PAK DOSEN, I LOVE YOU

PAK DOSEN, I LOVE YOU
127


__ADS_3

Tangan Rey mulai terkepal sempurna. Ingin rasanya kepalan tangan ini mendarat tepat di hidung kelinci korea yang ada di depannya ini agar darahnya mengucur hebat dari tulang hidunya yang siap di patahkan.


Rey menatap sinis ke arah Radit lalu melirik ke arah Kartu hitam yang di sodorkan Radit untuk keperlua Lia.


"Maksud kamu itu apa? Mau merendahkan saya? Kamu pikir gaji saya sebagai dosen itu kecil dan tidak bisa untuk membhagiakan Lia dan Lio serta Clara? Gitu? Sombong kamu!! Sekarang masukkan kartu itu dan pergi!! Saya gak mau lihat muka kamu lagi muncul di hadapan saya. Apalagi mengajak Lia pergi!!" ucap Rey dengan tegas. Suaramya begitu lantang dan sangat keras.


Radit masih menatap lekat ke arah Rey. Selama ini Radit mencoba sabar, tapi Radit akan tetap sabar menunggu dua belas tahun berlalu, saat usia Lia sudah matang beranjak dewasa tepat di angka tujuh belas tahun. Dengan cara apapun, Radit akan tetap menikahi Lia.


"Oke. Kalau kebaikan aku di tolak sama Om Rey. Niat aku kesini baik, untuk silaaturahmi sama OM Rey, Clara dan Lio serta kesayangan Radit, Lia," ucap Radit pelan dan sengaja membuat darah Rey semakin mendidih sampai di ubun -ubun.


"Kamu ingin mati berdiri lalu aku buat sate ataau mau pergi dari sini!!" ucap Rey kesal.


"Baiklah. Aku ngalah. Aku pergi, dan aku akan kembali dalam waktu dua belas tahun lagi. Tepat saat Lia berusia tujuh belas tahun. See you again, Om Rey. Upss ... Sampai ketemu Papah mertuaku sayang," goda Radit terus menerus membuat Rey semakin marah.


Radit langsung melesat pergi dan berteriak keras, "Ra, aku pamit ya. Lio, Kakak pulang. Lia sayang, Kak Radit pulang ya, Sayang."


Radit langsung keluar dari rumah Rey sebelum Rey benar -benar menangkapnya dan mencincang dagingnya setelah di mutilasi.


"Dasar kelinci korea!!" teriak Rey kesal dan sangat marah. Kedua maat Rey menatap ke arah mobil Radit yang terparkir di depan rumahnya kini sudah melaju pergi dari pandangan Rey.


Cukup sudah ujian buat Rey hari ini. Semoga di hari selanjutnya tidak ada kekacauan yang seperti ini lagi. Apalagi di sebabkan oleh kelinci korea yang tidak bertanggung jawab.


***


Malam ini, Clara sudah menyiapkan beberapa masakan untuk makan malam.


Rey dan kedua buah hatinya masih berada di ruang TV untuk menonton film kartun kesukaan Lio. Sempat drama dengan mengganti channel yang di suka masing -masing buah hatinya. Lia yang tetap ingin menonton film barbie dan Lio bersikeras tetap menonton the power rangers. Akhirnya perseteruan malam itu di menangkan oleh Lio dengan emnjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Rey.


Tapi Rey patut di salahkan, melempar pertanyaan yang berhubungan dengan dunia laki -laki tentu saja Lia tidak bisa menjawab. Rey dan Lio menyukai sepak bola, sedangkan Lia sama sekali tidak.


"Berapa jumlah pemain sepak bola?" tanya Rey pada kedua buah hatinya.


Dengan suara lantang Lio menjawab, "Sebelas!"

__ADS_1


Sedangkan Lia hanay diam dan memutar kedua bola matanay dengan malas. Papahnya sugguh keji memberi pertanyaan yang sama sekali tidak fair.


"Papah cuma sayang Kak Lio, gak pernah sayang sama Lia!!" teruak Lia kesal dan berlari menuju dapur menghampiri Mamahnya.


Mendengar ucapan Lia yang begitu jujur membuat hati Rey seperti tertusuk jarum yang sangat tajam.


"Lia ... Lia ... Lio, kamu duduk di sini, tonton power rangernya. Papah mau ke dapur dulu. Lia ngambek," titah Rey pada Lio.


"Siap Pah. Makasih ya Pah. Papah paling oke," ucap Lio memuji Papah Rey. Rey pun hanay mengulum senyum dan mengusap pucuk kepala Lio dengan pelan.


Lia berlari dan duduk di meja makan menatap Sang Mamah yang sedang asik menata meja makan.


"Ehhh ... Kesayanagn Mamah kok sudah di sini? Sudah lapar ya? Belum matang semua, Sayang. Tapi ... Kok mukanya cemberut? Kenapa?" tanya Clara pada Lia dan mendekati putri kecilnya sambil merapikan rambut panjang Lia.


"Papah jahat!" teriak Lia kesal.


"Kenapa? Papah kan baik," ucap Clara mencoba membela Rey, Papahnya.


"Lia sayang ... Maafin Papah ya?" ucap Rey pelan pada Lia yang terlihat sedang merajuk.


"Biasa, Sayang. Rebutan saluran TV," ucap Rey lirih sambil menghembuskan napasnya.


Lia tetap diam dan tak mau menggubris sang Papah. Tangan Rey mengusap pelan rambut Lia dan mengecup pipi putrinya pelan.


"Lia gak sayang Papah? Kok Papahnya ngomong gak di respon?" tanya Rey pelan. Rey mencoba menggendong Lia, namun Lia enggan di gendong oleh Sang Papah. Lia hanya duduk diam dan bersandar menunggu makan malamnya siap.


"Pah ... Temenin Lio aja. Biar Lia sama Mamah," titah Clara pada Rey. Rey mengangguk setuju dan meninggalkan ruang makan.


Memiliki anak kembar itu memang tidak mudah. Salah satunya tentu punya rasa cemburu yang besar bila salah satu orang tuanya memiliki kecenderungan lebih sayang atau lebih memihak pada siapa.


Mungkin ini adalah awal yang kurang baik dalam mendidik anak. Terlalu mengekang dan posesif juga berakibat tidak baik pada mental dan kejiwaan anak. Seharusnya mereka di bebaskan, namun tetap di pantau dan di beri aturan kalau terjadi pelanggaran maka di beri sanksi.


***

__ADS_1


Rey dan Clara sudah merebahkan tubuh mereka di tempat tidur. Seperti biasa, kedua insan yang selalu bergairah itu menyempatkan bercerita satu sama lain tentang aktivitas mereka seharian yang mereka lewati.


Rey memeluk tubuh Clara yang sudah siap dengan seragam dinas khusus di kasur jika bersama suaminya.


Rey mulai bercerita tentang kejadian lucu di Kampus tadi siang dengan anak bimbingan skripsinya sambil tangannya yang selalu memainkan perut Clara.


"Tadi siang, Renata datang ke Kampus menemui Mas," ucap Rey pelan.


Clara pun mengendurkan pelukannya dan menatap Rey lekat. Mendengar kata Renata, otak dan hati Clara mulai panas dan cemburu.


"Mau ngapain? Minta uang lagi?" tanay Clara ketus.


"Uluhhhh ... Sayangnya Papah kok langsung melotot dan ketus gitu. Sini dulu dong di pelukan Papah, baru Papah lanjutkan ceritanya," titah Rey pada Clara.


Clara beringsut kembali memeluk tubuh Rey yang hanya memakai segitiga pengaman. Memang setiap malam, Rey harus mendapatkan jatah makan untuk joni, jika tidak, paginya Rey akan lemas selemas -lemasnya.


"Jadi ... Renata datang cuma kasih dua undangan. Satu undangan untuk kita, ndangan anniversarynya dia sama suaminya. Kedua, undanagn untuk anak kita, kalau anaknya berulang tahun yang kelima," ucap Rey pelan.


"Terus? Papah mau datang?" tanya Clara pada Rey yang kepalanya bersandar di pundak Rey.


"Kenapa tidak? Toh, Arga dan Nita juga dapat undangan itu. Lagi pula dia sudah sudah suami, dan bahagia. Biarinlah Sayang. Coba untuk tidak berpikir buruk tentang seseorang walau kamu gak suka," titah Rey pada Clara.


"Ya, kali aja, Papahnya juga masih penasaran," ucap Clara sekenanya.


"Gak, Sayang. Itu semua masa lalu. Tapi kalau kamu gak mau datang ya, gak masalah juga sih. Saat ini yang jadi masalah, joni udah gak tahan. Kita bikin adiknya twins adel yuk? Papah mau punya bayi lagi," cicit Rey sendu.


Rey itu tipe lelaki suka anak kecil. Dulu saat Lio dan Lia bayi. Rey lebih banyak mengurus bayinya di bandingkan Clara karena masih takut mengurus bayi, apalagi menggendong.


Posisi Rey cepat sekali berganti, kini tubuhnya sudah mengungkung tubuh Clara dan abju dinas Clara sudah tersingkap ke atas. Rey yang tadi masih lembut bicara, sekarang nampak bernafsu melihat Clara yang sudah tak memakai pakaian.


"Tubuhmu selalu meggairahkan, Sayang. Entah berapa ronde amlam ini akan ku habisi, tubuh seksimu ini," bisisk Rey dengan suara mengancam.


"Arghhh ... Papah ...." teriak Clara dengan suara keras di ikuti ******* yang memburu. Tubuhnya sudah di tindih dan gerakan Rey sudah kalap memaju mundurkan tubuhnya dengan cepat dan membuat tubuh mereka basah berkeringat.

__ADS_1


"Teriak terus ... Makin kenceng nih," goda Rey pada Clara sambil mencium bibir istrinya dengan gemas.


Tak akan ada habisnya jika Rey sudah bermain -main dengan gua basah itu. Hanya candu ... candu ... dan candu.


__ADS_2