
Pagi ini Rey dan Clara berniat ke klinik terdekat untuk memeriksakan kondisi Clara yang kemarin pagi mengeluarkan darah. Pasangan pengantin baru itu butuh kejelasan perihal darah yang mereka keluarkan itu adalah darah apa? Kalau benar darah menstruasi kenapa hanya keluar pada saat itu saja.
Clara dan Rey sudah berada di dalam mobil menuju klinik. Tumben sekali pagi ini tidak ada drama aneh di antara mereka berdua. Mungkin karena keduanya juga panik dan takut akan hasil dari dokter nanti. Rey pun sejak malam kalem sekali tak berani menyentuh Clara dan mereka tertidur pulas dengan mimpi buruk merrka masing -masing.
Di dalam mobil Rey dan Clara terdiam sejak berangjat tadi. Rey yang memang sedang tidak ingin bicara. Sedabgkan Clara sudah berpikir buruk tentang apa yag sesungguhnya terjadi pada dirinya.
Kebetulan lampu merah menyala. Rey mengehntikan mobilnya cukup dalam barisan yang panjang. Pagi yang padat sekali. Semua orang akan melakukan aktivitasnya mulai dari sekolah, ke kamlus, bekerja, ke pasar atau memnag melakukan perjalanan penting lainnya.
"Mas Rey ... Kok Clara deg -degan ya?" ucap Clara pelan.
Rey melepaskan kaca hitamnya lalu menatap ke arah istri labilnya itu.
"Kenapa harus deg -degan," tanya Rey santai.
"Takut," jawab Clara pelan.
"Ada saya. Untuk apa takut," jawab Rey sekenanya. Maksud hati, Rey ingin menjadi pahlawan hebat bagi sang istri yang tak takut pada apapun.
"Dih ... Yakin Mas Rey gak takut," tanya Clara melirik sinis.
"Kamu itu aneh. Takut apa? Kita ini cuma mau periksa perihal darah kemarin. Terus kita butuh penjelasan. Kalau kenapa? Ya, di obati. Kalau tidak kenapa -kenapa berarti si joni aman sering -sering berkunjung kesana. Simpel kan? Terus bagian takutnya itu dimana?" tanya Rey pada Clara.
"Hee ... Mas Rey itu terlalu santai. Terus kalau Clara di vonis kenapa? Umur Clara pendek dan tidak lama lagi. Pengobatan pun percuma karena ini penyakit dalam dan bla bla bla ... dokter menjelaskan seperti itu. Mas Rey tetap santai? Terus kalau benar dalam dekat Clara ...." ucapan Clara tiba -tiba terhenti karena jari telunjuk Rey sudah berada dindepan bibir Clara untuk menyuruhnya diam dan tak melanjutkan pembicaraan omongbkosong penuh drama derita yang berujung pemikiran buruk.
Tatapan Rey tajam pada Clara yang kii juga menatap ke arah suaminya. Rey melepaskan telunjuknya dan mengusap pipi Clara pelan lalu tangannya mengacak lembut pucuk rambut Clara dengan perlakuan manis sekali.
"Saya gak suka kamu bicara begitu lagi. Kalau saya gak peduli dan gak khawatir dengan kondisi kamu. Buat apa saya repot -repot pagi begini mengantarkan kamu ke klinik. Inget, masalah kamu jadi masalah saya juga. Kamu itu istri saya, tanggung jawab saya," ucap Rey tegas.
Clara mengulum senyum. Manis sekali perlakuan Rey pagi ini membuat Clara menjadi wanita paling beruntung.
Tin ... tin ...
Mobil dari arah belakang sudah mengkode dengan klakson agar mobil Rey segera berjalan karena lampu lalu lintas sudah berubah menjadi hijau.
Rey melirik ke arah lampu lalu lintas dan menjalankan laju mobilnya kembali.
"Kenapa senyum -senyum? Lagi senang ya?" tebak Rey dengan cueknya.
"Ekhemmm ... Ternyata Mas Rey peduli sama Clara," cicit Clara pelan. Perasaan Clara terus bahagia saat ini.
"Lho harus peduli kan," ucap Rey santai.
__ADS_1
"Iya harus peduli. Kan kita suami istri," jawab Clara pelan menunjuk pada status mereka sebagai pasangan baru.
"Nah itu dia ... Kita pasangan suami istri. Itu tandanya ... apa?" tanya Rey pelan dan tetap fokus menyetir mobilnya.
"Apa? Saling memahami, pengertian dan menyayangi," jawab Clara sambil melirik ke arah Rey yang makin tampan saja.
Rey mengangguk pelan. Jawaban Clara sudah benar hanya kurang tepat saja menurutnya.
"Itu sudah pasti. Ada hal lain. Coba apa?" tanya Rey mengajak main tebak -tebakan di pagi hari begini.
"Ahh gak tahu lah. Clara mau merem bentar. Kalau sudah sampai kasih tahu ya Mas," ucap Clara mengkahiri perdebatan kecil mereka.
Rey hanya melirik sekilas dan memang benar Clara sudah bersandar pada jok mob dan memejamkan kedua matanya. Rambut panjangnya di kedepankan terbagi dua di sisi kanan dan kiri. Wajah Clara yang cantik paripurna dengan make up tipis pun membuat Rey semakin menggilai mahasiswinya ini.
Tangan Rey menggenggam tangan Clara yang ada di panggkuan Clara dan di bawa ke pangkuannya. Sontak perlakuan yang semakin manis itu membuat hati Clara berdesir. Clara membuka matanya dan menatap tangannya yang sudah di genggam erat oleh Rey.
"Pinjam tangannya ya. Kamu lanjtkan saja meremnya," ucap Rey lembut melirik sekilas ke arah Clara yang merasa aneh dengan sikap Rey pagi ini.
"Iya." Clara menjawab singkat dan tak banyak pertanyaan lagi. Ia tak mau menyinggung di saat yang tidak tepat dan dapat merubah mood seseorang.
Rey sendiri merasa kini lebih sayang lada Clara. Sikapnya mendadak posesif dengan semua kegiatan Clara yang tanpa ada dirinya.
"Ekhemm Mas Rey ... Kita belum beli nomor untuk kartu sim," ucap Clara mengingatkan.
"Asal tidak menyimpan nomor lawan jenis. Itu kan yang mau Mas Rey jngatkan pada Clara," ucap Clara oada Rey.
"Yup. Betul dan telat sekali. Karena ...." tanya Rey sambil melirik dan memberikan senyum terbaiknya pada Clara dan masih menggenggam erat tangan Clara di pangkuannya.
"Karena .... Kita suami istri," jawba Clara terkekeh.
"Hemm ... Karena kita sudah bercampur dan saya tidak mau ada campuran lain," tegas Rey.
"Kayak es campur aja. Main campur -campur," jawab Clara mengulum senyum.
"Hemmm ...." Rey hanya berdehem saja.
Pagi ini membuat hati Clara tak cuma bahagia. Moodnya makin baik. Sebuah pengakuan yang tulus dari Rey semakin membuat Clara melayang tinggi.
Mobil Rey sudah masuk ke hallaman klinik dan memarkirkan mibilnya di parkiran ynag sudah di arahkan oleh satpam.
Lumayan juga mengantre di klinik tersebut. Padahal Rey dan Clara sudah datang pagi -pagi sekali. Kebetulan klinik itu adalah klinik umum.
__ADS_1
Keduanya sudah turun dari mobil dan berjalan ke arah lobby klinik. Rey menggandeng tangan Clara dengan erat. Karena ia melihat beberapa pasangan muda di sana melakukan hal yang sama.
"Kenapa banyak pasangan muda? Mana si cewek lagi hamil. Sweet banget sih kalau periksa aja di anterin. Mas Rey nanti gitu gak?" tanya Clara tiba -tiba.
Rey tertawa pelan tanpa menjawab.
"Kok malah ketawa sih," tanya Clara pelan.
"Pertanyaan kamu aneh Ra," ucap Rey pelan.
"Aneh gimana? Itu pertanyaan serius?" tanya Clara tak mau kalah.
Seperti biasa perempuan itu terlalu banyak harapan dan ber -angan jauh. Kadang eum terjadi saja, perempuan sudah bjsa membuat naskah sendiri yang endingnya seperti apa. Berbeda laki -laki yang selalu melakukan semuanya dengan spontan.
"Nanti kamu lihat saja. Makanya kamu hamil, biar kamu tahu, seberapa peduli saya sama kamu dan anak kita," tegas Rey tanpa basa basi.
Clara melirik Rey sekilas. Mendengar jawaban menenangkan hati begitu saja sudah berbunga -bunga bagi Clara.
Rey masuk ke lobby dan duduk di depan meja customer service untuk mendaftar dengan memberukan sedikit keluhan yang di keluhkan oleh istrinya kemarin.
"Baiklah. Langsung ke bagian obgyn dan di sebelah sana antriannya. Tinggal menunggu di panggil saja," ucap bagian CS tersebut.
Rey kembali merangkul bahu Clara dan duduk di bagian antrian lainnya tepat di depan ruang obgyn.
Banyak orang yang juga mengantri di depan ruangan itu. Terutama Mamah muda dan Ibu -ibu setengah tua yang datang sendiri ke klinik tersebut untuk memeriksakan diri.
Beberapa pasang mata menatap Rey yang ganteng mempesona dengan ketampanan yang paripurna. Di tambah sikap cuek dan dingi pada orang lain tapi begitu bucin terhadap Clara. Tangan Clara terus di genggam erat dan sesekali di usap pelan di bagian punggung tangan itu.
"Mas ...." bisik Clara.
"Hem ...." jawab Rey berdehem.
"Di lihatin tuh sama emak -emak," ucap Clara agak risih.
"Terus? Saya harus tutup wajah saya," bisik Rey pelan.
Clara memutar kedua bola matanya dengan malas. Rey kalau di beritahu malah membuat Clara kesal jawabannya. Rey hanya mengulum senyum menatap wajah Clara yang cemberut kesal.
"Gak usah cemburu sayang. Kan cuma kamu satu -satunya wanita yang bisa menikmati keperkasaan saya. Mereka hanya bisa menatap wajah saya," bisik Rey tertawa.
Suara tawa itu makin membuat Clara kesal.
__ADS_1
"Dasar mesum," ucap Clara kesal.