
Clara memandangi Radit yang terlihat penuh semangat dan antusias. Pikiran Clara mulai kacau dan buruk terhadap Radit.
"Dit ...." panggil Clara tiba -tiba pada Radit. Clara punya feeling yang tidak enak, sesuatu akan terjadi.
Radit yang bersiap peri dengan dua saudara kembar buah hati Clara pun menoleh ke arah Clara.
"Kenapa Ra?" jawab Radit santai tanpa memiliki rasa bersalah sama sekali.
"Lio dan Lia ikut pulang dulu deh. Biar ganti baju, makan siang di rumah, baru deh pergi di taman deket kompleks aja. Di sana ada taman juga yang jualan es krim," jawab Clara sedikit ragu dan penuh rasa cemas.
Walaupun Clara sudah mengenal Radit denagn baik, bahkan Radit itu keponakannya, tetap saja, Clara was -was. Clara hanya tidak ingin ditanya macam -macam oleh Rey dan berakhir keributan dalam rumaha tangganya.
Mendengar ucapa Clara, Radit memutar kedua bola matanay dengan malas. Radit kecewa pada Clara, moodnya hilang seketika. Bisa -bisanya Clara itu ragu dan tidak percaya pada Radit. Jelas terlihat dari sort kedua mata Clara yang terlihat cemas dan khawatir tingkat tinggi.
"Kamu kira aku penculik? Pedofil gitu? Sampai kamu gak percaya gitu sama aku, Ra," cetus Radit dengan perasaan campur aduk. antar kesal, dan sedikit emosi serta gemes ingin memukul sesuatu tangannya untuk meluapkan rasa tidak sukanya itu.
"Bu -bukan gak percaya. Kamu tahu, Lio dan Lia itu agak unik. Mereka berdua bisa buat kamu repot, karena mereka gak pernah pergi dengan orang lain kecuali dengan Papah dan Mamahnya. Takutnya baru sampai Taman Kota, mereka minta pulang. Lebih baik, kamu aja yang main ke rumah, itu lebih aman," ucap Clara berusaha tenang dan mencari alasan yang tepat dan masuk akal. Minimal penjelasannya bisa di terima oleh akal sehat Radit agar tidak menyinggung lelaki jomblo itu yang sengaja menunggu Lia dewasa untuk di nikahi.
Radit menyipitkan kedua matanya. Kedua tangannya sudah menggandeng Lio dan Lia yang akan di giring masuk ke dalam mobl mewahnya.
"Kamu yakin? Kalau ucapan kamu itu bukan sebuah dusta dan omong kosong untuk membuat jarak antara aku dan Lia?" tanya Radit langsung to teh point.
Clara menggelengkan kepalanya dengan cepat dan menjawab, "Sama sekali gak."
Wajah Clara terlihat menahan rasa takutnya. Jangan sampai, ia kena semprot Rey yang bakal ceramah tujuh hari tujuh malam hanya gara -gara masalah ini.
"Oke. Aku yang antar pulang ke rumah. Apa Om Rey juga akan jemput?" tanya Radit kemudian.
"Gak. Mas Rey gak bisa jemput. Lagi banyak mahasiswa yang bimbingan," jawab Clara singkat dan tak mau bahas soal Rey dulu karena pikiran Clara makin kacau.
Clara setuju ikutpulang ke rumahnya dengan Radit. idak ada pilihan lain selain nebeng pulang bersama Radit.
***
__ADS_1
Akhirnya Radit bisa membawa Lia pergi walaupun harus bersama Lio juga ke Taman yang ada di komplek perumahannya yang elite. Benar kata Clara, Taman di kompleknya itu juga tak kalah seru dengan Taman kota yang lebih besar dan lebih banyak pilihan makanan yang di jual di sepanjang trotoar dan pilihan permainan anak yang memang gratis sebagai fasilitas dari Taman.
Setelah makan siang, Clara bari memberikan ijin Lio dan Lia pergi untuk makan es krim. Itu juga tidak lama, hanay satu jam. Clara tidak mau pas Rey datang kedua anaknya belum pulang dan tidak tidur siang.
Radit duduk di taman menatap keceriaan Lio dan Lia yang memang masih kanak -kanak. Senyum Lia yang mencurahkan ketulusan dan keceriaan pun membuat Radit semakin jatuh hati pada gadis kecil itu.
"Arghhh ... Kenapa kamu masih kecil sekali? Kapan kamu dewasa, dan siap untuk aku lamar. Walaupun aku tahu, Mamah dan Papah kamu ragu dan pasti akan menentang hubungan kita. Tapi, akan aku pastikan, mereka menyetujui hubungan kita," batin Radit di dalam hatinya.
Tanpa Radit sadari lamunanya buyar ketika Lia menghmapirinya dan duduk di samping Radit sambil memakan es krimnya yang ada di tangannya.
"Kak Radit ngelamunin apa? Lagi lihat cewek itu ya?" goda Lia dengan suara manjanya.
"Hah? Cewek? Mana?" tanya Radit menatap Lia yang menunjuk jari telunjukknya pada seorang gadis cantik yang sedang membeli cemilan pada satu gerobak. Lumayan cantik dan manis, dan usianya terlihat lebih matang, mungkin baru kuliah.
Radit menoleh ke arah Lia dan tersenyum manis.
"Anak kecil sukanya godain Kak Radit ya. Padahal dari tadi Kak Radit gak lihat itu cewek. Lagi pula biasa saja," ucap Radit santai sambil menyandarkan tubuhnya di kursi besi yang ada di taman itu. Lio sendiri masih asik bermain pasir dan membuat bangunan dari pasir tersebut serasa berada di Pantai.
"Mamah ke Papah kalau lagi pergi ke Mall juga gitu. Pah lihat tuh ada cewek bohay, unyu -unyu, gemesin," ucap Lia menirukan gaya Mamah Clara kalau sedang menggoda Papah Rey dengan suara manja dan kesalnya. Mungkin saat itu Clara sedang kesal karena Rey menatap gadis lain secara tidak langsung padahal sedang melamun. Pandangannya seolah ke gadis lain, tapi pikirannya melayang ke arah lain.
"Kamu lucu banget sih. Kalau Mamah Clara lagi godain Papah Clara itu tandanya Mamah Clara sayang sama Papah Rey," ucap Radit pelan menjelaskan.
Lia mengangguk paham dan menggigit es krim conenya.
"Kak Radit ...." panggil Lia pelan.
"Iya sayang," jawab Radit dengan lembut.
"Kak Radit itu baik," ucap Lia polos.
"Oh ya ... Semua orang baik, Lia," ucap Radit menjelaskan.
"Gak semuanya, ada yang gak baik juga," ucap Lia pelan sambil mengunyah gigitan es krim conenya.
__ADS_1
"Siapa yang gak baik?" tanya Radit penasaran. Apakah mungkin ada orang lain yang di kenal Lia selain dirinya.
"Kalau lihat di televisi, anak -anak yang di kasih es krim terus di culik," ucap Lia jujur.
Sontak ucapan itu membuat Radit tertawa keras.
"Ya ampun Lia, gak dada hubungannya Kak Radit sama orang -orang yang ada di televisi. Mereka menculik dan tidak ijin sama orang tua si anak. Kak Radit tadi ijin sama Mamah Clara untuk bawa kamu jalan -jalan," ucap RAdit pada Lia.
Begitulah isi obrolan pria dewasa berumur dua puluh delapan tahu dengan anak gadis yang baru berusia lima tahun. Obrolan santai yang hanya ingin membuat dan memberi kesan baik di memori Lia hingga dewasa nanti.
"Kak Radit ... Kak Rait taampan kayak Papah," puji Lia saat menatap Radit dengan senyum menawan dan pesona yang makin membuat para kaum hawa larut dalam kekaguman. Sama seperti gadis manis yang diam -diam menatap Radit dari balik gerobak yang menutupinya sambil berdecak kagum.
***
Satu jam sudah berlalu, tidak terasa waktu kebersamaan mereka sudah habis. Radit yang merada di Indonesia tidak lama, paling hanya satu minggu itu tidak mau mneyia -nyiakan waktu dan kesempatan yang ada untuk bertemu Lia setiap hari. Kemungkinan ia akan pulang setiap enam bulan sekali dan memastikan Lia tetp dalam keadaan baik.
Lio sudah berlari kecil lebih dulu sedangkan Lia berada dalam gendongan Radit.
BRUK ...
"Arghhh ...." teriak Lio yang tak sengaja menbrak seseorang karena kecerobohannya. Lio berlari sambil tertawa mengejek Lia yang malah di gendong oleh Radit.
"Kak Lio!!" teriak Lia keras saat Lio mengaduh dan memegang lututnya yang berdarah karena lecet tergesek oleh jalan setapak di Taman itu.
Radit dengan cepat membantu Lio berdiri dan meniup luaknya.
"Maaf, saya tidak sengaja," ucap seorang gadis yang nampak tersenyum manis ke arah Radit.
"Ekhemmm ... Iya gak apa. Kamu gak apa Lio? Kak Radit gendong saja ya," titah Radit ayng kemudian menggendong Lio dan Lia bersama dalam dekapan tangan yang berbeda. Cukup pegal juga.
"Namaku Puspa, Kakak namnaya Kak Radit?" tanya Puspa to the point yang mendengar ucapan Radit bicara menamakan dirinya Kak Radit.
"Iya. Permisi," ucap Radit tak banyak bicara, lalu pergi begitu saja meninggalkan Puspa yang masih dengan rasa penasaran.
__ADS_1
"Cuek amat," cicit Puspa lirih.