
Clara melepaskan tangan Rey yang masih memegang erat tangannya. Kali ini ia hanya ingin membuktikan bahwa ia benar -benar menyukai Pak Rey dan membutuhkan lelaki itu atau hanya sekedar penasaran dan takut kehilangan saja. Begitu pun sebaliknya Clara hanya ingin Pak Rey benar tulus menyukainya dan bisa mencintai Clara apa adanya Clara bukan karena hal buruk yang telah terjadi di antara keduanya dan tanpa ada masa lalu. Itu saja.
Rey menatap sendu ke arah Clara. Saat Clara melepaskan tangan Rey dari tangannya.
"Kita baru satu hari menikah, Clara," ucap Rey sendu.
"Terus? Apa masalahnya?" tanya Clara santai.
"Bisa gak sih hubungan kita manis -manis romantis gitu? Gak ada masalah lurus kayak jalan tol tanpa ada gerbang tol juga?" tanya Rey terus lekat menatap Clara.
Clara mengakkan duduknya dan bersandar pada kursi meja belajarnya lalu menatap ke arah langit -langit atap kamarnya. Kedua matanya tiba -tiba saja basah. Sesak rasanya mengingat kejadian semalam. Melihat foto mesra terpajang di sana? Apakah aku cemburu? Itu berarti? Aku menyukai Pak Rey?
"Clara mau serius ngurusin skripsi," jawab Clara asal dan keluar jalur dari pembahasan tema.
"Apa hubungannya kamu ngerjain skripsi sama kamu, saya kejain," ucap Rey santai sengaja melemlarkan candaan agar suasana tidak tegang.
Clara langsung melotot ke arah Rey.
"Bapak ngomong apa sih? Gak jelas banget," ucap Clara kesal.
Rey menurunkan kedua kakinya dan brrsimpuh di depan Clara. Memegang keduu tangan gadis kesayangannya yang telah menjadi istrinya. Di kecupnya punggung tangan Clara secara bergantian.
"Lihat mata saya," titah Rey kemudian kepada Clara. Clara pun menoleh ke arah Rey dan menatap kedua bola mata hitam pekat itu.
"Saya memang punya masa lalu. Bukan berarti saya masih menyimlan masa lalu itu. Saat saya memberanikan diri melamar dan menikahi kamu, itu tandanya saya sudah siap meninggalkan masa lajang saya dan membina rumah tangga bersama kamu. Pahami kata -kata saya dengan baik. Saya siap melakukan apa saja demi kebahagiaan kamu. Apapun ... demi kamu dan anak kita," ucap Rey serius sekali.
Tatapan Clara masih lekat pada dua bola mata Rey. Ucapannya begitu tegas dan terlihat jujur. Semakin Clara mencari kebohongan malah semakin Clara melihat sebuah ketulusan di sana.
"Demi Clara?" tanya Clara lirih.
"Ya. Demi kamu dan anak kita," ucap Rey mantap.
"Anak kita? Clara belum hamil Pak. Kalau ternyata Clara gak hamil? Bapak mau pergi dari Clara?" ucap Clara lirih.
Rey terkekeh dan berdiri mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Clara. Tatapan Clara pun masih lekat dan tidak lepas dari dua bola mata hitam pekat itu.
Rey melepaskan tangan Clara dan kini memegang rahang Clara dengan telapak tangan kanannya hingga bibir Clara mengerucut ke depan. Pandangan mereka bertemu.
__ADS_1
"Kenapa kamu repot sekali sih. Kalau kamu gak hamil. Itu tandanya kita di suruh sering -sering buat anak. Paham? Kita sudah SAH. Jadi mau kapan pun, di mana pun dan sampai kapan pun si joni ini butuh kasih sayang. Di situ tugas kamu harus melayani dengan baik," ucap Rey serius.
Kedua mata Clara membola. Kata -kata Rey barusan begitu mengintimidasi Clara dan bahkan bagi kaum hawa yang sudah memiliki status jelas. Bayangkan saja, kapan pun, di mana pun dan sampai kapan pun harus siap membahagiakan si joni. Unlimited. Gila.
"Kenapa menatap saya begitu? Kamu meragukan kekuatan saya?" tanya Rey kemudian.
Clara menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia tak bisa menjawab rahangnya terkunci tangan Rey jadi membuat Clara agak kesulitan mengeluarkan suaranya.
"Lalu ...." tanya Rey makin lekat menatap Clara.
"Perut saya lapar Pak," ucap Clara jujur.
"Saya serius Clara," tegas Rey pada Clara.
"Saya juga serius Pak," ucap Clara membela diri.
"Pulang ke rumah. Saya gak mau dengar lagi kamu pulang ke kost tanpa seijin saya!! Paham!! Perbuatan kamu ini bisa membuat celah hubungan kita terlihat tidak baik dan pandangan orang terhadap hubungan kita yang terkesan di paksakan karena sesuatu hal!! Seharusnya kamu itu meyakinkan banyak orang bahwa hubungn kita baik -baik saja. Chemistry kita terbangun cepat, bukan soal waktu lama atau tidaknya Clara tapi itu dari hati terdalan yang bicara," ucap Rey menjelaskan. Rey mulai gemas pada Clara. Kalau bukan di kost sudah habis Clara di bolak balik oleh Rey.
Clara diam tak menjawab. Hanya tatapannya saja masih lekat ke arah Rey.
"Clara cemburu Pak," jawab Clara jujur dan lirih.
Rey mengulum senyum. Senyum manisnya tetap tersimpan agar tak nampak di depan Clara.
"Kamu cemburu? Kamu serius Clara? Itu tandanya kamu menyukai saya?" tanya Rey lirih.
Wajah keduanya mulai dekat dan bahkan sangat dekat sekali.
Clara menganggukkan kepalanya pelan. Mengiyakan ucapan Rey baru saja.
"Jangan pernah bandingkan Clara dengan masa lalu Bapak. Clara memang tidak ada plusnya di mata Bapak," lirih Clara berusaha jujur. Walaupun jujur itu bikin sesak.
"Maafkan saya, Clara. Kalau hal itu membuat kamu kecewa. Setelah ini, saya pastikan semua hal tentang masa lalu saya, tidak akan terungkit lagi. I'm promise," jujur Rey lirih.
Clara mengangguk lagi. Ini hanya salah paham saja. Tapi Clara terbawa perasaan. Ada rasa ketakutan tersendiri menghinggapi pikirannya. Benar kata Bunda Silva, Clara terlalu over thinking yang akhirnya malah membuat hatinya mulai terkikis karena api cemburu.
Setelah di ungkap seperti ini rasanya lega sekali.
__ADS_1
Cup ...
Sejak tadi Rey gemas sekali dengan bibir Clara yang tipis mengerucut ke depan. Ingin rasanya di raup dalam -dalam.
Kedua tangan Clara mulai terangkat dan mengalungkan ke bahu dan belakang tengkuk leher Rey. Sungguh menikmati sekali.
Spontan kedua mata Clara terpejam dan membiarkan suaminya mencium bibirnya dengan lembut. Rey mulai mengganas ******* bibirnya yang awalnya pelan dan lembut mulai terasa agak kasar dan penuh nafsu.
Rey melepaskan pertautan bibir itu. Ia selalu kalah bila sudah mencium bibir Clara pasti si joni menegang keras dan meminta jatah.
Clara membuka matanya. Ia juga kaget kenapa Rey melepaskan ciumannya.
"Kenapa Pak?" tanya Clara lirih. Ia merasa nanggung sekali. Baru saja merasakan puncak asmara dari pertautan kedua bibir itu. Malah di lepaskan tiba -tiba oleh Rey.
"Sayang ... Boleh di lanjut? Lihat kantung doraemonnya sudah menyembul minta jatah untuk keluar," ucap Rey lirih menahan hasratnya.
Clara terperanjat melihat kolor doraemon Rey yang sudah mengacung ke depan. Tepat di gambar kantung doraemon manuk emprit yang bersembunyi di sana pun mulai unjuk gigi.
"Bapak ... ini di kost," cicit Clara agak trauma kejadian saat Nita membuka pintu dan ambyar semuanya.
"Terus kenapa? Sudah di kunci kan?" tanya Rey pelan.
"Ekhemm sudah. Tapi lihat di depan banyak anak- anak lag pada ngumpul," jawab Clara pelan.
"Ini sensasinya. Sesekali bermain di antara rasa panik, itu akan membuat kita semakin terpacu," bisik Rey merayu.
Tak perlu lagi berdebat dan bertanya. Rey langsung mengangkat Clara dan membawanya ke tempat tidur.
Clara tak berani bersuara. Ia takut ada teman -temannya yang ikut menguping di depan sana. Kelakuan teman -teman kostnya memang seperti itu. Ada Sena,Tiara, Lisa, Meril, Aya, dan Pipit. Mereka semua tukang ghibah. Jangan sampai setelah ini, Clara yang menjadi bahan ghibahnya.
Rey sudah tak sabar untuk mengeluarkan manuk empritnya yang berbulu halus. Semua pakaian mereka sudah di tanggalkan dan di lemparkan begitu saja ke lantai dengan asal. Tubuh mereka sudah polos tanpa sehelai benang menempel.
"Pak ...." cicit Clara lirih.
"Apa?" jawab Rey yang sedang mengusap lembut manuk empritnya yang sudah siap menerjang sarang berjerami di depannya.
"Ini mau berapa ronde?" goda Clara terkekeh.
__ADS_1
"Hemm ... suka -suka saya. Kita mulai nikin anak ya," ucap Rey menahan hasratnya yang sudah menggelora.
Ya ... manuk emprit itu sudah mulai mengeram diam di dalam sarang berjerami. Beberapa kali, manuk empritnya sudah bermandikan cairan hangat.