
Rey tak sempat melihat sosk perempuan yang di tunjuk oleh Clara karena mobilnya sudah meluncur terlebih dahulu. Rey penasaran dengan ucapan Clara dan menatap dari kaca spion tengah, namun ia gagal juga. Perempuan itu sudahbmasuk ke dalam mobil mewah itu.
"Siapa? Saya tak melihatnya," tanya Rey penasaran. Tatapannya lekat kepada Clara yang juga merasa tak yakin dengan apa yang baru saja ia lihat itu. Apakah itu benar perempuan itu atau bukan?
"Ekhemm ... Kalau tidak melihat ya sudah," ucap Clara pelan. Ia semakin ragu untuk memberitahu Rey karena tak yakin.
"Kamu itu! Saya kan penasaran. Saya belum tahu perumahan elite di sini siapa saja pemiliknya," ucap Rey menggerutu.
"Ya ... Nanti Bapak juga akan tahu. Dari ujung depan sampai ujung belakang, dosen siapa saja yang memiliki rumah di tempat ini," ucap Clara santai.
Jujur, ia ragu dengan apa yang ia lihat baru saja. Makanya Clara bisa bernafas lega, saat Rey bilang ia tidak sempat melihat perempuan itu.
Rey melirik ke arah Clara yang terlihat masih bingung.
"Kalau bingung pegangan," ucap Rey terkekeh.
Clara melotot ke arah Rey.
"Siapa yang bingung? Gak sama sekali. Bapak kali yang kepo," ucap Clara berusaha menutupi rasa bingungnya.
"Oh ya? Tapi saya berani bertaruh kalau kamu itu sedang bingung. Wajah -wajah mahasiswa yang bingung itu gak bisa bohing," kekeh Rey.
"Dih ... Jangan samain," ucap Clara kesal.
Keduanya sampai pada alamat uang di tuju. Rey mendapatkan rekomendasi rumah yang akan di over kredit oleh pemiliknya. Mobil sport Rey sudah parkir di depan rumah yang cukup besar. Perumahan elite tapi minimalis bertipe tujuh puluh dua. Ada tiga kamar di dalamnya dan bertingkat.
Clara menatap ke arah samping. Rumah itu cukup besar dengan taman yang agak luas dan garasi yang besar juga.
"Ini rumahnya Pak?" tanya Clara memastikan.
"Iya. Ini sesuai alamat yang di berikan. Ciri -cirinya juga sama. Yuk kita turun," titah Rey kepada Clara.
Clara turun dari mobil dan menatap berkeliling. Perumahan itu agak sepi. Tapi tepat di seberang rumah mereka ada taman bermain anak.
Rey sudah membuka pintu pagar dan mendorong hingga ke ujung tembok taman.
"Kita bisa lihat ke dalam, Pak?" tanya Clara penasaran.
"Bisa. Rumah ini sudah di buka sejak pagi. Memang untuk kita lihat. Kalau cocok kita langung bisa menempatinya," ucap Rey pelan.
Rey berjalan ke teras dan membuka pintu rumah itu dan masuk ke dalamnya. Rumah yang memang mewah. Rey suka.
__ADS_1
Clara berjalan di belakang Rey dan mengamati interior rumah itu.
"Kamu suka sayang?" tanya Rey kepada Clara.
Clara mengangguk pelan. Rumahnya nyaman dan adem.
"Suka Pak," jawab Clara pelan.
Rey menoleh ke arah Clara dan mendekati istrinya. Tangannya terulur dan merapikan anak rambut yang menutupi wajahnya.
"Bisa gak? Kalau manggil saya tidak dengan sebutan Pak. Saya sudah manis manggil kamu dengan kata sayang," ucap Rey menyentuh pipi Clara.
Tubuh Clara bergetar. Sentuhan jari -jari Rey begitu membuat dada Clara bergemuruh.
"Bapak maunya di panggil apa? Suami? Atau apa?" tanya Clara lirih.
"Ekhemm boleh request?" tanya Rey pelan.
Clara mengangguk pasrah.
"Panggil sayang. Bisa? Biar terdengar mesra gitu," pinta Rey manja.
"Kok ketawa sih? Memang lucu?" tanya Rey bingung.
"Lucu sayang," ucap Clara mengulum senyum.
Skip ...
Siang ini Clara berada di kantin kampus. Ia baru saja selesai dari perpustakaan untuk mencari bahan untuk membuat bab dua di skripsinya. Mulai besok, Clara magang di salah satu perusahaan jasa telekomunikasi.
Clara sudah tak menempati kost putri absurd itu. Clara sudah pindah ke perumahan elite itu. Ia dan Rey memang ingin hidup mandiri dan tidak tergantung dengan orang lain terlebih pada kedua orang tua Rey. Selain itu alasan lain adalah agar Clara bisa menjauhkan Rey dari kejaran Renata yang masih belum bisa move on atau Renata masih punya misi lain?
Ia sedang menunggu Nita, sahabat sejatinya.
"Clara!!" teriak Nita dengan suara keras.
"Nita!! Sini," teriak Clara tak kalah keras menjawab panggilan Nita.
Nita berjalan cepat menghampiri Clara dan duduk di samping Clara. Nita menyapu pandangannya ke arah meja. Ada rujak serut, ada bakso urat dan ada es teh manis. Mau bertanya pada Clara tapi ragu.
"Udah lama gak mingkrong di sini," ucap Nita mulai memesan beberapa makanan untuk dirinya dan bayi yang sedang di kandungnya.
__ADS_1
"Iya. Kamu sibuk sama Pak Arga," cicit Clara kesal.
Persahabatan mereka memang agak berjarak setelah Nita menikah diam -diam dengan Arga.
"Ekhmm ... Gimana hubungan loe sama Pak Rey? Lanjut dong," ucap Nita berbinar.
"Iya. Lanjut," ucap Clara jujur sambil menunjukkan cincin nikahnya.
"Loe udah nikah? Sama Pak Rey!!" teriak Nita dengan suara keras dan lantang hingga beberapa orang yang berada di kantin itu menatap aneh ke arah dua sahabat itu.
"Berisik ih. Tuh pada nengok semua. Ini masih rahasia," ucap Clara berbisik.
Nita melotot tak percaya sambil memegang tangan Clara menatap cincin berlian yang sudah melingkar manis di jari manis tangan kanan Clara. Nita menutup mulutnya agar tidak berteriak keras.
"Loe udah nikah? Loe jadi hamilnya?" tanya Nita berbisik lirih.
"Mana ada hamilnya jadi atau gak? Ada juga positif atau gak," ucap Clara terkekeh.
"Ya maksud gue. Kejaduan itu beneran bikin loe hamil? Tapi ini rujak dan bakso urat, ini bukan makanan kesukaan loe," ucap Nita yang hapal dengan makanan yang di sukai oleh Clara.
"Gue lagi suka sama rujak serut ini. Cobain deh," ucap Clara.
"Gak. Gue lagi ngurangin pedes. Perut gue suka sakit. Dokter kandungan tidak menyarankan. Loe hamil kali? Coba cek," ucap Nita pelan.
"Belum test," jawba Clara singkat.
Keduanya terdiam saat makanan pesanan Nira datang. Nita hanya memesan nasi campur yang lengkal dengan ayam gireng dengan serondeng banuak di atasnya.
"Nita ...." panggil Clara ragu.
"Apa? Cerita aja. Masa iya loe udah gak lercaya sama gue lagi," ucap Nita terkekeh sambil menikmati makanannya.
Ibu hamil itu terlihat menikmati makanan di depannya.
"Aku mau cerita sesuatu. Tapi aku harap kamu bijak menyikapinya," pinta Clara agak ragu.
"Ngomong aja. Santai aja kali, Ra," ucap Nita santai.
"Aku kemarin lihat Kak Desy pakai baju seksi di perumahan elite. Kamu soal Kak Desy? Dia mantan pacar suami loe kan?" tanya Clara pelan.
Nita memberhentikan kunyahannya dan meletakkan sendok di piringnya. Tatapannya agak rajam ke arah Clara. Clara jadi merasa bersalah.
__ADS_1