PAK DOSEN, I LOVE YOU

PAK DOSEN, I LOVE YOU
97


__ADS_3

Clara tertawa saat ucapan Nita hanya bisa menggelitik telinganya saja.


"Aneh? Perlakuan manis dan baik seorang istri kepada suami kok di bilang aneh? Kamu yang aneh, Ta. Masa ada masalah malah di tinggal kabur. Untung saja, Pak Arga sabar tuh. Tadinya mau ikuti cara kamu, Ta, kabur gitu. Tapi kok malah aneh, secara, kejadian ini mirip pernah menimpa kamu kan? erus Pak Arga minta maaf, tapi kenapa dia lakukan juga untuk sahabatnya snediri. Jadi curiga," ungkap Clara yang mengulum senyum.


Nita melotot tajam ke arah Clara. Nita tak suka dengan ucapan Clara baru saja.


"Apa maksudnya nih? Malah curiga sama suami aku sih?" tanya Nita kesal.


"Ya ampun dasar bumil baperan. Maksud aku bukan itu, aku cuma mikir gini. Sudah tahu, Renata itu mantanya Pak Rey, Pak Arga tentu lebih tahu soal ini kan? Kenapa juga mau di suruh Renata, itu aja, Ta. Kamu negrti kan, maksud aku," ucap Clara yang tetap berceloteh dan fokus dnegan memasaknya.


"Iya paham. Kan Pak Arga udah minta maaf, Ra. Kamu gak bis maafin dia?" tanya Nita pelan pada Clara.


"Udah aku maafin kok. Besok -besok jangan sepertini, ini namanya memicu bom waktu, tahu gak?" titah Clara yang masih merasa dongkol.


"Iya maaf. Atas nama keluarga Arga, saya Nita selaku istrinya meminta maaf kepada Nyonya Reynand Dasilva, atas perbuatan tidak menyenangkan," ucap Nita yang di ikuti dengan tawa geli yang membuat aneh rasanya bicara sok serius macam tadi.


"Sudah di maafkan," jawab Clara pelan. Ia mencicipi masakannya yang terasa pas dan enak. Menu makan siang kali ini, opor ayam dan sambal goreng hati serta kerupuk udang. Ini makanan kesukaan Rey juga. Clara ingat saat, Ibunya memasakkan makanan ini di rumahnya dan Rey memuji terus masakan ibunya Clara itu.


"Wangi banget Ra. Kamu emang jago banget masak," ucap Nita pelan.


"Bungkus ya? Udah mau di jemput kan?" titah Clara pelan.


"Iya boleh, Ra," ucap Nita bersemangat.


Nita sudah membungkus opor ayam dan sambal goreng hati ayam. Tepat di waktu yang bersamaan, Arga datang untuk menjemput Nita dengan mengklakson beberapa kali dengan nyaring.


"Tuh ... Jemputan kamu datang, Ta," titah Clara yang masih sibuk menata meja makan dan membersihkan dapur.


Hari ini asisten rumah tangganya tidak masuk. Ia mengabarkan melalui chat bahwa sedang tidak badan. Terpaksa Clara membersihkan rumahnya sendiri sebisa dan semampu Clara. Cucian baju juga hanya di masukkan di keranjang cucian biar asisitennya besok yang mencucinya.


"Akau pulan dulu ya Ra. Kapan -kapan aku main lagi. Inget bikin acara pernikahan kamu, Ra, biar orang tahu status kamu itu seorang istri bukan hanya mahasiswinya Pak Rey," tegas Nita pada Clara.


"Iya siap. hati -hati ya, Ta. salam buat Pak Arga," ucap Clara pada Nita yang sudah terburu -buru keluar untuk segera pulang. Nita melambaikan tangannya ke arah Clara.

__ADS_1


Clara melanjutkan merapikan rumahnya dan setelah ini mandi lalu berdandan dengan cantik. Clara mau fokus pada dirinya sendiri, agar tidak kalah dengan wanita -wanita hebat yang ada di sekeliling Rey saat ini.


***


Di dalam ruangan sempit yang berukuran kecil, Rey masih sibuk mencari cara merayu istri yang sedang hamil agar tidak merajuk lagi.


Tangan Rey Memijit -mijit kepalanya yang mulai pening rasanya. Aku harus bagaimana? Cara di sini terlalu banyak sekali, bikin pusing saja.


"Padahal, aku sudah jujur, sudah memberikan ATM-ku semuanya pada Clara. Maaf itu tak kunujung di berikan. Gimana ya?" tanya Rey pada dirinya sendiri.


Rey mengetuk -ngetukkan buku jarinya di meja sambil berpikir keras. Cara apa yang bisa meluluhkan hati Clara. Jujur saja, perkenalan singkat, dan pernikahan yang tiba -tiba, belum membuat pasangan tersebut mengenal satu sama lain dengan baik. Baru kali ini juga, mereka mendapatkan masalah dan saling diam satu sama lain.


Tok ... Tok ... Tok ...


Rey menatap pintu ruangannya dan berteriak keras dari dalam.


"Masuk!!" Rey masih sibuk memainkan mouse untuk mencari -cari artikel yang di inginkan.


Ceklek ...


Rey hanya menatap Vivi seklias. Mahasiswinya memang suka asal dan aneh.


"Bimbingannya besok saja. Saya tidak menerima mahasiswi yang ceroboh dalam berpakaian. Saya tidak suka. Tolong hargai diri kalian sendiri," tegas Rey yang sama sekali tidak menatap Vivi yang sudah bersiap mengikuti bimbingan skripsi.


Vivi mendelik. Dosennya ini aneh sekali. Biasanya dosen laki -laki akan senang dan betah vberlama -lama jika melihat mahasiswinya memakai pakaian sidikit terbuka dan membuat syahwat naik turun terpicu.


"Ekhemmm besok saya pergi Pak. Bisanya hari ini," ucap Vivi pelan berusaha merayu.


"Ya sudah lusa saja," ucap Rey santai.


"Tapi Pak? Saya sudah siap," ucap Vivi pelan mencoba kembali merayu.


"Saya yang gak siap," jawab Rey ketus.

__ADS_1


Vivi memutar kedua bola matanya malas. PAdahal ia sudah ke salo sejak pagi hanya untuk membuat bulu mata palsu biar terlihat lentik dan mempesona. Tapi, sama sekali tak mampu meruntuhkan hati Rey.


"Pak ... Sekali ini saja," bujuk Vivi pelan.


"Keluar. Saya punya aturan sendiri. Selama kamu mau bimbingan dengan saya, pakai baju yang tertutup dan pantas, gak tumpah ruah begitu. Muak dan mual saya lihatnya," ucap Rey ketus.


"Mana ada tumpah ruah Pak. Ini cuma agak kurang bahan sedikit bisa saya tutup dengan buku," ucap Vivi masi menggoda Rey.


"Keluar sekarang. Saya mau pulang!!" ucap Rey ketus dan tegas.


Rey pun segera mematikan komputernya dan mengambil tas kerjanya lalu keluar dari ruangannya.


"Pak ... Bapak mau kemana? Vivi kan mau bimbingan Pak," ucap Vivi kesal.


Rey tak menggubris ucapan mahasiswinya. Sudah malas pun mengurusi mahasiswi yang kurang etika dalam berpakaian. Sungguh menyebalkan.


Selama berjalan di koridor kampus. rey menyuruh OB untuk mengunci ruangannya dan menitipkan kuncinya di ruang pengajaran.


***


Ceklek ...


"Clara ... Twins ... Papah pulang, Sayang," ucap Rey dengan penuh semangat.


Saat pintu ruang tamu itu di buka, kedua mata Rey terpana melihat rumah yang terlihat sedikit berbeda penataannya. Belum lagi aroma wangi dari arah dapur yang menggunggah selera. Pantas saja, ingin cepat -cepat pulang, ternyata banyak kejutan di rumah.


Rey berjalan menuju ruang tengah dan meltakkan tas kerjanya di atas nakas buffet.


"Mas Rey? Sudah pulang," sapa Clara yangg tiba -tiba keluar dari kamar tidurnya.


Rey menoleh saat suara lembut itu tak hanya enak di dengar dan ia melihat Clara begitu terkejut sekali.


"Ra? Kamu sehat kan?" tanya Rey dengan tatapan bingung.

__ADS_1


__ADS_2