PAK DOSEN, I LOVE YOU

PAK DOSEN, I LOVE YOU
40


__ADS_3

Kini keadaan mulai ricuh karena setelah ada kata SAH seharusnya pengantin perempuan yang bernama Clara Widianto itu turun menghampiri suaminya. Ini malah tak kunjung datang ke meja ijab kabul.


Bapak Clara mulai panik saat beberapa tamu mulai sadar kenapa pengantin perempuannya tak lekas hadir menemui suaminya. Beliau takut para tamu undangan itu akan berlrasangka buruk terhadap dirinya.


Rey pun mengedarkan pandanganmya untuk mencari Clara. Mungkin saja ia sengaja bersembunyi dan nanti menampakkan wajahnya.


Ibu Clara naik ke atas ke kamar Clara, namun memang Clara sejak jam tujuh tadi sudah turun ke bawah dan menunggu di ruang tengah bersama dua lerias yang bertugas menjaga putrinya itu.


Semua orang ikut di sibuk kan mencari sosok manusia bernama Clara di setiap sudut ruangan rumah ini. Tentu saja yang jadi tersangkanya adalah dua perias yang sejak awal di beri tugas untuk menemani Clara.


Bapak Clara berjalan ke dapur. Benar saja dua perias itu berada di sana dan sedang santai menikmati lontong opor ayam tanla ada rasa berdosa sambil tertawa lepas.


"Di sini rupanya kalian!! Clara mana? Itu acara ijab kabul sudah selesai. Kalian bukan membawa Clara ke depan sesuai rencana malah tertawa cekikikan kayak mak lampir gak jelas di sini!!" suara bentakan Bapak Clara membuat dua perias itu kaget.


Salah satunya sampai tersedak tulang ayam yang ikut tersedot saat menyedot sisa bumbu opor ayam pada tulang ayam bagai menyedot tulang iga saja.


Uhukkk ... salah satu perias yang bernama upik itu terbatuk -batuk sampai wajahnya memerah dan kedua matanya berair. Bisa merasakan bukan, itu sakit sekali. Romlah langsung meletakkan piringnya dan piring upik ke meja yang ada di sana untuk menutupi rasa gugupnya ketahuan sedang bergerilya makanan sebelum di sajikan ke luar sebagai sajian prasmanan.


"Maaf Pak Sentot, tadi Clara ada di kursi ruang tenngah. Kedua matanya sudah kami tutup dengan kain penutup hitam sesuai perjanjian bahwa ini adalah acara rahasia, persis seperti apa yang Bapak ucapkan," Romlah berkata jujur apa adanya


Bapak sentot melotot kepada keduanya. Ingin rasanya mencekik leher keduanya bagai ayam yang sudah tak berdaya.


"Kenapa kedua mata Clara harus di tutup? Saya hanya bilang ini acara tertutup hanya beberapa kerabat dan tetangga saja yang menyaksikan. Jadi kedua mata Clara gak perlu sampai di tutup juga!! Memangnya mau eksekusi? Pantas saja dia tidak ada," teriak Bapak Clara mulai marah.


Sebelum acara di mulai. Tidak ada brifing atau sinkronisasi jadwal sesungguhnya antara perias Clara dengan tim MC.


Romlah dan Upik hanya di beri tugas merias Clara dalam waktu setengah jam karena acara akan di mulai jam tujuh malam tapi nyatanua samapi pukul delapan tadi masih berdebat urusan nama pengantun pria yang datang dan yang akan menikahi Clara tidak sesuai dengan pendaftar. Sedikit ambyar juga. Maklum dadakan itu tadi.


"Terus gimana Pak?" tanya Romlah bingung sambil melirik ke arah piringnya tadi karena masih tidak rela harus berpisah dengan makanan itu.


"Masih nanya terus gimana? Hah!! Kalian ini benar- benar tak bisa di andalkan!!" teriak Bapak Clara mulai emosi lagi.


"Ekhemm ... Pak Sentot. Sudah kami tidak usah di bayar tidak apa -apa kalau memang Claranya tidak ada. Kami ikhlas," ucap Romlah sambil menyikut Upik yang ada di sebelahnya.


"Kalian waras? Masih bisa bilang tidak usah bayar? Tidak akan saya bayar!! Anak saya hilang entah kemana ini semua karena kalian!! Kalau tidak di temukan kalian harus tanggung jawab!!" tegas Bapak Clara dengan suara keras menghentak.


Semua sibuk mencari Clara tapi memang tak di temukan sama sekali.


Bunda Silva berusaha menenangkan Ibu Clara yang sejak tadi panik dan akhirnya menangis mencari Clara tak kunjung di temukan.


"Ayah ... Kalau sudah SAH begini, terus Clara gak muncul. Pernikahannya batal gak sih?" tanya Rey mulai gusar.


"Seharusnya tidak. Karena memang sudah pengucapan ijab kabul," ucap Ayah David yang ikut menggelengkan kepalanya bingung.


Skip ...


Sejak satu jam sebelum acara ijab kabul itu di mulai. Clara sudah duduk manis di ruang tengah dengan kedua mata tertutup kain penutup macam tawanan perang saja.


Saat itu Clara bertanya pada Romlah dan Upik soal acara malam ini setelah ia tersadar seharusnya acara tunangan itu berlangsung besok malam. Tapi keduanya sama sekali tidak bisa menjelaskan dengan jelas. Bukan tidak bisa menjawab tapi karena memang tidak tahu apa -apa soal acara malam ini. Mereka saja bingung karena di panggil mendadak oleh Pak Sentot untuk merias Clara malam ini dan hanya di beri waktu setengah jam saja.


Nah, sewaktu berada di sofa runag tengah tanpa sengaja Clara mendengar, bahwa malam ini adalah acara pernikahan di majukan mendadak atas permintaan Bapak Clara.


Deg ...


Jantung Clara berdegub keras saat mendengar malam ini adalah acara ijab kabul yang di majukan. Itu tandanya ia akan segera menikah dan menjadi Nyonya Pranoto? Hah? Sama sekali tak pernah terbayangkan di benak Clara menikah dengan lelaki yang super lelet dan terlalu dramatis seperti itu. Lalu, bagaimana dengan malam pertamanya nanti? Bisa -bisa ... arghhh sulit di bayangkan.


Pantas saja, beberapa kali juragan Ayong sejak siang tadi datang ke rumah ini. Mungkin untuk memastikan bahwa acara setuju di majukan.


"Apa aku menerima tawaran Pak Rey untuk nikah lari saja? Mungkin itu cara terbaik agar Bapak menyetujui hubungannya dan segera menikahkan Clara dan Pak Rey secepatnya," batin Clara di dalam hatinya.


Clara membuka penutup matanya dan menatap kesibukan di sekelilingnya yang sedang bekerja sesuai tupoksinya masing -masing demi mensukseskan acara yang serba mendadak ini.


Clara menatap dirinya yang memang sudah rapi memakain kain panjang dan kebaya putih untuk acara pernikahan.


Melihat dua perias itu sibuk mencari makanan di dapur. Clara pun berjingkat keluar lewat taman belakang. Ia bersiap untuk lari dan mencari Rey. Karena Clara masih melihat mobil Rey ada di seberang rumahnya.


Clara berhasil keluar dari rumah tanpa di ketahui dan melewati pintu belakang lalu berlari ke arah jalan untuk mencari mobil Rey. Clara bersandar di sisi mobil sambil menarik napas dalam lalu mencoba membuka pintu mobil itu dan ... Terbuka.


Tanpa pikir panjang, Clara masuk ke dalam mobil tanpa menutup rapat pintu mobil itu agar tetap ada hawa udara yang masuk agar tidak mati lemas di dalamnya. Bisa -bisa tidak jadi kawin nanti sama Rey malah viral masuk media sosial dengan trending berita, "Seorang wanita mati konyol di sebuah mobil karena melarikan diri saat akan di nikahkan dan lebih memilih nikah lari bersama dosennya sendiri." Clara menggelengkan kepalanya cepat sambil mengetuk kaca beberapa kali untuk menolak bala semua pikiran jelek yang bisa saja terjadi.

__ADS_1


Tatapan Clara tetap fokus ke arah rumahnya. Ia juga dengar kata SAH itu dan semua orang seolah mencari Clara.


Di dalam mobil itu Clara malah terkekeh sendiri melihat kebingungan orang banyak yang jelas terlihat di depan matanya.


Ceklek ...


"Clara?" ucap Rey kaget saat melihat Clara ada di dalam mobilnya.


"Pak Rey? Kok pake peci? Mau tahlil? Apa mau gimana? Clara belum mati kan?" ucap Clara sambil menepuk -nepuk pipinya sendiri dan mencubit tangannya sendiri yang terasa sakit. Itu tandanya ia masih sadar.


"Kamu ngapain ada di sini? Semua mencari kamu, Sayang," ucap Rey penuh kelegaan.


"Sa -saya gak mau di nikahin sama ...."


"Siapa?" tanya Rey lirih.


"Saya kan maunya sama Bapak," cicit Clara lirih nampak malu -malu.


"Kan memang dengan saya," jawab Rey.


"Hah? Serius Pak? Nikahnya sama Bapak? Bukan sama Pranoto?" tanya Clara memastikan.


"Iya sama saya. Ayo masuk," tirah Rey.


"Malu Pak, masa udah kabur -kaburan malah masuk juga ujung -ujungnya," ucap Clara malu.


"Kalau kamu gak masuk, sia -sia saya ijab kabul tadi karena bakal di batalkan. Mau? Di batalkan?" tanya Rey kepada Clara.


Clara nampak ragu. Ia merutuki kebodohannya sampai kabur lewat belakang mana kain panjangnya sedikit sobek saat berjalan mengait paku panjang yang menancap di tembok.


Tahu akan di nikahkan dengan Rey tak perlu dramatis begini.


"Apa perlu saya gendong? Biar malunya hilang?"


"Emang kuat?"


"Gendongnya langsung ke kamar lah," tawa Rey renyah.


"Lho kok mesum? Mesum begini juga kamu suka?" tembak Rey langsung.


Akhirnya Clara memutuskan kembali hadir di acara pernikahannya sendiri yang sudah membuat ricuh karena tingkahnya sendiri.


Semua memandang ke arah Rey dan Clara yang masuk kembali ke rumah. Rey membawa Clara langsung ke meja ijab untuk di pasangkan cincin di jemarinya dan menerima buku nikah yang masih salah namanya itu sebagai tanda saja.


"Pak ini beneran kita nikah?" bisik Clara masih tak percaya.


Dulu Clara menginginkan pernikahan yang mewah dan indah seperti puteri raja yang ada dalam dongeng. Tapi kenapa jalan hidupnya malah jauh berbanding terbalik dengan cerita halu tingkat tinggi itu.


"Heemm ... seneng kan?"


"Gak sih. Biasa aja,"


"Masa? Emang gak kangen sama si joni?" Rey tertawa sambil mengedipkan satu matanya kepada Clara.


"Ih Bapak yang di pikir cuma itu saja," ucap Clara kesal dan hanya memutar kedua matanya dengan malas.


Habislah setelah ini Clara bakal tidak bisa berjalan dua hari dua malam. Tidak SAH aja, Rey begitu kuat. Apalagi ini sudah SAH, bakalan berapa obat kuat yang ia telan untuk memenuhi kebutuhan biologisnya itu.


Acara pernikahan yang di laksanakan dadakan bagai tahu bulat yang di goreng dadakan dengan waktu yang sesingkat -singkatnya itu pun membuahkan hasil yang cukup membuat banyak orang tetkagum -kagum bahkan sedikit mengumpat atas rentetan kejadian yang mengalir begitu saja.


"Wah selamat bertempur untuk kalian berdua," ucap Ayah David tertawa.


"Ayah ... gak boleh gitu," ucap Bunda Silva sambil mencubit suaminya itu untuk tidak menggoda Rey dan Clara.


"Lho memang benar kok. Ayah memang salah? Bunda mau juga? Bisa di atur," Ayah David terkekeh melihat perubahan wajah istrinya itu.


Skip ...


Clara sudah duduk di depan cermin dan membersihkan wajahnya dari sisa make up tadi menggunakan pembersih wajah.

__ADS_1


Hatinya lega sekali sudah menikah. Cincin yang kini melingkar di jemarinya juga sebagai bukti bahwa ia sudah di miliki oleh Rey. Dosen idaman para mahasiswi di kampusnya. Bagaimana reaksi mereka nantinya? Kalau tahun Clara yang berhasil mendapatkan Rey? Reaksi Renata? Vivi? Dan beberapa teman perempuan lainnya yang sempat ingin menggoda Pak Rey.


"Melamun saja. Mikirin apa?" tanya Rey yang berdiri si belakang Clara sambil memainkan rambut Clara.


"Ekhemmm .... Gak melamun," ucap Clara pelan.


"Clara ... Ada hal yang ingin saya bicarakan. Ini soal kita," ucap Rey yang terlihat tegas dan serius.


Clara meletakkan kapas yang sudah selesai ia pakai dan berbalik menghadap ke arah Rey.


"Mau bicara apa Pak? Kayaknya serius banget? Bilang aja," titah Clara.


Kedua mata Rey menatap lekat pada dua bola mata indah Clara. Tatapan ini sama seperti saat mereka bertemu untuk pertama kalinya.


"Kita mau tinggal dimana setelah ini?" tanya Rey dengan wajah serius.


"Hah? Bapak bilang serius itu hanya mau tanya kita mau tinggal di mana? Ya ampun Pak?" ucap Clara emosi. Dia sudah dengerin dengan seksama tapi pertanyaannya malah tidak bermutu sama sekali.


"Lho ... itu sangat penting Clara!! Saya gak mau setiap mau nganu -nganu terganggu lagi seperti waktu itu," ucap Rey serius.


"Gak ada pertanyaan lain Pak? Selain begituan. Clara gak ngerti deh sama jalan pikiran Bapak! Nikahin Clara hanya untuk bisa begituan saja?"


"Itu salah satunya bukan satu -satunya. Karena satu -satunya itu memiliki kamu secara utuh sepeetu saat ini. Saya bangga bis ameluluhkan hati Bapak kamu hingga menyerahkan anak gadisnya pada saya,"


"Terlalu percaya diri sekali,"


"Awas kamu nanti. Gak saya luluskan bab dua kamu,"


"Bodo amat,"


"Heh .. berani?"


"Gak,"


"Ayo tidur,"


"Gak mau,"


"Kenapa?"


"Males,"


"Ayo!! Atau di paksa?"


"Gak mau,"


"Kenapa? Saya sudah gak tahan ini,"


"Lagi dapet,"


"Bohong aja,"


Clara mengeluarkan pembalut dan tertawa keras sambil mengejek.


"Kamu serius?"


"Kemarin? Gak jadi hamil? Kan udah muntah -muntah?"


"Gak. Kan saya bilang tunggu akhir bulan. Eh barusan di cek dapet,"


"Ya ampun ... Nasib saya begini amat. Baru mau ajak si joni senam malam malah ...."


Tawa Clara makin keras dan mematikan lampu kamar mereka.


"Hemmm ... pandai berbohong ya ...."


"Arghhhh ... Pak Rey ... pelan -pelan dong,"


"Sudah gak tahan. Kan sudah SAH."

__ADS_1


"Arghh ... hemmmm ...."


__ADS_2