PAK DOSEN, I LOVE YOU

PAK DOSEN, I LOVE YOU
43


__ADS_3

Rey masih di dalam ruangan kantor urusan agama. Sesekali kedua matanya menyorot keluar menatap istri kecilnya yang lucu itu agar tetap dalam pengawasannya. Rey masih menunggu buki nikahnya selesai di operasi. Entah bagiamana maksudnya di operasi itu. Kita lihat saja bagaimana hasilnya nanti. Kalau sampai ada salah tulis nama lagi, benar -benar penghulu itu minta di sunat untuk kedua kalinya.


Tak lama penghulu itu keluar dari ruangan kerjanya dan membawa dua buah buku nikah berbeda itu dengan senyum membahana. Sepertinya dia puas dengan dengan hasil operasi tangannya itu.


"Maaf agak lama Pak Rey. Ada masalah sedikit tadi," ucap penghulu itu jujur.


"Masalah apa?" tanya Rey penasaran.


"Setiap saya mau tulis nama Reynand Dasiva, tangan saya gemetar," ucap penghulu itu tertawa. Ia memberikan dua buah buku nikah berbeda warna itu kepada Rey.


"Kenapa harus gemetar? Nama saya mengandung sengatan listrik?" tanya Ray semakin bingung. Dalam hatinya sudah merasa pasti ada yang tidak beres ini.


"Iya gemetar," ucap penghulu itu datar.


"Gemetar kenapa," ucap Rey makin kesal. Di tanya malah jawabannya bikin orang penasaran


"Takut kesetrum," ucap penghulu itu tertawa keras seketika. Ia merasa leluconnya receh sekali. Niatnya mau menggoda Rey tapi karena kejadian kemarin sepertinya Rey sedikit ilfil dengan penghulu itu.


"Saya tahu arah pembicaraan anda, Pak Penghulu. Gak lucu," ucap Reu serius dan wajahnya mulai terlihat kesal.


Ha ... ha ... ha ... tawa penghulu itu makin pecah saat menatap Rey yang begitu serius menanggapinya.


"Ya ampun serius amat Pak Rey. Sudahlah ini di cek dulu namanya sudah benar belum? Kalau sudah benar. Silahkan pulang," ucap penghulu itu.


"Anda mengusir saya?" ucap Rey melotot.


"Heh ... bukan begitu Pak Rey. Anda selalu salah sangka pada saya. Maksud saya, kalau memang sudah selesai ya pulang. Untuk paa berlama -lama di sini? Ini kan kantor bukan tempat untuk bersantai," ucap penghulu itu makin bingung menghadapi Rey.


Rey mengangguk kecil. Ia membuka buku nikah itu satu per satu dan mulai membaca serta mengecek penulisannya sudah tepat atau belum khususnya nama mereka.


"Gimana? Operasi berhasil kan? Tidak ada yang gagal dalam operasi tadi. Semua lancar," ucap Rey pelan.


"Oke namanya tepat semua, Ryan Dasiva dan Clara Widianto ...." ucapan Rey behitu datar dan polos sekali.


"Ryan Dasiva?! Mana lihat? Perasaan saya tulis Reynand Dasiva," ucap penghuklu itu mulai panik. Bisa -bisanya ia salah lagi menulis nama Reynand. Padahal tadi ia sudah berhati -hati sekali saat menulis nama Reynand yang di anggap keramat itu.


Penghulu itu segera berdiri fdi smaping Rey untuk membaca nama itu kembali. Masa iya salah lagi dan harys operasi lagi. Bisa kena teguran kepala KUA kalau beguni caranya.


Rey menatap penghulu itu semakin panik.


"Kenapa Pak? Panik gitu " tanya Rey santai.


"Itu ... tadi bacanya Ryan Dasiva? Saya salah tulis lagi?" tanya penghuli itu ragu.


Rey menggeleng.


"Itu tadi Ryan Dasiva dan Clara Widianto," ucap penghulu itu ragu.


"Ekhemm ... saya memang bacanya begitu. Tapi tulisannya benar Reynand Dasiva ..." tawa Rey pecah. Ia sengaja membuat prank buat penghulu itu agar panik.


"Maaf Pak. Sudah tepat semua. Santai saja gak perlu panik. Saya pulang dulu. Permisi Pak Penghulu," ucap Rey tertawa sambil berjalan keluar dari ruangan kantor KUA itu.


Penghulu itu hanya menarik napas dalam dan menghembuskan perlahan dengan lega. Ia hanya menggelengkan kepalanya pelan. Bisa -bisanya menemui makhluk astral bin aneh seperti Rey. Cukup sekali saja ia di kerjai sampai gemetar panik. Ujung -ujungnya di prank.


Sampai di halaman luar, ia menatap istri gemesnya itu sedang duduk di bawah pohon beringin dan menikmati jajanan yang di belinya.


"Clara sayang ... Lihat ini, sudah selesai," ucap Rey senang.


Clara menoleh ke arah Rey dan menatap sekilas. Lalu ia fokus lagi pada jajanannya. Tangannya sangat lihai saat mencolok pentol -pentol yang ada di plastik dan masuk ke mulutnya. Clara tetus mengunyah tanpa peduli dengan Rey yang sudah duduk di sebelahnya ingin mencicipi jajanan itu.


"Minta satu. Kayak apa rasanya," tanya Rey pelan memegang lidi untuk mencolok satu pentol dari plastik yang di pegang Clara.


"Gak. Beli kek jangan ganggu kebahagiaan orang yang sedang menikmati kesenangannya. Lagi pula kata abangnya, Ini Pentol bukan Salome," ucap Clara tetus mengunyah pentol itu dengan nikmat. Rasa aci bercampur bumbu lengkap dalam bulatan pentol yang di isi entah apa seperti dabging cincang dan di nikmati dengan camluran bumbu kacang, saos dan kecap. Rasanya luar biasa. Mertua lewat gak peduli gak perlu di sapa. Eits ... jangan ya, nanti durhaka. Tetep sapa tapi jangan berbagi pentolnya. Inget slogannya Ini Pentol bukan Salome.


Rey menatap Clara aneh. Sepagi ini memang agak aneh istrinya itu.


"Minta satu aja. Pengen ini," cicit Rey manja.


"Gak. Ini Pentol bukan Salome," ucap Clara terus memberi tahu.


"Apa sih maksudnya," ucap Rey bingung.


"Itu maksudnya ini jajanan Pengen Di Totol bukan Satu Lobang Rame -rame. Jadi beli sendiri, paham gak sih?" tanya Clara kesal.


"Enggak," jawab Rey lolos.


"Salome, satu lobang rame -rame. Kalau Pak Rey ikut makan dalam satu palstik ini bareng Clara berati Pak Rey maunya satu lobang rame -rame. Makanya beli sendiri ini kan pentol, pengen di totol," ucap Clara menjelaskan panjang lebar.


"Apa sih gak jelas banget. Itu sih, bisa -bisaan abangnya aja biar laku. Biar gak ada yang makannya joinan jadi harus jajan juga. Slogan yang meresahkan dan membangkrutkan," ucap Rey kesal.


Clara langsung memberikan satu pentol yang sudah di tusuk ke arah Rey.


"Ini cobain sayang," ucap Clara lembut sambil menyuapkan pentol itu dengan mesra ke dalam mulut Rey.


Hap ... Rey mulai mengunyah jajanan itu dan memang enak sekali. Pantas Clara tidak mau berbagi tadi. Ia menatap Clara tersenyum. Kalau sikap Clara manis begini makin terlihat cantik.


"Hemmm enak," ucap Rey spontan.


"Pulang yuk Pak," ucap Clara mulai bosan.


"Ayok. Itu masih ada jajanannya gak di habisin?" tanya Rey saat melihat jajanan pentol yang masih ada di plastik. Memang tidak banyak, masih ada beberapa saja.


"Oh ini. Mau Clara kasih kucing. Tuh, kucingnya tadi Clara kasih satu doyan. Ini biar jadi makanannya," ucap Clara membuang pentol itu dengan sengaja di tumpahkan agar kucing itu bisa langsung memyantap.


Rey menatap Clara tajam saat tubuh Clara berbalik menatap Rey.


"Kenapa Pak? Lihat Clara begitu?" tanya Clara tanla dosa.

__ADS_1


"Clara, suami mu ini lapar. Kenapa makanannya di kasih kan ke kucing. Saya juga mau," ucap Rey pelan.


"Lha ... Bapak gak bilang," jawab Clara tanpa dosa.


"Gak usah bilang dengan penjelasan panjang lebar juga kan? Kalau saya bbilang mau cicip dan kasih respon jawaban enak itu tandanya saya suka," ucap Rey menahan rasa kesal.


"Ya Bapak cuma bilang gitu. Lagi pula ribet amat sih Pak, tinggal belinlagi aja. Kucing kan gak bisa beli makanan," jawab Clara sekenanya.


"Itu sudah nasibnha, Clara sayang. Saya kan sudah tanggung jawab kamu untuk di layani. Belajar cara melayani suami dengan baik dari hal -hal kecil. Mulai peka gitu," ucap Rey menjelaskan.


Deg ...


Dada Clara sesak rasanya di nasehati Rey seperti itu. Clara sudah menikah secara resmi. Buku nikah juga sudah terbit, jadi memang sudah seharusnya mereka menjalani tugasnya masinh -masing.


Tangan Rey langsung menggandeng Clara dengan mesra saat melihat perubahan wajah Clara yang berbeda.


"Yuk pulang. Gak usah di pikir lagi ucapan saya tadi. Lakukan saja apa yang menurut kamu baik. Kalau memang kamu belum siap dengan pernikahan ini. Tapi saya sudah lega sekali rasanya bksa menikahi kamu, Clara. Beban saya hilang. Saya takut kamu hamil dan saya akan di hantui oleh rasa bersalah yang cukup besat," ucap Rey sambil menggandeng Clara berjalan menuju parkiran.


Clara hanya menyimak dan menelan air liurnya dalam. Pernikahan ini memang resmi, tapi apakah Pak Rey sudah benar mencintai Clara. Sedangkan saat itu ia masih ingin kembalinpada Renata, mantannya. Apa iya seseorang itu bisa merubah keputusannya dengan cepat? Apalagi soal hati? Perasaan? Dan cinta?


Semuanya masih misteri? Karena yang tahu adalah orang yang bersangkutan.


Lamunan Clara buyar saat Rey memasangkan helm pada kepala Clara. Ya, keduanya sengaja pergi naik motor matic milik Bapak Clara. Rey mau mengenal kampin Clara dan menikmati suasana kampung itu dengan secara langsung menghirup udara pedesaan yang masih segar karena belum tercemar polusi udara.


"Ayok naik. Ngelamun aja? Ngelamunin tukang pentol?" goda Rey tertawa.


"Enak aja," jawab Clara ketus.


Clara menaiki motor itu dan membonceng di belakang. Motor matic sudah berjalan. Clara masih kaku. Kedua tangannya hanya memegang pahanya sendiri dan kepalanya sedikit menjauh dari punggung Rey.


Rey menatap Clara dari spion motor. Ia melihat ada sesuatu yang di pikir Clara sejak tadi. Tangan kiri Rey menarik tangan Clara yang ada di paha dan melingkarkan ke perutnya. Clara hanya menatap tangannya saat di pindah ke pinggang lalu berhenti ke perut Rey. Spontan satu tangan Clara yang lain juga ikut berpindah ke arah depan dan saling mengait. Otomatis tubuh Clar juga merapat ke punggung Rey.


"Nah kan begini enak. Keluhatan romantis," ucap Rey.


Clara tak menanggapi. Ia hanya diam. Rey pun menatap Clara dari spion dan melihat wajah istrinya yang masih jutek dan judes.


"Enak ya punya istri ternyata. Ada yang meluk begini, ada rada empuk -empuk gimana gitu," ucap Rey tertawa.


Bugh ...


Punggung Rey di pukul oleh Clara dengan keras.


"Mesum amat sih," ucap Clara kesal.


"Mesum gimana?" jawab Rey kaget.


"Bilang ada empuk -empuk gitu," ucap Clara menjelaskan.


Punya suami kok tangkapan antenenya terlalu gercep. Semua hal di kaitkan dengan dunia permesuman.


"Ya kan emang bener. Saya salah apa? Memang punya kamu empuk. Saya jujur," ucap Rey jujur apa adanya.


"Lebih empuk karena punya dia lebih besar," ucap Rey spontan dengan kepolosannya tanpa dosa.


Bugh ....


"Pak Rey!! Ngeselin amat sih. Gak usah di bandingin juga kali," ucap Clara kesal.


"Lho saya jujur sama kamu, Ra. Kalau urusan empuk memangblebih meluk Renata," ucap Rey sengaja membuat Clara semakin kesal.


"Pak Rey!! Punya Clara belum terinfeksi!! Mungkin punya Renata empuk karean sudah terinfeksi," ucap Clara tak.mau kalah.


"Terinfeksi apa? Virus gitu?" tabya Rey serius.


"Terinfeksi mesum!! Makanya empuk, mungkin sudah pernah di comot sana sini?" ucap Clara ketus.


Ha ... ha ... ha ... tawa Rey semakin keras.


"Kamu cemburu?" tanya Rey sambil menatap Clara melalui spion motor.


"Gak," ketus Clara.


"Yakin?" Rey mengulum senyum.


"Iya gak cemburu. Buat apa?" ucap Clara datar tapi eneg juga dengernya di bandingin begitu.


"Terus kenapa bilang Renata pernah di comot -comot?" tanya Rey penasaran.


"Asal bicara aja. Terus kenapa Pak Rey peduli?"


"Saya gak peduli,"


"Oh ya? Gak peduli?"


"Gak sama sekali,"


"Terus kenapa harus di bandingin?"


"Ekhemmm ...."


"Gak bisa jawab? Karena masih ada rasa?"


"Udah gak ada sama sekali. Bisa di buktikan,"


"Mau buktiin pakai apa? Tadi aja masih banggain punya dia lebih empuk!!"


"Kalau itu fakta,"

__ADS_1


"Tahu dari mana?"


"Dari ukurannya lah. Tiga puluh delapan cup B,"


"Hah ... besar banget," ucap Clara tercengang tak percaya. Tubuh Renata memang agak berisi.


"Emang besar," jawab Rey jujur.


"Pernah lihat?"


"Gak pernah,"


"Bohong aja? Gak pernah lihat bisa tahu tepat ukurannya,"


"Ya tahu lah," jawab Rey santai.


"Pernah nyomot kayaknya,"


"Gak,"


"Masa? Gak percaya,"


"Bener. Mana berani saya nyomot -nyomot,"


"Terus tahu dari mana?"


"Ya kan emang kelihatan kalau pakai baju. Besar gitu, bulat mempesona kayak melon,"


"Widih ... kayak melon gak tuh," sindir Clara makin kesal.


"Terus pernah di suruh beliin 'wadah susu' itu karena waktu itu talinya putus. Makanya saya di suruh beliin ukurannya itu,"


"Waduh ... sampai putus. Mainnya kasar ya Pak?" sindir Clara makin sesak dadanya menahan cemburu.


"Gak pernah Clara. Jangan nilai saya buruk,"


"Saya gak nilai Pak Rey buruk. Coba di ingat lagi apa yang barusan kita bahas," ucap Clara tegas.


"Tali kutang Renata putus," ucap Rey santai.


"Terus ....:


"Saya belikan sesuai ukuran yang dia minta"


"Terus?"


"Ya, saya kasihkan ke Renata,"


"Lalu?"


"Saya mencintai kamu. Saya lagi belajar lebih memahami kamu, Clara. Jangan ungkit masa lalu saya dengan Renata. Saya gak se -brengsek itu jadi lelaki," ucap Rey menyudahi.


"Gam brengsek tapi tahu ukurannya dengan tepat," Clara masih aja nyolot.


"Sudah lah ganti topik?" ucap Rey menyudahi.


"Punya Clara kecil sih,"


"Imut,"


"Mana ada imut,"


"Buktinya saya malah betah sama yang kecil,"


"Enak yang besar bisa buat main petak umpet,"


"Enak yang kec, biar nanti saya yang besarkan," tawa Rey terdengar renyah.


"Hah!! Pak Rey mau besarkan? Jangan- jangan Renata juga Pak Rey yang besarkan?"


"Bukan saya, sumpah,"


"Gak usah pake sumpah,"


"Emang bukan saya,"


"Terus siapa "


"Gak tahu lah,"


"Hah ... berhenti di depan,"


"Mau apa?"


"Pokoknya berhenti di depan," ucap Clara kesal.


"Mau apa dulu?" ucap Rey takut Clara minta turun dari motor terus ngambek.


"Mau nyampurin urat Pak Rey,"


"Urat apa?"


"Urat itu," ucap Clara.


"Gak ada turun. Lanjut pulang,"


"Stop!! Berhenti Pak Rey!!"

__ADS_1


"Gak,"


Rey berpikir Clara akan bertindak bodoh. Pasti Clara cemburu, batin Rey.


__ADS_2