PAK DOSEN, I LOVE YOU

PAK DOSEN, I LOVE YOU
90


__ADS_3

Nita membawa Clara ke ujung bawah anak tangga dan duduk di sana. Sudah lama mereka tidak bercanda dan saling mengghibah seperti yang mereka lakukan di kost putri dulu. Beberapa teman dekat Nita di kost pun turut hadir dengan pasangan mereka masing -masing.


"Apa kabar loe, Ra? Gue kangen banget. Skripsi gue tertunda, gue mual -mual parah sekarang. Tiap lihat suami gue, gue selalu muntah -muntah. Nah bingungny kalau gue kagak lihat dia, gue kagak muntah, ini anak kagak mau lihat bapaknya apa ya?" tanya Nita berbisik.


"Aishh ... Nyebut Nit. Pak Arga kan tetap Bapaknya anak yang loe kandung," ucap Clara tegas.


"Yaelah Ra. Ini sih bukan perkara Pak Arga Bapaknya atau bukan, ya sudah jelas Pak Arga, Bapaknya anak yang gue kandung. Secara dia ayang ambil keperawanan gue, akhirnya nikah dan gue hamil. Perjalanan cinta kita gak beda jauh, terenggut keperawanannya dan di pertanggung jawabkan. Bedanya gue di snegaja kalau loe sama Pak Rey gak di sengaja," ucap Nita tertawa keras.


"Hus ... Loe bahagia banget sih kayaknya kalau gue terdzolimi," ketus Clara sambil menikmati hidangan cemilan yang ada di meja bulat dekat sofa yang mereka duduki.


"Hah? Terdzolimi gimana maksud loe? Gila, ya gak lah. Kita sahabatan udah lama, dan gak ada dalam kamus gue untuk menjerumuskan teman, kecuali menjerumuskan dala hal positif," jelas Nita pada Clara.


"Loe kenal sama tuh orang?" tanya Clara pada Nita sambil menunjuk ke arah Martin yang sedang bergurau dengan kedua suami mereka.


Nita mengernyitkan dahi seolah sedang mengingat sesuatu.


"Ohh itu? pernah lihat sih di foto, tapi gak tahu namanya. Itu kan yang item keriting," tanya Nita dengan suara pelan sambil menatap ke arah Martin.


"Namanya Martin, Mas Rey sempat memanggil namanya seperti itu tadi," ucap Clara pelan.


"Martin ... Kayaknya Pak Arga pernah cerita sesuatu deh soal sahabatnay ini. Ini orang pernah berantem sama Pak Rey soal cewek," terang Nita sambil mengingat cerita itu yang mungkin sudah lama di ceritakan.


"Arghh ... Serius? soal perempuan? Sampai berantem? Ngerebutin cewek gitu?" tanya Clara antusias. Clara penasaran sekali dengan apa yang di ucapkan oleh Nita. Clara tak pernah tahu soal Martin dan masa lalu Rey. Clara dan Rey sama seklai tak membahas masa lalu mereka.


Nita menoleh ke arah Clara dan melotot tajam.


"Kok jadi gue harus cerita sama loe? Gue juga gak tahu cerita itu gimana. Cuma sekilas doang, dan itu juga gak gue simak dengan baik. Mending loe tanya sama Mas Rey kesayanganmu itu, ada masalah apa beliau sama MArtin itu," tegas Nita kesal.


"Yah ... Loe kan yang mancing -mancing rasa penasaran gue. Wajar dong, kalau gue tanya -tanya sama loe," ucap Clara asal.


"Emang gak salah. Tapi kalau posisi gue juga gak paham, malah salah jadinya," ucap Nita pelan.


Keduanya terdiam. Clara masih menikmati beberapa jajanan pasar yang ia ambil di piring kecil dan di nikmati dalam suapan kecil. Perutnya tidak lapar, tapi rasa ingin tahu dengan rasa makanan jajan pasar itu lebih besar di bandingkan rasa laparnya.

__ADS_1


"Ra ... Soal Renata? Loe udah tahu?" tanya Nita sedikit berbisik.


Clara menoleh ke arah Nita dan menatap sahabatnya itu dnegan lekat.


"Soal Renata? Sudah lama gue gak ketemu sama Renata. Saat pergi sama Mas Rey, juga gak ada kebetulan ketemu sama dia. Memang ada kabar apa?" tanya Clara mulai penasaran lagi.


Sejak di nyatakan hamil. Clara memang lebih over thinking pada Rey. Pikirannya selalu buruk dan ada kecemasan tersendiri.


"Dia hamil sama dosennya juga. Minta pertanggung jawaban malah di suruh menggugurkan. Terakhir, minta tolong sama Pak Arga, dia pinjem uang ...." ucapan Nita belum selesai langsu di sambar begitu saja oleh Clara.


"Terus di kasih?" tanya Clara penasaran.


"Eitsss ... Sabar dulu kenapa? Dengerin gue dulu," ucap Nita pelan.


"Iya gue denegerin. Gue kan penasaran. Gue takut, diem -diem, Mas Rey jalin komunikasi sama Renata yang nyhebelin itu," ucap Clara kesal.


Nita menarik napas dalam lalu perlahan di hembuskan melalui hidungnya. Ini sebenarnya sebuah rahasia yang tidak boleh di beritahukan pada Clara.


"Iya. Kan gue juga ganti nomor. Tapi sesuai kesepakatan kita berdua, tidak ada nomor lawan jenis, kecuali saudara atau keluarga," ucap Clara tegas.


"Ohhh gitu. Pantas aja, Renata minta nomor Pak Rey lewat Pak Arga," ucap Nita pelan.


"Cuma itu? Loe yakin? Gak nyembunyiin sesuatu dari gue, Ta? Kita sahabatan sudah lama. Susah seneng kita jalanin dulu di kost. Loe gak bisa bohongin gue," tegas Clara mulai emosi.


"Loe kalau mau lebih jelas tanya Pak Rey dong," ucap Nita tertawa.


Clara hanya menggigit bibirnya kesal. Seketika ia merasa kesal, cemburu dan di lingkupi rasa cemburu yang sangat besar.


***


Rey melirik ke arah bawah tangga, ia memastikan istrinya memang masih di tempat yang sama bersama Nita. Rey selalu peduli pada Clara walaupun hanya memnatau dari kejauhan, karena ia ingin sellau menjaga anak dan sitrinya tanpa terlihat mengekang.


"Sorry ya, aku gak bisa minum lagi. Aku sudah janji, malam tu adalah malam terakhir aku minum," ucap Rey pelan pada Arga dan Martin.

__ADS_1


Martin dan Arga menatap Rey lekat lalu menoleh ke arah Clara yang terlihat serius berbicara dengan Nita.


"Sejak kapan? Rey sahabatku tergila -gila pada wanita? Baru kali ini, aku lihat kamu bucin sama mahasiswimu sendiri sampai kamu nikahi, dan merubah kamu? Hello? Kita laki -laki lho," ucap Martin mengingatkan.


"Justru kita laki- laki, Tin. Kita harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah kita pilih. Ini bukan soal bucin, tapi emang hati dan pikiran aki cuma ada nama dan wajah istri aku aja, gak ada yang lain," tegas Rey pada MArtin.


"Betul Tin. Kamu belum menikah jadi gak akan tahu bagaimana rasanya sudah menikah. Memanjakan, romantis yang halal, bahkan bucinan," ucap Arga menambahkan penjelasan Rey.


"Renata? Kemana dia? Apa kurangnya dia? Dulu, sampai di gebukin demi Renata. Tapi, sekarang nikahnya bukan sama dia," ucap Martin mengejek Rey yang diam saja karena semua ucapannya benar.


"Huffttt ... Sudahlah. Itu masa lalu. Dulu, karena kita masih kecil, baru kenal cinta. Padahal, cinta ku di tolak juga sama Renata," ucap rey pelan.


"Ya jelaslah, Kita waktu itu sudah SMA, dia masih SMP. Jelas di tolak lah," ucap MArtin tertawa.


"Jangan salah. Mereka pacaran lama lho, dan hampir nikah, kalau gak kejadian ***-*** itu terjadi," ucap Arga tertawa.


"Oh ya? Gimana rasanya *** -*** sama Renata? Brengsek juga kamu rupanya Rey," ucap Martin pelan.


"Gila kamu, Tin!! Aku gak pernah gituan sama Renata. Aku anak baik dan alim. Gak kayak kamu!!" ucap Rey kesal.


"Tapi cinta pertama kamu sama Renata kan?" goda Martin pada Rey.


"Gak. Cinta pertama aku ya sama istriku. Dulu itu kesambet doang. Cuma kagum, secara Renata kan mayorete, iya kan? Coba kalian inget deh? Terus, pas kuliah, dia yang ngejar aku, tanya sama Arga. Jadi yang penasaran itu siapa?" tegas Rey yang mulai tidak suka di singgung soal Renata.


"Hehh ... Lihat tuh ke belakang ...." titah Martin pada Rey.


Semua mata memandang ke arah seseorang yang baru masuk dari pintu depan.


"Ra ...."


"Ta ...."


Pandangan kedua sahabat itu juga tak lepas pada sosok tamu yang baru datang.

__ADS_1


__ADS_2