
Tangan Clara spontan memegang erat lengan baju Rey saat melihat Radit menjadi salah satu tamu di rumah besar Ayah David dan Bunda Silva.
Rey hanya melirik sekilas ke arah Clara dan genggamannya yang erat lalu ke arah Radit yang menoleh menatap Clara dengan senyum smirk yang amat tipis sekali hingga tak ada yang menyadari moment tersebut.
"Kamu panik?" tanya Rey berbisik ke arah Clara sambil mengangkaat satu alisnya untuk mempertegas pertanyaannya itun pada istrinya yang nampak sekali tetlihat gugup.
Clara yang tadi berpura -pura menatap kakinya agar tidak tersandung tangga pun mengangkat wajahnya menatap Rey yang tajam menatapnya.
"Mas salah paham. Mana ada Clara panik?" jawab Clara santai sambil fokus dengan dua anak tangga lagi sebelum akhirnya mencapai di atas teras rumah milik mertuanya itu.
"Sepertinya feeling Mas gak pernah salah. Kita buktikan saja nanti. Itu kelinci korea sudah menatap kamu," cetus Rey yang sejak tadi mengekor kedua mata Radit.
Bunda Silva mengampiri Clara dan Ayah David tetap melanjutkan obrolannya dengan Ayah Radit yang sebentar lagi akan menjadi menantunya juga.
"Hati -hati Clara, kamu sedang mengandung penerus keluarga besar ini," ucap Bunda Silva lirih.
Clara menggapai tangan Bundanya dan menatap Bunda Silva lekat. Dalam hatinya merasa aneh sekali, bukankah penerus keluarga besar ini sudah ada dua orang, mereka buah hati dari Kak Desy dari pernikahan sebelumnya yang tak lain keponakan Mas Rey, itu tandanya keponakan aku juga.
"Bunda gak usah berlebihan begitu, Clara tidak apa -apa kan?" ucap Clara lembut berusaha tak menyinggung Bunda Silva. Setidaknya ia canggung di perlakukan sepert ini.
"Gak apa -apa Clara. Baby twins kamu, harus mendapat perlakuan baik dan tetap di jaga dengan baik," ucap Bunda Silva menasehati.
Clara tak berkutik dan hanya bisa mengulum senyum. Rey sudah lebih dulu jalan di depan danmeletakkan kopernya di depan pintu.
"Sudah berapa bulan Clara," tanya Bunda Silva pelan menatap ke arah perut Clara yang sudah terlihat menyembul ke depan.
"Kalau gak salah sudah mau jalan empat bulan Bunda," jawab Clara lirih. Naik tangga begini saja, rasanya sudah sangat lelah sekali.
Bunda Silva menggandeng tangan Clara dan membawa masuk menantunya ke dalam rumah dan di perkenalkan pada kedua tamu istimewa yang tak kalah penting bagi Ayah David dan Bunda Silva.
"Rey, Clara, kenalkan ini calon suami Kak Desy, dan ini Radit," jelas Ayah David memperkenalkan. Rey langsung melebarkan senyumnya dan menyalami satu er satu tamu tersebut hingga kedua matanya menyorot tajam saat berjabat tangan dengan Radit. Berbeda dengan Clara yang nampak canggung menyalami satu per satu tamunya tersebut.
Saat Clara menjabat tangan Radit, lelaki itu mengedipkan satu matanya dengan genit pada Clara. Perlakuan itu tak lepas dari pandangan Rey yang kemudian berjalan memegang pundak Clara dan mengecup pipi istrinya pelan.
"Sayang, kamu lelah sepertinya. Mas mau masakin buat twins, yuk ke dapur. Di sini sedang membicarkan hal yang bersifat sensitif," ucap Rey lembut.
"Benar kata suamimu, Clara. Atau kalian istirahat saja dulu di kamar, oke," titah Bunda Silva pada Rey dan Clara.
Clara hanya mengangguk pasrah dan menuruti Rey yang sudah merangkulnya masuk ke dalam bagian inti rumah.
Keduanya terdiam. Clara memang diam karena sedang malas bicara, ia sedang mode diam merassakan tubuhnya yang lemas secara tiba -tiba. Sedangkan Rey terdiam dengan berjuta pertanyaan yang ada di otaknya kini. Kenapa kelinci korea itu bisa menjadi calon anak Kak Desy.
__ADS_1
"Rey ... Kapan datang?" sapa Desy yang baru saja turun dari lantai dua menuju ruang tamu untuk menmani calon suaminya yang sedang membicarkan pernikahannya.
"Kak Desy? Keponakan Rey mana?" tanya Rey sambil celingukan mencari keberadaan kedua buah hati Kak Desy.
Desy hanya mengulum senyum dan terkekeh.
"Anak -anak sudah gak di sini, Kak Desy juga udah lama gak di sini. Sudah pindah di rumah misua," ucap Desy pelan.
"Wah misua. Rey kangen sama kelucuan dua keponakannya yang suka iseng dan jahil," ungkap Rey merasa ada jarak dengan Desy, kakaknya saat ini. Mungkin karena perlakuan Kak Desy pada Clara sejak di perkenalkan di keluarga besar hingga Rey menikah pun Kak Desy tak hadir dalam pernikahannya.
"Maaf ya kalau Kak Desy punya salah sama kamu Rey dan sama kamu juga Clara. Maaf ya kalau selama ini, Kak Desy tidak menyukai kamu, bukan tidak menyukai mungkin karena kita belum kenal baik," ungkap Kak Desy dengan tulus.
Kak Desy langsung memeluk tubuh Clara erat. Setidaknya ini, mereka mempunyai hubungan yang baik dengan kebahagiaan bersama keluarganya masing -masing.
Clara membals pelukan erat itu dan mengusap lembut punggung Kak Desy.
"Clara sudah maafin Kak Desy. Gak masalah Kak. Ya, wajar kan, kalau Kak Desy ingin yang terbaik untuk Mas Rey, biar gak salah pilih," ucap Clara sambil mengendurkan tubuhnya dan menatap Desy.
"Tapi, ternyata pilihan Kakak buat Rey adalah pilihan yang salah, dan pilihan Rey adalah pilihan tepat. Nyatanya Rey sudah bahagia sama kamu, bahkan Kakak gak pernah lihat Rey denagn senyum bahagia seperti hari ini," ungkap Desy jujur.
"Sudahlah Kak. Itu semua sudah lama dan jadi masa lalu, yang terpenting kita sekarang sudah menjadi keluarga besar," ucap Clara lembut dan tersenyum ramah.
"Makasih ya, Ra. Hatimu memang baik sekali, pantas saja Rey sangat mencintai kamu," puji Desy pada adik iparnya itu.
"Ohh iya, calon keponakan kembar Kakak sudah berapa bulan?" tanya Desy kemudian.
Desy sudah tak mau lagi bersinggungan dengan Clara. Ia teringat karmanya sendiri, saat ia butuh restu dari Radit untuk menikah dengan Papahnya. Radit bersikeras tidak mau merestui, dan papahnya pun lebih memilih keputusan Radit di bandingkan harus menikahi Desy. Tapi, perlahan entah kenapa, Radit mulai menyetujui hubungan Papahnya dan Desy yang akan menjadi Mamah tirinya.
"Jalan empat bulan Kak. Doain aja sehat semua dan lancar," pinta Clara pada Desy.
"Aamiin. Pasti Kakak doain, kalau mau ada acara, jangan lupa undang -undang Kakak, ya," pinta Desy pada Clara.
"Siap Kak," jawab Clara pelan.
"Rey, Kakak ke depan dulu. Kalian istirahat saja dulu, nunggu makan siang, kita mau makan siang di taman, Kakak sudah pesen katering," ucap Desy kemudian.
"Wihhh ... Siap, kita ke atas dulu, mau ke kamar," ucap Rey kemudian.
Dessy berjalan ke depan menuju ruang tamu. Rey dann Clara naik ke atas menuju kamarnya.
"Mas, ada yang aneh gak sih?" tanay Clara kemudian.
__ADS_1
"Gak ada. Biasa aja, kenapa? Karena ada Radit?" tanay Rey kemudian dengan sinis.
"Ya elah Mas, ngomongnya biasa aja dong, sinis amat," ucap Clara langsung terdiam.
"Ya kamu juga keganjenan. Udah tahu ada kelinci korea malah sengaja menatap lekat matanya, biar apa? Mau PHP -in? Inget udah gede perutnya, gak usah aneh -aneh," cetus Rey dengan kesal.
"Lha? Mas Rey kok ngomongnya gitu, nyolot banget. Cemburu ya," ucap Clara malah terkekeh melihat raut wajah Rey yang masam.
Clara menghalangi jalan Rey masuk ke dalam kamar dan kini mereka berhadapan. Clara memeluk Rey dengan melingkarkan tangannya ke prut Rey yang kini mulai ikut membuncit sedikit. Mungkin ini yang di namakan suami cocok dengan susunya, tubuhnya akan menjadi lebih berisi setelah menikah dengan orang yang tepat bisa membahagiakannya.
"Gak usah cemburu. Udah punya twins, gak mungkin juga kan, Clara mau macem -macem. Bisa gak lulus nanti," goda Clara.
"Ohhh ... Jadi ngerayu Mas biar cepet lulus aja," ucap Rey yang masih belum ikut memeluk Clara.
"Kok gak di peluk sih," cicit Clara manja.
"Males. Bikin kesel saja," jawab Rey asal.
"Jangan gitu dong Mas, Clara kan gak bisa di diemin sama Mas. pasti sakit," ucap Clara lesu.
Tangan kekar Rey langsung membalas pelukan Clara.
"Sudah kan," ucap Rey singkat.
"Kurang tulus,," ungkap Clara.
Rey mengeratkan peluaknnya kemabli sampai tubuh Clara benar -benar terhimpit dnegan tubuh tegapnya.
"Clara sayang sama Mas Rey. Coba belajar gak cemburuan, gak enak tahu di cemburuin, padahal gak ngapa -ngapain," ungkap Clara.
"Cemburu kan tandanya sayang, mencintai, memang kamu mau gak di sayang sama Mas, di bebaskan sesuka hati kamu, gitu? Gak ada rem, gak ada batasan, maunya gitu?" tanya Rey kemudian sambil mengendurkan pelukannya dan memegang kedua pipi Clara.
Clara menggelengkan kepalanya pelan.
"Gak mau," jawab Clara lirih.
CUP ...
Bukti cinta bukan hanya kata -kata manis, tapi juga sikap manis yang mesra dan harmonis membuat keutuhan rumah tangga semakin kokoh dan tidak tergoyahkan.
Ciuman lembut di bibir Clara, bukan sekedar kecupan saja, bibir Rey mulai meratakan pertahanan Clara menyapu bersih bibir mungil Clara dengan *******, hisapan dan gigitan kecil yang sedikit sakit tapi membuat candu. Ciuman ini yang sering membuat Clara mengulang dan mengulang lagi. Rasanya cinta Rey pada dirinya besar dan sanagt luar biasa.
__ADS_1
"Ekhemmm ... Kalau mau mesum itu tahu tempat jangan di tengah jalan buat jiwa kejombloan saya ingin antri di belakang anda, Pak dosen," ucap seseorang yang berlalu begitu saja membuat Clara dan Rey yang emnikmati pertautan bibir mereka dengan memejankan kedua matanya pun mulai membuk dan menghentikan aktivitas yang belum bisa memsuaskan hasrat keduanya.
"Heiii ... Kamu yang ngintip!!" kesal Rey lalu membawa masuk Clara untuk menyelesaiakn pemanasan barusan.