
Sudah satu jam lamanya Clara duduk di ruang tengah sambil menonton televisi dan meminum susu hamilnya. Berkali -kali Rey menelepon Clara,namun tak satu panggilan pun Clara angkat,begitu juga denagn pesan singkat yang di kirim Rey sebanyak itu tak ada satu pun yang di balas oleh Clara, di baca pun tidak sama sekali.
Sikap Clara yang keras juga tidak akan merubah keputusannya saat ini. Selama hatinya masih terasa sakit dan kecewa, dia akan tetap malas berkomunikasi pada Rey, suaminya.
Satu jam tadi setelah menelepon Sang Ibu di kampung, hati Clara sedikit tenang, pikiran Clara juga semakin terbuka. Sekarang ia adalah istri dan calon ibu, bukan lagi seorang mahasiswi yang masih bisa berhaha -hihi seperti dulu. Konsepnya sudah beda.
Berulang kali, Clara menscrol beberapa artikel yang menunjukkan cara memberikan pelajaran dengan elegan agar suami jera. Lumayan banyak sekali ini cara -caranya, Clara samapai bingung mau melakukan yang mana dulu.
Tok ... Tok ...Tok ...
Suara ketukan dari pintu ruang tamu begitu keras terdengar hingga ke dalam. Clara menatap jam dinding yang ada di depan TV. Biasanya jam segini adalah waktu kedatangan asisten rumah tangga yang selalu membersihkan rumahnya.
Clara berjalan menuju pintu ruang tamu dan membukanya.
"Surprise!!" teriak Nita, sahabatnya yang langsung berteriak dan tertawa keras saat melihat raut wajah Clara yang terkejut emlihat kedatangannya.
Clara memutar kedua bola matanya dengan malas. Hari ini ia lagi ingin sendiri tidak ingin di temui oleh siapa pun kecuali asisten rumah tangga yang memang biasa datang ke rumahnya. Clara melengos dan membuang muka ke arah lain, lalu berjalan masuk kembali menuju ruang tengahnya.
"Dih ... Tamu itu raja, lho, Ra. Kamu gak nyapa dengan baik? Gak nyuruh aku masuk ke dalam? Aku bawa sarapan lho ...." ucap Nita yang terus berceloteh mencoba merayu Clara.
"Iya bawel. Masuk ke dalam," titah Clara kepada Nita.
Clara duduk kembali di sofa panjang ruang tengah dan memegang ponselnya kembali. Nita pun ikut masuk dan mengikuti Clara duduk di sofa panjang.
Nita membuka plastik makanan dan mengeluarkan beberapa makanan yang di belinya di luar.
__ADS_1
"Ih ... Asem aja mukanya. Ibu hamil baby twins harus banyak senyum dan gak boleh banyak pikiran," ucap Nita pelan smabil membuka dua kotak steroform yang berisi bubur ayam kesukaan Clara.
Dari wanginya, Clara melirik ke arah bubur ayam yang di bawa dan di buka oleh Nita. Padahal baru saja, Clara makan omlete dan sosis goreng, kenapa melihat bubur, rasanya ingin sekali mencicipi dan menikmati bubur ayam tersebut.
"Makan sajalah. Aku lagi males," ucap Clara yang ssok menolak rejeki di depan mata.
"Yakin? Ini bubur ayam depan kampus kita, yang viral itu. Tadi aku bilang, ini bubur buat Clara, bang. Ehh, lihat nih di bonusin cakuenya banyak banget," ungkap Nita yang menatap bubur ayamnya.
Nita mulai menikmati bubur ayam tersebut. Ia belum sempat sarapan tadi. Baru ingin ke Kampus, Rey menelepon untuk datang ke rumah menemani istrinya yang masih marah padanya perihal kemarin.
Clara cuma melirik ke arah Nita yang sedang menikmati bubur ayam. Rasanya enak sekali.
Nita menoleh ke arah Clara dan terkekeh. Lalu mengambil satu steroform untuk Clara dan mulai menyuapi Clara.
"Ini aku suapin. Gak usah malu, buka mulutnya," titah Nita kepada Clara yang perlahan membuka mulutnya.
Raut wajah Clara masih saja masam seperti mangga muda.
"Udah dong Ra. Gak usah kamu peduliin soal Renata. Aku datang kesini mau meluruskan, cerita yang sebenarnya. Jadi, Pak Rey itu memang transfer uang untuk Renata, tapi atas permintaan Pak Arga. Awalnya Pak Rey gak mau. Dia gak mau salah paham nih, kayak begini akhirnya. Pak Rey udah prediksi, bakal terjadi huru -hara," ucap Nita terhenti sambil menyuapkan kembali satu sendok bebek kepada Clara.
"Ya bodo amat. Aku gak mau bahas itu, Ta. Lagi males. Aku cuma kecewa aja. Kamu tahu kan, aku selama nikah sama Pak Rey, gak ada nuntut apa -apa. Ibaratnya di kasih makan sama tempat tinggal aja, aku bersyukur. Karena posisi aku memang gak mau beratin Pak Rey kan? Kecuali dia ajak aku ke Mall, terus bilang mau beli apa, Ra? Nah baru tuh, aku minta ini dan itu. Kalau uang? Gak pernah Ta. Kalau jajan di kantin? Itu uang kembalian dari belanja, yang aku simpen. Aku memang gak punya kebutuhan, tapi kan, aku ini istrinya Pak Rey, bukan pajangan," ucap Clara kesal.
"Udah makan dulu. Marah -marahnya di lanjut lagi nanti ya. Karena marah -mara juga butuh tenaga dan energi yang banyak," ucap Nita terkekeh.
"Arghhh ... Kamu gak asyik banget sih, Ta?" ucap Clara kesal.
__ADS_1
Nita cuma tersenyum lebar.
"Kamu tahu, Ra? Kak Dessy dulu juga pernah minta uang sama Pak Arga," ucap Nita dengan senyum tertahan. Bukan Clara aja yang pernah mengalami kepedihan dan kekecewaan, ternyata Nita, sahabatnya juga pernahmengalami.
Clara melotot tajam ke arah Nita yang tetap berusaha tersenyum di depan Clara, sahabatnya.
"Terus? Kamu gak pernah cerita ke aku, Ta?" ucap Clara lirih. Ia merasa kecolongan dengan sikap sahabatnya yang tak berterus terang. Biasanya kedua sahabat itu saling bercerita baik pahit atau manis. Memang semenjak Nita tinggal bersama Pak Arga, Nita lebih tertutup dan tidak mengumbar masalah pribadinya.
"Buat apa? Wanita berkelas itu marahnya gak perlu di tunjukkan? Tapi, bisa membuat para suami jera dan bakal mikir dua kali kalau mau melakukan hal bodoh dan konyol seperti itu!!" tegas Nita kemudian.
"Hah? Kata kuncinya selalu wanita berkelas. Tadi, Ibu juga ngomong begitu. Maksudnya apa sih? Gak ngertii deh?" ucap Clara pelan.
"Ya, Wanita berkelas. Jadi gini, menurut survei, kebanyakan wanita akan kebakaran jenggot karena ulah para suami yang terbukti melakukan kesalahan terlebih ada hubungannya dengan pihak ketiga, bisa mantan, teman, sahabat, atau memang TTM mereka. Nah, seperti yang sudah -sudah, semua istri akan marah -marah, mencak -mencak membuang energi mereka, dan berteriak keras mencari perhatian suami atau menangis sehari semalam merajuk berusaha mengambil simpati suami. Itu cara murahan!! Cara yang yang gak berkeleas!! Iya kalau suaminya peka? Kalau gak? Suami ada juga mual dan muak lihat kita kayak belut butuh kasih sayang, iya gak?" ucap Nita tegas dan berapi -api penuh semangat.
Clara mengangguk -angguk tapi sama sekali belum paham. Ia masih bingung dengan teka -teki cara meluaokan amarah dan kekecewaan wanita berkelas.
"Oke. Terus? Kita harus gimana?" tanya Clara penasaran.
"Hemmm penasaran ya? Mau tahu aja atau mau tahu banget?" ucap Nita berusaha menggoda Clara agar tidak tegang suasannya.
"Ck ...." Clara berdecih kesal.
"Kalau gak mau ngasih solusi tadi gak usah bahas," imbuh Clara kesal.
"Iya. Aku kasih tahu, biar kamu bisa mengikuti saran dari pakar psikolog senior yang selalu berhasil membuat para suami tetap sayang dan cinta pada istrinya. Biar mereka merasa selalu takut kehilangan dnegan kita," ucap Nita pelan sambil mengedipkan satu matanya pada Clara.
__ADS_1
"Wuhhh ... Cakep banget. Itu baru sahabat Clara. Jadi sarannya gimana?" tanya Clara penasaran.
"Gini ...." Wajah Nita mulai serius ingin menjelasakan semua yangia ketahui kepada Clara.