agar tercampur rata.
"Itu darah apa, Ra?" tanya Rey bingung. Darah itu ikut turun bersama air yang jatuh saat mengguyur tubuh Clara. Darah yang cukup kental bercampur lendir dan masuk ke dalam lubang air.
__ADS_1
Clara menatap ke lantai dan benar ada darah ikut mengalir ke pembuangan air.
"Ra ... Itu darah apa?" tanya Rey mulai panik.