PAK DOSEN, I LOVE YOU

PAK DOSEN, I LOVE YOU
101


__ADS_3

Akhir pekan ini, Rey sengaja mengajak Clara untuk berkunjung ke rumah Ayah David dan Bunda Silva. Sudah lama sekali, mereka tak bersilaturahmi kesana karena kesibukan Rey dan Clara di kampus.


Rencana besar kedua adalah pulang ke kampung halaman Clara pada akhir liburan semester ini. Semua sudah di rencanakan dan di sepakati oleh kedua sejoli pengantin baru itu.


Rey hanya ingin Clara tetap bahagia saat mengandung. Sebagai suami, ia akan mewujudkan semua keinginan istri labilnya yang sudah berubah seratus delapan puluh derajat itu.


Setelah beberapa pekan ini, keduanya menjalani kehidupan rumah tangganya secara mandiri, dan mereka mampu menjalaninya dengan cukup baik.


Satu hari sebelum pulang ke rumah Ayah David dan Bunda Silva, Clara mencoba membuat kue bolu lapis warna warni, bahasa kerennya sih, Bolu Pelangi.


Seperti biasa, pagi ini, Clara sudah terbangun sangat pagi sekali mempersiapkan sarapan pagi untuk Rey, suaminya. Pagi ini, Clara ikut ke kampus, setelah beberapa hari ia berada di rumah karena tidak bimbingan skripsi denan Rey.


"Pagi sayang ... Lagi apa sih, masih gelap gini udah beredar aja," kesal Rey pada Clara yang terbangun dan ingin memeluk istrinya, namun istrinya sudah tidak ada.


Rey yang terus memeluk Clara dari belakang dan mencari kenyamanan di ceruk leher Clara seperti sedang menggelitikinya.


"Mas, Clara lagi motong cabe ini, mau nasi goreng gak sih? Kemarin katanya request nasi goreng tanpa kecap pake telur mata sapi," cicit Clara yang sedang berada di mode malas berdebat.


"Hemm ...." Rey hanya menjawab dengan deheman pelan. Kedua matanya masih lengket saling menutup. Pelukannya malah semakin erat.


"Mas, ini gak bisa gerak," ucap Clara makin kesal.


"Makanya tidur dulu, temani Mas dulu," cicit Rey yang terkesan semakin manja.


"Katanya mau ke rumah Ayah dan Bunda pagi -pagi. Clara sudah bangun pagi biar bisa berangkat pagi. Mending Mas Rey mandi saja, sana, dari pada gangguin Clara nanti gak kelar -kelar ini masakannya," jelas Clara pada Rey.


Terdengar hembusan napas yang kasar dari hung Rey yang malas beranjak pergi dari pelukan erat di tubuh Clara, istrinya. Tapi, dari pada tanduk Clara keluar tiba -tiba, lebih baik Rey menuruti kata -katanya untuk mandi dan segera bersiap sarapan lalu berangkat.


***


Matahari baru mulai menampakkan senyum indahnya, sinarnya mulai menyorot melalui kaca depan mobil milik Rey. Rey sudah berada di depan kemudi dan memutarkan bundaran setir dengan fokus. Dengan pakaian casual dan kaca mata hitam yang tidak bisa lepas dari wajahnya untuk menutupi kedua matanya menghindari silau sinara matahari saat mengendarai mobilnya.


Clara juga terlihat duduk santai bersandar di jok mobilnya sambil memainkan ponselnya mencari musik kesukaannya melalui youtube yang langsung di sambungkan via blutooth ke musik player yang ada di mobil Rey.


Rey melirik ke arah Clara, untuk memastikan apa yang sedang di lakukan oleh istrinya itu.


"Anteng banget sambil senyum -senyum gitu, lagi lihat apa sih?" tanya Rey pelan.

__ADS_1


Clara yang masih sibuk dengan ponselnya hanya melirik sekilas ke arah Rey dan tersenyum.


"Gak ngapa -ngapain cari musik aja," jawab Clara singkat.


"Nyari musik kok senyum -senyum," punkas Rey mulai kesal. Sifat cemburu dan posesifnya kepada Clara mulai di perlihatkan.


Mendengar jawaban dan hembusan napas keras, Clara langsung menoleh ke arah Rey dan menunjukkan layar ponselnya kepada Rey, sambil menjawab dnegan tenang, "Ini cari lagu sambil edit foto pernikahan kita mau di pasang di medsos. Boleh?"


Rey menatap layar ponsel Clara dan mengulum senyumnya lalu mengangguk kecil.


"Boleh," jawab Rey singkat.


"Makasih sayang," Clara senang. Akhir -akhir ini apa yang ia lakukan selalu di perbolehkan. Speertinya Rey memang ingin mempublikasikan hubungan mereka kepada publik.


Cup ...


Satu ciuman mendarat di pipi kiri Rey secara mendadak. Clara langsung duduk kembali dengan fokus untuk melanjutkan mengedit foto pernikahan mereka.


"Ekhemmm ... Sukanya tiba -tiba ya. Cuma sebelah pula, ini yang sebelah iri lho Ra," ucap Rey gemas.


Saat itu Clara membawa bekal makanan dan ingin menikmati dengan santai di ruangan kerja yang sempit milik Rey. Clara sudah membuka dua kotak bekal dan satu termos minum berisi kopi hitam. Rey dengan ide konyolnya mengunci pintu ruangan kerja itu dan mengajak Clara bermain petak umpet secara singkat dengan joni. Tepat saat semua sudah terpacu, Rey tinggal melepaskan semua yang sudah terasa di ubun -ubun. Baru mau pasang kuda -kuda, suara keras OB yang biasa membersihkan ruangan Rey pun mencari kunci lain untuk membuka ruangan ini. Seketika joni di cabut begitu saja dan Rey duduk diam di kursi kebesarannya dengan posisi joni yang masih tegak sempurna. Clara tertawa terpingkal -pingkal, karena melihat wajah Rey yang merah padam karena malu takut ketahuan. Sungguh hasrat yang keterlaluan.


"Nanti di rumah Bunda, langsung ya," titah Rey pada istrinya.


"Langsung apa?" tanya Clara polos.


"Ini sih, dari pagi Mas nahan lho, Ra," cicit Rey memelas.


"Mas, sesekali kasih tahu joni biar ngerti posisi dong. Clara lagi di rumah mertua lho," ucap Clara kemudian.


"Karena di rumah mertua, kita bebas, mereka tahunya kita lelah dan pasti di suruh istirahat," ucap Rey menjelaskan.


"Ya kali di suruh istirahat. Kemarin Bunda Silva telepon sama Clara untuk segera membuat acara resepsi pernikahan kita sebelum Kak Desy. Ekhemmm memangnya Kak Desy mau nikah?" tanya Clara penasaran.


"Mungkin. Sudah lama juga, Mas gak berkabar sama Kak Desy. Dia sudah dewasa, punya pilihan hidupnya sendiri, dan Mas gak mau ikut campur," ucap Rey tegas.


"Bukankah dulu, Kak Desy gak suka sama Clara. Mungkin saat ini juga sama," ucap Clara cemas.

__ADS_1


"Apa urusannya dia gak suka sama kamu, Ra? BUnda suka, Ayah suka, Mas suka, yang penting kan kita yang menjalani, orang tidak akan tahu apa -apa," jelas Rey kembali.


"Iya sih, bener banget," jawab Clara singkat.


"Jadi gak perlu di dengar apa kata orang. MAs juga sudah bilang Bunda untuk tidak memasukkan Renata kembali bila bertamu ke rumah," ucap Rey menegaskan.


"Yakin?" tanay Clara kemudian.


"Yakin dong. Buat apa. Mas kan udah janji sama kamu, Clara Widianto, adalah istri SAH Rey Dasilva, kamu itu satu -satunya buat Mas," ucap Rey tegas.


"Satu -satunya ya? Bukan salah satunya," goda Clara kemudian.


"Enak aja bilang salah satunya. Emangnya Mas penganut poligami," ketus Rey yang tak suka di goda untuk masalah sensitif seperti itu.


"Hemmm ... Maaf sayang," ucap Clara lembut.


"Jangan ulangi lagi yang kayak begitu. Mas gak suka," jelas Rey tegas.


"Iya gak akan," jawab Clara.


***


Rey dan Clara sudah sampai di rumah besar milik orang tua Rey. Ada dua mobil asing yang ikut terparkir di halaman rumah orang tua Rey.


"Sepertinya ada tamu ya, Mas. Tapi siapa? Masih pagi ini," jelas Clara penasaran.


"Gak tahu. Kita msuk saja," titah Rey sambil membawa koper kecilnya yang tarik dengan tangan kanannya. Tangan kirinya menggandeng tangan Clara.


Pintu utama rumah besar itu terbuka dan dari kejauhan memang terdengar suara obrolan yang sudah jelas memang di rumah besar itu sedang kedatangan tamu.


Langkah kaki Clara memelan saat menaiki tangga. Rey selalu berhati -hati agar Clara tidak terjatuh atau terpeleset.


"Kalian sudah datang. Kenalkan ini calon suami Kak Desy dan ini putra semata wayangnya namanya Radit," ucap Bunda Silva mengenalkan.


Kedua mata Clara menyorot pada sosok Radit dan kepalnya sedikit pening berputar. Tangan Clara erat memengan genggaman tangan Rey.


Rey tak kalah sama terkejutnya dnegan kedatangan kelinci menyebalkan itu. Tentu, ia harus makin waspada agar Radit tidak membuat ulah baru.

__ADS_1


__ADS_2