PAK DOSEN, I LOVE YOU

PAK DOSEN, I LOVE YOU
23


__ADS_3

Rey tertawa keras. Ia mengacak kepala Clara dan menarik kepala Clara ke dalam dadanya yang bidang untuk berdmsandar di sana. Clara hanya menurut. Karena memang nyaman sekali berada di dada bidang Rey. Rey menciumi pucuk kepala Clara berkali -kali. Ia makin sayang pada Clara.


"Denger ya. Tadi saya tanya mau makan gak? Maksudnya pagi ini kamu mau sarapan gak? Biar sekalian kita beli," ucap Rey pelan.


Kedua mata Clara membola dan mengerjap pelan setelah mendengar ucapan Rey barusan. Clara langsung menjauhkan kepalanya dan duduk tegak di kursinya sendiri menatap ke arah kiri bagian kaca jendela mobil yang tembus ke jalanan.


Rey terkekeh pelan sambil berusaha menahan kegelian melihat wajah Clara yang malu.


"Maaf Pak. Clara pikir soal itu," ucap Clara lirih. Rasanya malu sekali dengan Pak Rey. Pasti di pikirnya ia juga sama mesumnya seperti beliau. Padahal sama sekali tak begitu.


"Salah terka ya? Jadi sebenernya yang mesum itu siapa? Kamu atau saya? Pikiran kamu tuh yang selalu terbayang si joni," ucap Rey menggoda.


Clara menoleh ke arah Rey yang masih saja terkekeh sambil menyetir.


"Enak saja. Gak sama sekali. Clara gak mesum," ucap Clara tak terima.


Mobil Rey terus melaju cepat menembus wakti pagi yang masih gelap dan mulai menampakkan sinar mentari merah di langit yang masih gelap.


Rey membawa Clara ke alun -alun untuk menikmati bubur ayam ter- enak di kota itu.


Mobil Rey sudah berhenti dan parkir tepat di depan trotoar alun -alun.


Clara menatap Rey yang sudah mematikan mesin mobilnya.


"Ayo turun. Makan dulu. Habis ini pulang, istirahat," titah Rey serius. Wajahnya juga terlihat dewasa dan fokus. Sikapnya mulai terlihat dingin dan cuek.

__ADS_1


Clara turun dari mobil dan berjalan ke dekat trotoar menunggu Rey yang sedang mengunci mobilnya.


Rey sudah menyembulkan wajahnya dan langsung menggandeng tangan kanan Clara. Rey memegang erat tangan Clara dan di tuntun ke arah tempat lesehan di sana untuk menikmati udara pagi dan pemandangan yang cukup jarang di lihat oleh Clara.


"Bubur ya? Lengkap?" tanya Rey pelan.


"Iya. Gak pake kacang dan gak pedes," jawab Clara pelan.


Sontak ucapan Clara membuat Rey tertawa dan pergi begitu saja untuk memesan bubur pada penjualnya. Clara mebatap Rey aneh. Apa yang lucu dengan pesanannya? Bukan kah pesanan yang biasa saja. Suka tidak kepikiran oleh Clara tentang jiwa konyol Pak Rey yang terkesan receh.


Tak lama Rey kembali duduk di tikar rajut berwarna merah itu. Saat melihat wajah Clara ia kembali tertawa.


"Bapak kenapa sih? Memang lucu ya? Apa yang lucu? Clara gak paham," ucap Clara pelan.


"Bubur ayam satu gak pake kacang dan gak pedes," ucap Clara pelan.


"Nah itu dia. Kacang. Kenapa kamu gak pake kacang karena kamu sudah punya kacang. Itu jawabannya," ucap Rey terkekeh. Clara sana sekali tak tertawa. Entah tidak mengerti atau memang sedang tidak mood bercanda.


"Dasar aneh. Dosen mesum!!" ucap Clara pelan tapi tegas.


Clara langsung menbuang muka dan melihat ke arah lain di sekitar alun -alun itu. Melihat banyak orang yang berolah raga, lari pagi, jalan sehat, atau mengajak anak -anak mereka bermain dan bermain sepeda.


Tatapannya fokus pada seorang wanita yang usianya tidak beda jaauh dengan Clara. Perempuan itu memakai daster pendek dengan perut besar dan buncit sekali. Jelas wanita itu hamil. Suaminya menggandeng erat tangan istrinya dan berjalan mengelilingi alun -alun tanpa alas kaki. Terlihat mesar dan romantis sekali. Sesekali mereka berdua tertawa bersama sambil menunjuk apapun yang sedang mereka bahas. Nampak sekali kebahagiaanya. Apa memang semua ibu hamil akan merasakan kebahagiaan seperti itu? Tapi kadang, ada juga ibu hamil yang merasa tertekan dwngan semua ini.


"Gak lama lagi kita juga akan seperti mereka. Bahagia setiap hari bahkan setiap detik. Saya akan memastikan kamu selalu tersenyum setiap bangun tidur. Karena setiap senyuman yang tetukir di pagi hari setelah bangun pagi, menentukan hari mereka itu bahagia atau tidak. Karena akhir cerita itu di mulai bagaimana awal ceritanya," ucap Rey berbisik. Suara lirih setengah mendesah itu membuat lamunan Clara buyar seketika. Impian dan harapan seperti hilang terbawa angin pagi dan tersapu bersih dari otak Clara.

__ADS_1


Clara menoleh dan menatap wajah Rey yang sudah sangat dekat berada di samping Clara.


"Bapak gak lagi nge -halu kan?" tanya Clara pelan.


Rey langsung memundurkan tubuhnya dan menjauhkan wajahnya dari wajah Clara. Ucapan Clara membuat sedikit moodnya hilang. Di saat pria sedang serius membicarakan tentang masa depan yang ingin mereka rengkuh bersama, ternyata hanya di tanggapi seolah Rey sedang bercanda. Rey kecewa.


Bubur pesanan mereka sudah datang. Keduanya sarapan dengan tenang. Tak ada satu pun yanh bicara. Rey fokus pada mangkuk buburnya serta gorengan tempe mendoan dan sate ampela ati yang di sodorkan sebagai teman menikamti bubur itu.


Sesekali Clara melirik dan menatap Rey yang sejak tadi diam.


'Apa Pak Rey marah? Kenapa aku di diamkan? Apa ucapan aku tadi membuat Pak Rey kesal? Apa aku keterlaluam?' batin Clara di dalam hatinya sambil mengunyah bubur.


"Pak ... Buburnya enak ya? Gurih kayak ...." ucapan Clara langsung di hentikan tak di lanjutkan setelah Rey melotot ke arah Clara. Lesehan itu mulai ramai. Jangan sampai merke bercanda hal -hal berbau mesum hingga membuat orang di sekita ilfil.


"Gak usah kepikiran yang gak -gak. Habiskan," titah Rey tegas.


Clara menurut dan segera menghabiskan buburnya.


Tangan Rey langsung menjulur ke arah bawah bibir Clara. Ada cipratan bumbu bubur di sana. Dengan penuh kelembutan ibu jari Rey mengusap pelan bumbu bubur itu.


Sikap Rey yang sederhana itu membuat Clara merasa tersanjung. Tak hanya itu saja, jantungnya ikut berolah raga membuat kesehatan jantung Clara semaki sehat aetiap hari.


"Kalau makan jangan kayak anak kecil. Masa calon istri dosen, cara makannya masih begini," ucap Rey pelan sambil mengedipkan satu matanya.


Clara hanya tersenyum malu. Beberapa orang melihat mereka dan ikut tersipu. Itu yang membuat Clara malu.

__ADS_1


__ADS_2