PAK DOSEN, I LOVE YOU

PAK DOSEN, I LOVE YOU
58


__ADS_3

Seperti biasa setiap ada waktu dan kesempatan, Rey tidak pernah bisa melepaskan begitu saja.


Kedua kaki Clara menjuntai ke bawah. Posisi duduknya masih berada di pangkuan Rey dan mereka saling berhadapan.


Posisi Clara mirip sedang menaik kuda. Kedua tangannya mengalungkan ke leher Rey. Rey sendiri mulai merangkul pinggang Clara.


"Ingat ... Di larang keras panggil saya dengan sebutan Pak. Panggil suamimu ini dengan bahasa yang baik dan mesra, kecuali memang saat berada di kampus," ucap Rey menasehati Clara.


Clara mengangguk setuju.


"Terus?" tanya Clara pada Rey. Jempol Clara mulai berani mengusap lembut telinga Rey.


Rey menahan rasa gelinya saat tangan Clara mengutaknarik telingannya. Itu bagian paling sensitif dan bisa -bisa si joni minta jatah di awal waktu.


"Ya ... Kamu mau ikuti aturan saya? Kamu lebih baik keluar dari tempat magang itu dan cari tempat lain atau magang di kampus saja?" ucap Rey memberikan saran.


Clara melotot tajam.


"Kenapa harus keluar? Clara baru satu hari dan Clara betah di sana," cicit Clara manja.


"Saya yang gak betah jauh dari kamu, Clara," ucap Rey sendu.


Bokong Clara yang menghimpit si joni pun membuat Rey semakin gelisah tak tenang.


Kedua tangan Rey mulai merangkak naik ke atas dan kini berada tepat di samping gundukan daging kenyal yang masih pulen bagaikan nasi yang baru matang. Begitulah usia Clara yang masih belia dengan segala kemolekan tubuh sintal dan kencang.


Rey mulai tak fokus dengan tema yang sedabg di bahasnya. Rey memang mudah sekali terpacu adrenalinnya. Si joni miliknya memang sedikit nakal dan sering membuat Rey sendiri kewalahan dengan permintaan tiba -tiba.


Tangan Clara mulai berani mengusap wajah Rey.


"Clara kan selalu ada. Gak pernah jauh, kayak terpisah ruang dan waktu saja," ucap Clara gemas dengan mencubit pipi Rey.


"Saya paling gak suka kalau kamu itu di dekati oleh lelaki terlebih si kelinci itu," ucap Rey kesal.


Clara memencet hidung mancung Rey dengan keras.


"Kok kelinci? Siapa si kelinci itu?" tanya Clara bingung.


"Itu sih, Si Rabbit, si kelinci modus," ucap Rey ketus.

__ADS_1


Ha .. ha .. ha ... tawa Clara begitu renyah di dengar. Suara tawa yang begitu lepas.


"Kenapa kamu ketawa? Memang kelinci kan?" Rey menatap lekat Clara yang seolah sedang mengejek dirinya.


"Bukan kelinci ssayang. Namanya Radit bukan Rabbit. Lagi cemburu kah? Katanya kalau cemburu tandanya sayang dan cinta. Clara seneng kalau memang benar begitu," ucap Clara lembut dan mengecup bibir Rey seolah sedang menggoda Rey.


"Jangan membelanya Clara. Saya tidak suka. Dan jangan menggoda saya," ucap Rey yang sudah memerah malu wajahnya.


"Clara gak menggoda kesayangan. Malah Clara yang tergoda. Lihat tangan kesayangan malah sudah membuka kancing depan. Ini maksudnya apa?" tanya Clara mencoba memancing Rey.


"Memang salah? Ini kan milik saya," ucap Rey tegas.


Entah mulai kapan tangannya lihai mengerjakan aktivitas lain di saat otaknya membahas lain. Hand job yang membuat keduanya semakin panas dan liar.


Tok ... tok ... tok ...


"Permisi!! Pengantar makanan!!" teriak seorang laki -lali dari arah depan.


Padahal tangan Rey yang sudah mengeluarkan dua gundukan kembar dari wadahnya dan siap menerkam. Bibirnya sudah di majukan dan sudah siap merasakan permen yupy rasa tawar itu.


Mendengar suara ketukan pintu dari luar. Rey pun menghembuskan napasnya kasar. Tangannya mulai melepas dari dua gundukan semeru yang mulai memanas.


"Hemm ... buka dulu. Kan bisa di lanjutkan nanti, Sayang," ucap Clara sambil mencium pipi Rey agar lelaki itu tenang.


Rey menatap Clara lalu menatap dua gundukan kembar yang sudah menggodanya sejak tadi.


Dengan cepat bibirnya menghisap salah satunya dengan gemas dan di gigit kecil hingga Clara berteriak keras.


"Awww ... Pak Rey!!" teriak Clara yang langsung menurunkan wadah susu untuk menyembunyikan dua gundukan kembar itu dari terkaman suaminya yang sudah tak terkontrol lagi birahinya bila ada di dekat Clara.


Rey malah tertawa dan menjatuhkan Clara di sofa lalu mengedipkan satu matanya dan mencubit gemas dagu Clara.


"Iya sebentar," jawab Rey dengan suara keras.


Rey segera membuka pintu depan dan menerima makanan yang di pesannya lalu mengeluarkan uang dua lembar berwarna merah.


"Ambil saja kembaliannya," ucap Rey kepada tukang pengantar makanan itu.


Tukang pengantar makanan itu menatap uang yang di terimanya. Lalu menunjukkan kepada Rey.

__ADS_1


"Pak? Ini berapa?" tanya tukang pengantar makanan itu kepada Rey.


"Dua ratus ribu kan? Kan pesanan saya sekitar seratus lima puluh ribuan dan itu tandanya masih ada sisa sekitar lima puluh ribuan," ucap Rey lantang tak mau kalah.


"Tolong lihat struknya Pak," pinta tukang penagntar amkanan itu pada Rey.


Rey menerima struk pembayaran itu dan spontan berteriak keras.


"Apa? Satu juta lima ratus? Ini gak salah? Lihat cuma satu plastik ini satu juta lima ratus. Kamu mau menipu saya!!" bentak Rey dengan kasar.


"Coba Bapak cek di aplikasi. Lagi pula itu hanya sati plastik. Lihat di bawah ada sembilan lagi dengan menu yang sama. Bapak itu mengeklik satu jenis makanan dengan jumlah sepuluh buah. Cek saja. Yang salah saya atau Bapak!!" bentak tukang pengantar makanan iru membalas karena tak terima.


Rey menatap semua plastik yang ada di lantai.


"Clara ... tolong ambilkan dompet dan ponsel," teriak Rey keras.


Clara pun keluar dari ruang tamu menuju pintu depan. Lalu menatap banyak plastik di teras depan.


"Ini pesanan kamu semua Yank?" ucap Clara mulai membiasakan memanggil dengan langgilan mesra.


Rey diam saja dan membuka aplikasi pesanannya. Ternyata benar ia salah memesan jumlah. Seharusnya satu malah kepencet sepuluh.


Tangan Clara mengusap punggung Rey lembut.


"Sabar sayang. Sudah bayar saja. Ini kan salah sendiri," ucap Clara pelan.


Clara langsung merebut dompet Rey dan mengeluarkan empat belas lembar uang merah.


"Maafkan sikap suami saya. Ini ada lebihannya boleh untuk anda. Tetima kasih dan jangan kapok," ucap Clara lembut.


Clara langsung membawa beberapa palsrik ke dalam sedangkan Rey masih berdiri mematung dengan perasaan tak menentu. Antara kesal, emosi, eneg, semuanya bercampur menjadi satu.


"Ayok sayang. Sudah ikhlaskan. Masih bisa di makan buat besok. Buat bekel juga, besok kita panaskan," ucap Clara berusaha menenangkan Rey.


"Eneg Ra. Kok bisa salah," ucap Rey masih takjub.


"Namanya manusia sayang. Itu tandanya kami harus lebih hati -hati lagi," ucap Clara sok bijak.


Ada kalanya nasihat tak melulu dari yang tua untuk yang muda. Bisa jadi yang muda lebih bisa bersikap dewasa dan bijak.

__ADS_1


__ADS_2