PAK DOSEN, I LOVE YOU

PAK DOSEN, I LOVE YOU
33


__ADS_3

Malam ini juga Rey langsung pergi ke kampung halaman rumah Clara. Berbekal GPS dan alamat lengkap yang di berikan oleh Nita, sahabat Clara.


Sempat ada perdebatan kecil tadi antara dirinya, Arga dan Nita. Nita curiga ada hal yang di sembunyikan Arga selama ini. Mumpung ada Rey, Nita secara langsung bertanya soal Desy.


Tak banyak yang di ceritakan dan Rey berjanji akan menceritakan soal Desy, Kakak perempuannya yang juga mantan Arga setelah pulang dari kampung halaman Clara.


Rey hanya meminta doa restu dari Arga dan Nita untuk melamar Clara besok bukan lusa. Ia tak mau lagi kehilangan Clara karena kebodohannya.


"Ini alamatnya. Kalau bingung bisa hubungi Nita kalau memang di butuhkan," titah Nita sambil memberikan selembar kertas tertuliskan alamat Clara.


"Terima kasih Nita. Alamat ini adalah hidup dan mati saya saat ini. Saya benar -benar bodoh sudah di buat bodoh untuk tetap bertindak bodoh karena memilih keputusan bodoh tadi. Saya sudah menyia -nyiakan berlian bahkan surga saya hanya untuk sampah seperti Renata. Ini semua berkat Arga," ucap Rey tulus.


"Sudah sana pergi. Kalau memungkinkan besok kami kesana. Kalau harus pergi malam ini, kasihan Nita, dia sedang hamil muda," ucap Arga berbisik.


"Hah? Serius? Selamat bro. Gila tok cer sekali," ucap Rey tertawa keras.


"Lebih tok cer punya loe, Rey. Sekali juga nyatanya loe udah ketakutan Clara hamil. Berarti loe yakin kan? Kalau benih loe itu pasti jadi," goda Arga sambil terkekeh.


"Arghh resek loe. Gue berangkat sekarang ya? Paling ortu gue juga besok pagi, gue suruh meluncur kesana," ucap Rey singkat.


Arga dan Nita memberikan ucapan selamat jalan dan hati -hati. Biar bagaimanapun juga kepergian Rey yang terlihat terburu -buru dan terlalu nafsu di perjalanan bisa merusak kefokusan dalam berkendara.


Rey sudah berada di dalam mobil dan terus menatap GPS agar tidak tersasar. Kalau di rasa ada yang tidak meyakinkan, Rey tidak segan -segan turun dan bertanya pada orang sekitar untuk menunjukkan jalan yang benar.


Wakru tempuh emlat jam bukanlah waktu yang sebentar bagi Rey. Apalagi Rey hanya pergi seorang diri dan tidak pernah pergi jauh dan menyetir sendiri dalam waktu lama.


Dalam perjalanan Rey tidak lupa berkomunikasi dengan Ayah dan Bundanya. Rey meminta ijin untuk berangkat terlebih dahulu malam ini juga agar meluruskan masalah mereka yang sempat terjadi perdebatan karena kebodohan Rey.


Rey juga mengirimkan alamat Clara kepada Ayah dan Bundanya agar besok bisa berangkat pagi -pagi betul atau bjsa bersama dengan Arga dan Nita.


"Rey ... kamu ini mau melamar, tunangan atau mau nikah sih? Kok rasanya Bunda malah ikut panik gini," ucap Bunda Silva yanga berusaha menenangkan Rey.


Bunda Silva tahu bahwa Rey sedang berada dalam lingkaran penyesalan yang amat dalam. Tapi, tidak harus tergesa -gesa seperti di kejar maling. Ya, kalau ingin bersilaturahmi dan mengenalkan dua keluarga besar untuk meresmikan hubungan kedua putra putrinya, Ayah dan Bundanya siap. Tapi kalau menikah? Semua harus ada persiapannya? Bukan sekedar datang bawa penghulu dan bilang SAH? Walaupun se -urgent apapun kondisi dan situasinya seperti yang saat ini sedabg di hadapi Rey.


"Rey mau cepat halal Bun. Memang Bunda mau menanggung dosa Rey," ucap Rey cepat.


Terdengar satu tarikan napas Bunda Silva yang nampak pasrah denagn keinginan keras Rey. Ya, Rey itu kalau sudah memilih ya harus itu pilihannya. Apapun akan dia lakukan, kecuali ia memang di kecewakan atau di sakiti. Jangankan untuk menyapa, mungkin menatap juga sudah malas. Itu yang membuat Rey dan Desy selalu berantem bagai anjing dan kucing, tak lernah akur sama sekali.


"Lalu? Kamu sudah persiapkan apa? Sudah bawa cincin? Perhiasan? Mahar? Seserahan? Menikah gak se -gampang itu, Rey. Apalagi Clara itu perempuan. Tentu kesua orang tuanya menginginkan pesta yang mewah dan besar. Itu perlu waktu dalam merencanakan. Pake wedding organizer atau mau urus sendiri. Smeua itu butuh kesepakatan. Jangan sampai kamu datang malah mempermalukan diri kamu sendiri," ucap Bunda Silva menasehati.


"Tapi Bun ... Lusa, Clara itu akan lamaran dengan pria lain. Rey harus mendahuluinya dan menggagalkan acara itu," ucap Rey lantang. Pikirannya mulai ruwet. Ingin rasanya mobinya di bawa terbang dan langsung sampai di depan rumah Clara tanpa harus berlama -lama menyetir.


Bunda Silva ikut berpikir keras semalaman ini. Bubda Silva dan Ayah David berembug mencari solusi terbaik. Rey sudah salah dan melakukan hal buruk yang bisa merusak masa depan Clara. Sudah bagus Rey berinisiatif untuk bertanggung jawab dan ingin secepatnya menikahi Clara.


Skip ...


Desy sudah kembali ke rumah besar dan mewah milik suaminya. Supir pribadi Iwan yang menjemput Desy dan kedua putra putrinya di rumah Ayah mertuanya.


Sudah malas rasanya kembali ke rumah besar ini. Kehidupan yang tidak sesuai ekspektasi Desy sebelum menikah dulu.


"Sudah selesai liburannya? Satu minggu kan waktu yang cukup untuk kebersamaan kamu dan orang tuamu. Kini, sudah waktunya kembali lagi ke rumah ini," ucap Iwan dengan tatapan tajam.


"Aku ingin cerai saja. Aku tak snaggup menjalani ini semua. Aku akan tutup mulut untuk semua rahasia besar kamu!! Aku janji, kalau memang semua terucap dati bibirku, kau boleh mencariku dan membunuhku dengan tanganmu sendiri," ucap Desy pasrah.


"Kau yakin? Itu pilihan tepat untuk kamu? Bagaimana jika orang tuamu tahu yang sebenarnya? Kau sudah siap?" tanya Iwan menelisik.


"Aku sudah tidak peduli pada hidupku!! Aku hanya ingin hidup normal selayaknya wanita pada umumnya," ucap Desy dengan suara lantang dan berani.


"Baiklah. Aku akan urus surat cerai itu dan kita sudah tidak memiliki hubungan apapun. Dan satu hal lagi, aku sudah lepas da tidak bertanggung jawab atas dirimu dan kedua anakmu itu!!" tegas Iwan keras.


"Baik," jawab Desy menyanggupi.


Desy berkemas da mengemasi semua barang miliknya dan kedua anaknya. Dia juga akan jujur seperti Rey kepada kedua orang tuanya tentang dirinya. Semoga saja kedua orang tuanya mau memaafkan Desy.


Skip ...


Clara dan Pranoto sudah sampai di depan rumah Clara.


"Mas Pran mau mampir ke rumah?" tanya Clara basa -basi. Tubuhnya sudah lelah, Clara hanya ingin istirahat. Ia berharap Pranoto menjawab Tidak.


"Kalau gak mampir, gak apa -apa kan? Kalau memang harus mampir, ya Mas mau parkir," ucap Pranoto lembut.


"Ya ... Gimana Mas Pran aja. Tapi wajah Mas Pran sudah lelah, butuh istirahat," ucap Clara mulai mencati alasan.


"Hah? Masa sih? Wajah Mas terlihat lelah? Tapi masih ganteng kan? Padahal tadi sudah pakai masker bengkuang biar terlihat fresh," ucap Pranoto sambil memutar kaca spion tengah ke arahnya dan menyalakan lampu yang ada di dalam mobil sambil berkaca dan memegang wajahnya dan kantung matanya yang memang mulai terlihat menggelayut.


Clara menatap aneh pada Pranoto. Air liurnya di telan dalam. Kenapa lelaki yang di jodohkanya memiliki sifat seperti ini. Clara yang perempuan saja tidak seribet itu. Clara memang tidak suka berdandan dan lebih suka wajahnya alami hanya memakai pelembab dan lipstik berwarna pink di ombre sedikit dengan lip tint. Begitu saja sudah menampakkan kecantikan alaminya. Bagaimana kalau Clara berdandan seperti Renata, kayaknya artis hollywood dan bollywood lewat semua.

__ADS_1


Lelaki macam apa yang sebenarnya di jodohkan pada dirinya. Lelaki jadi -jadian atau memang gemulai lebay seperti ini. Tampilannya memabg keren dan terkwsan macho tapi suaranya lembut dan tak bisa berteriak.


"Ganteng banget, Mas," ucap Clara memuji.


Pranoto langsung menatap Clara dan memegang dagu Clara. Clara hanya diam.


"Wajah kamu juga terlihat lelah. Kamu istirahat sana. Salam saja buat kedua orang tua kamu. Jangan lupa mandi berendam oakai air panas dan kalau bisa pake aromaterapi cokelat biar tubuh kamu itu rileks," ucap Pranoto menasihati.


Clara mengangguk kecil. Ia langsung biru -buru turun dan masuk ke dalam rumahnya. Pranoto juga langsung pergi meninggalkan runah Clara.


Clara menoleh ke arah jalan dan menatap mobil Pranoto yang sudah menghilang dari pandangannya.


Clara masuk ke dalam rumahnya dan membuat kedua orang tuanya kaget.


"Clara? Kamu pulang malam sekali? Kalau tahu mau pulang tadi siang kita bisa pulang bersama," titah Ibu yang baru saja keluar dari arah belakang sambil membawa satu nampan kecil berisi satu gelas kopi dan satu toples makanan ringan.


"Pak ... Bu ... Tadi gak sengaja pulang bareng Mas Pranoto ketemu di jalan. Ekhemm ... bimbingan besok di batalkan. Makanya Clara pulang, sesuai janji Clara," ucap Clara pelan.


Sorot mata Ibu tajam ke arah dua bila mata Clara yang tak bisa berbohong lagi. Firasat seorang Ibu selalu teoat dan tidak pernah meleset. Ibu tahu, pasti ada sesuatu yang terjadi pada Clara saat ini. Anak gadisnya itu tak lernah bisa berbohong.


"Istirahat lah Clara kalau kamu lelah," titah Bapak yang selalu bersikap tenang dan snatai.


Clara mengangguk kecil.


"Clara ke atas dulu Bu," pamit Clara.


Clara naik ke aras dan masuk ke dalam kamarnya yang masih tetap sama seperti biasanya. Kamar yang semuanya berwarna pink dan selalu bersih serta rapi tertata.


Clara melepas tas slempangnya dan di lemlar ke temlat tidurnya dengan asal. Jaket jeansnya juga di lepas dan hanya memakai kaos ketat dan celana jeans saja.


Tubuhnya langsung di rebahkan.di kasur empuk yang selalu memberi kenyamanan bagi Clara hingga betah berlama -lama di kasur itu.


Clara membalikkan tubuhnya dan kini berada pada posisi tengkurap dan mengusap pelan sprei lembut lalu di cium. Wangi pengharum pakaian kesukaan Clara.


Tubuhnya di balik lagi hingga tatapannya lurus ke atas atap langit. Tempelan berbentuk bintang dan tata surya itu semakin mempercantik plafon kamarnya. Tempelan fosfor yang akan menyala sepanjang malam dan itu akan terlihat indah seperti aslinya.


Tok ... tok ... tok ...


"Clara ...." panggil Ibu dari arah luar kamar.


"Masuk Bu. Clara bari rebahan. Rindu sama kamar Clara yang sudah lama tak di kunjungi," ucap Clara pelan saat Ibu masuk ke dalam kamarnya dan menutup kembali kamar itu.


"Mau makan dulu atau mau cerita dulu sama Ibu," ucap Ibu yang tahu persis dengan apa yang di rasakan oleh Clara.


Ibu sudah meletakkan gelas berisi teh manis hangat dan piring berisi indomie gireng itu di nakas. Lalu duduk di tepi ranjang menatap anak gadisnya yang sudah mau menikah.


Clara bangkit dari tidurnya dan duduk lalu bersandar dengan tumlukan bantal. Punggungnya masih terasa pegal karena perjalanan jauh yang melelahkan.


"Bu ... boleh tanya sesuatu?" tanya Clara pelan. Tatapan Clara sendu ke arah Ibu yang tetap tersenyum.


Kedua orang tua Clara adalah orang tua yang baik dan bijak. Hanya saja, soal perjodohan ini benar -benar di luar kendali dan tanla sepengetahuan Clara.


"Apa? Soal Pranoto?" ucap Ibu pelan menatap Clara yang penasaran.


Clara mengangguk.


"Soal perjodohan ini? Kenapa bisa terjadi?" tanya Clara pelan.


"Enam bulan lalu, Bapak tertipu soall investasi bodong yang ingin mengajak Bapak kerja sama dalam usaha pertambakan. Orangmya kabur setelah investasi itu di berikan. Mana semua itu hasil pinjaman dari bank. Bapak sempat depresi dan down. Rumah akan di sita karena di jaminkan di bank. Juragan Ayong yang membantu kita menyelesaikan semuanya. Lalu ...." ucapan Ibu terhenti.


"Lalu? Apa Bu?" Clara semakin penasaran dengan kelanjutan ceritanya.


Ibu menarik tangan Clara dan memegang erat tangan Clara erat.


"Juragan Ayong memiliki anak yang sejak kecil di asuh oleh adiknya yang tak pernah menikah. Dia Pranoto lelaki yang di jodohkan padamu, Nduk," ucal Ibu pelan.


"Ohh ... Jadi ... Clara itu cuma di jadikan tumbal? Karena hutang piutang Ibu dan Bapak?" tanya Clara marah.


"Cuma ini jalan satu -satunya Clara. Kita bisa terusir," ucap Ibu lirih.


"Bu ... Ibu tahu kan? Pranoto itu seperti apa? Dia lebay Bu. Dia gemulai sekali seperti ada kelainan," ucap Clara jujur.


"Ya. Memang betul," jawab Ibu pelan.


"Hah? Apa? Clara harus nikah sama lelaki yang? Arghh ... Menikah bukan untuk main -main," ucap Clara kesal pada Ibunya.


Clara memukul kasur empuknya dengan telapak tangannya. Ia kesal sekali. Apa jadinya rumah tangganya nanti? Tak bisa membayangkan suaminya lebay dan gemulai? Clara bergidik ngeri membayangkannya.

__ADS_1


Tak ada satu pun yang benar, lelaki yang ia temui saat ini. Tidak Rey dan tidak Pranoto.


Rey yang egois dan masih mengurusi mantannya bahkan rela meninggalkan Clara demi cintanya pada Renata.


Pranoto? Lelaki itu benar -benar membuat Clara terkagum di awal dan takjub di akhir. Lelaki yang hanya status di KTPnya tapi tidak dengan jiwanya.


"Arghhh ...." teriak Clara dan mengusap wajahnya kasar dengan dua telapak tangannya.


Ibu langsung memeluk Clara.


"Maafkan Ibu. Ibu dan Bapak hanya pasrah dengan keadaan saja. Kalau lusa kamu ingin membatalkan semuanya tidak apa. Iru tandanya kita harus angkat kaki dari rumah ini," ucap Ibu lirih.


Hati seorang Ibu tetap tidak tega dengan semua ini. Tapi mau bagaimana lagi?


Clara diam dan memutar otaknya. Ia harus mencari cara untuk membayar hutang itu.


Skip ...


Clara membuka kedua matanya, saat Ibu menggoyangkan tubuhnya untuk segera bangun dan melihat di bawah.


"Ayo turun Nduk," ucap Ibu pelan.


"Ada apa sih Bu?" jawab Clara yang masih mengucek kedua matanya yang baru saja membuka dan menarik napas dalam untuk mengumpulkan nyawanya.


Clara sudah sampai di bawah dan ....


"Hai ... Selamat pagi cantik? Kaget?" tanya Rey yang sudah berdiri mneyambut keterkejutan Clara.


Clara berdiri mematung dengan mulut membuka. Ia tak pernah berpikir, kalau Rey bisa sampai di rumahnya.


"Hei ... kok bengong sih? Calon suami datang tuh di peluk dan di cium," ucap Rey pelan.


"Hah!! Calon suami!!" teriak Clara masih tak sadar.


"Bapak ngapain kesini?" tanya Clara kemudian.


Ibu hanya tersenyum.


"Ibu ke belakang dulu, mau nyiapin sarapan pagi," ucap Ibu pelan.


Perlakuan Ibu seperti biasa saja. Seolah tidak ada masalah apa -apa.


"Ada apa sih ini sebenarnya?" batin Clara merasa aneh.


Tatapannya masih lekat ke arah Rey yang sudah merentangkan kedua tangannya bersiap memeluk Clara.


"Hei sini pelik," titah Rey.


Clara menggelengkan kepalanya pelan.


"Gak!! Peluk aja Renata!! Katanya mau balikan!!" ucap Clara ketus.


Rey tertawa dan berjalan menghampiri Clara lalu memeluk gadis itu erat. Di ciumnya pucuk kepala Clara berkali -kali dengan penuh kemesraan dan kasih sayang.


Clara tak membalas pelukan Rey padahal ia rindu dengan pelukan Rey. Tangan kekar yang sanggup menutup sèluruh tubuhnya masuk dalam dekapan menempel pada dada lelaki gagah dan kuat itu.


Clara memundurkan wajah dan tubuhnya membuat Rey bingung.


"Kenapa? Apa pelukan saya kurang nyaman?" tanya Rey.


Clara menggelengkan kepalanya pelan.


"Bapak deg -degan?"


"Iya. Karena saya takut terlambat. Ternyata tidak,"


"Bapak tetlambat,"


"Apa maksudmu?"


"Clara memilih perjodohan di bandingkan Bapak!!" teriak Clara keras.


Pilihan yang menyakitkan. Pilihan yang tak sesuai hati. Lihat saja Rey sudah datang jauh -jauh untuk melamarnya sesuai janjinya. Walaupun kemarin hati Rey bimbang karena mantan. Memang lelet mantan itu begitu keras menempel. Makanya hati -hati dengan mantan.


"Clara? Saya sudah datang untuk kamu,"


"Bapak terlambat. Maafkan Clara,"

__ADS_1


Clara berbalik dan berlari ke atas lalu masuk ke dalam kamarnya.


Clara menangis. Ia tidak mungkin membuat orang tuanya sedih dan kecewa.


__ADS_2