
Renata duduk terdiam di pojokkan ranjang yang merapat pada dinding. Ia sudah beberapa kali bolak balik ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya hingga mengeluarkan cairan berwarna kuning yang terasa pahit.
Kepalanya pening dan berputar. Renata memijat -mijat kepalanya pelan dengan jari -jari tangannya.
Ceklek ...
Pak Agus masuk dan melemparkan satu kantung platik obat kepada Renata dengan kasar ke atas tempat tidur peraduan mereka setiap malam.
Renata menatap ke arah Pak Agus tajam. Dosen pembimbing thesis magisternya itu sudah kepalang candu dengan tubuh Renata yang montok dan seksi. Tubuh yang selalu membuat Pak Agus bergairah menatapnya.
"Ini obat apa Pak?" tanya Renata menyelidik.
"Kamu hamil kan!! Gugurkan pakai obat itu!! Jangan sampai orang tahu akan hubungan kita!!" ucap Pak Agus dengan suara lantang. Tatapannya seperti ingin membunuh Renata saat ini juga.
Renata berdecih kesal.
"Bapak lupa sama janji Bapak? Mau nikahin Rena? Jika terbukti Rena hamil?" ucap Rena pelan.
Renata memang licik sekali. Ia melempar masalahnya kepada Pak Agus dosen pembimbingnya itu.
"Kamu yakin hamil dengan saya? Kalau kamu yakin, rawat kandunganmu dan test DNA. Baru saya percaya," ucal Pak Agus tegas.
Pak Agus bukan lelaki bodoh. Ia sudah sering menikmati tubuh mahasiswinya yang menginginkan nilai baik atau lulus sempurna saat sidang skripsi. Dan Renata bukan wanita pertama bahkan sudaah puluhan wanita.
Renata melotot tajam.
"Bapak sudah gila!! Rena wanita baik -baik," ucap Renata mencari pembelaan.
"Kalau kamu baik. Tidak mungkin gua mu itu sudah melebar tanpa titik noda. Kamu pikir saya dosen culun yang bodoh soal beginian?" ucap Pak Agus kasar.
Pak Agus merogoh kantung belakang celananya dan mengambil sebuah domlet hitam. Ia lalu mengambil beberapa lembar uang merah dan di lempar ke atas kasur.
Renata menatap tajam ke arah lembaran uang merah yang banyak berhamburan di kasur.
"Apa maksud Bapak?" tanya Renata kesal.
"Seharusnya kamu berpikir lebih jauh Rena!! Kamu pikir saya tidak tahu siapa kamu!! Kamu memang pantas saya bayar seperti ini setiap kali saya pakai," cetus Pak Agus lantang. Suaranya memang sengaja di naikkan delapan oktaf agar Renata itu jera.
Renata tak terima. Ia bangkit berdiri dan berjalan menghamliri Pak Agus. Tangannya sudah di angkat dan akan di layangkan di pipi Pak Agus.
Dengan cepat Pak Agus menangkap tangan mungil milik Renata. Lalu di pelintir ke belakang.
"Awww ... Sakit Pak!! Lepaskan!!" teriak Renata kesakitan.
Pak Agus melepaskan tangan Renata. Lalu mendorong gadis itu tanpa peduli dab jatuh ke lantai.
"Saya sudah baik memberi kamu obat!! Kalau kamu nekat tetap menjaga kandungan kamu!! Saya gak peduli. Dan saya gak akan mau tanggung jawab terhadap wanita seperti kamu!!" tegas Pak Agus.
Pak Agus keluar dari kamar itu dan menutup dengan membanting pintu kamar hingga membuat Renata terkejut bukan main atas perlakuan Pak Agus.
Selama ini dosen pembimbingnya itu lemah lembut begitu perhatian, trkuhat sayang, dan pecinta esek -esek yang membuat Renata mabuk kepayang juga.
Tapi di balik sikap nya yang baik dan ramah itu ternyata tersimpan taring macan yang siap mengaum untuk menakuti lawannya tanpa peduli lagi.
Renata berpikir keras. Bagaimana ia bisa mengatasi masalahnya. Tapi ... kehamilannya tidak bisa di tutupi lagi setelah beberapa bulan ke depan. Apa obat penggungur itu adalaj penyelesaiannya?
Skip ...
Clara dan Rey sudah betada di dalam mobil. Keduanya tidak sempat sarapan pagi. Clara sudah kesal karena ia bakal kesiangan dan datang terlambat di tempat magang. Clara kan masih anak bawang, bisa -bisa ia di bully oleh karyawan tetap atau senior atau malah dengan sesama karyawan magang yang julidnya bukan main.
__ADS_1
Kepala Clara bergoyang bergeleng. Tak kuasa membayangkan jika benar itu terjadi.
Rey melirik ke arah Clara yang sedang memghoyangkan kepalanya dengan kedua mata terpejam. Rey bergidik ngeri. Takut kalau istrinya kesurupan.
"Hei ... Kamu kenapa sayang? Baca mantra atau kesurupan?" tanya Rey menahan tawa dan tetap terlihat stay cool menyetir mobilnya.
Clara melirik tajam ke arah Rey dan menjulurkan lidahnya karena kesal.
"Dih ... beneran kesurupan nih bini gue," ucap Rey terkekeh.
"Huh ... Bisa ya? Bercanda? Ini tuh genting banget. Masuk jam tujuh pagi, ini udah jam tujuh kurang lima belas menit. Clara belum tahu tempatnya kayak apa? Orang -orangnya kayak gimana Pak!! Clara takut banget," ucap Clara ketus. Dia benar -benar takut, berasa mau di suntik sama dokter saja.
Rey cuma melirik sekilas dan tak menangapi. Perempuan itu tipenya hanya dua. Pertama, perempuan selalu benar. Kedua, kalau perempuan salah maka lihat poit pertama. Jangankan berdebat masalah takut. Masalah kecil saja urusan sabun mandi bisa jadi masalah besar karena salah meletakkan posisinya saja.
"Tarik napas yang dalam. Ikuti saya," titah Rey dengan suara pelan tiba -tiba.
Rey mencontohkan menarik napas panjang dan dalam lalu di tahan sebentar dan di hembuskan pelan melalui hidung dan mulutnya.
Clara menoleh dan menatap Rey, suaminya yang sedang mencontohkan padanya untuk di ikuti.
"Tarik ...." ucap Clara menitah. Seolah ia sedang menjadi tutornya.
Rey pun menarik napas dalam.
"Tahan sayang," ucap Clara pelan.
Rey pun menahannya dan .... terdengar suara merdu dari belakang jok yang duduki oleh Rey. Rey segera menghembuskan napasnya kasar.
Tuttt ...
"Bunyi apa tuh? Merdu amat suaranya. Kayak manuk emprit kecepit," ucap Clara mencari asal suara.
Clara pun menunduk dan mencari suara yang tak muncul lagi itu. Tapi ... hemmm bau apa ini? Clara menegakkan duduknya dan menatap tajam ke arah Rey sambil menutup hidungnya dengan jari telunjuk dan jempolnya erat sekali.
Clara tak tahan dengan baunya yang teramat busuk sekali. Ia pun menurunkan kaca jendelanya dan menghadapkan wajahnya ke arah jalan raya sambil menghirup dalam udara yang mulai bercampur polusi udara dari knalpot kendaraan.
Rey tertawa keras. Ia tak bisa menahan ingi tertawa sejak tadi.
"Maaf sayang kelepasan," ucap Rey dengan suara lembut.
"Kelepasan kok bau telur busuk. Pak Rey makan apa sih?" cicit Clara kesal sekali.
"Makan apa? Kemarin makan jus duren sama asinan bogor," ucap Rey mengingat saat siang ia makan siang bersama dengan dosen senior lainnya.
Clara tak peduli. Ia tetap fokus pada jalan raya yang di tatapnya.
Rey sengaja menutup kaca jendela dari tombol pinggiran pintunya hingga membuat tangan Clara hampir saja terjepit. Raut muka Clara makin masam dan kesal sekali.
"Pak Rey!! Sakit tahu!!" kesal Clara yang malah makin membuat Rey gemas dan senang menggodanya.
Rey hanya terkekeh saja smabil fokus melajukan mobilnya menuju tempat magang Clara.
Tepat pukul tujuh kurang lima menit, Clara sampai di halaman kantor. Rey sengaja mengantarkan Clara tepat di depan pintu masuk lobby.
Clara menurunkan kaca spion tengah dan menatap rambutnya masih utuh atau tidak. Tadi sempat kena angin puntir bisa saja cepolannya agak berantakan.
"Jangan nakal ya," ucap Rey lirih sambil menatap Clara yang bersiap turun.
"Iya Pak. Gak nakal," jawab Clara pelan sambil akan menyemprotkan minyak wangi ke pakaiannya dan bagian lehernya.
__ADS_1
Minyak wangi itu langsung di serobot oleh Rey dan di tutup di letakkan di tempat pinggir joknya.
Clara menatap Rey tajam.
"Udah sana turun. Magang yang bener. Kenapa? Gak suka kalau minyak wanginya di ambil?" tanya Rey ketus dan tatapannya tajam.
"Gak Pak. Clara magang dulu," jawab Clara pelan tak berani bersuara keras.
Clara membawa tasnya dan membuka pintu mobil lalu turun. Hari ini Clara harus memakai sepatu hak tinggi.
Saat keluar daru mobil Rey. Clara menarik napas dalam. Sikap Rey aneh sekali. Sanagt aneh. Masalah minyak wangi aja jadi masalah. Tak pernah Clara melihat tatapan Rey begitu kejam dan garang seperti tadi.
"Sayang!!" teriak Rey keras dari dalam mobil.
Clara pun menoleh ke arah Rey yang melambaikan tangannya memanggil Clara untuk kembali ke mobil.
"Apa Pak?" jawab Clara cepat sanbil berjalan menghampiri Rey yang berada di dalam mobil.
"Kamu lupa? Apa pura -puta lupa?" tanya Rey mendelik.
Clara nampak kebingungan sekali.
"Lupa apa? Kan memang cuma bawa tas saja," ucap Clara pelan.
"Ini," ucap Rey sambil menunjukkan tangannya.
"Belajar jadi istri yang baik," imbuh Rey dengan suara ketus.
Clara mengangguk pasrah. Ia langsung menarik tangan Rey dan mencium punggung tangan itu dengan hormat.
"Clara masuk ya Pak," ucap Clara kemudian dengan sopan.
"Ini belum," ucap Rey menunjukkan pipi kanan dan kirinya yang juga minta di cium oleh Clara.
Clara menatap ke arah depan lalu mengedar ke arah sekelilingnya. Jangan sampai ada yang lihat. Bisa berabe nantinya. Malunya itu gak ketulungan.
"Ini di kantor Pak. Malu dong," ciciy Clara ragu.
"Justru ini di kantor. Biar semua orang tahu. Kamu itu mikik saya. Jadi janhan ada yang noel," ucap Rey mulai memuncak emosinya.
"Bapak kenapa sih? Gak biasanya begini? Ini kan cuma magang Pak," cicit Clara sendu.
Clara merasa Rey terlalu berlebihan sekali.
Mencemaskan sestuanhal yang gak pasti jatuhnya malah fitnah.
"Menurut kamu? Saya kenapa? Masih bisa nanya saya kenapa?" tanya Rey mulai tak karuan.
"Udah ah. Clara telat nih. Daadaa ... Pak Dosen mesum tersayang," goda Clara terkekeh dan pergi begitu saja dari hadapan Rey.
Rey tak mau kalah. Ia melihat sudah banyam orang yang lalu lalang dan ia segera keluar dari mobilnya dan mengejar Clara dan menggapai tangan istrinya hingga Clara membalikkan tubuhnya drnga terpaksa dan tak seimbang karena sepatu hak tinggi yang ia pakai.
"Hati -hati kalau jalan. Fokus sama jalan bukan opa- opa korea dalam dunia halu kamu itu," ucap Rey sengaja berbisik membuat Clara semakin tak enak hati di lihat oleh beberapa orang yang juga mau masuk ke dalam lobby.
Cup ...
Rey sengaja mencium pipi kanan Clara. Lalu pergi begitu saja memnuat Clara mengusap pipi kanannya dengan tangan. Ia terkejut sekali. Rey benar -benar aneh sekali hari ini.
Mobil Rey sudah berlalu dari hadapannya dan Clara masih takjub dengan perlakuan Rey baru saja.
__ADS_1
"Hei ... ngelamun aja!! Kamu anak magang baru? Itu tadi om kamu ya?" tanya lelaki yang sudah ada di belakang Clara.
Lelaki muda seusianya dan tampan. Wajahnya mirip dengan opa -opa korea halunya. Putih, matanya indah dan rambutnya lemes kayak kain sutera.