
Sepeninggal Rey dari kamarnya. Clara terus menangis hingga Nita mendatangi kamarnya.
Sudah satu jam lamanya Clara diam dan menitup wajahnya dengan bantal. Sesekali tubuhnya terlihat terguncang keras di atas kasur empuknya karena menahan sesak di dadanya.
Clara tak pernah mengira hidupnya menjadi seperti sekarang ini. Hidupnya makin terasa rumit setelah pertemuannya dengan Rey. Beberapa hari ini, jujur Clara meulai mengagumi sosok Rey yang begitu lembut dan perhatian.
"Ra ... Loe kenapa? Nangis terus tapi diam saja kalau di tanya. Cerita dong, ada apa? Gue mau pergi sama Mas Arga," ucap Nita manja.
Clara masih diam saja.
"Heh ... Susah deh kalau begini. Pasti low ada masalah sama Pak Rey. Dia gak mau tanggung jawab ya? Oh iya. Ini test pack positif punya gue. Bisa loe pake buat ngeprank Pak Rey. Semoga berhasil. Gue cabut ya. Loe baik -baik ya. Jangan nangis terus dan kalau gue balik, loe harus sudah diam dan gak nangis lagi. Ntar gue beliin ayam bakar kesukaan loe deh. Bye Clara," pamit Nita langsung menutup kembali pintu kamar itu.
Suara klakson mobil Arga sudah Nita dengar beberapa kali. Itu tandanya Nita harus segera turun dari lantai dua dan keluar kost karena Arga malas turun dari mobil. Toh, mereka akan pergi sore ini. Maklum ibu hamil permintaanya agak aneh -aneh ya.
Merasa sudah aman dan Nita sudah lergi dengan Pak Arga. Clara membuka bantalnya dan meletakkannya di samping.
Ia langsung mengambil tas kecilnya dan di isi dompet serta beberapa kosmetik yang penting saja. Clara mau pergi. Tapi tak tahu kemana tujuannya. Tak lupa alat test kehamilan milik Nita juga ia bawa.
Clara mengganti bajunya dengan pakaian casual dan jaket jeans yang menutupi kaos ketat yang menonjolkan sedikit aurat yang bisa membuat birahi lelaki bergairah.
Entah kemana tujuan Clara saat ini.
"Apa aku pulang ke kampung saja. Mungkin dua hari di sana aku bisa menemukan solusinya," ucap Clara lirih berbicara sendiri.
Langkahnya memelan menuju lampu merah besar di ujung jalan. Di sana adalah jalan utama propinsi. Banyak bus kota yang bisa Clara naiki menuju kampungnya.
"Tahu begini tadi bareng sama Ibu dan Bapak. Tidak perlu repot menunggu bis," batin Clara menyesal.
Clara menunggu bis antar kota dan antar propinsi yang bertujuan ke kota menuju kampung halamannya. Perjalanan menuju kota kecil itu sekitar empat sampai lima jam. Clara duduk di halte bis dan menatap fokus ke depan jalan. Lagi -lagi ia harus melihat wanita hamil yang terlihat lelah dan letih berjalan di sore hari dengan dua jinjingan plastik besar. Sepertinya wanita hamil habis belanja dari supermarket dekat sini.
"Kalau Clara hamil pasti begitu juga. Makanya Ibu selalu bilang. Perempuan akan berubah di tangan lelaki yang tepat. Mungkin ya salah satunya ini alasan Ibu dan Bapak menjodohkan aku," batin Clara masih menatap sendu wanita hamil yang berada di seberang jalan.
Entah kemana suaminya itu, seolah tak peduli dengan kondisi istrinya.
__ADS_1
Tin ... tin ... tin ...
Sebuah mobil sport merah berhenti di depan halte tempat Clara berada. Clara sama sekali tidak merespon karena memang ia tidak mengenal pemilik mobil sport merah itu.
"Clara!!" panggil seseorang yang tak turun dari mobil hanya membuka kaca jendela di samping kiri sambil melambaikan tangannya ke arah Clara.
Clara menatap ke arah lelaki yang serah tegak lurus dengan dirinya. Ia masih saja tak mengenal lelaki itu. Pernah lihat tapi lupa kayaknya? Atau memang sama sekali tidak kenal. Ah ... entahlah.
Clara cuek saja. Tak kenal untuk apa di jawab.
Lelaki itu pun turun dari dalam mobil dan menghampiri Clara. Lelaki hitam manis yang memiliki senyum manis dengan lesung di kedua pipinya.
Clara menatap bingung. Ia menatap dari bawah hingga ujung rambut lelaki itu. Antara bingung, kaget dan takjub.
"Masa lupa sih? Baru ketemu lho beberapa jam tadi," ucap lelaki itu dengan sopan dan tata krama yang baik.
Clara menelan air liurnya dalam dan menatap jelas lelaki itu dengan sangat lekat. Jangan sampai ia salah lihat atau di buat seolah lelaki itu berubah drastis seperti yang di temuinya tadi.
"Kamu ... Pranoto?" tanya Clara dengan rasa tak percaya.
"Iya ini aku. Kenapa? Bingung ya?" goda Pranoto pelan.
"Bu -bukannya pulang bersama Bapak dan Ibu?" tanya Clara kemudian.
"Oh itu. Tadi Bapak dan Ibu pulang sama supir. Kebetulan di kantor masih banyak pekerjaan. Kamu ngapain di sini? Aku mau pulang. Kan lusa acara kita?" ucap Pranoto lembut dan begitu ramah.
Setiap kata yang terlontar selalu ada senyum indah terukir membuat Clara terpana.
Dalam hati Clara masih takjub melihat Pranoto yang berbeda seratus delapan puluh derajat. Pranoto yang datang ke kostnya tadi terlihat culun dan klimis. Tapi sekarang bagaikan model cover boy majalah remaja walaupun memnag kulitnya hitam manis. Kalau di samakan kayak artis mirip sebelas dua belas sama anjasmara. Manis banget kan.
"Ekhemm ... Clara juga mau pulang. Kebetulan dosen pembimbing Clara baru ngasih tahu kalau dia besok berhalangan hadir dan gak bisa kasih bimbingan skripsi," jawab Clara santai.
Pranoto tersenyum lagi. Ia senang sekali bisa bertemu Clara tidak sengaja seperti ini. Apalagi Clara mau di ajak pulang ke kampung bareng bersamanya.
__ADS_1
"Yuk ... bareng saja. Gak usah sungkan. Tenang ... aku orang baik kok," goda Pranoto sambil terkekeh.
"Hemm ... ini beneran gak apa -apa kita bareng? Takutnya ada yang marah?" ucap Clara spontan.
"Hei ... bukankah sebentar lagi kita akan saling memiliki?" tanya Pranoto pelan.
"Ekhemm ... Iya," jawab Clara pasrah.
Pranoto mengajak Clara mendekat pada mobilnya dan membuka pintu samping mobil bagian penumpang Clara.
"Silahkan tuan putri ...." ucap Pranoto tersenyum.
"Terima kasih Mas," jawab Clara dengan rasa canggung.
Di dalam mobil sport merah dengan kecepatan sedang, keduanya mulai membuka pembicaraan. Tentu saja Pranoto yang mulai aktif bertanya tentang Clara.
"Skripsinya sudah bab berapa?" tanya Pranoto pelan.
Lelaki itu manis sekali. Tampilannya sederhana tapi tetap membuat terpesona kaum hawa tetmasuk Clara.
"Bab dua, Mas," jawab Clara singkat.
"Terus gak analisis data sambil magang. Kata Ibu mau magang di kantor Mas?" tanya Pranoto mulai terbiasa membahasakan dirinya dengan panggilan Clara kepadanya yaitu 'Mas.'
Clara menoleh ke arah Pranoto.
"Memang bisa? Gak apa -apa kalau Clara magang di sana?" tanya Clara pelan.
"Gak apa -apa dong. Kamu kan calon istri aku, Clara. Apapun yang kamu minta pasti aku berikan," ucap Pranoto menegaskan hubungannya.
Deg ...
Ini adalah saat paling sulit bagi Clara. Andaikan Pranoto tahu, ia sudah tidak perawan lagi. Bagaimana?
__ADS_1
"Kenapa? Ada masalah? Kok kayak banyak mikir gitu. Cerita aja. Santai. Kita harus mulai belajar terbuka. Terkadang kejujuran itu pahit di awal dan itu suaru pembuktian bahwa ia menunjukkan kekurangannya di awal. Pahan kan maksud Mas," ucap Pranoto dnegan senyim manis.
Perjalanan yang terasa sangat lama sekali. Di tambah hujan deras mengguyur sepanjang jalan membuat mobil Pranoto tak berani melaju kencang.