
Perjalanan di sore hari memang sangat enak. Cuacanya lebih terasa adem, karena matahari mulai turun ke ufuk barat. Rey dan Clara sudah berada di dalam mobil yang melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah Nita dan Arga, sahabat mereka.
Lama peerjalanan sekitar hampir satu jam, dan jalanan bukan jalan raya utama yang sering macet.
Klurukkk ... klurukkk ...
Perut Clara sudah berbunyi keras, rasanya lapar dan ingin mengunyah sesuatu untuk di telan dan masuk ke adalam perutnya.
Rey menoleh ke arah Clara, lalu terkekeh pelan.
"Hemmm ... Ini baby twinsnya minta ngemil Papah. Kok malah di ketawain, Papahnya gak peka sayang. Jadi gimana? Masih mau di akui Papah kalian?" tanya Clara lembut yang duduk bersandar pada jok mobil dan mengusap pelan perutnya sambil mengajak bicara kedua bayinya di dalam perut.
Rey melirik ke arah Clara. Rasanya tak adil bagi Rey di intimidasi begitu oleh istri dan kedua calon anaknya.
"Eits ... Papah peka ya. Ini mau ke mini market biar Mamah twins gak kelaparan. Sukanya ngajarin yang gak baik. Kalau sama anak, kasih tahu yang baik dan positif, jangan sampai mengintimidasi orang apalagi Papahnya sendiri," titah Rey pada Clara.
"Mas ... Mereka kan belum lahir, aman ngerti. Lagi pula itu kan hanya ...." ucapan Clara di sela tegas oleh Rey.
"Apa? Hanya intermezo saja? Cari perhatian Papahnya? Gitu? Tapi kan gak perlu di ajak bicara begitu! Saya gak suka," tegas Rey dengan suara lantang.
Rey langsung mnegatup kedua bibirnya setelah mengucapkan beberapa kata dengan lantang kepada Clara. Sama seperti Clara yang mendadak diam dan wajahnya menunduk lemas tak se -ceria tadi saat berangkat, Clara sangat bersemangat.
Mobil Rey langsung masuk ke dalam halaman parkiran sebuah mini market. Ia juga tidak mau, istri dan calon bayinya kelaparan dan kekurangan nutrisi yang berakibat terlahir dalam kondisi gizi buruk. Jangan sampai.
Mesin mobil sudah di matikan, Rey mengambil dompet yang di simpan di dashboard.
"Yuk turun," titah Rey membuka pintu mobil bagian samping dan bersiap keluar.
"Gak Mas. Mendadak laparnya hilang," jawab Clara singkat. Tatapan Clara kosong ke depan.
"Kalau kamu yang mendadak hilang rasa laparnya, saya gak peduli. Saya hanya peduli pada baby twins yang saya titipkan di rahim kamu, tadi mereka sudah memberikan sinyal untuk meminta asupan sari makanan. Itu saja," ucap Rey pelan sedikit menyindir Clara. Tidak enak buka, tidak di pedulikan dan sedikit di intimidasi seperti itu.
__ADS_1
Clara menoleh ke arah Rey dan menunjukkan raut wajah yang tak suka. Clara mendengus kesal melihat Rey yang meninggalkan Clara di dalam mobil dan ia sudah sudah turun dari mobil lalu berjalan menuju pintu masuk mini market. Biasanya, Rey akan membukakan pintu mobil bagian Clara dan mempersilahkan istrinya itu keluar dengan penuh kehati -hatian, tapi tidak dengan saat ini.
Clara kesal dan memukul -mukul dashboardnya dengan telapak tangan sambil keningnya di lekatkan pada dashboard tersebut. Kesal dan sungguh mengesalkan.
"Dasar Om -Om gak jelas!! Ngatain istrinya labil, padahal dia yang labil, nyatanya dia gak peka untuk bukain pintu mobil istrinya, apa karena masih pakai kaca mata hitam jadi tak terlihat?" lirih Clara kesal.
"Hemm bagus juga umpatan kamu buat suami kamu," ucap Rey lantang. Pintu mobil sudah terbuka lebar sejak tadi dan menunggu Clara keluar dari mobilnya.
Suara keras itu tentu membuat Clara terkejut setengah mati. Padahal dia mengumpat pelan sekali, kenapa Rey sudah ada di sampingnya dan membuka pintu mobil. Ini bisa jadi boomerang dan perang dunia kelima. Kenapa juga harus mengumpat seperti itu tadi malah membuat kisruh saja.
"Cepet turun. Waktu kita gak banyak dan jangan mengulur waktu, kita bisa telat ke acara Arga," titah Rey pada Clara yang malah seperti cacing kepanasan.
Clara turun dan berjalan pelan di belakang Rey yang sudah lebih dulu berjalan dengan langkah lebar. Rey membuka pintu masuk mini market dan mempersilahkan Clara untuk masuk. Dengan cepat Rey membawa keranjang kuning dan berjalan di belakang Clara.
"Cari makanan sehat, bergizi dan tidak pedas," titah Rey yang berjalan di belakang Clara.
"Cemilan begini mana ada yang sehat dan bergizi, semuanya tidak mengenyangkan cuma memuaskan nafsu untuk ngemil saja," ucap Clara. Kedua matanya masih mengedar di area rak -rak yang di penuhi dengan cemilan kue dan biskuit serta cokleat.
"Kenapa harus Clara yang baca, Mas Rey aja yang baca. Makanan mana yang cocok buat Clara," ucap Clara mulai kesal. Mau belanja saja harus berdebat cuma gara -gara di bilang Om -Om gak jelas.
"Saya malas, lagi pula saya masih pakai kaca mata hitam, jadi ...." Dengan cepat Clara menyela ucapan Rey yang mulai membuat emosi Clara naik sampai di ubun -ubun.
"Oh gak bisa baca, berasa buta? Ngeselin banget sih," ucap Clara semakin kesal.
Clara hanya melihat -lihat rak dan berputar lalu keluar lagi. Malas rasanya berlama -lama di dalam dan malah di ajak debat oleh suaminya.
Rey menatap Clara yang berjalan cepat dan keluar dari mini market itu. Rey hanya menggelengkan kepalanya pelan. Tak perlu di kejar, biarkan saja maunya apa. Sesekali Clara harus di buat agar tidak melulu manja. Rey mengambil beberapa makanan ringan dan kue serta biskuit kesukaaan Clara. Tak peduli dengan komposisi giziny yang terpenting Rey membelikan apa yang Clara sukai, termasuk susu strawberry yang saat ini seadang menjadi candu bagi istrinya.
Clara duduk di kursi besi yang ada di depan mini market itu tepat di depan mobil Rey parkir. Wajahnya mulai di selimuti rasa kesal hingga terlihat sangat judes sekali.
"Heii ... Di sini juga? Apa kabar?" tanya seorang laki -laki yang duduk di samping kursi Clara.
__ADS_1
Clara menoleh ke arah laki -laki itu dan melempar senyum lebar.
"Mas Pranoto? Apa kabar?" ucap Clara ramah. Clara merasa mengenal Pranoto, karena memang lelaki itu adalah lelaki yang akan di jodohkan pada Clara saat itu.
Pranoto mengulurkan tangannya ke arah Clara untuk berjabat tangan. Hubungan mereka mungkin hanay sebatas tetangga saat ini.
"Aku baik -baik saja, kamu? Belum di jawab tadi pertanyaanku," ucap Pranoto pelan menatap Clara yang terlihat cantik dan dewasa sekali. Berbeda saat pertama kali bertemu waktu itu.
"Clara juga baik. Mas Pran sedang apa di sini?" tanya Clara yang melihat Pranoto sendirian dan melihat mobilnya di parkir agak jauh dari sini.
"Ketemu kamu. Sengaja berhenti dan turun, mau mastiin itu kamu atau bukan," ucap Pranoto terkekeh.
"Ya ampun, Mas. Segitunya. Ada apa?" tanya Clara pelan.
"Ekhemmm ... Saya mau minta maaf soal pernikahan waktu itu?" ucap Pranoto pelan.
"Maksudnya? Pernikahan kita yang batal? Bukannya memang Mas Pran yang membatalkannya?" tanya Clara berusaha mengingatkan. Jangan sampai Clara di salahkan dalam hal ini. Lagi pula, Clara jelas akan menolak tegas, pernikahan yang akan di selenggarakan anatar dirinya dan Pranoto.
"Ya. Waktu itu saya hanya takut, tidak bisa membahagiakan kamu," ucap Pranoto pelan.
"Ya udah sih santai aja. Sudah berlalu juga," jawab Clara sambil tertawa.
"Masih ada kesempatan kan?" tanay Pranoto lirih.
Clara mengernyitkan dahinya dan menatap tajam ke arah Pranoto. Suara Pranoto terlalu pelan, atau memang Clara yang gagal fokus.
"Masih ada kesempatan kedua buat saya? Saya akan nikahin kamu," ucap Pranoto tegas.
"Apa Mas? Clara gak salah dengar? Ini agak syok dengernya," ucap Clara pelan. Tangannya memegang dadanya yang terus berdegup keras. Bisa -bisanya minta kesempatan kedua, berasa lagunya tangga.
"Ekhemmmm ...." Suara deheman keras dari arah samping Clara membuat Clara semakin terkejut lagi.
__ADS_1
Rasanya ingin menghilang dari tempat duduknya saat ini. Hari yang menyebalkan!!