PAK DOSEN, I LOVE YOU

PAK DOSEN, I LOVE YOU
78


__ADS_3

Rey dan Clara pergi ke kampus bersama. Kini keduanya sudah berada di dalam mobil menuju kampus mereka. Tragedi omlete rasa starwberry itu membuat keduanya tak bisa berhenti tertawa. Rey yang terus menggoda Clara yang sama sekali tidak teliti dan Clara yang merasa ia benar. Itu kenapa minuman berperisa strawberry bisa nangkring di keranjang bumbu. Siapa dia yang membereskan belanjaan?


"Padahal Mas Rey lho yang membereskan belanjaan," ucap Clara menyalahkan.


"Mana ada? Kamu itu yang membereskan belanjaan. Saya kan balas email mahasiswa saya," ucap Rey membela dirinya sendiri.


Tapi memang begitu keadaannya. Tadi malam Clara membereskan dapur sendirian. Karena Rey sibuk dengan pekerjaannya hingga larut malam.


Clara mengingat lagi. Ia itu tak samapi berbuat bodoh sampai tertukar antara bumbu dan minuman. Walaupun bungkus itu sama -sama merah dan sangat mirip sekali bila di jajarkan.


"Tapi ... unik rasanya. Biasanya telur itu kan asin, ini jadi segar rasa buah, bau amisnya hilang. Bisa jadi ide kreatif itu, sayang," ucap Rey sambil mengulum senyum menahan rasa tertawanya.


Clara menoleh ke arah Rey dan melayangkan satu tinjuan kesal pada suaminya itu.


"Itu sih hinaan bukan pujian. Hinaaan yang terselubung," uap Clara tak suka. Clara sudah mengakui ia salah dan teledor hingga bisasalah memasukkan bumbu. Lucu juga hidup. Itu tandanya memang, hidup itu tak melulu asin seseklai perlu ada candaan receh yang bisa membuat suasana menjadi sedikit manis seperti rasa buah strawberry.


Mobil Rey sudah masuk ke halaman parkir kampus. Mereka datang sudah agak kesiangna. Jam tujuh kurang lima belas menit.


Clara merapikan rambutnya yang di kuncir kuda hingga lehernya yang jenjang terlihat sangat mempesona di mata Rey. Tubuh Clara yang muali terlihat berisi sudah membuat kaos berkerah Clara sedikit menampakkan beberapa lemak yang tertimbun di selipan dan lekukan tubuhnya.


Tangan Rey langsung menarik wajah Clara pelan hingga wajahnya menatap Rey. Rey langsung melepaskan ikatan kuncir kuda itu dan melatkkan karet rambut itu di dashboard mobilnya tepat di depan Clara.


Kedua mata Clara menatap Rey bingung. Ada apa lelaki ini tiba -tiba saja melepaskan ikatan rambutnya. Perasaan tidak ada yang salah dan tidak ada yang aneh bukan?


"Kenapa di lepas Mas? Kan Clara gerah nanti," ucap Clara manja.


"Saya gak suka berbagi keindahan dengan orang lain," ucap Rey pelan. Ia melepaskan kaca mata hitamnya dan di letakkan di tempat samping pintu mobilnya.


Clara menatap lekat ke arah Rey yang jawabannya selalu tak jelas.


"Berbagi keindahan? Apa hubungannya sama ikat rambut dan rambut Clara? Mas aneh deh," ucap Clara mulai kesal.


"Aneh gimana? Kamu itu yang aneh gak bisa mencerna baik kata -kata saya," tegas Rey denagn sikap dinginnya.


"Dih gitu ... Clara memang bodoh. Gak bisa mencerna baik kata -kata dosennya," cicit Clara mulai kesal. Bibirnya mulai mengerucut maju ke depan.


Rey mengulum senyum. Ia paling senang jika istrinya itu merajuk. Tandanya Clara sedang minta di perhatikan lebih.

__ADS_1


"Kamu ngaca deh. Kalau rambut kamu di kuncir itu bagaimana? Apa yang berubah dari kamu? Maksud saya, kamu lebih bagaimana? Terus rambut itu kan memang mahkota terindah yang di miliki seorang wanita?" ucap Rey santai.


Ia menyemprotkan beberapa semprotan minyak wangi di area tertentu. Clara langsung menutup hidungnya dengan cepat. Rasanya mula sekali mencium aroma minyak wangi suaminya saat ini. Biasanya ia sangat suka dan malah lebih bergairah, tapi tidak untuk saat ini. Wanginya malah membuat Clara ingin muntah.


Clara memutar kaca spion tengah dan mengarah pada dirinya. Ia menatap dirinya ke arah cermin kecil itu dan mengangkat kembali rambutnya ke atas tanpa kuncir rambut.


"Ekhemmm ... Terlihat cantik dan mempesona. Bagian mana salahnya? Bukannya malah senang istrinya terlihat cantik. Bukannya malahenak di pandang, cantik, rapih, dan mempesona," ucap Clara santai sambil memutar wajahnya di depan cermin ke kanan dan ke kiri. Ia merasa semakin hari semakin cantik saja. Apa mungkin karena kehamilannya jadi pancaran kecantikannya terlihat. Kata salah satu artikel di majalah yang ia baca.


Rey melierik Clara yang memang Rey akui semakin cantik dan selalu membuatnya ingin saat menatapnya.


"Memang cantik. Sudah cantik dari lahir Saya akui itu. Tapi ... Karena sudah cantik dari lahir dan semakin kesini makin cantik, sya seorang suami boleh was -was dong? Saya takut kecantikan kamu itu di nikmati oleh orang lain? Itu pemicu, Clara," ucap Rey pelan menatap Clara yang masih menatap wajahnya dari pantulan cermin.


Kedua matanya kini menatap Rey lekat.


"Apa sih maksudnya Mas? Clara gak paham sama jalan pikiran Mas! Seharusnya Mas itu senang punya istri cantik. Kan gitu konsepnya Mas," ucap Clara yang masih terus membela dirinya. Maklum setiap wanita itu kan paling senang di perhatikan dan di puji.


"Berarti kamu yang gak paham sama konsepnya Ra. Kamu mau jadi pusat perhatian? Di perhatikan dan di puji bukan oleh suaminya sendiri? Apa itu tujuan kamu mempercantik diri? Kamu bangga di puji oleh lawan jenis kamu? Lalu berujung di goda dan terus di ...." ucapan Rey langsung terhenti saat Clara berteriak keras memutus ucapan Rey.


"Cukup. Stop!! Iya paham, terus di perkosa, karena kesalahan wanita itu sendiri yang sellau ingin di perhatikan dan menunjukkan sesuatu yang cantuik dan inda untuk di nikmati banyak orang. Begitu kan? Mau bilang gitu kan?" tegas Clara lebih dulu mengungkapkan apa yang saat ini ada di kepala Rey dnegan menyindir. Wajah Clara berbicara dengan gaya bahasa yang emngikuti Rey.


Rey mengulum senyum dan tertawa lalu menarik kepala Clara dengan satu tangannya menarik belakang tempurung kepala Clara dan bibir Clara di kecup pelan. Kini kedua tangan Rey menangkupkan kedua pipi Clara dan mereka saling bertatap.


Dada Clara bergemuruh dan berdesir cukup menggetarkan seluruh hati dan tubuhnya. Ungkapan Rey barusan adalah suatu bentuk rasa cintanya pad Clara. Rey tidak mau kehilangan Clara. Itu intinya kan. Posesif yang positif adalah hal yang patut di lakukan oleh setiap pasangan sebagai pembatas diri. Bukan sebagai pengekangan.


Ada rasa senang dan bahagia tercurah pada diri Clara. Semua perlakuan Rey ini sanagt manis. Andaikan semua wanita itu tahu kalau Rey itu sebenarnya tidak sebeku it. Malahan Rey itu begitu peduli setiap penampilan Clara. Lelaki itu setiap hari benar -benar menyimak dengan baik, apapun yang di pakai, di lakukan dan kebiasaan Clara. Seiring berjalannya waktu karena hidup bersama, Rey berhak untuk memberikan masukan positif dan merubah kebiasaan Clara yang kurang baik di matanya.


Tipe lelaki diam dan beku adalah tipe lelaki yang sebenarnya pemerhati pada pasangannya. Lelaki yang selalu mengalah pada pasangannya karena tidak ingin berdebat lama dan terus menerus berada dalam hubungan yang toxic. Lelaki pendiam itu malah rasa sayangnya begitu tercurah dari hal -hal kecil dalam setiap perbuatannya.


Ciuman itu beitu lembut tanpa ada gairah. Hanya ciuman lembut penuh kasih sayang dari seorang suami kepada istrinya. Rey melepas ciuman itu dan berbisik pelan pada istrinya.


"Jangan nakal ya. Itu mata buat lihat yang baik -baik. Bukan lagi lihat opa -opa korea," titah Rey pada Clara, istrinya yang labil itu.


Clara mengangguk setuju.


"Iya Mas," jawab Clara pelan.


"Gadis pintar. Istri siapa sih?" tanya Rey menggoda istrinya.

__ADS_1


"Hemmm ... Emang Mas rey gak mengakui Clara? Kok bilang istri siapa?" tanya Clara tak terima.


"Istrinya Pak Dosen yang pualing cuaemmmmm" teriak Rey tertawa keras.


"Dihh ... Cuaemmm gak tuh," uap Clara tertawa keras.


"Memang cuaemmm ... Plaing keren, paling ganteng, paling macho, paling kuat juga kan?" tanya Rey pada Clara.


"Kuat. Durasi juga oke," jawab Clara santai.


"Jelas dong. Papah Twins sih harus kuat. Klaau gak kuat gak bikin Mamah Twins merem melek tiap malam," goda Rey tertawa sambil mengedipkan satu matanya pada istrinya.


Clara memutar kedua bola matanya dengan malas. Kalau sudah di puji, Rey bisa terus menerus mengungkap kesombongannya yang membahana. Gak akan ada selesainya.


"Udah ah ... Mau ketemu dosen pembimbing dulu biar tetap waras," ucap Clara pelan.


Rey menatap Clara lekat.


"Apa kamu bilang? Mau ketemu dosen pembimbing? Memang siapa dosen pembimbing kamu?" tanya Rey bingung. Bukankah dia dosen pembimbingnya Clara.


"Iya dosen pembimbing Clara. Namanya Reynand Dasilva. Mirip kayak nama suami Clara, tapi mereka memiliki sifat yang berbeda saat menjadi perannya," ucap Clara tertawa membuat Rey makin gemas pada istrinya.


"Hemmm ... Kamu tuh ya. Paling pinter bikin saya spot jantung. Saya pikir kamu ganti dosen pembimbing. Ternyata tidak," ucap Rey pelan.


Clara hanya tersenyum.


"Sudah? Kita turun. Kamu mau ke perpus dulu kan?" tanya Rey pelan.


"Iya mau caribahan baru," ucap Clara.


Keduanya pun keluar dari mobil. Rey senagja memilih parkiran paling ujung yang jarang di pakai orang lain. Lebih aman dan lebih tertutup agar mobilnya tidak kepanasan.


Clara keluar dari mobilnya dan menenteng tasnya. Clara melirik Rey yang terlihat tampan sekali sedang menutup pintu mobilnya dan mengunci.


Rey berjalan ke arah samping dan akan melangkahnkan kakinya menuju tangga yang dekat parkiran itu.


"Mas Rey!!' teriak Clara berlari ke arah Rey dan mengecup bibir lelaki itu spontan dan berlari duluan ke arah tangga dan dengan cepat menaiki tangga itu sambil tertawa melihat Rey yang masih berdiri terpaku sambil menggelengkan kepalanya cepat.

__ADS_1


Istrinya memang luar biasa.


__ADS_2