
"Lihat, kau begitu tidak sebanding dengannya bukan!"
Membaca pesan tersebut, membuat wajah Manisya terlihat sendu, kedua bola matanya tiba-tiba berkaca-kaca, dan airmatanya kini tak terbendung lagi ia tahan, Manisya kini menangis terisak untuk beberapa saat, betapa ia merasa sangat terpojok saat itu.
"Tidak, aku harus kuat!" Ucap Manisya sambil menyeka air matanya. Setelah itu, Manisya segera kembali ke tempat duduk nya dekat dengan Adam.
"Kenapa lama sekali?" Tanya Adam menatap ke arah Manisya, Adam melihat ada sesuatu yang aneh dalam raut wajah Manisya saat itu.
"Sepertinya kamu sangat merindukanku ya, baru sebentar saja aku pergi kamu udah uring2an begini!" Ucap Manisya mencoba menggoda Adam menghilangkan kesedihannya.
Adam tak menjawab ucapan Manisya, hanya menatapnya sangat dalam wajah gadis yang kini selalu berputar dalam fikirannya, ya benar, kali ini ada sesuatu yang aneh dengan Manisya.
"Apa kamu baik-baik saja?" Bisik Adam tak membiarkan orang lain mendengar ucapannya.
"Apa sangat terlihat jelas di wajahku?" Tanya Manisya.
Manisya mengangguk mengiyakan perkataan Adam kepadanya.
"Aku mau pulang!"
"Kamu mau pulang?" Adam mengangkat salah satu alisnya ke atas menatap penuh curiga pada Manisya.
"Kamu tidak menyukai acara seperti ini?"
Manisya mengangguk perlahan.
"Kalau begitu ayo kita pulang!"
Saat Adam dan Manisya hendak beranjak dari duduknya, tiba-tiba Seorang pembawa acara memanggil nama Adam, sebagai salah satu murid dengan nilai ujian yang paling bagus.
"Kita panggil, Adam Putra Hariyanto!" Teriak MC memanggil nama Adam, saat itu Adam dan Manisya yang tengah berdiri saling menatap.
Manisya menganggukkan kepalanya dengan perlahan memejamkan kedua matanya, "Pergilah kedepan!" Ucap Manisya secara perlahan.
"Tapi!" Kata Adam sedikit Ragu.
"Aku baik-baik saja, aku akan menunggumu!" Jawab Manisya kembali duduk di kursinya.
"Ayo Adam, Adam!" Seluruh teman-temannya berteriak memanggil Nama Adam sambil bertepuk tangan bersorak. Adampun segera berjalan ke atas panggung, untuk menerima sebuah penghargaan.
__ADS_1
"Sya cowok mu hebat sekali!" Kata Nina yang duduk sedikit berjauhan.
"Iya dong Nin, uda cakep, pinter lagi, ya kan!" Jawab Manisya dengan begitu bangga. Dengan seksama Manisya memperhatikan Adam, tentu saja tak mengalihkan pandangannya sedikitpun sampai akhirnya Adam selesai berbicara.
"Drrt Drrt Drrt!" Ponsel Manisya kembali bergetar.
"Aku kebelakang sebentar ya Nin!" Manisya hendak membuka sebuah pesan yang ia yakin itu adalah pesan dari seseorang yang selalu mengancamnya, Tak ingin Nina mengetahuinya, Manisya segera keluar dari aula sekolah mereka yang di sulap menjadi meriah itu.
Segera Manisya membaca pesan tersebut, Manisya membulatkan kedua bola matanya dan berteriak sangat histeris, namun tak Ada yang mendengarnya, Manisya menangis sejadi-jadinya seorang diri tanpa ada siapapun yang mengetahui nya. Manisya menghilang beberapa saat di acara perpisahan angkatannnya.
Tak lama Manisya duduk kembali bersama teman-temannya. Adam terlihat menatap Manisya dengan tajam melihat ada sesuatu yang aneh dengan raut wajah Manisya. Setelah itu Adam dan Manisya pamit meninggalkan acara terlebih dahulu kepada teman-teman nya.
Saat berjalan Adam menarik tangan Manisya, ia menggenggam nya dengan erat.
"Ada apa dengan wajahmu hari ini?" Tanya Adam.
"Wajahku?" Tanya Manisya.
"Apa hari ini aku sangat cantik sekali, hingga kamu begitu terpesona melihatku!" Jawab Manisya.
Adam menghentikan langkahnya, kemudian menatap wajah sendu milik Manisya, namun sayang, Adam tak melihat jelas wajah Manisya yang sedikit bengkak saat itu.
"Sedikit, aku hanya cantik sedikit?" Manisya berpura-pura memasang expresi marah.
"Em, apa aku boleh memelukmu?" Tanya Manisya.
Tak menjawab, Adamlah yang langsung mendaratkan pelukan hangat kepada Manisya.
"Seperti ini maksudnya?" Tanya Adam dengan melepaskan pelukannya kepada Manisya, begitu juga Manisya membalas pelukan Adam dengan sangat erat, hingga tak terasa air mata membasahi kedua pipinya.
"Kamu menangis!" Adam yang masih dipeluk Manisya meraih wajah Manisya dengan kedua pipinya. menggunakan tangannya Adam mengusap lembut air mata Manisya.
Manisya mengangguk, "Jangan menangis!" Kata Adam mengusap lembut bagian atas kepala Manisya kemudian memeluk kembali tubuh wanita yang ia sayangi itu.
Adam membiarkan Manisya menangis tersedu-sedu dalam pelukannya, tak banyak bertanya ia hanya memeluk erat Manisya dengan hangat.
Setelah Manisya sedikit tenang dan menghentikan tangisannya, merekapun melepaskan pelukannya.
"Maaf karena membuatmu menangis!"
__ADS_1
Manisya menggelengkan kepalanya menolak ucapan Adam.
"Tidak perlu minta maaf, aku hanya merasa sedih kita akan meninggalkan sekolah yang penuh kenangan ini!" Jawab Manisya wajahnya mulai berubah sendu kembali.
Tiba-tiba Manisya memeluk Adam kembali dan berkata, "Terimaksih untuk semuanya!"
***
Beberapa hari kemudian.
Hari ini merupakan hari dimana keberangkatan Adam menuju Amerika untuk melanjutkan kuliahnya di sana. Adam terlihat sudah bersiap berada di bandara, hari itu Manisya berjanji akan datang ke bandara untuk melepas kepergian Adam, namun lima belas menit telah berlalu dengan apa yang Manisya janjikan kepadanya, namun Manisya urung terlihat batang hidungnya di sana, membuat resah hati Adam.
Kini Tiga puluh menit telah berlalu, waktu yang Adam sengaja lebihkan untuk meluangkan sedikit waktunya bersama Manisya, namun Manisya masih belum terlihat keberadaannya.
Adam berusaha meneleponnya, namun ponsel Manisya tidak aktif, bahkan sejak pagi sekali ponsel Manisya tidak aktif.
Adam terlihat berusaha menelpon Rangga, Samira dan Nina, meminta mereka untuk menghubungi Manisya, namun hasilnya sama, ponsel Manisya sama sekali tidak bisa di hubungi, bahkan ponsel kedua orang tuanya dan juga Gibran tidak aktif.
"Sial!" Adam terlihat sangat kesal, Adam seakan menyadari sesuatu. "Dia benar-benar merencanakannya!" Adam berkata dengan penuh emosi.
"Apa Manisya belum datang?" Tanya Sang ibu yang terlihat Khawatir melihat muka Adam. Adam tak menjawab perkataan ibunya, kini Adam diliputi oleh amarah kepada Manisya, karena secara tiba-tiba tak bisa di hubungi dan mengingkari janjinya untuk datang melepas kepergiannya untuk waktu yang lama ke Amerika.
"Menyebalkan!" Adam masih terlihat emosi saat memanggil telpon Manisya dan tetap saja sama ponsel Manisya masih tetap tidak aktif.
"Sayang ayo, pesawatnya akan segera take off!"
Dengan perasaan kesal sampai ke ubun-ubun karena Manisya yang tak datang melepas kepergiannya, akhirnya Adam bergegas pergi menuju pesawat bersama dengan kedua orangtuanya.
***
Sebetulnya pagi sekali Manisya datang ke bandara, dari awal kedatangan Adam dan kedua orang tuanya tentu saja Manisya melihatnya, ia juga menyaksikan bagaimana ekspresi kesal Adam saat menelepon, Manisya juga melihat Adam berusaha menelpon menanyakan kepada teman-temannya perihal keberadaan dirinya.
Manisya benar-benar melihat Adam hari itu, ia melihat laki-laki yang sangat ia sayangi itu dari kejauhan dengan menangis tersedu-sedu, ia sengaja mematikan ponselnya saat itu, ia melakukannya karena sebuah ancaman yang ia terima pada sebuah pesan miliknya.
"Maaf Adam, semoga kamu selalu sehat dan bahagia, aku sangat sayang kepadamu!"
Manisya mengirimkan pesan tersebut kepada Adam sebelum akhirnya ia mematikan kembali ponsel miliknya.
***
__ADS_1
Next, New Chapter.. Makasih yang selalu setia menunggu ❤️❤️❤️❤️