
Clara menatap Radit yang sudah ada di sampingnya dan langsung mengeliarkan tangannya dari dalam tas nya. Clara tersenyum aneh ke arah Radit, seperti sedang ketahuan mengambil barang milik orang lain. Bibirnya di tarik paksa untuk bisa tersenyum padahal jantjngnya sedang tak terkontrol sekarang.
"Lagi cari permen. Tiba -tiba agak mual. Efek belum sarapan," ucap Clara jujur lalu menutup tasnya dan melipat kertas aruran yang di berikan oleh perusahaan sebagai pengingat.
"Oh gitu. Ini aku ada permen mint. Suka?" tanya Radit sambil memberikan satu wadah permen menta kepada Clara.
Dengan senyum penuh terpaksa. Clara pun menerimanya. Lalu hanya meletakkan di pangkuannya tanpa di buka dan di makan.
Radit menatap ke arah paha Clara.
"Katanya mau makan permen," tanya Radit kembali.
"Ekhemm nanti. Ini pemgarahannya selesai jam berapa?" tanya Clara mulai tak jenak berada di sana.
"Bentar lagi juga selesai. Terus pembagian tugas dan pekerjaan. Harapan aku sih, bisa bareng terus sama kamu," ucap Radit tertawa.
Clara menatap Radit dan tersenyum aneh. Clara paling tak suka berada di posisinya saat ini. Terlalu di ribetin sama orang seperti saat ini. Apalagi motifnya apa Radit tiba -tiba sok kenal dan sok deket sama Clara tanpa ada angin tanpa ada hujan.
Skip ...
Rey sudah sampai di kampus langsung menuju ruangan kerjanya. Hari ini memang ada jadwal bimbingan bagi para mahasiswanya yang menganalisis tanpa harus magang kerja di perusahaan.
Rey duduk di kursi dan bersandar santai sambil mennyeruput kopi yang sudah di siapkan di meja kerjanya oleh cleaning service.
Rey mengeluarkan ponselnya dan mulai membuka layar ponselnya ia menatap wallpaper layar ponselnya dan mulai mengutak -utik menggantinya dengan foto Clara yang ia ambil diam -diam tadi pagi. Semakin lama pesona istrinya itu semakin menarik dan sulit lepas dari ingatannya. Tak hanya itu saja, nama kontaknya juga ia ganti dengan nama sepantasnya.
"Ternyata saya bisa se -bucin ini denagn dia. Kamu itu beda, selalu apa adanya bukan ada apanya," ucap Rey tersenyum dan mengusap wajah Clara yang kini menghiasi layar depan ponselnya.
Rey membuka pesan singkat. Tiba -tiba saja ia ingin menghubungi Clara melalui pesan singkatnya. Di buka lah ruang pesan singkat itu dan ... jam online terakhir Clara adalah kemarin malam. Itu tandanya Clara sama sekali tak membuka ponselnya. Tadi malam memang Rey sempat melihat Clara mengirimkan pesan singkat untuk ibunya karena Bapak dan Ibunya menelepon tidak terangkat olehnya.
Dengan penuh keisengan Rey mengetikkan pesan singkat kepada istri kecilnya itu.
"Pagi kesayangan ... Saya sudah sampai kampus. Bingung mau ngapain,"
Rey sengaja mengetikkan hal yang membuat penasaran Clara. Ia ingin mengetahui seberapa peka Clara terhadap dirinya dan memghubunginya.
Satu detik ...
Dua detik ...
Tidak ada balasan dan sama sekali tidak ada pergerakan.
Rey masih setia menatap layar ponsel itu. Melihat status pesannya yang sudah terkirim dan memang belum terbaca oleh Clara. Kedua matanya masih menatap tajam ke arah ponsel itu dan warnanya belum berubah menjadi biru.
Satu menit ...
Lima menit ...
Brak ...
Rey mulai kesal. Tangannya di kepal dan di pukulkan ke arah meja kerja di ruangannya.
"Ini sudah pukul delapan ... Masa iya balas chat saja tidak bisa? Perusahaan macam apa itu," ucap Rey dengan kesal.
Rey menutup kembali aplikasi pesan singkatnya dan mengunci layar ponselnya lau di letakkan sembarang dinatas meja. Ia mulai mengeluarkan laptpnya dan menyalakan.
Pagi ini akan ada beberapa bimbingan mahasiswa yang sudah menghubunginya sejak semalam untuk melakukan bimbingan pagi ini.
Tok ... tok ... tok ...
Rey menatap pintu depan ruangan yang di ketuk keras dan menjawab.
"Masuk," ucap Rey lantang.
Ceklek ...
Rey sibuk mencari file di laptopnya hingga tak tahu siapa yang masuk ke dalam ruangannya.
Seseorang yang masuk itu duduk begitu saja di depan Rey dan bersandar diam menatap mantan kekasihnya yang kini telah menikah dengan gadis lain yang sama sekali tak berkuakitas menurutnya.
__ADS_1
"Ada yang bisa saya bantu," ucap Rey pada tamu yang baru masuk dan mengangkat wajahnya menatap ke arah Renata.
Antara kaget dan terkejut menatap sosok wanita yang ada di depannya. Mantan kekasih yang sama sekali tak memiliki pesona apapun baginya saat ini. Berbeda dengan dulu. Rey memang memuji dan memuja Renata.
"Ngapain kamu di sini?" tanya Rey ketus.
Jujur saja, Rey sudah malas melihatbrupa Renata sejak kejadian skandalnya dengan lelaki tua itu. Belum lagi, Pak Felik sebagai dosen senior juga ikiut memperingati. Pak Felix pikir, Rey masih berhubungan dengan Renata dan menasehati Rey serta ikut prihatin dengan apa yang di alami oleh Renata.
Renata menunjukkan wajah yang menyedihkan dan memelas. Tubuhnya maju merapat ke meja kerja Rey dan tangannya melipat di atas meja.
"Aku hamil Rey," ucap Renata lirih.
Rey sama sekali tak kaget. Kedua matanya menatap Renata tajam. Untuk apa ia bicara begitu pada Rey. Apa peduli Rey? Pacar bukan, kekasih bukan, calon istri juga bukan? Lalu untuk apa kabar buruk yang sama sekali tidak membuat Rey merasa prihatin.
"Terus?" tanya Rey pelan.
"Kamu gak khawatir sama kondisi aku?" ucap Renata berusaha mencari pembelaan.
"Apa? Khawatir? Kamu itu siapanya saya?" tanya Rey tegas.
"Minggu lalu kita masih mesra Rey. Semudah itu dalam waktu singkat kamu berubah dan menjadi benci dengan ku?" ucap Renata masih berusaha mencari celah agar kondisinya bisa membuat Rey luluh.
Rey memejamkan kedua matanya dan menghirup napas dalam. Menghadapi mantan kekasihnya ini harus pelan dan tidak bisa dengan bicara keras.
"Renata!! Kita sudah tak ada hubunagn apa -apa lagi semenjak sore itu saya lihat kamu bersama ... Argh ... sudahlah tak perlu saya sebutkan kan, namanya! Lalu saya memutuskan menikahi Clara dan kini saya bahagia dengannya. Lalu kalau kamu hamil minta tanggung jawab pada lelaki yang menghamili kamu!! Bukan pada saya. Saya tidak pernah sedikit pun menyentuh kamu!! Saya mohon kamu keluar sekarang juga!! Saya muak lihat kamu!! Kalau bisa kamu pergi dan jangan pernah menampakkan wajah kamu di depan saya lagi!!" teriak Rey lantang.
Rey berdiri dan membuka pintu ruangannya dengan lebar lalu menyuruh Renata untuk pergi dari sana.
"Kamu tega ngusir aku, Rey?" tanya Renata pelan tak percaya sengan sikap Rey terhadapnya. Ia tahu Rey itu dingin, cuek dan sedikit arogan. Tapi itu pada orang lain tidak dengan orang -orang yang ada di dekatnya. Apa memang Rey sudah terlanjur kecewa dan sakit hati lalu merubah sikapnya kadi seperti ini?
"Keluar!! Kamu bukan anak bombingan saya," ucap Rey tegas tanpa menatap wajah Renata lagi. Ia benar -benarbsudah muak.
Renata menatap benci pada Rey. Tadinya Renata ingin mencari perlindungan dan memelas pada Rey. Tapi nyatanya tidak semudah itu. Renata berdiri dan berjalan keluar sambil menatap tajam ke arah Rey yang sama sekai tak menatapnya lalu menutup pintu ruangan itu dengan cepat saat Renata sudah berada di luar.
Rey menghembuskan napasnya lega. Dia sudah tidak respect lagi pada Renata, bahkan untuk di jadikan teman sekali pun. Lebih baik Rey sama sekalinrak bertemu dan tak mengenalnya lagi seperti dulu.
Rey kembali ke kursinya dan duduk sejenak membiarkan pikirannya tenang kembali. Ia saat ini hanya ingin fokus pada kerjaannya dan pada Clara, istrinya serta kehamilan Clara. Semoga saja memang hamil, batin Rey berharap.
Skip ...
Sudah waktunya pulang. Clara bergegas membereskan mejanya dan mengambil tas di loker yang sudah di sediakan. Seharian ini memang ia tak membuka ponselnya karena memang tidak di ijinkan. Semua ponsel dan apapun bentuknya yang mengganggu waktu bekerja harus di simpan di dalam loker karyawan.
Clara menyelempangkan tasnya dan mengambil ponselnya. Ia lupa meminta tolong Rey, suaminya untuk menjemputnya kembali.
Ada beberapa pesan singkat dan spam chat dari suaminya. Clara tidak tahu, kalau Rey sedang di rundung kegalauan dan kegelisahan. Clara hanya tersrnyum membaca pesan singkat dari Rey. Ia mencoba menelepon balik Rey dan tidak dapat menyambung.
"Hey ... gimana hari ini?" tanya Radit dengan wajah sumringah dan sangat wangi sekali. Wajahnya seperti segar karena habis mandi dan bisa sewangi ini. Clara seharian bekerja malah terlihat lelah dan kuyu begini.
"Ekhemm ... baik. Sangat baik," jawba Clara santai.
Keduanya berjalan menuju pintu lift. Dan masuk ke dalam.
"Pulang kemana? Mungkin kita satu tujuan? Tapi aku bawa motor gak bawa mobil," ucap Radit pelan.
Clara diam dan berpikir sejenak.
"Aku naik taksi aja," jawab Clara pelan dengan senyum manis.
"Gak apa -apa. Yuk bareng. Mungkin kita cocok," ucap Radit terkekeh.
Deg ...
Apa pula maksud arah pembicaraan Radit. Clara hanya mentaal Radit sekilas dan senyumnya di paksa sedikit.
Pintu lift sudah terbuka. Keduanya sudah berada di lobby.
"Kamu di jemput sama om kamu?" tanya Radit masih berusaha merayu Clara untuk mengantarkan Clara sampai tujuan akhirnya.
Clara tetap berjalan lurus tak peduli.
__ADS_1
"Clara!!" panggil Rey dari arah seberang.
Clara menoleh ke arah Rey dan melambaikan tangannya kepada Rey. Hidupnya seperti terselamatkan.
"Aku duluan ya. Sudah di jemput," ucap Clara cepat kepada Radit. Lalu berlari kecil menghampiri Rey yang menatap tajam ke arah Radit dan begitu pun sebaliknya. Tatapan penuh bara api cemburu.
Clara sudah berjalan di samping Rey menuju parkiran mobilnya.
"Pak Rey sudah lama?" tanya Clara lembut membuka pembicaraan kepada Rey yang sejak tadi hanya diam dan fokus pada jalan yang mereka lewati.
Clara melirik sekilas ke arah Rey yang sudah membuka kunci mobilnya dan masuk ke dalam. Clara juga membuka pintu pada sisi lain dan masuk ke dalam. Ia meletakkan tas nya dan memasang sabuk pengaman.
Rey hanya melirik sekilas ke arah Clara dan melajukan mobilnya dengan pelan.
Keduanya sama -sama diam. Tidak ada pembicaraan sama sekali.
"Pak ... Pak Rey kenapa sih? Kok diem aja?" tanya Clara geram.
"Sama kan kayak ponsel kamu!! Diam, hening dan silent," ucap Rey santai.
Clara membetulkan duduknya dan merubah posisinya agar bisa menatap Rey lekat.
"Ohh ... Pak Rey diemin saya, gara -gara saya gak balas chat Pak Rey? Gitu?" tanya Clara menyelidik.
Dengan santainya Rey mengangguk pelan.
"Ya ampun Pak Rey. Clara gak bisa pegang hp," ucap Clara cepat.
Spontan Rey menghentikan laju mobilnya dan menarik rem tangan lalu menarik tangan Clara dan melihat satu per satu telapak tangan yang masih mulus.
Clara menatap aneh ke arah Rey.
"Pak Rey kenapa sih?" tanya Clara bingung.
"Katanya gak bisa pegang hp? Kirain tangannya luka," ucap Rey pelan tanpa dosa menatap lekat wajah Clara.
Clara menarik napas dalam dan memutar kedua bola matanya malas. Ia merasa bodoh saat ini.
"Maksudnya di kantor itu tak di ijinkan main hp di saat jam kerja," jawba Clara menjelaskan.
Rey masih menikmati wajah lelah Clara.
"Terus gak ada jam istirahat?" tanya Rey mulai posesif.
"Ada ... kan Clara makan," jawab Clara membela diri.
"Satu jam untuk makan? Habis berapa piring?"
"Ya cuma satu piring, Pak. Tapi kan ...."
"Apa? Sibuk?"
"Bukan sibuk. Cuma kan gak enak kalau main hp. Lagi pula hp kan di simpan di loker," ucap Clara masih berusaha meyakinkan Rey.
Sejujurnya tadi Clara memang sengaja tidak membawa hp nya pada wakti makan siang karena Radit selalu mengajaknya bicara.
"Oh di loker. Biar gak di ganggu ngobrol sama si jungkook tadi," ucap Rey mulai kesal.
Clara melotot ke arah Rey.
"Kok si jungkook?" ucap Clara pelan.
"Kamu tahu. Saya tunggu kamu dari siang saat jam makan siang sampai sore tadi!! Kamu tahu rasanya nunggu itu kayak apa? Saat ponsel kamu juga sulit untuk di hubungi!! Terus saya gak boleh punya pikiran gak wajar sam kamu!! Apalagi saya lihat kamu bisa tersenyum bahagia sama si jungkook itu tadi di kantin!!" ucap Rey tegas.
Deg ...
Tatapan Rey tajam dan sama sekali tak main -main. Fix Rey sedang marah dan kesal.
"Maaf Pak," lirih Clara.
__ADS_1
Tak lama ponsel Clara berbunyi keras dari dalam tasnya.
Dengan cepat Clara mengambil ponselnya dan saat mengeluarkan ponselnya, ada bemda lain yang ikut terangkat dan jatuh tepat di bawah kaki Clara. Benda pipih dan berkilau. Rey menatap ke bawah dekat kaki Clara lalu memungut benda itu.