PAK DOSEN, I LOVE YOU

PAK DOSEN, I LOVE YOU
64


__ADS_3

Hari yang semakin siang dan matahari mulai meninggi terasa sekali terik panasnya hingga menusuk kulit.


Rey dan Clara berjalan dari arah parkiran mobil menuju pintu masuk mall. Ini adalah acara perdana mereka makan siang bersama sekaligus berbelanja kebutuhan pokok setelah pernikahan mereka.


Rey menggandeng Clara dari arah parkiran hingga masuk ke dalam mall. Keduanya berjalan menuju tangga escalator untuk mengantarkan ke bagian food court di lantai paling atas. Perut adalah bagian terpenting bagi mereka. Sejak pagi mereka belum mengisi apapun ke dalam perut yang kini mulai berontak terasa lapar dan perih saat mencium aroma wangi khas makanan yang menyebar di seluruh mall itu.


Tangan Rey masih menggenggam tangan Clara erat. Tapi keduanya malah bukan terlihat seperti pasangan suami istri atau terlihat seperti kekasih yang sedang memadu kasih. Malahan terkesan seperti bodyguard yang sedang membawa jalan anak majikannya.


"Sssttt ... Mas Rey ...." panggil Clara lirih setengah berbisik. Kebetulan mall itu sangat ramai sekali. Karena memang bertepatan jam makan siang.


Rey menoleh ke arah Clara. Wajahnya memang terkesan dingin dan cuek tapi hatinya selembut kapas dan sikap manjanya melebihi anak kecil berusia lima tahun kalau sedang merengek.


Rey menatap lekat ke arah Clara yang juga sedang menatapnya dengan tajam. Ia hanya memberi kode pada Clara dengan dagunya yang di goyangkan ke atas sedikit dengan maksud ada apa memanggil dirinya.


Clara meraparkan tubuhnya pada tubuh kekar Rey dan kembali berbisik.


"Itu kaca mata hitam memang sengaja di pakai sampai ke dalam mall? Mau pamer gitu? Apa mau ngasih lihat ke semua orang kalau Mas Rey itu ganteng mempesona? Ada juga malah kayak tukang pijat keliling," ucap Clara se -kenanya dan ucapan itu malah membuat Rey makin mengeratkan genggaman tangannya di tangan Clara hingga Clara mengaduh kesakitan.


"Awww ... Sakit sayang. Ampun," ucap Clara kesal mengerucutkan bibirnya.


Rey langsung melepaskan kaca hitamnya dari wajahnya dengan satu tangan yang lainnya. Sejujurnya ia memang lupa melepas kaca mata hitam itu saat berada di mobil. Itu memang kaca mata hitam yang hanya di gunakan saat menyetir untuk menghindari silau matahari saat fikus di jalanan. Kaca mata itu di selipkan di kaos polo berlengan pendek berwarna merah maroon hingga menggantung di bagian dadanya.


"Sama suami tuh yang manis dikit kalau ngasih tahu. Bukannya malah di bilamg kayak tukang pijat keliling. Ganteng begini di bilang tukang pijat keliling," bisik Rey terdengar emosi.


"Dih emang bener. Clara kalau bicara tuh sesuai fakta. Coba aja Mas Rey ngaca deh," titah Clara pelan sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan mall besar itu.


"Awas kamu nanti sampai rumah," ucap Rey mengancam Clara berbisik.


"Mau ngapain. Lupa masih merah ini," ucal Clara tertawa penuh kemenangan.


"Oh ya. Yang merah kan bagian bawahnya yang atas masih bisa melakukan senam mulut," ucap Rey terkekeh.

__ADS_1


Tangga escalator sudah mengantarkan mereka menuju lantai lima, lantai paling atas di mall tersebut. Satu lantai itu memang khusus menyediakan berbagai kedai makanan dengan berbagai merek dan jenis makanan.


"Mas Rey ... Coba itu yuk," pinta Clara lembut sambil menunjuk ke salah satu kedai makanan korea.


"Makanan korea? No! Saya gak suka," ucap Rey tegas.


"Mas Rey gak suka tapi kan Clara suka," ucap Clara lirih.


"Memang kamu apa menu amkanan korea?" tanya Rey pelan sambil menatap kedai berwarna merah yang menyediakan banyak menu makanan korea.


Clara menggelengkan kepalanya pelan karena memang tidak tahu. Ia baru saja mau coba makanan korea. Kalau lihat di televisi di acara travelling ke luar negeri terutama ke korea selain memperlihatkan negara dengan kota dan pemandangan yang indah, biasanya pemandu wisata sekaligus pembawa acara itu merekomendasikan makanan korea yang halal dan enak serat wajib di coba.


"Kamu itu aneh. Mau makan makanan korea tapi gak tahu mau makan apa? Terus mau pesan apa?" tanya Rey pelan.


Ha ha ha ... Clara malah tertawa lepas. Entah kenapa malah pengen makan makanan korea.


"Namanya juga pengen Mas. Kan suka lihat di tv kayaknya enak. Ya udah lainnya aja," ucap Clara mengalah.


"Kita makan di restaurant ungu saja. Di sana banyak pilihan makanan. Ada masakan korea juga tapi ala indonesia. Gimana? Udah lapar nih," cicit Rey pelan.


"Iya. Makan di restaurant ungu," jawab Clara singkat.


Rey masih menggandeng tangan Clara dan membawa istri labilnya itu ke sebuah meja tang berada di ujung dekat meja pesanan.


Rey duduk di salah satu sisi dan Clara juga duduk di sisi yang lain hingga keduanya duduk saling berhadapan. Rey sibuk memilih makanan pada buku menu makanan yang di berikan oleh pelayan dan Clara sibuk memainkan ponselnya membalas chat dari Radit. Clara ingin memberitahu Radit kalau dirinya sudah tidak bisa melanjutkan magangnya karena suatu alasan tertentu. Mungkin besok lagi Clara akan datang ke kantor dan mengundurkan diri baik -baik. Kedua tangan sibuk mengetikkan huruf -huruf untuk menyambung kata hingga menjadi rangkaian kalimat yang baik dan enak di baca. Ponsel itu tidak sengaja di angkat ke atas menutupi wajah Rey dari pandangan Clara.


Rey hanya melirik Clara sekilas yang masih sibuk dengan ponselnya dan wajahnya nampak serius sekali.


"Kita kesini mau makan atau main hp. Kalau ke restaurant cuma mau pindah main hp lebih baik makan mie instant di rumah," tegas Rey yang merasa di abaikan.


Merasa di sindir, Clara menurunkan ponselnya dari atas dan di letakkan di meja dan langsung di matikan.

__ADS_1


Tatapan Rey tajam ke arah Clara.


"Mau makan apa mau main hp," tanya Rey tegas.


"Makan," jawab Clara datar.


"Pilih mau makan apa? Bukan mengabari seseorang untuk hal gak penting. Di sini tuh ada saya. Hargai saya sebagai pasangan kamu dan jangan sibuk dengan ponsel kamu sendiri," titah Rey tegas.


Rey mulai sedikit demi sedikit mengajari sebuah aturan dalam.hubungan mereka. Rey adalah tipe lelaki dingin tapi tak suka di abaikan. Tingkat cemburunya makin lama makin akut.


Clara mengambil bumu menunya dan memilih nasi ayam crispy balckpepper sauce dan es lemon tea. Lalu melipat kedua tangannya menatap Rey lekat.


Rey sudah memilih makanan beratnya dan kini memilih cemilan ringan seperti kentang goreng dan prawn ball favoritnya.


"Pinjam hp -nya," pinta Rey tegas.


"Buat apa?" tanya Clara pelan.


"Boleh pinjam gak?" tanya Rey pelan.


Clara mengangguk pelan dan menjawab singkat, "Boleh." Sambil memberikan ponselnya kepada Rey.


Rey menerima ponsel itu dan membuka bagian kartunya. Begitu juga dengan Rey yang membuka ponselnya dan membuka kartunya. Kesua kartu itu ia ambil dan ia potongkan secara bersamaan.


Clara hanya melongo menatap dua kartu sim itu di potong menjadi dua teoat di depan Clara.


"Kenapa di potong Mas?" tanya Clara bingung.


"Ini salah satu cara kita melupakan masa lalu kita atau masa saat ini. Saya hanya ingin ada kamu dan saya mulai hari inibdan hari -hari selanjutnya. Saya gak mau di kontak kamu ada nama lelaki selain nama saya. Begitu juga dengan saya, saya tidak akan menyimlan kontak peremmpuam selain nama kamu dan Bunda serta kakak peremluan saya. Ini komitmen saya," tegas Rey.


Clara hanya terdiam. Entah ini sebuah bencana atau sebuah anugerah. Entah ia harus senang atau malah sedih dengan sikap Rey yang terkesan posesif.

__ADS_1


__ADS_2