PAK DOSEN, I LOVE YOU

PAK DOSEN, I LOVE YOU
62


__ADS_3

Melihat tatapan murka dari dua bola mata bulat Clara membuat Rey langsung mencari cara agar istri labilnya itu tak mengamuk di pagi hari ini. Sepertinya jurus rayuan rawa rontek dengan semburan air dari perasan kembang setaman sangat di perlukan di waktu mendesak saat ini. Agar istrinya tak kesurupan dan mengamuk.


Tatapan kedua mata Clara bagai petir yang siap meluncurkan aliran listrik yang bisa meruntuhkan dan merobohkan Rey saat itu juga. Rey cukup bergidik ngeri. Ia bangkit berdiri dan memberikan susu yang ia buatkan untuk Clara.


"Gak usah merayu!! Mana pembalutnya," tanya Clara ketus sambil menengadahkan tangannya tepat di depan Rey.


Rey belingsatan bagai cacing kepanasan. Rasanya panas dingin dengan pertanyaan Clara saat ini. Clara pasti akan menganggapnya sebagai laki -laki yang sama sekali tak bertanggung jawab.


"Mana? Clara minta tolong agar Pak Rey membelikan pembalut. Sekarang mana pembalutnya? Ini sudah setengah jam dari waktu permintaan?" tanya Clara pelan.


Seperti biasa, kalau sedang marah panggilan dengan sebutan Pak akan lolos saja dari bibir Clara.


Rey menarik napas dalam. Ia sudah siap di omelin istrinya saat ini. Memang ini kesalahannya.


"Dengarkan pemjelasan saya dulu. Kamu mau dengarkan saya? Atau masih mau marah -marah?" tanya Rey dengan suara lembut. Ia berusaha setenang mungkin mengahadapi Clara.


"Masih mau beralasan? Membela diri? Soal pembalut? Kalau memang gak mau beliin gak perlu alasan macam -macam!! Terus barusan telepon sama siapa? Cekakak cekikik bisa? Senyum -senyum bisa? Kalau Pak Rey bahagia sama yang lain, silahkan? Clara tidak masalah Pak. Clara cuma minta tolong belikan pembalut karena Clara lagi datang bulan. Lagi pula, Pak Rey yang menyanggupi mengurus semua kebutuhan Clara pada Baoakndan Ibu sampai kedua orang tua Clara menstop uang bulanan Clara!!" jelas Clara mulai emosi.


Sudah menahan rasa sakit dan keram di bawah perut. Di tambah pembalutnya tidak dapat. Di tambah emosi dan darah Clara naik. Alhasil ia marah besar pagi ini.


"Kok jadi melebar kemana -mana? Samapi maslah uang bulanan juga. Dengarkan alasan saya dulu, Clara," pinta Rey masih tenang dan suaranya lembut agar Clara luluh.


"Gak!! Ini bukti kalau Pak Rey memang gak peduli sama Clara!! Asal Pak Rey tahu, Clara bahagia saat ini tidak jadi hamil. Ini tandanya memang hubungan kita harus berakhir sampai di sini!! Kita gak sejalan, usia kita juga beda, Pak. Lebih baik kita seperti dulu lagi, tidak kenal dan hubungan kita sebatas dosen dan mahasiswa saja," ucap Clara makin tak karuan.


"Kamu bicara apa, Clara. Gak usah ngelantur kemana -mana. Dengarkan saya!!" ucap Rey makin keras suaranya.


Rey memegang dua lengan Clara hungga istri labilnya itu diam dan tak bergerak menatap Rey.


"Kamu tahu?" tanya Rey pelan. Ia menurunkan kembali nada suasaranya.


"Gak!!" jawab Clara santai. Ia sama sekali tidak takut apapun saat ini. Pikirannya saat ini adalah ingin cepat lulus dan bekerja cari uang yang banyak.


"Makanya saya mau bicara!! Saya mau jelaskan!!" ucap Rey memelankan kembali nada suaranya. Suaranya kembali melembut agar tidak membuat Clara takut.


"Tinggal bicara saja. Dari tadi juga bicara kan?" ucap Clara ketus.


"Mobil saya tiba -tiba tidak nyala. Saya pesan ojek online juga tidak ada yang datang karena entah jangkauannya sulit masuk ke perumahan elit ini. Saya mau minta maaf sama kamu. Lagi pula kau bisa keluar dari kamar mandi, itu pakai apa?" tanya Rey penasaran.


"Apa aja boleh. Satu lagi, kalau memang tidak bisa. Pak Rey bisa ngabarin saya di dalam. Mungkin saya akan minta tolong Nita atau Radit untuk membelikan pembalut," ucap Clara kesal sendiri.


"Cukup!! Jangan sebut nama kelinci modus itu. Saya gak suka!!" tegas Rey mulai terpancing emosinya.


"Dih ... Kok Pak Rey mau menang sendiri. Tadi Pak Rey telponan sama lawan jenis, cekakak cekikik, Clara gak masalah lho!! Kenapa sekarang Clara minta tolong Radit, Pak Rey malah kayak cacing kepanasan," ucap Clara makin ketus.

__ADS_1


"Clara!! Saya ini suami kamu!! Hargai saya sebagai laki -laki!!" tegas Rey mulai naik darah.


Rey paling tidak suka jika Clara bercerita, memuji dan seperti membutuhkan lelaki lain di bandingkan Rey.


"Suami? Apa peran suami? Diam saja saat istrinya butuh dan meminta bantuan? Malah asyik berkomunikasi denagn wanita lain," ucap Clara kesal. Kedua matanya basah. Hatinya dongkol sekali.


Clara tadi menunggu Rey dengan penuh cinta. Ia bahkan bangga, suminya mau membeli pembalut untuk dirinya. Tapi apa? Pada kenyataannya, Rey malah melupakan dan seolah tak terjadi apa -apa. Kalau hanya ucapan permintaan maaf itu mudah. Tapi mengembalikan rasa dongkol, mood baik dan rasa kecewa itu yang sulit.


"Clara!! Mobil saya mogok!! Ini lagi nunggu montir. Rencananya kalau montir datang, saya mau pinjam motornya dan membelikan kamu pembalut," ucap Rey mencoba meyakinkan Clara dengan kejujurannya.


"Argh sudahlah ... Clara mau berangkat sekarang," ucap Clara menahan rasa emosinya agar tak kembali meluap.


"Gak usah. Ini sudah siang. Kamu sitirahat saja," titah Rey kemudian.


Clara berbalik menghadap ke arah Rey.


"Kita punya dunia yang beda. Persamaan kita hanua di kampus. Clara juga mau sukses," ucap Clara.


"Kodrat kamu tetap peremlaun yang sudah bersuami. Kamu istri saya, Clara," tegas Rey kemudian.


"Terus? Pak Rey mau melarang Clara untuk tidak magang lagi?" tanya Clara ketus.


"Iya!! Saya tidak mengijinkan kamu berangkat lagi ini!!" ucap Rey tegas.


Ia merogoh ponsel dari dalam tas slempangnya dan menelepon Radit.


"Radit. Tolong bilangin gue telat. Gue lagi cari taksi. Ekhemm ... gak usah. Gak perlu loe jemput. Loe juga gak bakal gue kasih tahu alamat gue dimana," ucap Clara langsung menutup teleponnya. Ia makin kesal sendiri. Rasanya ingin membanting ponselnya sendiri.


Skip ...


Clara berada di bawah selimut tebal. Ia kembali ke kamar dan tidur. Moodnya benar -benar tidak baik.


Ia terbangun dan menatap jam dinding. Saat ini pukul sepuluh pagi. Sepertinya montir mobil sudah datang. Sejak perdebaran pagi tadi keduanya tak slaing bertemu lagi.


Clara langsung masuk kamar dan membanting pintu. Rey hanya menggelengkan kepalanya pelan. Tadi ia sempat cari tentang sikap dan emosional seorang perempuan yang baru datang bulan. Memang harus di hadapi dengan kepala dingin.


'Lalu ... tadi Pak Rey ngobrol sama siapa? Memang gak mesra tapi cukup lembut. Arghh bikin panas hati aja, pagi -pagi. Kesel!! Dasar dosen mesum!' umpat Clara kesal dan emosi.


Ponsel Clara menyala dan berbunyi pelan . Itu tandanya ada pesan singkat yang masuk.


Clara membuka pesan singkat itu. Ada beberapa pesan singkat yang tak terbaca oleh Clara karena ia tertidur barusan.


Dari : Radit 07.55

__ADS_1


'Katanya telat. Kalau ini bukannya telat tapi sengaja gak masuk,'


---


Dari : Radit 08.15


'Ra ... Gak ada kamu, sepi banget. Ternyata gue bisa ngerada kesepian dan kehilangan,'


---


Dari : Radit 09.00


'Loe sakit? Sakit apa? Biar gue jenguk. Makan Ra,'


---


Dari : Radit 10.00


'Ra ... loe percaya LAFS?'


---


"LAFS?" batin Clara pelan.


Clara mencoba mengetikkan balasan untuk Radit.


"Apa itu LAFS. Kayaknya main Clara kurang jauh. Terlalu stres mikirin skripsi,"


Terakhir Clara hanya memberikan emot tertawa pada akhir chat.


Ting ...


Pesan singkatnya langsung di balas Radit dengan cepat.


Dari : Radit 10.08


'LAFS - LOVE AT FISRT SIGHT. I Love u, Clara,'


---


Deg ...


Clara langsung melempar ponselnya ke sembarang arah yang jelas masih di atas kasur.

__ADS_1


Apa -apaan Radit mengirim pesan seperti itu. Rasanya aneh sekali.


__ADS_2