
Siang ini, acara makan siang di taman belakan sedang di persiapkan. Ayah David dan calon menantu Desy serta Radit masih asik mengobrol di ruang tamu. Sedangkan Bunda Silva sudah sibuk di taman belakang bersama Desy untuk ikut menata tempat prasmanan dan meja makan yang akan di pakai untuk makan siang bersama.
Makin siang hawa juga akan terasa panas dan geras, apalagi bagi ibu hamil seperti Clara. Makin kesini, Clara makin tidak suka tempat yang sempit dan penuh sesak.
"Eum ... Panas ih," ucap Clara tiba -tiba sambil mengibaskan tangannya ke depan wajahnya. hawa di kamar itu juga tetap terasa panas walaupun AC sudah di maksimalkan. Tapi pantulan cahaya matahari yang begitu terik melalui kaca jendela besar bisa membuat hawa di sekitar dinding itu menjadi panas.
Tangan Rey terulur mencari remote AC yang ada di nakas dan membesarkan volumenya. Lalu, ikut membantu mnegibaskan tangannya agar ada angin lokal yang menerpa wajah Clara.
"Mau berendam biar seger?" tanya Rey tiba- tiba.
"Gak ah," jawab Clara yang masih sibuk mengibaskan tangannya di depan wajahnya.
Rey langsung terbangun dan mencari kipas plastik milik keponakannya dulu yang tertinggal di kamar ini di dalam laci nakas. Setelah ketemu, langsung di kipaskan perlahan di dekat Clara berulang kali.
"Sudah enakan?" tanya Rey pelan.
"Lumayan Mas. Sekarang suka gitu deh, agak gerah, panas gitu," ucap Clara pelan.
"Mungkin itu karena kamu sedang hamil jadi bawaannya gerah. Sudah siang, mau ke bawah sekarang? Tadi katanya Bunda sudah manggil," ucap Rey pelan mengusap kepala Clara.
"Tiba -tiba mager ya Mas. Masih pengen rebahan di kamar. Mas Rey turun aja duluan deh. Gak enak sama Bunda, nanti di kirain di kamar ngapain, iya kan?" cicit Clara yang mulai merasakan malas beranjak dari kasur. Padahal tadi ia semangat sekali untuk acara makan siang ini. Setelah mendapatkan kecupan bertubi -tubi, Clara mendadak malas dan masih ingin rebahan di atas kasur empuknya.
Clara merosotkan tubuhnya dan kini terlentang di atas kasur milik Rey.
"Yakin mau di kamar sendiri dulu? Mas turun gak apa -apa? gak ngambek ya?" tanya Rey memastikan. Nanti baru turun malah ada drama lagi.
Clara hanya mengangguk kecil.
"Iya Mas gak apa -apa. Santai aja sih," ucap Clara yang kembali memejamkan kedua matanya.
CUP ...
__ADS_1
Rey bangkit berdiri dan mengecup bibir Clara yang mulai mengatup. Clara mulai terbiasa denagn semua sikap manis dan mesra Rey padanya. Apapun yang di lakukan Rey tidak lagi di hentikan dan di biarkan saja.
Rey bergegas mengganti pakaiannya dan turun ke bawah. Setidaknya ia menghargi acara yang telah di buat Kak Desy sebagai perkenalan anggota keluarga baru.
Suasana di taman belakang sudah ramai. Beberapa orang sedang mendekor tempat itu seklaigus merapikan semua makanan katering yang telah di pesan di meja yang sudah di siapkan.
"Widih ... Sudah siap semua nih Bun," ucap Rey tiba -tiba pada Bunda Silva yag sdenag mengaduk -aduk bumbu kacang.
"Hemmm Rey ... Ngagetin aja. Clara mana?" tanya Bunda Silva pada Rey.
"Masih di atas Bun. Katanya mager. Tadi padahal semangat mau turun, tahu -tahu malah tiduran dan males katanya. Emang ibu hamil kayak gitu ya," tanya Rey penasaran.
Bunda Silva yang memang masih sibuk dengan pekerjaannya pun masih tetap membereskan piring dan membagikan di meja sambil menjawab pertanyaan Rey yang terus mengekor Bundanya.
"Ya begitulah ibu hamil. Moodyan. Suka marah -marah gak jelas, suka tiba -tiba manja, makanya kamu jangan keras -keras sama Clara," titah Bunda Silva pada Rey.
"Rey gak pernah keras," ucap Rey kemudian.
"Rey gak pernah selingkuh Bunda. Kok Bunda malah nuduh Rey sih," ucap Rey tak suka.
"Lho kamu kenapa marah? Kalau memang gak suka gak perlu marah dong," ucap Bunda Silva menekankan.
"Rey gak marah Bun. Tapi kalau di tuduh begini kan kesannya benar. Wajar dong, Rey membela diri," ucap Rey kemudian.
"Ya Bunda cuma ngingetin. Kalau kamu gak terima berarti benar," gda Bunda Silva kemudian.
"Arghh Bunda gak asik sekarang. Malah ikut nyalahin Rey," ucap Rey kesal.
"Clara itu lagi hamil, bayinya kembar, harus di jaga kesehatan dan emosinya, Rey. Gak boleh stres. Kamu sebagai suami, harus tetap menjaga mental Clara, terlebih langsung mengandung bayi kembar, itu gak mudah," ucap Bunda Silva pada Rey.
"Iya Bunda. Ini Rey juga lagi belajar menjaga istri yang hamil. Bunda kasih Rey tips -tips dong," ucap Rey pelan.
__ADS_1
"Mumpung hamilnya masih muda, ajak istrimu jalan -jalan ke tempat wisata yang berbau alam, terus ajak makan di luar,, bahagiakan, puji terus, jangan di suruh kerja berat, itu namanaya suami pengertian, dan tidak banyak menuntut istri malah mengerti keadaan istri. Kamu itu gak tahu, rasanya hamil itu bagaimana? Kadang menahan rasa mual, menahan sakit perut, menahan keram di sekujur tubuh, pusing, pening, stres, masih banyak lagi. Tuh kamu harus banyak menghargai istri," titah Bunda Silva menasehati.
"Siap Bunda. Rey pasti inget semua nasihat Bunda pada Rey. Makasih nasihatnya. Bunda mau nemuin Ayah dulu ya," ucap Rey kemudian.
***
Di ruang tamu suasanannya makin seru. Ayah David yang suka bercanda dan konyol di tambah calon mennatunya yang sedikit gesrek membuat mereka tertawa berulang -ulang hingga terpingkal -pingkal. Ada saja tema pembahasannya dan tidak pernah habis, mulai dari gadis paling cantik di Amerika, melihat sisi sensualitas wanita dari sudut mananya, lalu pakaian yang membuat para lelali melongo dan tak berkedip.
"Wahh ... Seru banget ini kayaknya. Ikut nimbrung dong," ucap Rey kemudian.
Semua mata memnadang Rey termasuk Radit. Biar bagaimanapun Rey ini harus ia akui sebagai omnya.
"Rey!! Sini kumpul sama Abangmu dan ini Radit, pasti kenal dong. Dia ternyata asisten dosen di kampus kamu juga," ucap Ayah David sumringah.
Rey hanya tertawa paksa menatap Radit dan duduk di sebelahnya.
"Bukannya kamu pemilik perusahaan tempat Claara magang," tanay Rey dengan suara lantang.
Radit memutar matanya dan melirik ke arah Papahnya.
"Masih belajar, masih magang juga seperti Clara. Kenapa Clara tidak lanjutkan magangnya? Kan semua datanya sudah lengkap, dia bisa lulus cepat, di bandingkan mencari materi baru," tanya Radit antuasias.
"Clara bisa lulus dengan nilai skripsi baik tanpa harus membuat skripsi yang baik. Tergantung dosen pembimbingnya," ucap Rey sombong.
"Oh ya? Kenapa Pak Dosen tidak melakukan itu, dari pada Clara susah payh bolak -balik ke Perpustakaan untuk mencari materi. Kasihan kan," jelas Radit dnegan sengaja.
Papa Radit dan Ayah David saling berpansdangan. Kedua putranya mala berdebat sendiri.
"Heeh ... Sudah. Kita bahas yang lain saja," ucap Ayah David pada kedua putranya itu.
"Iya PAk. Tapi Maaf, mendadak mules. Saya ijin ke kamar mandi lagi, permisi," pamit Radit pada semuanya.
__ADS_1