PAK DOSEN, I LOVE YOU

PAK DOSEN, I LOVE YOU
93


__ADS_3

Clara masih menangis di atas tempat tidur sejak semalam hingga pagi mulai menjelang. Telinganya seolah masih terngiang mendengar jelas ucapan Renata yang mengucapkan terima kasih atas uang yang telah di kirim Rey untuknya. Air matanya kembali turun ke pipinya yang mulus. Mungkin bila Clara menatap wajahnya ke cermin, ia bisa melihat betapa kuyu dan kusamnya ia saat ini. Kedua matanya sudah bengkak dan sama sekali tak terlihat lagi dua bola matanya yang belok, smeua terlihat sipit.


Tubuh kini mulai di turunkan dan di rebahkan di atas kasur empuknya. Punggungnya yang sejak tadi malam hanya bersandar pada sandaran tempat tidur pun mulai terasa nikmat merasakan kenyamanan saat tubuhnya berbring terlentang.


Clara menatap waktu pada jam dinding besar yang ada di kamarnya. Saat ini sudah menunjukkan pukul tiga pagi.


Di tempat yang berbeda, Rey juga masih terjaga. Kedua matanay menatap langit -langit rumah yang berwarna putih itu. Bayangan senyum Clara yang selalu menguatkan hatinya di saat ia berdebat denagn istrinya. Rey memang mengakui salah dan kesalahannya sungguh fatal. Pikirannya mulai kacau dan kalut, Rey sangat takut bila Clara benar -benar tidak bisa memaafkannya.


Tadi, Rey sempat meminta bantuan Arga dan Nita untuk membujuk Clara, dan meluruskan masalah ini. Arga adalah orang yang paling tahu. Semua kejadian yang sebenarnya terjadi termasuk sejumlah uang yang Rey transferkan ke rekening Arga untuk membantu Renata. Rey sama sekali tak bersinggungan langsung dengan Renata. Sampai pertemuan tadi sore yang tanpa sengaja adalah pertemuan kembali Rey dan Renata yang sudah sekian lamanya. Semenjak menikah dengan Clara, Rey sama sekali sudah melupakan Renata, bahkan sejak ia tahu kejadian di kost Renata, apa yang di perbuat mantan pacarnya yang selalu ia pertahankan dulu.


Begitulah seorang laki -laki yang sudah di khianati oleh kekasihnya. Apalagi soal pereselingkuhan samapi padaa sudah di jamahnya tubuh pacaranya oleh orang lain, tentu perlakuan itu tidak akan pernah termaafkan oleh Rey selamanya.


Awalnya Rey juga tidak mau membantu Renata. Arga meminta bantuan Rey, Renata terus memaksanya untuk menghubungi Rey dan meminta bantuan pada mantan kekasihnya itu. Renata sempat meminta nomor baru Rey, tapi Arga tak memberikannya. Sampai pada akhirnya Renata mengancam akan berteriak di ruangan Arga agar banyak yang mengira terjadi sesuatu antara Arga dan Renata. Memang dasar wanita gila!!


***


- Di Tempat lain -


Nita sudah berbaring menyamping dengan bantal yang di gunakan untuk mengganjal perutnya. Ia menunggu suaminya ikut tidur juga bersamanya setelah terlihat serius sedang menelepon dengn Rey. Sejak tadi, Nita mencoba menelepon Clara tidak dapat menyambung. Nita tahu, Clara pasti marah besar dan tidak akan memaafkan Rey.


Nita ingat, saat dulu masih kuliah, ada seoarng lelaki yang menyukai Clara dan mereka baru melakukan masa pendekatan. Belum genap satu minggu, lelaki itu juga terlihat sedang berjalan dengan perempuan lain. Sejak saat itu, Clara memblokir nomor lelaki itu dan sama sekali tidak mau di ajak bertemu. Padahal lelaki itu menunggu Clara di depan kamarnya. Tapi Clara bertahan tak keluar dari kamar kostnya seharian. Itulah Clara, kalau sudah marah, ia akan mengurung diri seharian dan bahkan bisa sampai berhari -hari tergnatung tingkat kegalauannya.


Arga sudah selesai telepon dengan Rey, ia kembali ke kasur dan ikut merebahkan tubuhnya di kasur di samping Nita.


"Gimana? Clara masih marah?" tanya Nita pelan.

__ADS_1


"Masih. Besok pulang mengajar, kemungkinnan Mas harus ke rumah Rey, untuk menjelaskan duduk perkara sebenarnya pada Clara. Kamu mau ikut, untuk merayu Clara," tanya Arga pada Nita.


"Gak. Ini salah kamu juga Mas. Aku gak mau ikut campur soal ini. Tentu, kalau Clara tahu, kamu ikut menghubungkan kembali Renata dan Pak Rey, kamu tahu? Ini sama saja emmbuka peluang baru untuk Renata!! Bisa -bisanya sih Mas, kamu melakukan hal ini tanpa pikir panjang!!" tegas Nita dengan marah.


Sebagai sahabat Clara dan suami Arga. Nita tentu menyikapi masalah ini dengan bijak. Ia tetap menyalahkan Arga sebagai penghubung. Jika buakn Arag yang menghubungkan pada Rey, tentu Rey tidak akan terjebak pada maslaah besar ini. Nita tahu, Clara itu adalah perempuan nekat jika sudah bertindak.


"Kamu gak mau bantu Mas, Ta? Mas harus bagaimana?" tanya ARga dengan gusar.


"Ya itu urusan Mas. Mas bisa bertindak, berarti Mas harus cari solusinya. Mas juga aneh, soal mantan adalah soal yang sensitif. Jangan di anggap enteng. Ini bukan perkara kecil dan bukan soal jumlah berapa uang yang di transfer untuk Renata. Tapi ini sebuah kepercayaan, amanah, dan kejujuran. Kalau hal ini juga terjadi sama Nita, Nita akan emlakukan hal yang sama pastinya. Gila aja, suami kirim uang untuk mantannya, yang udah jelas itu matan, wanita yang di buang karena di anggap sampah, masih aja di bantu. Butuh bantuan suruh aja ke kantor polisi, biar Dosen tua bangak itu mau tanggung jawab!!" ucap Nita penuh emosi.


"Sudah Ta. Kamu jangan ikutan emosi dan marah, jaga kondisi kandungan kamu, Sayang," ucap Arga lembut. Arga tidak ingin, ia di sudutkan karean kesalahannya juga karena sebagi penghubung. Arghhh ... Runyam semuanya kalau begini. Renata juga, kenapa sih, pakai keceplosan segala. Apa dia sengaja? Membuat Clara marah? Ia tahu kondisi Clara kurang stabil?


***


"Kalau keluar kamat, tentu Rey akan mengikutinya. Kalau tidak makan, perutnya mulai terasa perih kelaparan. Kasihan juga baby twinsnya yang dari sore belum di beri sari makanan," batin Clara di dalam hatinya.


Clara bangkit dari tidurnya dan mengganti pakaiannya yang terasa gatal di tubuhnya. Ia memilih daster berbahan kaos yang tipis agar lebih nyaman di pakai.


Clara memutar anak kuncinya dan mengintip ke arah luar kamar. Kedua matanay melihat Rey yang sedang tertidur pulas di sofa. Entah pulas atau tidak, pastinya Clara hanya melihat kedua mata Rey terlihat terpejam.


Perlahan Clara keluar kamar tidurnya tanpa menutup kembali kamarnya dan berjingkat ke arah dapur agar tak terdnegar oleh Rey. Kedua kakinya berjalan pelan sekali sudah seperti maling di rumahnya sendiri.


Agar lebih cepat dan tidak memakan waktu. Clara hanya mengambil beberapa makanan yang langsung bisa di makan tanpa harus mengolahnya, seperti roi dan biskuit serta susu kotak kemasan yang siap santap. I akembali lagi ke dalam kamarnya dnegan penuh rasa aman. Lalu menutup lagi pintu kamar tidurnya dan mengunci rapat.


Nanti, kalau Rey mau ke kampus, Clara kasih pakaiannya dan kalau sudah berangkat, baru Clara masak untuk sarapan dirina. Lalu baru ia pikirkan langkah selanjutnya harus bagaimana. Kejadian fatal ini tak termaafkan lagi bagi Clara. Rasanya sulit menerima alasan yang tak akan pernah masuk akal bagi Clara. Mantan tetap saja mantan, mantan itu sampah. Kenapa jadi mantan, karena sudah tidak terpakai, kalau tidak terpakai bukannya sama saja seperti sampah. Lalu? Untuk apa membiayai samaph? Memang mau di daur ulang? Biar bisa berfungsi lagi? Biar ada manfaatnya lagi? Atau biar ada feedacknya?

__ADS_1


"Dasar murahan!!" teriak Clara yang lolos begitu saja dari bibirnya karena kesal.


Clara berjalan ke kasur dan mulai melahap semua makanan yang ia bawa dengan rakus. Ia mengibaratkan makanan itu adalah Renata dan ia makan satu per satu tubuhnya yang sok seksi itu untuk di kunyah dan di telan.


"Ada manusia begitu!!" kesal Clara berbicara sendiri.


"Andaikan Clara ketemu lagi. Lihat saja, Clara sudah lebih kuat dari kemarin. Jujur Clara syok dengarnya. Clara saja gak pernah minta uang sama suami. Ini minta -minta!! Sudah seperti pengemis saja. Lebih terhormat pengemis, dari pada kamu, dasar uler keket!! NYEBELIN!!" teriak Clara makin geram. Clara masih mengunyah roti tawar di dalam mulutnya sambil berteriak marah dan geram.


Jelas sekali wajah polos dan sok manis Renata tadi malam yang seolah tak punya rasa bersalah. Memang gak tahu diri, gak punya hati!! Pantas saja, tuh dosen gak mau tanggung jawab, mungkin lama -lama males juga punya simpenan uler ekket begitu!!


Clara terus meracau tak jelas. Ia melupakan semua rasa kesalnya yang ada di dalam hatinya. Mulai dari mengepalkan tangannya dan memukul -mukul kasur, lalu membuat bulatan roti tawar yang di kepal -kepal karena ingin mencakar -cakar wajah Renata, dan mengunyah roti yang ada di mulutnya seolah Renta sudah harus di matikan dan hanguskan dari muak bumi ini. Eneg lihatnya!!


"Arghhhhh!! Kenapa sih!! Kmau selalu datang di saat yang gak tepat!! Brengsek!! Dasar uler keket!! Rasanya mau di pites terus di kerubungi bilatung!!" teriak Clara yang semakin menjadi -jadi menympah serapahkan Renata.


Clara mengusap kedua wajahnya dengan telapak tangannya dengan kasar. Rasanya ingin berteriak sekeras -kearasnya agar hatinya makin tenang.


"Clara benci!! Argh!!" teriak Clara dengan suara keras dan sangat tinggi sekkali membuat Rey yang mendengar terasa tersayat -sayat. Rey berlari dari dalam kamar mandi dan memeluk Clara. Ia tidak mau kondisi Clara memburuk karena stres. Ia ingat ucapan dokter untuk sellau menjaga kewarasan istrinya baik secara fisik dan psikisnya.


Rey memeluk Clara yang masih duduk di atas kasur dengan wajah yang di tutup oleh telapak tangan. Pelukan hangat yang biasanya terasa nyaman dan kini terasa sanagt hampa sekali.


"Maafkan Mas, Ra. Jangan berteriak seperti ini," ucap Rey lembut sekali sambil mencium pucuk kepal Clara dengan lembut.


Dengan kasar, Clara mendorong tubuh Rey. Clara tersadar bahwa ia sedang malas dnegan suaminya. Ia sedang marah besar, mual rasanya berada dekat ellaki munafik seperti Rey.


"Ngapain di sini!!" teriak Clara dnegan suara tegas. Kedua matanya melotot tajam ke arah Rey.

__ADS_1


__ADS_2