
Kekesalan siang itu pun langsung di bayar Rey dengan mengajak iatrinya ke sebuah danau buatan yang sangat indah. Angin sepoi -sepoi dan duduk si pinggiran danau dengan tiker anyaman yang terbuat dari plastik.
"Kita naik bebek ya, Mas Rey," cicit Clara saat turun dari mobil dan berjalan ke pinghir danau.
Tempat yang nyaman untuk menikmati hidup. Dari atas terlihat sepi pas turun kebawah ternyata di sana banyak tikar tergelar namun tak ada orang. Entah pada kemana manusia -manusia itu bersembunyi. Tapi ada juga yang asyik ngobrol dengan pasangannya sambil menikmati makan siang dan minuman segar yang di pesannya.
Rey menatap Clara yang terlihat sangat ingin menaiki bebek mainan itu.
"Gak ah. Saya gak suka. Lagi pula itu berbahaya bagi ibu hamil. Saya gak ijinkan," tegas Rey.
"Lha ... Mas Rey aneh deh. Permainan bebek ini justru membuat ibu hamil rileks dan santai. Terus ngapain kita kesini kalau cuma duduk saja di pinggir danau," ucap Clara merajuk.
"Sayang ... Kita duduk dulu. Lesan makanan dulu. Baru kita bicatakan lagi sial bebek ya," titah Rey sengaja mencari tema lain.
Aslinya Rey itu phobia dengan mainan yang berhubungan dengan air. Itu salah satu kelemahan Rey yang terlihat kuat dan gagah.
Clara mengangguk menurut. Mereka menuruni tanah miring itu hingga ke bawah.
Arghh ... Rasanya mereka terjebak lagi pada dunia permesuman.
"Mas ... Pulang aja ah ... Lihat tuh, mereka santai aja pada begituan. Ya ampun, mataku ternoda Mas ...." ucap Clara lirih sambil menutup matanya dengan telapak tangannya.
Rey mengehnrikan langkahnya. Ia kembali terjebak pada promosi teman -teman dosennya. Ternyata tak satu pun ada yang benar.
"Ya sudah kita pulang. Saya juga tertekan kalau lama -lama di sini," ucap Rey jujur.
"Hah? Tertekan? Maksudnya apa?" tanya Clara bingung.
"Tertekan anunya. Lihat pada mesra begitu pasti ujung -ujungnya berlanjut. Saya gak bisa lanjut. Saya takut ...." ucap Rey pelan dengan wajah serius.
"Takut kenapa Mas," tanya Clara juga serius menanggapi. Tatapannya tetus ke arah Rey yang akan masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Clara juga membuka pintu mobil dan mausk ke dalam lalu duduk. Ia masih menunggu jawaban Rey sejak tadi. Penasaran rasanya.
"Mas ... Tertekan gimana?" tanya Clara mengulang.
Rey menoleh ke arah Clara masih dengan wajah seriusnya.
"Ya tertekan kalau anu saya harus di nonaktifkan selama satu bulan. Yang saya takutkan itu jika lama -lama membatu, kan repot," jelas Rey dengan wajah serius.
Clara masih menatap Rey lekat dan serius. Ia mencerna baik ucapan Rey barusan. Lama -lama menjadi batu? Apanya? Ya ampun ini dosen memang bikin kepala pening tujuh keliling. Mesumnya itu gak ketulungan. Sepertinya memang efek telat menikah dan kehidupannya yang terlalu serius tadinya.
"Membatu? Kita kan gak lagi hidup di jaman batu Mas," ucap Clara tak paham.
"Hemmm ... Gak ngerti apa pura -pura bodoh," tanya Rey mendekatkan wajahnya pada Clara.
"Memang gak tahu. Otak Clara gak nyampe halunya kayak Mas. Jadi gak paham," jelas Clara pelan.
Ha ... ha ... ha ... Rey tertawa renyah sekali smanil melajukan kembali mobilnya menuju restaurant yang biasa mereka kunjungi saja. Lebih aman. Lebih akurat. Lebih nyaman. Tidak ada lagi drama aneh yang membuat harinya semakin aneh.
"Ya sudah kalau gak paham. Ucalan saya tadi hanya untuk orang -orang yang paham saja. Jiwa -jiwa surga dunianya berlebih," Rey terus terkekeh sendiri.
Siang ini, mereka hanya makan di restaurant padang yang ada di dekat kampus. Cuma ini masakan padang yang enak menurut Rey. Tapi sudah jelas kalau makan di sana, akan ada beberapa dosen yang bakal melihat mereka berduaan.
Rey sudah menghentikan laju mobilnya dan bersiap keluar dari mobil sport merahnya.
"Mas Rey yakin pilib makan siang di sini? Mas Rey bawa Clara? Sudah siap bilang kalau kita ...." ucapan Clara terhenti.
Rey mencium bibir Clara lembut agar wanitanya itu tak banyak bicara.
"Gak usah cerewet. Ikut saja. Kalau saya ajak ke suatu tempat dan tempat itu beresiko tinggi. Itu tandanya saya sudah siap dengan semua resiko itu kan? Kamu gak usah bingung, Sayang," ucap Rey mengacak lembut rambut Clara.
Clara hanya mengangguk kecil. Mungkin Rey sudah siap. Tapi, Clara kini malah insecure sendiri jalan bersama dosen pembimbingnya sendiri. Anggapan orang tentu ia sedang menyogok dosennya. Lalu di cap sebagai mahasiswi tidak benar seperti Renata. Arghh ... merepotkan sekali. Ternyata punya suami itu malah memusingkan bukannya enak malah banhak aturan, banuak resiko karena hubungannya belum di ketahui publik, belum lagi ghibah orang yang punya anggapan sendiri tentang mereka.
__ADS_1
"Ayok turun. Kok malah ngelamun," ucap Rey pelan saat membuka pintu mobil samping bagian Clara.
"Ekhemm ... Mas ... Cari tempat lain saja yuk," titah Clara yang malah merasa tak nyaman dengan keadaan ini.
"Kamu kenapa sih? Kemarin minta hubungan ini di publikasikan. Sekarang malah kamu yang mau mundur dari statis kamu. Saya malah curiga sama kamu! Jangan -jangan kamu punya cem -ceman di kampus?" tuduh Rey kesal. Hari makin siang, cuaca makin panas dan terik. Perut kosong dan kerongkongan mulai terasa kering.
Clara menatap Rey lekat. Bisa -bisanya Rey bicara begitu. Menganggap Clara punya genetan di kampus. Kalau pun ada, mending dulu nikah sama gebetannya. Di bandingkan harus memulai semuanya dari awal.
"Kok gitu ngomongnya Mas? Mas Rey gak percaya sama Clara?" tanya Clara tegas.
"Gak. Saya gak percaya. Nyatanya kamu, saya ajak makan di dalam gak mau. Kayak orang ketakutan," ucap Rey ketus.
"Oke. Clara turun. Clara gak takut apapun. Jangan tuduh Clara yang tidak -tidak," ketus Clara.
"Ya makanya turun. Gak usah panik. Gak perlu bingung. Gak usah ada pembelaan diri juga. Tinggal turun, masuk ke dalam, pesan makanan, lalu makan siang," titah Rey tegas.
Clara pun turun dan menunggu Rey masuk terlebih dahulu ke dalam. Jujur saja, Clara belum pernah makan di rumah makan padang itu. Clara hanya makan di kantin atau makan di sekitaran angkringan murah meriah di sekitar kampus.
Rey menggandeng tangaa Clara erat. Clara berjalan masuk mengikuti Rey dan menatap tangannya yang di genggam erat oleh Rey. Ada perasaan senang juga di perlakukan manis begitu di depan orang banyak yang ternyata kebanyakan memang dosen dan teman -teman se -angkatannya. Kedua mata Clara bergerak ke kanan dan ke kiri. Ia takut di bully setelah ini. Siapa sih yang tidak bangga, di nikahi oleh dosen tampan yang menjadi idola di kampusnya.
"Melamun lagi? Kamu mau makan apa sayang," tanya Rey pelan.
"Ekhemmm ... Mau ... bumbu rendang aja," jawab Clara pelan.
"Bumbu rendang aja?" tanya Rey bingung.
"Iya bumbu rendang aja. Mau makan pake kerupuk. Lagi pengen itu," jawab Clara.
"Dasar ibu hamil aneh. Di ajak amkan enak cuma mau bumbu rendang aja," kesal Rey.
"Dih ... Emang pengen itu kok. Mas Rey jangan maksa dong," ucap Clara kesal sambil berusaha melepaskan genggaman tangannya dari tangan Rey. Rey malah semakin erat menggenggam tangan Clara dan sama sekali tak di lepaskan.
__ADS_1
Clara hanya melirik Rey kesal.
"Pak Reynand!!" panggil seorang perempuan dari arah belakang.