PAK DOSEN, I LOVE YOU

PAK DOSEN, I LOVE YOU
42


__ADS_3

Hari ini waktunya Clara dan Rey pergi ke KUA setempat untuk mengurus bukti nikahnya yang belum mereka dapatkan lantaran ada perubahan nama pengantin pria saat akad nikah itu berlangsung.


Kedua orang tua Rey sudah kembali ke kota. Rey dan Clara masih ingin menginap sehari semalam dulu sekaligus merapikan barang -barang bawaan Clara yang ingin di bawa pindah ke tempat tinggal barunya nanti.


Clara tengah bersiap dan bercermin di depan kaca rias sambil melihat dirinya sendiri dari pantulan kaca tersebut.


Tatapannya lekat dan tajam pada dirinya sendiri. Clara tersenyum sendiri, mengingat rentetan kejadian yang ia alamai hingga sampai bisa menikah dengan Pak Rey, si dosen mesum tanpa sengaja karena karma.


"Wah, jangan sampai habis nikah, jadi gila," ucap Rey asal bicara saat melihat istrinya tertawa sendiri di depan cermin.


Rey dengan cueknya bicara sambil terkekeh dan berjalan melewati Clara yang masih berdiri dan melihat dirinya di depan cermin. Rey baru selesai mandi, sepagi ini ia dan Clara sudah tiga kali mandi besar. Kali ini Clara memilih mandi terlebih dahulu dengan alasan mau buang hajat besar. Clara sengaja beralasan begitu karena jika tidak, Rey tidak akan selesai. Entah punya tenaga kuda dari mana kuat sekali menerbangkan burungnya berkali -kali. Clara saja sampai kewalahan menangkap burung tersebut yang selalu meminta di ajak berkolaborasi.


Clara melotot ke arah Rey dan melempar sisir yang habis ia pakai ke punggung Rey yang masih polos.


"Argh ... Sakit sayang. Itu sisir lho, tajem ujungnya," ucap Rey yang meringis kesakitan saat ujung sisir tepat menusuk punggungnya.


"Iyalah tajem ujungnya, kalau tumpul itu kan punya Bapak," ucap Clara asal bicara tapi terkekeh sendiri.


Rey melotot dan berpura -pura marah.


"Iya tumpul tapi bukin nagih, bikin kamu merem melek, bikin kamu termehek -mehek," jawab Rey tak mau kalah menimpali terus menggoda Clara.


Dengan santainya Rey memakai boxer dan baju casual tanoa menatap Clara yang tengah bersiap menerjang dirinya.


"Ohh ... Jadi seolah Clara yang terus kepengen dan Bapak hanya ngangon gitu. Padahal dirinya yang terus meminta jatah. Parah. Bisanya lempar batu sembunyi tangan. Cepat turun, kita urus surat nikahnya. Habis itu kita pulang, gaknusah lama -lama di sini. Inget, Clara mau tinggal di kost saja," ketus Clara makin emosi.


Pagi ini Clara memang sedang tidak bisa di ajak bercanda.


Clara keluar dari kamar dengan wajah sangat masam lalu menutup pintu kamar dengan kasar.


Skip ...


Keduanya sudah berada di Knator Utusan Agama (KUA) untuk mengurus buku nikah kemarin.


Sesuai dengan ucapan pemghulu kemarin untuk menemui dirinya di kantor tepat jam sembilan pagi.

__ADS_1


"Weh ... Sudah datang rupanya," ucap Penghulu yang kemarin menikahkan Rey dan Clara.


Sebagai warga indonesia yang baik dan sopan, tentu sapaan itu juga di balas dengan sapaan basa basi.


"Sudah Pak. Sesuai amanah tepat jam sembilan pagi," ucap Rey mantap.


"Bagus. Harus tepat, sama seperti tadi malam tepat sasaran kan?" goda penghulu itu pada Rey.


"Sasaran tepat apa Pak?" tanya Rey pura -pura bodoh.


Kemarin penghulu ini tak bisa banyak berdebat karena ia berada di rumah Clara. Tapi kali ini ia senang menggoda Rey karena ini wilayahnya. Maklum pribumi kan bebas berekspresi.


"Hemmm ... pura -pura bodoh. Kalian pikir saya gak paham. Itu rambut kalian masih basah, tandanya apa?" ucap penghulu itu terus menggoda.


Maklum kalau ada pasangan pemgantin baru akan selalu hingga benar -benar malu.


"Pak ... Say ke sini mau urus buku nikah bukan mau membahas sasaran yang tepat. Biarlah itu itu menjadi urusan saya setiap malam. Kalau tidak tepat, benar kata penghulu, istri saya tidak mungkin membasahi rambutnya kan? Apalagi sampai minta tambah. Betul?" ucap Rey menjawab dengan godaam kembali agar membuat sang penghulu itu keki.


"Betul. Kalian memang cocok. Selamat ya Ryan dan Clara," ucap penghulu itu.


"Reynand Pak, bukan Ryan. Jangan sampai salah Pak tulisannya," ucap Rey marah mengingatkan.


Penghulu itu menatap jam dinding yang memang tepat menunjukkan pukul sembilan pagi.


"Oh ya. Benar sekali. Silahkan duduk dulu. Saya mau operasi dulu buku nikah yang kemarin," ucap penghulu itu.


"Operasi? Maksudnya?"


"Jadi, Buku nikah itu ternyata tidak bisa bisa ganti. Karena sudaj ada nomor register urut tercetak dari kementrian agama. Jadi kalau ada kesalahan, kami yang mengoperasi buku -buku itu jadi benar," ucap penghulu itu santai menjelaskan.


"Sudah gimana Bapak saja, yang penting kmai sudah menikah dan di buku nikah kami ada nama kami berdua Clara dan Pak Rey mau pulang sekarang," ucap Clara sudah tak sabar.


"Baik Clara." Penghulu itu langsung masuk ke dalam.


Rey melirik ke arah istrinya yang wajahnya semakin garang.

__ADS_1


"Bisa galak ternyata? Kalau galak itu di ranjang, biar saya semangat," goda Rey.


Clara melotot kesal. Sejak pagi Clara memang sensitif sekali dan mudah tersinggung.


"Otak Pak Rey tuh yang perlu di benahi. Gak waras. Pikirannya mesum, mesum dan mesum. Orang itu serius dikit bukannya malah godain terus. Gerah tahu lihatnya juga," ucap Clara emosi.


Clara keluar dari ruangan kantor itu. Ia malas sekali rasanya. Apalagi melihat Rey yang tiba -tiba bikin mual.


Clara berjalan ke depan kantor agama. Ia melihat banyak sekali jajanan sederhana. Kedua matanya mengedar dan membaca satu per satu gerobak motor yang menjajakan makanannya.


"Ekhemmm ... batagor, siomay, pentol, cilok, pukis, kue cubit, wahhh ... bisa di icip," ucap Clara dengan santainya keluar dari halaman dan mulai mendekato satu gerobak motor bertuliskan 'Ini Pentol bukan Salome'.


"Mau beli pentol? Ini pentol bukan salome," ucap pedagang itu sambil menunjukkan slogannya.


"Iya tahu pentol. Sepuluh ribu ya," pinta Clara kepada pedangang lentol iti langsung mengisi plastik dengan pentol.


"Siap cantik. Mau nikah ya?" tebak pedagang itu sok tahu.


"Udah nikah," jawab Clara datar.


"Oh udah nikah. Berarti mau cerai?" tebak pedagang itu kembali.


"Gak,"


"Gak apa -apa Kak. Gak usah malu sama saya. Sudah sering saya lihat peremluan seusia Kakak yang mengurus perceraian," ucap pedagang itu santai.


"Seusia saya?"


"Iya. Nikah karena takut hamil soalnya kebablasan waktu makan pentol jadi pengen nyoba tol tol yang lain," tawa pedagang itu renyah. Dia yang ngomong sendiri, dia juga yang tertawa kegelian.


Clara melotot dan menatap tajam ke arah pedagang.


"Enak aja kalau ngomong. Gak semua orang sama kayak gitu. Terus menikah cuma buat ajang tanggung jawab saja?" Clara makin emosi. Niatnya mau menenangkan pikiran tapi malah di sulut kembali oleh pedagang pentol.


"Lho ... Kok Kakak marah? Kalau gak ngerasa jangan marah. Saya kan cuma bilang. Ini survei saya selama dagang di sini. Makanya slogan saya ini 'Ini Pentol bukan Salome' itu ada artinya Kak," cicit pedagang itu mencoba membuat suasana kembali baik lagi.

__ADS_1


"Saya gak marah. Emang saya lagi kesel saja," ucap Clara memberikan satu lembar uang sepuluh ribuan.


__ADS_2