
Pagi sudah menjelang. Rey mulai mencoba kembali menyalakan mesin mobilnya kembali setelah membuka kap mesin mobil yang semuanya normal. Hanya air radiator saja kering dan sudah terisi penuh kembali dengan air mineral yang kebetulan selalu Rey siapkan di dalam mobilnya untuk mwngatasi hal ini bila terjadi.
Clara sudah pindah duduk di jok depan tepat di samping Rey yang fokus menyetir untuk mengantarkan Clara ke kostnya.
"Kamu mau ke kampus hari ini?" tanya Rey pelan saat mobil sudah bisa menyala dan mobil itu mulai melaju dengan pelan menuju kost Clara.
"Gak Pak. Kan Clara belum mulai nulis bab dua," ucap Clara pelan.
"Memang kamu gak ke perpustakaan? Untuk mencari bahan materi untuk skripsi kamu? Bab dua kan isinya tentang teori yang akan kamu pakai nantinya untuk analisis data yang kamu kumpulkan. Pencocokan gitu lebih jelasnya, antara materi dengan apa yang kamu analisis," ucap Rey pelan menjelaskan.
Otak Clara pagi itu belum sampai untuk memikirkan teori, materi, analisis data, kesimpulan dan saran. Clara hanya memikirkan satu saja. Kepada siapa skripsi itu di persembahkan. Hah ... memang otak Clara tidak ada akhlak.
"Besok lah. Clara capek, Pak. Memang Bapak mau ke kampus?" tanya balik Clara kepada Rey.
__ADS_1
"Ke kampus dong. Anak bimbingan saya bagaimana nanti? Saya ke kampus juga kan karena kewajiban saya sebagaindosen pembimbing. Itu tanggung jawab saya. Kelulusan kalian juga kan butuh ACC saya," ucap Rey pelan.
"Tapi Clara belum cari bahan materi untuk bab dua. ACC bab satu juga baru kemarin. Seharian jadi tawanan korban mesum Pak Rey. Saya lelah Pak. Paha saya keram," ucap Clara jujur dan memijat pahanya pelan.
Baru sekarang semuanya terasa linu dan pegal -pegal di sekujur tubuhnya.
Ha ha ha ... Rey malah tertawa keras dindalam mobil yang melaju cepat di pagi hari itu. Jalanan masih sepi.
Rey menutup mulutnya dengan jari telunjuk kanan dengan cepat. Rey harus mengalah saat Clara mulai manyun gak jelas.
"Sarapan yuk? Biar gak ngomel -ngomel aja tuh bibir. Ntar di cium juga itu bibir," ucap Rey pelan sambil mengulum senyum.
Sesekali Rey menatap Clara dengan melirik sekilas. Clara menyandarkan kepalanya ke kaca jendela mobil sebelah kiri dengan kedua mata yang terus menatap jalanan yang di lewati tanla berkedip. Entah apalagi yang sedang di pikirkan oleh gadis labilnya itu.
__ADS_1
Clara tak menjawab pertanyaan Rey karena memang sedang tak fokus jadi telinganya tak mendengar.
"Mau makan gak?" tanya Rey mengulang.
"Clara capek Pak. Memangnya harus begituan saja," ucap Clara salah paham.
Rey langsunh menatap Clara. Clara tidak sedang tidur dan jelas kedua matanya terbuka lebar. Tapi otaknya sedang tak berada di dunianya. Otaknya lagi mwmikirkan si joni.
"Mau makan gak?" tanya Rey mencoba mengulang pertanyaanya. Ingin tahu tingkat kefokusan Clara. Sebenarnya yang mesum itu siapa? Dia atau Clara? Atau mereka berdua memang sudah saling teracuni dan terkontaminasi.
Clara menegakkan duduknya. Wajahnya mulai terpasang kesal dan mau marah.
"Saya lelah Pak. Paha saya masih keram ini. Belum bibir saya rasanya bengkak. Terus ini dada saya juga agak perih. Bapak terlalu keras tadi malam gigitnya," ucap Clara spontan dan jujur.
__ADS_1