PAK DOSEN, I LOVE YOU

PAK DOSEN, I LOVE YOU
121


__ADS_3

Rey sudah duduk di kursi di ruang makan sambil menyantap sarapan pagi buatan sang istri. Kedua anaknya, Lio dan Lia juga sudah duduk manis di kursi mereka sambil menikmati roti tawar isi cokelat dan susu putih kesukaan mereka. Sementara Clara masih mandi dan bersiap untuk mengantarkan twins Adel perdana masuk sekolah di Taman Kanak -kanak.


Suasana di ruang makan selalu tenang dan hening. Clara selalu mengajarkan Lio dan Lia untuk tidak bicara saat sedang makan. Mereka harus fokus pada makanan yang ada di piringnya masing -masing dan harus di habiskan. Tidak ada kata membuang makanan, maka Clara akan menghukum anaknya dengan di beri sanksi, misalnya tidak boleh meminta jajanan saat Clara ke Supermarket di dekat komplek, atau tidak mendapatkan jatah es krim selama satu minggu karena Clara punya langganan es telolet yang sering lewat di depan rumahnya.


Rey juga masih sibuk dengan nasi goreng spesial di piringnya yang sudah mau habis. Sesekali pandangan matanya menatap waktu di jam dinding dan pintu kamar tidurnya yang masih etrtutup tidak ada pergerakan dan tidak ada tanda -tanda Clara akan keluar dari kamar. Entah apa yang sedang di perbuat istrinya di dalam kamar sudah setengah jam. Padahal Clara semenjak memiliki anak paling tidak bisa berlama -lama di kamar mandi dan bergegas keluar menemani dua buah hatinya yang sedang aktif -aktifnya.


Dengan cepat Rey menghabiskan sarapan paginya dan menyeruput kopi hitamnya hingga ludes tak bersisa.


"Sayang ... Papah mau ke kamar dulu ya. Ini Mamahnya belum selesai juga, takut kesiangan. Kalau sudah selesai makan, langsung tunggu di ruang tamu, kita akan berangkat sekolah. Ingat jangan bertengkar, Lio kamu harus ngalah sama adikmu," titah Rey selalu menasihati Lio, sang Abang untuk lebih sayang pada adik perempuannya.


"Iya Pah," jawab keduanya dengan serempak.


"Mbok, nanti jaga anak -anak dulu. Pakaiakan sepatunya ada di ruang tamu setelah selesai sarapan dan minum susunya," titah Rey pada asisten rumah tangganya yang sudah datang sesudah shubuh.


"Iya Pak," jawab asisten rumah tangga itu dengan sopan dan kembali bekerja mecuci pakaian di belakang.


Rey bangkit berdiri dan berjalan ke kamar tidurnya untuk melihat apa yang sedang di lakukan istrinya selama ini belum juga menunjukkan batang hidungnya.


Clara yang tak pernah keluar rumah lagi sejak melahirkan pun mulai sibuk mencari pakaian yang pas dan mematut diri beberapa kali di depan cermin untuk memantaskan diri pergi mengantarkan kedua putra dan putrinya yang kebar itu.


"Huftt ... Semuanya terasa gak bagus di tubuh ini. Apa badan ini udah terlalu melar sampai beberapa baju lama tak muat lagi di pakai, kalau pun masih cukup, pasti terlihat beberapa gundukan lemak yang tersembunyi di beberapa lipatan tubuh," gerutu Clara sambil mencoba dres atau kemeja dengan rok selutut.


Pakaiannya sudah tersebar di atas tempat tidur, dari semua warna dan semua bentuk.


Ceklek ...


Rey masuk ke dalam kamar tidurnya dan menatap Clara yang masih sibuk berdiri di depan cermin sambil bicara sendiri seperti wanita kurang warasa. Sesekali mencoba tersenyum dengan cermin tapi juga marah -marah setelahnya jika tidak puas dengan apa yang dia lihat.


"Mah ... Ini sudah jam berapa? Nanti bisa telat, jalanan makin macet kalau kesiangan. Papah bisa telat ke Kampus," ucap Rey pada istrinya. Memeluk mesra dari belakang menatap Clara yang semakin hari makkin terlihat dewasa dan cantik. Tubuhnya memang tidak sekurus dulu, sekarang memang terlihat lebih berisi tapi terasa empuk dalam pelukan Rey.


Clara nampak diam. Ini pakaian kesepuluh yang sudah di cobanya, tapi Clara masih saja tak puas melihat dirinya di depan kaca, seperti ada yang kurang saja.


"Sudah cantik kok, istri Papah. gak ada yang kurang, selalu menarik dan menawan," bisik rey di telinga Clara epnuh mesra.


Clara masih saja manyun di depan kaca. Ia melihat pantulan di cermin yang makin hari merasa tidak pantas bersanding dengan Rey yang ada di sampingnya. Rey makin berumur malah makin keren dan macho, tubuhnya makin kekar dan gagah. Pesona Rey sebagai Papah muda makin di gilai dan di idolakan di Kampus oleh para mahasiswinya yang di kira masih single.


Cup ...


Rey mengecup pipi Clara. Rey ingin menyemangati Clara bahwa Rey masih mencintainya walaupun ada beberapa yang berubah dari tubuh Clara yang membuat Clara insecure sendiri.


"Tapi sekarang Clara gendut, Pah. Tuh lihat, lemat di pinggang sama di bokong, jelas kan?" cicit Clara mengadu.


"Sayang itu bukan lemak, itu bukan gendut," ucap Rey berbisik.


Clara menoleh ke arah Rey yang mengedipkan satu matanya dengan menggoda.


"Terus apa?" tanya Clara lekat pandangannya pada dua bola mata Rey.


"Cuma montok dikit, bahenol, seksi, dan Papah makin suka, itu yang bikin gemes, pengen di gulung tiap hari. Nih liha, kalau di peluk tuh makin empuk dan makin anget, gak mau lepas. Kamu itu cantik dari lahir, wajah kamu selalu indah untuk di nikmati, dan kamu itu perempuan hebat bagi Papah, tidak ada yang bisa menandingi perjuanagn dan pengorbanan kamu sebagai istri Papah dan sebagai Ibu dari twins Adel," ucap Rey lembut.


Tiba -tiba Clara pun tersenyum, menatap dirinya dalam pantulan kaca. Emosinya kembali stabil karena moodnya kembali baik. Rey adalah suami paling mengerti dan paling bisa membuat istrinya luluh lantah dengan segala cara merayu untuk membangkitkan semangat Clara yang terkadang pudar karena tidak percaya diri.

__ADS_1


"Nah ... Kalau senyum gitu tambah cantik, Papah makin cinta dan sayang sama Mamah," ucap Rey mengecup pipi Clara di sisi yang lain.


"Makasih ya Pah. Udah jadi suami yang selalu ngerti Clara," ucap Clara pelan.


"Iya sayang. Baju ini bagus kok, buat anter anak -anak ke Sekolah, apalagi mau mampir ke Kampus anter makan siang buat Papah," ucap Rey menggoda Clara sambil menyentuh gemas dagu Clara.


"Makan siangnya ini ambigu apa gimana? Papah suka nyeleneh," ucap Clara kesal. Dulu pernah saat hamil besar, Clara sudah masak untuk makan siang dan membawanya ke Kampus. Sesampai di sana ternyata Rey ingin makan siang yang lainnya. Alhasil, makanan yaang di bawa Clara di makan sore hari akrena Rey sudah makan siang bersama teman -teman dosennya. Suaminya ini memang unik dan mesum kalau sudah berurusan dengan Clara.


Rey hanya terkekkeh sambil memukul bokong Clara pelan. Berlama -lama dengan posisi begini, si joni bisa tegak lurus lagi.


"Ayok ah kita berangkat. Kasihan anak -anak," ucap Rey pelan.


***


Suara riang duo Adel bernyanyi sebisa mereka. Lio yang selalu bernyanyi dengan nada yang salah, karena suara bassnya membuat io selalu kehilangan arah jika bernaynyi hanya bisa asal teriak yang penting nyanyi, persis seperti Papahnya. Berbeda dengan Lia yang suaranya lebih cempreng dan melengking, kemampuan menghapalnya agak lemot seperti komputer pentium satu yang perlu di upgrade. Nadanya benar tapi liriknya suka di ganti gimana situasi hatinya karena Lia tidak hapal.


"Sayang, kamu bawa uang kan? Nanti kalau Papah gak bisa jemput, akmu bisa naik taksi," titah Rey pada Clara. Semenjak usia pernikahan memasuki bulan kelima, semua keuangan di pegang oleh Clara. ATM, penggajian dari kampus sudah terorganisir di genggaman Clara. Rey pulang hanya membawa slip penggajian saja.


Tapi, dua ATM Rey dari hasil usaha atau proyek biasanya masuk ke rekening Rey dan menjadi tabungan Rey. Jika suatu saat butuh ya pasti akan di gunakan bersama, hanya pengelolaannya berbeda pos saja.


"Ada Pah, Clara juga mau ambil uang sekalian mampir di Supermarket mau beli makanan dan beberapa kebutuhan rumah yang habsi untuk bekal anak -anak ke Sekolah," ucap Clara yang mulai mengatur ruamh tanggnya. Kini pengeluaran juga akan bertambah karena twins Adel mulai sekolah. Biaya sekolah, jajan si kembar di Sekolah, belum biaya tak terduga di Sekolah, seperti infaq, jalan -jalan, makan bersama, atau membawa ini dan itu yang malah kadang memusingkan orang taunya.


"Cukup? Kalau gaji Papah kurang, Mamah bilang aja sama Papah, jangan di paksain diem. Nanti Papah kasih, ada lebihan dari usaha yang lain," ucap Rey pelan.


"MAsih cukup kok Pah. Gaji buln -bulan lalu kan juga sepenuhnya habis, amsih ada sisa. nanti kalau limit ya Clara bilang sama Papah," jawab Clara lembut sambil menyentuh rahang keras suaminya yang maskin menggemaskan.


"Jangan megang -megang, gak usah mancing, tadi pagi aja gak tuntas," ucap Rey masih dengan perasaan dongkol.


Mobil Rey sudah masuk ke dalam parkiran sekolah TK Harapan Bangsa. Clara menyangklong tasnya dan keluar dari mobil Rey. Banyak mata memandang ke arah Clara yang berpenampilan bagai model itu. Lihat saja, Mamah muda itu begitu nyaris sempurna, tubuh yang berisi di balut dengan kaos berkerah berbentuk V berwarna pink dengan rok putih selutut yang berbahan satin lembut.


Clara membuka pintu bagian belakang dan menyuruh dua anaknya turun.


"Come on guys, kita sekolah dulu, biar pada pinter kayak Papah," ucap Clara yang memasukkan kepalanya memberi semangat pada duo bocilnya yang masih perlu adaptasi.


Rey mematikan mesin mobilnya, untuk ikut keluar emnemani kedua anaknya masuk ke dalam agar tahu situasi TK itu seperti apa. Rey menoleh ke arah du twins Adel yang malah mundur semangatnya setelah melihat banyak orang di TK itu.


"Kenapa cemberut? Hari ini sekolah lho, kalian sudah besar. Di sini kalian kan punya teman baru, dapat ilmu baru, bisa main ayunan, perosotan, dan amsih banyak lagi di dalam," titah Rey pada duo kembar yang hanya menatap lekat pada kedua mata Papahnya.


"Papah anter ke dalam yuk. Tapi, senyum dulu," pinta Rey yang selalu berhasil membujuk si kembar.


Rey keluar dari mobilnya dan melepas kaca mata hitamnya kemudian di selipkan di kemejanya. Rey menggandeng dua buah hatinya yang riang amsuk ke dalam TK mencari ruangan kelas mereka. Semua mata memandang Rey dengan takjum dan kagum. Tidak ada lelaki yang mau turuntangan mengantar anaknya sekolah, apalagi sampai masuk ke dalam. Kebanyakan hanya sampai depan pintu gerbang saja.


"Mah ... Ruangan Lio dan Lia yang mana?" tanay Rey pada istrinya. Ia melihat banyak seklai ruangan yang malah membuatnya pusing sendiri.


"Itu Pah, yang ujung, Kelas B-1," ucap Clara yang berjalan di belakang Rey.


Sampai di depan ruang kelas B-1, teryata sudah ada guru pendamping kelas yang mulai menemani murid -muridnya untuk bisa lepas dari kedua orang tuanya dan mulai mandiri beraktivitas di kelas tanpa boleh di temani oleh orang tuanya.


"Permisi Bu, kelas B-1?" tanya Clara lebih memastikan saja sekaligus basa basi.


Guru itu menoleh ke arah pintu masuk dan tersenyum emlihat Rey dan Claar yang tersenyum ramah dengan dua anak kembar yang sangat mansi dan menggemaskan.

__ADS_1


"Selamat pagi. Ini betul ruang B-1. Ini pasti Adelio dan Adelia? Betul?" tanya Bu Susi, pndamping kelasnya si kembar dengan senyum lebar membuat Twins Adel mengangguk senang.


"Kita berdua orang tua Lio dan Lia," ucap Clara ramah.


Bu Susi mengangguk pelan, "Ya Bu. Semoga kita bisa berpartner dengan baik. Karena pendidikan anak nomor satu tentu yang di bawa dari rumah, itu adalah tugas kedua orang tuanya. Kami disini hanya membantu dan menajadi jembatan agar anak- anak bisa belajar dengan baik sesuai usia dan perkembangan otaknya."


"Iya Bu. Titip anak -anak," titah Rey ikut angakt bicara.


"Sini sama Ibu. Mamah dan Papahnya harus tunggu di sana. Oke?" ajak Bu Susi pada kedua murid barunya itu.


Rey berjongkok di depan kedua buah hatinya dan mencium kening si kembar secra bergantian.


"Gak boleh nakal, gak boleh iseng, gak boleh bikin Mamah dan Bu Guru marah. janji sama Papah?" tanya Rey pada kedua anaknya.


"Janji Pah," jawab Lio dan Lia serentak.


Kedua putra putrinya sudah masuk ke dalam. Clara ikut keluar bersama Rey menuju mobilnya. Rey sudah akan masuk ke dalam mobil mentap Clara yang ikut mengantarkan sampai parkiran mobil.


"Kamu gak apa -apa kan, Papah tinggal Mah?" tanay Rey yang malah khawatir pada istrinya.


"Gak apa -apalah. Kayak anak kecil saja. Papah hati -hati ya di jalan, gak usah ngebut. Kalau dosen telat masuuk itu, mahasiswanya seneng," ucap Clara tertawa.


"Itu ajaran sesat namanya. Tugas Papah itu mengajar dan emmberikan ilmu, biar mereka pintar dan lulus cepat allu bisa bekerja dan sukses," ucap Rey mengulum senyum. Sepertinya Rey salah bicara, ucapannya pasti menyinggung Clara.


"Hemm ssindir terus. Istrinya belum lulus juga," ucap Clara tertawa.


Rey menyentuh pipi Clara dan di usap lembut membuat iri para Ibu -ibu yang sejak tadi menatap kemestaan keduanya sambil duduk menunggu anak -anak mereka di kelas.


"Papah gak nuntut Mamah untuk segera luluss. Papah malah seneng, Mamah itu gak melalaikan tugasnya sebagai istri dan ibu. Tapi kalau memang sempat, kerjakan skripsinya, pasti Papah bantu. Itu buat kamu sendiri Clara, kamu yang bangga kalau sampai berhasil," ucap Rey pelan.


"Clara pasti selesaikan Pah. Semoga sebelum Twins masuk SD, Clara bisa wisuda," ucap Clara pelan.


"Kalau sudah wisuda. Papah mau kasih kado terbaik buat Mamah," ucap Rey terkekeh.


"Kado apa?" tanay Clara agak kurang percaya dengan uapan suaminya.


"Adiknya twins," tawa Rey langsung pecah.


"Hisss ... Masih aja," ucap Clara kesal.


"Satu anak lagi, janji. Papah pengen satu lagi. Lepas KBnya ya," pinta Rey pada Clara.


"Belum sanggup Pah. Nanti ya," jawab Clara lirih.


"Iya. Papah berangkat kerja ya. Kalau ada apa- apa, telepon Papah. oke," ucap Rey pelan.


"Iya Pah," jawab Clara sambil mencium punggung tangan Rey. Rey pun mengecup kening dan kedua pipi Clara lalu mengusap lembut pucuk kepala istrinya dan masuk ke alam mobil lalu melajukan pelan menuju Kampus.


Baru melangkah menuju ruang tunggu, nama Clara di panggil keras dari arah belakang.


"Clara!!"

__ADS_1


__ADS_2