
Pagi yang melelahkan sekali. Tidak hanya paha Clara yang terasa nyeri dan linu. Tapi juga seluruh tubuh Clara rasanya babak belue mengikuti keinginan Rey yang harus berpose dengan beberapa gaya. Lelaki itu tak hanya kuat tapi menyukai banyak gaya aneh yang penasaran untuk di coba. Rata -rata gaua itu agak aneh dan jarang sekali terdengar familiar. Contohnya saja, ada gaya kayang, gaya kapal terbang sampai gaya kodok loncat juga ada. Ya ampun, Clara benar -benar mengusap dadanya berulang kali.
"Pak ... lelah. Boleh gak sih istirahat gitu. Makan dulu. Kira butuh amunisi buat sarapan," cicit Clara lemah. Dua bola matanya habya bisa terpejam karena kelelahan.
Tenaga Clara benar -benar sudah terkuras habis dan energinya sudah lemah tak berdaya. Aktivitas ini bukannya menambahbdaya tapi malah menghabiskan daya.
Rey menatap Clara yang sudah menyerah tak berdaya.
"Nyerah nih? Akui dong kalau saya kuat," ucap Rey terkekeh.
Clara hanya memutar kedua bola matanya malas. Ucapan Rey sama sekali membuat Clara kesal.
"Iya. Bapak kuat. Kuat banget. Ya ... mungkin karena umur Bapak memang sudah pas untuk begini," ucap Clara asal membuat Rey malah penasaran.
Posisi Rey masih berada di atas tubuh Clara yang polos. Dua tubuh berbeda itu sudah lengket karena keringat dan campuran cairan dari berbagai lubang.
"Umur saya? Kenapa umur saya? Sudah tua? Gitu maksud kamu? Hemm ...." tanya Rey menatap lekat Clara yang agak terkejut dengan pertanyaan Rey.
Tadi salah ucap atau bagaimana sampai Clara malah terintimidasi dengan pertanyaannya sendiri.
"Gak Pak. Bukan masalah tua atau muda. Tapi ...." ucapan Clara terhenti. Ia sedang berpikir kata -kata yang pas untuk di sematkan dalam bibirnya agar tidak mengandung pertanyaan lain.
"Tapi apa?! Hem ...."
"Ekhemm ... Itu anu ... Bapak itu hebat dan kuat sekali. Clara suka," puji Clara dengan senyum ikhlas yang sedikit di paksakan.
Rey lekat menatap dua bola mata Clara lalu terkekeh.
"Jelas dong kuat. Lihat tubuh saya kekar begini. Kamu mau sarapan apa?" tanya Rey pelan. Perutnya juga mulai berontak minta di isi.
"Itu ada pecel. Bapak mau? Biar Clara yang belikan," tanya Clara lirih.
"Boleh pakai piring jangan di pincuk ya," titah Rey.
"Iya. Bapak turun dong. Gimana mau beli pecel kalau Bapak masih di atas Clara begini," ucap Clara santai.
Rey meringis dan terkekeh. Clara masih berada di bawah kungkungan tubuhnya dan sama sekali tak bisa bergerak. Rey pun beringsut turun dan mengambil pakaian yang sengaja di buang di bawah tadi. Satu persati merek amulai memakainya.
Rey sudah duduk tegak di atas kasur dan meminum susu putih tadi. Aslinya Rey menang banyak pagi ini, selain susu putih buata Clara yang masih hangat, tadi pun Rey bisa menikmati susu dari pabriknya langsung.
__ADS_1
Clara membuka pintu kamarnya dan ....
"Pagi Clara ...." ucap beberapa temannya yang sengaja duduk manis di depan lantai terasnya.
Clara terkejut sekali melihat reman -twnan kostnya yang kepo itu.
"Kalian ngapain? Tumben ada di depan kamar," tanya Clara dengan gugup juga.
Kamar kost Clara itu tidak kedap suara. Kalau mereka sengaja nongkrong di depan tentunya dengar suara -suara aneh yang keluar dari bibir Clara atau pun dari bibir Rey tadi. Mana permainan tadi benar -benar lepas karena mereka tak punya beban dosa dan sudah menikah.
Keenam temannya itu hanya menatap Clara dan meringis. Tapi tak satu pun ada yang beranjak dari sana.
"Habis dengerin musik yang bikin deg -degan," ujar Pipit dengan gaya bicara yang selalu terdengar lucu.
"Iya. Radionya kalau dari sini soundnya jelas dan terarah," ucap Meryl menimpali.
"Rasanya ikut berolah raga juga biar sehat," ucap Aya tak mau kalah ikut berkomentar.
Clara memutar dua bola matanya malas. Benar kan, keenam temannya ini sedang mencari bukti. Pasti ia mendengar suara aneh tadi. Clara berusaha cuek dan bodo amat. Ia memanggil ibu pedagang pecel untuk berpindah di depan terasnya.
"Bu ... di sini ya. Om saya mau makan pecel. Mau di borong katanya," teriak Clara tanpa berdosa.
Ibu pecel itu mengangguk dan akan membawa bakulnya dan berpindah ke depan teras kamar Clara.
"Saya bukan om kamu," ucap Rey kesal tiba -tiba membuat Clara kaget.
"Hemm ... Bapak tuh baler aja. Gak lihat tuh para wanita sudah berjajar di depan," ucap Clara kesal.
"Saya ke depan ya. Biar saya borong pecel ibunya," ucap Rey santai.
"Gak usah. Lihat, Bapak itu, cuma pakai kolor doraemon. Bisa -bisa teman Clara tertawa lepas lihat beginian," titah Clara kesal.
Clara keluar dan membeli pecel di dua piring. Tak lupa memilih gorengan dan bacem serat keripik paru sebagai teman makan pecel.
"Laper Ra. Habis olah raga ya?" goda Sena terkekeh.
Clara cuma melirik ke arah Sena. Rasa -rasanya bakal ada yang tidak beres ini.
Benar saja, Rey amlah keluar sambil membawa air putih hangat dan duduk di salah satu kursi di teras depan.
__ADS_1
"Hai semuanya. Mau pecel? Silahkan biar saya yang bayar," ucap Rey serius.
"Arghh ... benarkah Pak? Ini sogokan ya?" ucap Sena terkekeh.
"Sogokan untuk apa?" tanya Rey bingung.
Sena malah tertawa sendiri dan menatap aneh kepada teman -temannya.
Clara hanya diam tak banyak bicara. Ia melerakkan dua piring pecel dan lauk pauk yang sudah di pilihnya tadi.
"Ayo pada pesen. Ini traktiran awal saya. Saya dan Clara sudah menikah. Lihat ini," ucap Rey smabil menunjukka cincin pernikahan mereka pada teman kost Clara.
Semuanya tercengang dan tak percaya.
"Ini asli Pak," ucap Sena ragu.
"Kamu meragukam saya tak bisa membelikan cincin berlian untuk Clara? Gitu maksudnya?" tanya Rey kesal.
"Bukan itu Pak. Saya patah hati seketika Pak. Saya pikir Bapak cuma sold out bukan terus go out," ucap Sena terduduk lemas di lantai.
"Pak Rey kan masih jadi dosen kita. Gak akan pergi juga," ucap Clara asal.
Clara merasa menang lagi pagi ini. Rey mau mengakui hubungannya dengan Clara di kost Clara.
Tentu, Clara banyak menatap wajah sedih yang di tampakkan beberapa temannya itu. Mereka benar -benar patah hati.
Skip ...
Siang ini, Rey dan Clara memutuskan untuk mencari tempat tinggal baru untuk mereka tempati bersama.
Rey memberikan pilihan untuk pergi dari kost dan mencati rumah baru atau tetap tinggal di rumah Bunda Silva atau di rumah besar Rey tapi kost Clara masih boleh di lanjutkan.
Sebagai istri yang baik dan bijak. Clara memilih opsi pertama. Lagi pula kalau di runah sendiri, mungkin Clara akan lebih bebas melakukan apansaja tanpa ada rasa canggung.
"Mau cari rumah di sekitar mana?" tanya Rey.
"Clara gak tahu. Clara kan bukan orang sini," ucap Clara datar.
Rey mengajak Clara ke salah satu perumahan dekat kampus. Termasuk perumahan elite dan banyak dosen yang tinggal di sana.
__ADS_1
Dua mata Clara menatap seseorang di depan.
"Pak ... itu kan ...." ucap Clara menunjuk ke arah perempuan yang sedang berdiri di samping mobil mewah. Ia juga menatap mobil Rey dan wajahnya menunduk.