PAK DOSEN, I LOVE YOU

PAK DOSEN, I LOVE YOU
66


__ADS_3

Rey pergi begitu saja meninggalkan Clara sore itu dan keluar dari kamar tidurnya. Clara hanya diam menatap punggung Rey yang menghilang dari pintu kamar tidurnya setelah di tutup agak keras oleh Rey.


Clara menunduk dan menatap lantai. Kedua matanya basah, ada perasaan bersalah karena tak bisa memenuhi hasrat suaminya sore ini. Pelan Clara mulai mengancingkan pengait wadah susunya di bagian punggung dan kembali mengancingkan kancing kemejanya.


Clara masih duduk di tepi ranjang dan Clara memilih untuk mandi agar membuat tubuhnya lebih terasa enteng dan rileks.


Clara masuk ke dalam kamar mandi dan mengisi campuran air hangat dan air dingin di dalam bathup. Clara menurunkan pakaian dalamnya dan betapa terkejutnya Clara melihat tidak ada darah sama sekali di kain yang di pakai sebagai alas pakaian dalamnya.


Lalu? Tadi pagi darah apa? Batin Clara dalam hati. Tapi pagi tadi terlihat banyak ada lendir juga.


Tapi Clara sama sekali tak terasa sakit perut, tapi memang sempat mulas sedikit terus rasanya menghilang begitu saja.


Clara santai berendam di dalam bathup yang sudah di beri aroma terapi rempah -rempah. Aroma terapi itu menusuk hidung sama seperti aroma wangi putri keraton atau putri keturunan keraton.


Clara membersihkan seluruh tubuhnya dengan air dan menggosokkan sluruh lipatan tubuhnya. Tubuhnya di turunkan hingga kepalanya juga masuk ke dalam bathup dan keluar lagi. Rasanya pengab dan gelap.


Lima belas menit kemudian Clara sudah masuk kembali ke dalam kamar dan memakai pakaian yang agak terbuka. Pakaian yang di berikan oleh Ibunya saat ia akan kembali ke kota bersama Rey setelah hari pernikahannya.


Clara ingat nasihat ibunya saat itu. 'Apapun yang di inginkan suamimu, sebisa mungkin kamu turuti dan kamu lakukan. Kamu harus banyak belajar memuaskan dan melayani suami di ranjang. Kalau laki -laki urusan ranjang terpuaskan urusan lain itu nomor dua. Kalau laki- laki sudah di puaskan hasratnya oleh istri setiap hari, maka ia tidak akan mencari kenyamanan dan kenikmatan dari wanita lain. Jadi, satu hal pesan Ibu, gaknusah malu untuk belajar, gak usah malu di depan suami, fokus untuk melakukan yang terbaik karena itu cara untuk menjaga keutuhan rumah tangga kamu. Ingat kata pepatah, kucing pun akan betah di rumah kalau menu makanannya bisa berubah setiap waktu tidak hanya ikan asin, tapi bisa ikan tongkol atau ayam goreng. Paham kan maksudnya?'


Ya, itu nasihat ibu saat memberikan pakaian jaring -jaring yang sangat meresahkan saat di pakai nanti.


Clara memakai pakaian jaring -jaring itu tanpa pakaian dalam. Baju warna hitam menerawang dengan rambut yang masih basah terurai di punggungnya. Tidak lupa Clara mulai berdandan tipis dan memakai hand & body lalu memakai minyak wangi di sekitar area leher dan belakang kuping.


"Sepertinya menurut artikel dari mbah google kayak begini. Apa yang kurang ya?" tanya Clara lirih pada dirinya sendiri sambil berkaca di depan cermin. Clara berusaha mengeringkan tetesan air dari rambut menggunakan handuk kecil dan menggunakan hair dryer agar helain rambutnya benar -benar kering.


Di depan cermin, Clara berlenggak lenggok sambil berbicara sendiri seperti sedang belajar merayu dan menggoda Rey seolah lelaki tampan yang kini menjadi suaminya itu ada di sampingnya. Tangannya ikut di gerakkan dan malah mirip seperti wanita penggoda. Berkali -kali Clara terkekeh sendiri melihat kelakuannya yang absurd ini. Clara seperti sedang menghafalkan dialog dan sedang belajar akting.

__ADS_1


Clara menyibakkan rambutnya yang kering lalu menguncir menjadi satu ke atas hingga lehernya yang mulus dan jenjang begitu terlihat menggairahkan.


"Ahh ... Cantik juga ... Gak kalah sama mbak -mbak yang terpampang di majalah dewasa," kekeh Clara.


"Tubuh Clara juga seksi ... Bibir sensual juga ... Gak kalah kan? Sama Renata bohay itu," cetus Clara menghibur diri.


Ukuran gunung semerunya memang tidak sebesar milik Renata yang bulat seperti semangka tapi rasanya tentu tak aklah nikmat. Nyatanya Rey betah berlama -lama di sana.


"Apa memang harus di mulai duluan. Minta maaf terus tunjukkin nih serabi gembil. Kayaknya Mas Rey bakal luluh kalau di kasih yang enak -enak," imbuh Clara pelan.


Ceklek ...


Rey masuk ke dalam kamar tidur mereka dan menatap aneh Clara yang sedang berjoget -joget sensual di depan cermin kaca rias.


Melihat ada bayangan suaminya masuk ke dalam kamar dan menatap Clara dari pantulan cermin. Clara pun berlari menaiki kasurnya dengan cepat dan menutup tubuhnya yang setengah polos dengan selimut tebal. Clara seperti malu rasanya di tatap aneh begoti oleh Rey barusan.


Clara membuka sedikit selimut tebalnya dan mengintip sambil menatap Rey yang berpura -pura tak melihat kejadian aneh baru saja. Rey benar -benar cuek dan tak menyapa Clara seperti biasanya.


Sakalr lampu di matikan semua dan tak ada satu lampu yang menyala termasuk lampu tidur. Rey merbahkan tubuhnya dan menyelimuti sebagian tubuhnya dengan selinut tebal yang sama dengan Clara lalu memiringkan tubuhnya dan membelakangi Clara.


Keduanya saling diam seribu bahasa dan tak ada yang membuka percakapan. Clara sendiri masih bingung tentang darah tadi tapi ia juga tidak mau berlarut -larut di diamkan seperti ini.


Rey juga memeluk guling sambil menatap lurus ke arah lantai. Rasanya tisak enak tidak bicara dengan istri sendiri. Tapi gengsi juga mendahului.


Clara menatap langit -langit kamar yang gelap dan sama sekali taidak ada pencahayaan.


Beberapa menit kemudian ...

__ADS_1


Clara menarik napas dalam dan panjang. Mungkin sudah saatnya ia yang harus meminta maaf atas kejadian kurang menyenangkan tadi sore.


Begitu juga dengan Rey yang merasa bersalah telah mengedepankan egonya untuk melampiaskan hasratnya. Seharusnya hal -hal seperti ini di bicarakan biar sama -sama enak dan sama -sama belajar lebih bauk untuk ke depannya. Mau Rey bagaimana? Mau Clara bagaimana?


Keduanya serempak membalikan tubuhnya dan saling berhadapan dan saling bertatapan lalu bicara lantang bersamaan.


"Ra ...."


"Mas Rey ...."


"Lady first ...."


"Mas Rey duluan aja,"


Keduanya kembali terdiam. Degub jantung Clara makin keras berdegub dan ia semakin gugup. Clara mencoba menarik napas pelan agar lebih tenang dan bisa mengontrol emosi kegugupannya.


Tangan Rey menggenggam tangan Clara lalu di cium punggung tangan itu lembut. Clara hanya menatap perlakuan manis Rey pada dirinya.


"Mas Rey ...." suara lirih Clara malah terdengar memdesah. Padahal ia sedang menahan gejolak rasa gugup yang terus membuat dadanya keras berdetak.


"Bicaralah kalau kesal dan marah. Jangan di simpan sendiri," titah Rey pelan.


Clara merapatkan tubuhnya dan memeluk Rey erat. Kedua tangannya mengalung ke leher Rey dan kepala Clara menempel pada bahu Rey. Sesekali Clara mencium rahangbkeras milik Rey membuat lelaki itu semakin merasa aneh terhadap istrinya.


"Jangan menggoda saya, Clara. Saya tidak pernah bisa menahan hasratnya saya setiap melihat tubuh kamu menari indah di depan saya," ucap Rey berbisik lembut. Napas Rey memburu namun berhasil di pelankan agar suhu panas di ranjang itu tak langsung meledak.


Jangan salah si joni sudah menegang sejak tadi. Pakaian dalam Rey sudah penuh sesak karean si joni mulai berontak dan menongolkan kepalanya yang sedikit basah.

__ADS_1


"Clara tidak sedang menggoda," ucap Clara lirih.


Clara terus menciumi rahang Rey dengan ujung hidungnya yang mancung dan bibirnya mulai mengecupi perlahan di sekitar leher Rey.


__ADS_2