
Nita sudah berada di salah satu meja makan yang ada di kantin dengan beberapa makanan pesanan miliknya yang tersaji rapi di atas meja makan tersebut.
Clara sudah sampai di bangunan sederhana namun terlihat nyaman yang terpisah dengan bangunan kampus.
Langkah kakinya pelan menaiki tangga menuju atas kantin kampus. Kedua pandangannya juga mengedar mencari keberadaan Nita.
"Clara!" teriak Nita dengan suara keras sambil melambaikan tangan ke arah Clara yang baru saja masuk ke dalam kantin.
Nita memilih meja yang ada di balkon, tempat terbuka yang bisa memandang pemandangan dari atas dengan sangat indah.
"Haii ... Bumil apa kabar," cicit Clara tertawa keras.
"Masa bumil teriak bumil," ucap Nita melengos kesal.
Nita masih asyik menikmati makan pagi menjelang siangnya. Maklum kehamilan trisemester bagii Nita malah membuat Nita semakin kalap makan dan masa paling enak untuk membuat Arga mau menuruti semua keinginannya denagn alasan ngdidam.
"Dih ... Ngaco deh," jawab Clara yang duduk di sampung Clara dan menyeruput minuman dingin yang sudah di siapkan oleh Nita untuk dirinya.
"Lah ... Gak ngaku. Inget besok acara empat bulanan gue, Ra. Jangan lupa dateng dan jangan telat. Loe tuh paling bisa ngeles untuk terlambat," ucap Nita tertawa keras.
"Iya. Ntar Clara bilang sama Mas Rey," jawab Clara santai lalu mencomot kentang goreng yang di cocol dengan saos sambal.
"Uluhhh mesranya mahasswi senior ini memanggil suaminya. Mas Rey?" goda Nita terkekeh.
"Jih ... Apaan sih Nit! Emangnya kamu sama Pak Arga gak gitu?" tanya Clara dengan suara pelan setenfah berbisik.
"Gak. Gue sama Pak Arga lebih bucin dari itu," tawa Nita makin keras membuat suasana siang itu terasa santai bagi keduanya. Clara hanya memutar kedua bola matanya malas. Ia tahu betapa bucinnya Nita dan Arga kalau sudah ketemu. Mereka adalah pasangan yang serasi sejak dulu.
__ADS_1
Clara paling tahu, bagaimana Arga mendapatkan hati Nita saat itu.
"Nita ... Loe katanya mau cerita sesuatu?" tanya Clara. Clara sudah siap mendengarkan semua keluh kesah Nita siang ini.
Nita mengangguk pelan dan mencoba tersenyum pada Clara.
"Iya. Loe mau kan dengerin," ucap Nita denagn wajah sedih.
"Iya maulah. Kalau gak mau, aku gak datang ke sini dong, pastinya?" ucap Clara sambil mencomot makanan ringan lainnya.
"Emang ada apa?" tanya Clara kembali.
Nita menatap Clara lekat. Ia ragu bercerita soal masalahnya pada Clara. Nita tahu setiap rumah tangga punya masalah sendiri -sendiri.
"Ayo cerita. Gak usah ragu juga kali," ucap Clara seolah tahu Nita agak bimbang mau bercerita.
"Soal Kak Desy, Kakaknya Pak Rey. Kamu tahu kan? Kak Desy dulu mantan Pak Arga," ucap Nita pelan.
"Kak Desy. Ya ... Clara tahu tapi gak paham juga. Jadi? Kenapa? Kak Desy ganggu rumah tangga loe? Dia mau jadi pelakor?" tanya Clara emosi.
"Eitsss ... Gak gitu juga kali. Bukan masalah pelakor ini. Masalahnya Kak Desy sendiri, cuma cerita ke Pak Arga. Gak bedua juga, ada gue di sana waktu dia cuthat gitulah," ucap Nita menjelaskan.
"Hah? Kalian bertiga ketemuan? Cuma untuk dengerin curhatan Kak Desy? Loe waras kan, Nit? Kak Desy itu manatnnya Pak Arga, dan dia dia masih suka sama Pak Arga terus loe biarin aja gitu? Mereka curhat dan ngobrol, walaupun ada loe? Itu trik mereka. Seolah mereka mau menunjukkan tidak ada hubungan tapi nanti nyatanya?" ucapan Clara langsung di sela oleh Nita drngan geram.
"Ra!! Gue ini mau cerita bukan mau mennafsirkan hal -hal nantinya. Pak Arga gak begitu, dia akui pernah berhubungan denagn Kak Desy tapi itu dulu dan kejadiannya sudah lama sekali. Gak mungkin juga kembali, karena rasa cintanya udah buat gue seorang. Gue vuma mau bilang, Kak Desy itu mau minta nikah sama seseorang, tapi anaknya gak setuju. Ancamannya, kalau sampai Papahnya menikah sama Kak Desy, anaknya mau melakukan sesuatu hal juga," ucap Nita menjelaskan.
"Terus? Udah gitu doang ceritanya? Segitu doang ceritanya?" tanya Clara menatap lekat Nita.
__ADS_1
Nita menggelengkan kepalanya pelan.
"Masih ada lanjutannya," jawab Nita pelan.
"Ya terus? Lanjutannya apa?" tanya Clara kesal.
"Ekhemm ... Anaknya namanya Radit. Loe kenal, Ra? Dia CEO di perusahaan bonafit, karena pewaris. Terus rumornya dia ada di kampus kita," ucap Nita pelan.
Deg ...
Otak Clara mulai berpikir dan terus berputar. Cerita ini seolah tak saling berkait tapi nyatanya mengait satu sama lain.
Nita mengibaskan tangannya di depan wajah Clara. Ia mencoba membangunkan Clara dari lamunannya.
"Ra ... Clara!! Loe kenapa sih? Loe punya temen namanya Radit? Baru -baru ini?" tanya Nita pelan.
Clara mengangguk kecil dan nampak pasrah sekali. Kalau benar nama Radit iti adalah Radit yang ia kenal tentu, perkenalan ini bukan tanpa sengaja dan semua di sengaja. Semua sudah di atur, nyatanya saat itu Radit tiba -tiba mendatanginya dan mengajak Clara kenalan terlebih dahulu.
Memori Clara langsung menyesuaikan cerita Nita baru saja.
"Ekhemm ... Sory, Clara kenal sama Radit, tapi katanya anak magang di sana. Selama ini baik. Terus? Urusannya sama Clara apa ya? Kan Clara sama Kak Desy gak punya urusan," ucap Clara polos.
"Iya memang. Tapi Rey? Dia itu adiknya Kak Desy," ucap Nita mengingatkan.
"Uhhh ... Ngapain juga sih Clara sama Mas Rey harus di bawa -bawa. Kita kan udah masing -masing. Clara lagi hamil juga, gak mau mikir yang berat -berat," ucap Clara tak peduli.
Kini giliran Nita yang melotot ke arah Clara tidak percaya.
__ADS_1
"Loe hamil Ra? Akhirnya loe beneran hamil. Berarti ini sih, hamilnya karena kejadian malam itu ya? Gilaaa ... tok cer juga tuh dosen," ucap Nita tertawa terkekeh.
"Iya Clara hamil, dan kembar. Clara lagi gak mau ambil pusing. Nanti soal ini Clara obrolin sama Mas Rey. Mungkin kita akan pulang dulu ke rumah Bundanya Rey. Biar jelas. Aku cuma pengen, rumah tangga aku, adem ayem aja. Kalau pun ada ujian, bukan ujian yang sulit tapi ujian yang bisa buat kita berdua semakin belajar menjadi suami istri yang lebih baik lagi," ucap Clara dengan cita -cita mulianya.