
Clara berlari dengan cepat dengan semua tenaga yang masih ia miliki. Ia tak tahu harus kemana lagi saat ini. Dulu, kalau masih punya kamar kost, ia bisa kembali ke kamar kostnya. Tapi? Sekarang Clara yang bingung harus kemana, Nita pun rasanya tak mungkin bisa membantunya lagi.
"Clara!!" teriak Rey yang terus mengejarnya.
Langkah Rey yang panjang dan lebar lebih cepat menggapai tubuh Clara yang berada di depannya.
Sesekali Clara menyeka air matanya yang terus menetes di pipinya dan berusaha membuka lebar kedua matanya agar teap bisa melihat ke arah depan.
Rasanya sakit sekali, di tipu mentah -mentah oleh pria yang ia cintai dan kini sudah berstatus menjadi suaminya itu.
"Clara!! Jangan seperti ini!! Mas akan jelaskan semuanya dengan sejelas -jelasnya. Kamu gak kasihan sama anak kita? Jangan egois seperti itu!! Berhenti kata Mas!! Clara!!" teriak Rey yang terus menyurus Clara berhenti dan Rey berhasil menangkap tubuh Clara dari belakang.
"Lepas Mas!! Sudahlah gak perlu lagi ada komitmen di antara kita. Cukup kita itu hanya sebatas mahasiswi dan dosennya saja!!" teriak Clara tak mau kalah.
"Heii ... Kamu itu lagi emosi. Sini lihat Mas, lihat mata Mas. Jangan kamu dengar sesuatu secara mentah -mentah saja," ucap Rey menasehati.
Clara membalikkan tubuhnya. Wajahnya merah padam karena marah.
"Apa? Jangan mengambil kesimpulan mentah -mentah? Lalu? Kalau Clara dengar soal transfer uang? Terus? Clara gak boleh overthinking? Kamu transfer uang buat wanita lain, Mas? Dan itu tanpa sepengetahuan Clara? Lalu Calra berdiam diri? Bahkan sampai hari ini, Clara gak pernah pegang uang dari suami Clara!! Semua memang di penuhi sama kamu, Mas, tapi tidak pernah ada transparansinya. Ini yang di sebut komitmen? Clara memang masih muda, belum lulus kuliah, tapi Clara belajar untuk menjadi istri yang baik, menjadi calon ibu yang bertanggung jawab agar bisa merawat dan menjaga anak Clara kelak. Clara gak suka di bohongi seperti, ini!!" ucap Clara penuh emosi. Nada suaranya juga lantang tanpa takut salah.
"Tapi apa yang kamu dengar itu gak sperti itu kejadiannya. Oke, Mas salah, Mas kirim uang ke Renata, tapi lewat Arga., bahkan Mas tak sama sekali berkomunikasi dengan Renata, semua lewat Arga. Mas itu cuma bantu, itung -itung sedekah, itu aja. Sama sekali gak ada maksud lain. Apalagi dikaitkan dengan masa lalu. Tolong kamu dengarkan Mas dulu. Rencananya mau bilang, tapi memang belum ada waktu yang tepat, Mas tahu, ini pasti sensitif," ucap Rey menjelaskan dengan suara pelan.
"Sudahlah, lagi gak pengen berdebat apapun," ucap Clara pasrah.
Rey mengambil tangan Clara dan mengusap lembut tangan itu.
"Maafin Mas ya, Ra. Mas janji hal seperti ini gak akan terulang lagi," ucap Rey lembut.
Rey merasa menyesal kenapa sejak awal ia tidak bicara, ternyata malah berbuntut seperti ini.
Clara sama sekali tidak menjawab dan rasanay sudah malas mendengar permintaan maaf Rey yang berulang kali dan selalu di ulang lagi perbuatannya. Tapi kakinya sudah lelah menahan rasa sakit memakai sepatu jinjit seperti ini, perutny juga lapar sekali. Clara harus gimna? Padahal sesekali boleh lah, kasih pelajaran buat Rey, biar tidak semena -mena lagi.
"Clara mau pulang," jawab Clara ketus. Setidaknya kalau sudah di rumah sendiri lebih aman. Mau marah -marah, mau teriak -teriak atau mau mengunci diri sudah tidak ada lagi yang melihat kecuali mereka berdua saja.
"Oke kita pulang. Tapi, kamu mau maafin Mas, kan?" tanya Rey lembut.
"Clara mau pulang sekarang atau Clara gak akan pulang!!" ucap Clara dengan suara lantang.
"Baiklah kita pulang," Rey menyerah dan membiarkan Clara yang masih marah mengikuti hawa nafsunya mendiamkan suaminya.
Selama dalam perjalanan pulang menuju rumah mereka, keduanya saling diam dan tak ada yang bicara. Clara diam dan menatap ke arah samping kiri dan Rey yang diam menunggu Clar mmebuka suara untuk meminta maaf kembali.
"Mau beli makan gak? Biar sekalian, di rumah kan, gak ada makanan," tanya Rey lembut. Ia mencoba mencairkan suasana malam itu.
Clara masih saja diam tak mau mnejawab. Buat Clara masalah makan itu gampang, bikin mie instant sesekali untuk Ibu hamil gak masalah dong, atau bikin dadar mie, bahasa kerennya sih pizza mie. Bisa juga bikin roti panggang dengan campuran kornet, apa sajalah bisa di makan asal mau bikinnya. Lebih praktis lagi pesan makanan secara online. Rey sengaja mengajaknya makan untuk memperbaiki hubungan dengan Clara. clara harus punya harga diri, kali ini harus jual mahal dan tidak mudah memaafkan. Fatal lho, mengirimkan uang untuk wanita lain, sedangkan Clara sendiri tidak pernah di beri uang oleh Rey. Lucu gak sih? Cuma Rey yang bisa begini, aneh bin ajaib. Clara terus menggerutu di dalam hatinya. Clara benar -benar kesal mendengar sendiri soal transfer uang, di tambah lagi si uler keket pake bilang makasih ya, dengan gaya lebaynya bikin mual aja. Hufftt ... Amit -amit jabang bayik, jangan samapi si baby twins ini ada yang mirip kayak si ule keket, bisa jadi bahan tertawaan kalau sampai ada yang mirip seperti Renata.
__ADS_1
Rey melirik ke arah Clara yang masih diam dan tak mau bicara apalagi menjawab pertanyaan Rey. Tubuhnya bersandar dengan nyaman di jok mobilnya dan kepalanya miring ke kiri. Malas rasanya melihat wajah suaminya saat ini. Tangan kiri Clara memegang perutnya dan tangan kanannya mengusap pelan perutnya sendiri dengan lembut. Rey ikut menyentuh perut Clara dan Clara melepaskan elusan tangan Rey pada perutnya.
"Gak usah pegang- peagang," ucap Clara ketus.
"Anak kita lho. Bukan anak kamu saja. Aku ikut proses membuatnya, bahkan aku titip semburan untuk semua anggota tubuhnya," ucap Rey terkekeh. Rey berusaha membuat Clara tertawa dengan candaan recehnya tapi Clara malah mendengus kesal.
Kedua bola mata Clara memutar dengan malas. Bisa -bisanya masih mengajak Clara bercanda dan berusaha merayu Clara agar Clara tidak marah lagi.
"Apa? Anak kita? Clara yang mengandung!!" ucap Clara ketus.
"Tapi kan Mas yang bisa membentuk semuanya, Ra," ucap Rey yang tak mau kalah berdebat.
"Membentuk apa? Emang patung di bentuk," ucap Clara ketus.
"Patung juga terbuat dari percampuran benda padat dan cair. Sama kan? Anak kita juga," ucap Rey yang terus berusaha membuat Clara bisa tertawa seperti biasanya.
Clara menoleh ke arah Rey dan menatap tajam.
"Clara sudah malas bicara sama Mas Rey. Sekarang terserah Mas Rey saja, mau kembali lagi ke masa lalu, ke mantan, ke siapa saja, terserah. Clara bodo amat!! Gak peduli. Kita urusan saja urusan kita masing -masing," ucap Clara semakin ketus dan galak.
"Kok gitu sih, ngomongnya. Mas sudah minta maaf lho, Ra. Memangnya wajah Mas ini tidak menunjukkan rasa penyesalan gitu? Mas menyesal sudah berbuat begini sama kamu," ucap Rey yang berterus terang.
"Hah? Menyesal? Penyesalan? Mas!! Meneysal itu sekali, gak beruang kali. Kalau menyesal terus di ulang dan di ulang lagi, itu namanya menyesal yang kecanduan. Ini hati Mas bukan kompor gas!!" ucap Clara ketus sambil menunjukkan dadanya.
"Ya kamu aneh. Itu dada bukan hati, apalagi kompor gas. Ngapain juga kompor gas kamu bawa -bawa berat tahu, apalagi kalau tabungnya yang du belas kilo, tentu kamu gak akan kuat," ucap Rey yang teruys berusaha menggoda Clara.
"Kan emang Mas selalu nyebelin di mata kamu sejak dulu. Kapan sih, kamu memuji Mas? Paling memuji kalau di tempat tidur saja. Mas, kamu hebat, kamu kuat, kamu keren, aku suka, aku seneng banget, aku ... aku ...." ucap Rey sambil melirik Clara lalu terkekeh sendiri membuat Clara tak bisa menahan senyumnya sendiri dan tertawa terpingkal -pingkal dengan ucapan Rey barusan. Cara bicara Rey sungguh lucu dan membuatnya merasa di bodohi pada keadaan.
"Lucu kan? Akhirnya mau ketawa juga. Udah maafin Mas dong," ucap Rey pelan.
"Gak!! Ketawa tuh, karena lucu bukan terus memaafkan," ucap Clara makin ketus.
Bisa -bisanya Clara terbawa suasana candaan receh tadi. Hilang deh, harga dirinya.
"Ya sudah kalau gak mau maafin," ucap Rey santai.
"Benci," ucap Clara lantang.
"Selamat benci," jawab Rey serius sambil fokus menyetir mobilnya.
Clara melirik tajam ke arah Rey yang hanya menjawab singkat seperti itu.
"Ngeselin!!" ketus Clara kembali emosi dan marah.
"Selamat Ngeselin," jawab Rey lagi -lagi malah memicu emosi Clara.
__ADS_1
"Eurgggghhh ...." teriak Clara peuh emosi tinggi.
Clara menoleh ke arah Clara dan memukul lelaki itu dengan keras.
"Kamu nyebelin, ngeselin, benci!!!" teriak Clara emosi.
Rey menangkap satu tangan Clara dan emncium punggung tangan itu lembut dan penuh kasih sayang.
"Maafin Mas, ya, Sayang. Beneran, Mas itu udah gak ada perasaan apapun sama Renata. Mas itu cuma di hubungi Arga karena Renata meminta bantuan. Lagi pula nomor Mas sudah ganti dan Renata gak tahu nomor Mas yang baru. Makanya Renata menghubungi Arga untuk minta tolong. Lelaki yang menghamilinya tidak mau tanggung jawab, dan Renata sudah tidak bekerja lagi, ia butuh uang untuk periksa ke dokter dan biaya hidup. Dia sedang cari pekerjaan baru. tapi kan gak mudah, bagi wanita hamil seperti Renata mencari pekerjaan," ucap Rey lembut menjelaskan.
"Terus? Clara harus peduli? Berarti kalau ada yang peduli sama Clara gak masalah dong? MAas gak boleh marah," ucap Clara ketus.
"Lhoo kok gitu Ra. Beda konsepnya dong. Kamu kan sudah punya Mas, semua kebutuhan kamu, MAs penuhi, kamu minta pa saja, Mas selalu turuti. Coba/ permintaan apa yang kamu minta gak Mas turuti? Semua Mas turuti. Nah, Renata? Dia hamil, gak punya suami, dan dia gak bekerja. Mas cuma bantu dia aja, gak lebih," ucap Rey tetap membela diri.
"Ohhh beda konsep. Terus? Bedanya dimana sama Mas yang sudah punya istri? Mas Rewy yang sudah punya tanggung jawab juga, istrinya juga hamil lho, hamil beneran dua anak pula. Malah mentingin uler keket yang kelaparan. Masa bodoh sama dia, terus kenapa dia mau di hamilin?" ucap Clara makin ketus dan lantang. Nada suaranya nyinyir penuh emosi tingkat tinggi.
Rey menarik napas dalam. Susah menjelaskan konsep pada Clara yang sudah tak bisa menerima penjelasan Rey. Semua yang Rey lakukan seolah salah dan salah. Niatnya hanya memmbantu saja tidak lebih, malah berakhir pertengkaran.
"Pokoknya Mas sudah minta maaf dan Mas berjanji tidak mengulangnya lagi," ucap Rey pelan.
Tangan Clara di tarik dan melipat di depan dadanya.
Tak lama, mobil Rey masuk ke dalam teras rumahnya. Saat mobil berhenti, Clara langsung membuka pintu mobil dan keluar lalu membuka anak kunci pintu rumahnya dan masuk ke dalam kamarnya. Clara langsung mengunci kamar tidurnya itu.
Rey hanya bisa menarik napas dalam saat melihat Clara membnating pintu mobilnya dan tergesa -gesa untuk mausk ke dalam rumah.
Rey masuk ke dalam rumah dan mengetuk -ngetuk pintu kamar tidurnya pelan.
"Ra ... Clara ... Ini udah malam lho, jangan begini ih. Kalau ada masalah kan di selesaikna baik -baik, bukan malah seperti ini. Mau di laknat sama malaikat, marah -marah sama suaminya," ucap Rey pada Clara.
Clara mengambil bantal dan selimut lalu membuka pintu kamranya dan melempar selimut serta bantal ke luar.
"Clara lagi gak mau dengar alasan apapun!! Clara capek dengan masa lalu Mas yang gak akan pernah hilang dariu ingatan Mas Rey!! Clara tahu, Renata itu cintanya Mas Rey, dan Clara penghalang bagi kalian? Iya kan? Karena Clara, Mas merasa harus bertanggung jawab? Iya kan?" tanya Clara pada Rey yang tak bisa menjawab semua ucapan Clara.
"Gak gitu Ra. Ini semua karena kita berjodoh, bukan karena kesalahan itu, Ra. Jangan salah paham," ucap Rey menjelaskan.
"Udah ah ... mendadak mual ngeliat Mas dan denger suara Mas. Selamat bermimpi indah Pak Dosen Reynand Dasilva!!" ucap Clara kesal. Suaranya sangat ketus. Amarahnya sudah di ubun -ubun tak terpecahkan lagi.
Clara menangis, ia memukul -mukul kasur dnegan kepalan tangannya yang mungil. Kekuatannya pun tidak sekuat biasanya.
Rey sendiri melangkah gontai ke arah sofa. Ini adalah pertengkaran pertama yang paling dahsyat sejak perniakhannya dengann Clara. Biasanya Clara mudah memaafkan, dan bisa meneria semua perbedaan pendapat pada rumah tangganya. Biasanay Clara mau menuruti pa kata Rey. Tapi tidak dnegan hari ini. Kali ini urusannya beda, urusannya dengan masa lalu, dengan mantan, dan itu membuat Clara sakit hati.
"KENAPA!!" teriak Clara penuh emosi.
Hatinya gundah gulana. Ia tak bisa menerima maaf Rey dan penyesalannya telah melakukan suatu perbuatan yang Clara anggap sebagai kesalahan fatal.
__ADS_1
Rey merebahkan tubuhnya di sofa dan mnutup tubuhnya dnegan selimut. Ia membuka ponselnya dan menelepon Arga.