Pelangi Cinta

Pelangi Cinta
Bucin Pada Waktunya


__ADS_3

"Haha haha haha haha haha!" Rangga menunjuk Adam dengan tertawa terpingkal-pingkal.


"Ngapain Lo ketawa!" Adam menatap heran kepada Rangga yang tertawa lepas menertawakan sahabatnya itu.


"Gua baru tahu, yang namanya Bucin itu, tak hanya menimpa manusia biasa, manusia dengan kepintaran yang luar biasa pun bisa terkena bucin, contohnya Lo!" Rangga kembali menertawakan Adam.


"Apa maksud Lo!" Kali ini Adam menatap tajam ke arah Rangga.


"Laki-,laki akan bucin pada wkatunya saat bertemu wanita yang tepat!" Rangga masih menertawakan Adam sampai puas.


Adam hanya terdiam menatap Rangga dengan tajam.


"Sya, Lo apain dia, sampe segitu bucin nya!" Rangga menatap ke arah Manisya.


"Apa maksudmu, aku tidak melakukan apapun!" Manisya terlihat bingung dengan ucapan Rangga.


"Hadeuh kalian ini manusia-manusia paling aneh sedunia!" Ucap Rangga sambil menggelengkan kepalanya kepada Adam.


"Lo tau Dam, jangan pernah mengatakan hal itu pada laki-laki manapun, atau kamu akan di cap sebagai laki-laki dengan tingkat kebucinan paling tinggi di dunia, tingkahmu tidak sesuai dengan otakmu!"


Adam hanya terdiam, masih mencoba mencerna apa yang di katakan Rangga kepadanya, walaupun sebenarnya hingga sampai akhir Adam tidak mengerti, alasan kenapa Rangga berkata seperti itu kepadanya.


Sore harinya setelah jam pelajaran selesai, Samira, Nina dan Rangga sudah berpamitan Manisya yang masih duduk di kursinya, Manisya tak henti menatap ponsel yang ia letakkan di atas meja, Manisya mengetikkan sebuah pesan untuk ia kirim pada Adam yang sudah menunggunya di parkiran.


Isi pesan tersebut, "Adam, Kamu menungguku?"


"Ya." Jawab Adam dengan cepat membalas pesan Manisya.


Setelah melihat suasana sekolah sudah sepi, Manisya segera bergegas meninggalkan kelasnya menuju parkiran tempat Adam menunggunya sedari tadi, Manisya berlari dengan kencang merasa tak enak Adam sudah menunggunya sangat lama.


Manisya terlihat terengah-engah mengatur nafasnya saat sampai di tempat parkir, terlihat Adam memperhatikan nya dengan posisi sedang duduk di atas motor miliknya.


"Lain kali jangan lari seperti itu!" Ucap Adam menatap tajam ke arah Manisya.


"Maaf!" Manisya masih mengatur nafasnya yang masih tersengal-sengal.


"Maaf sudah membuat mu menunggu!" Manisya kini melanjutkan kembali langkahnya setelah sesaat ia hentikan untuk mengatur nafasnya.


"Tak perlu minta maaf!" Ucap Adam sambil menuruni motornya.


"Pakailah!" Adam memberikan sebuah helm kepada Manisya setelah Manisya mendekat kepada nya. Adam terlihat memperhatikan Manisya yang sedang memakai helm.


"Ayo!" Ucap Manisya ia merasa sudah siap untuk menaiki motor Adam.


"Pake helm nya yang betul!" Adam menatap tajam ke arah Manisya.


"Ini kan sudah!" Manisya menjawab dengan entengnya kepada Adam.


Seketika Adam menarik tali pengikat helm milik Manisya yang masih belum terpasang, membuat tubuh Manisya terguncang seketika mendekatkan tubuhnya pada Adam, di pasangkan nya tali pengikat helm tersebut dengan benar oleh Adam.


"Buk!" Adam memukul secara perlahan bagian atas helm yang di pakai Manisya.

__ADS_1


"Begini saja tidak bisa!" Ucap Adam setelah selesai mengikatkan tali helm yang di pakai oleh Manisya.


"Hehe, maaf aku lupa!" Manisya hanya tersenyum kepada Adam.


"Naiklah!" Ucap Adam yang sudah terlihat berada di atas motor miliknya.


"Em, apa aku boleh meminta kamu mengantarku ke suatu tempat?" Tanya Manisya sesaat sebelum naik ke atas motor dengan helm sudah terpasang lengkap di atas kepalanya.


Adam yang sudah siap degan posisi tangan memegang kedua handle bar motornya, seketika melepaskannya kemudian menegakan kembali posisinya badannya di atas motor, menatap penuh tanya ke arah Manisya.


"Suatu tempat?" Adam bertanya dengan mengangkat salah satu alisnya.


"Ya, ke sebuah rumah makan!"


"Rumah makan?" Tanya Adam kini dengan sebuah kerutan di dahinya.


"Ya, em mungkin tepatnya kesebuah restoran, Aku..!" Manisya hendak menjelaskan maksud dari perkataannya namun seketika terpotong oleh perkataan Adam yang segera menyambar ucapan Manisya karena rasa penasarannya.


"Kamu lapar? mau makan apa, akan aku antarkan, Cepatlah naik!"


"Bukan, bukan karena aku lapar, aku akan bekerja, ya aku akan bekerja!" Ucapan Manisya membuat Adam terlihat kebingungan.


"Bekerja? apa maksudmu, bukankah kita masih harus sekolah?" ucap Adam masih belum mengerti maksud ucapan Adam kepadanya.


"Ini hanya kerja sampingan saja, aku akan bekerja saat selesai sekolah!" Jelas Manisya mencoba meyakinkan Adam saat itu.


"Tapi aku tidak setuju, bagaimana kamu bisa membagi waktumu untuk sekolah dan bekerja, kita hanya seorang pelajar!"


"Aku tidak yakin kamu akan bisa belajar saat kamu bekerja nanti!"


"Kenapa kamu begitu?" Manisya terlihat kecewa mendengar ucapan Adam.


"Aku kan hanya berusaha!"


"Apa yang membuatmu tiba-tiba ingin bekerja?" Tanya Adam dengan mengapa Manisya penuh selidik.


"Kamu!" Jawab Manisya dengan penuh kepastian.


"Aku?" Adam menunjuk dada nya menggunakan tangannya, dan Manisya mengangguk secara perlahan mengiyakan ucapannya.


"Aku tidak menyuruh mu untuk melakukan pekerjaan sampingan!" Jelas Adam kepada Manisya.


"Kamu memang tidak menyuruhku untuk bekerja, tapi kamu membuatku ingin melakukannya!"


"Apa maksudmu?" Tanya Adam yang masih belum mengerti maksud ucapan Manisya.


"Hehe, tidak, tidak, maksudku aku hanya ingin menyusahkan orangtuaku, hanya ingin mengumpulkan untuk biaya masuk kuliah!"


Adam hanya mengangguk mengiyakan ucapan Manisya, dan Adampun mengisyaratkan bahwa saat ini ia mengerti maksud perkataan Manisya.


"Em, apa kamu tidak apa-apa jika ternyata aku tidak bisa melanjutkan kuliah?"

__ADS_1


Adam terlihat mengangkat kepalanya menatap Manisya dengan sungguh-sungguh kemudian berkata, "Tidak apa-apa, kamu akan tetap menjadi kamu!" Kata Adam sambil tersenyum kemudian menepuk pelan bagian atas helm yang di gunakan Manisya.


Manisya pun tersenyum menatap ke arah Adam setelah mendengar ucapan Adam yang membuatnya merasa tenang.


"Memangnya sampai jam berapa kerja nya?" Tanya Adam dengan mata masih menatap ke arah Manisya.


"Sampai jam 9 malam!" Jawab Manisya.


"Bukan kah itu terlalu malam?" Ucap Adam dengan menampakkan raut muka khawatirnya kepada Manisya.


"Menurutku juga seperti itu, tapi aku akan mencoba nya dulu, jika memang terlalu berat, aku akan mencari kerjaan yang lain!" Ucap Manisya menenangkan Adam.


"Jika itu berat, jangan terlalu di paksakan, itu akan mengganggu sekolah kita!" Tutur Adam masih di liputi perasaan khawatir.


"Iyah baiklah!" Jawab Manisya mengiyakan ucapan Adam.


"Naiklah, aku akan mengantarkan mu!" Adam kini bersiap melajukan motornya, setelah beberapa percakapan ia selesaikan dengan Manisya. Manisya pun segera menaiki motor milik Adam tersebut, dan akhirnya Adam melajukan motornya saat Manisya telah memberitahukan alamat restoran tempat ia akan bekerja.


Seperti biasa, Adam melajukan motornya dengan kecepatan sedang saat membawa Manisya di belakang punggungnya, ia tak membiarkan tangan Manisya lolos begitu saja bersembunyi di balik punggungnya, di tariknya tangan Manisya hingga membuat kedua tangannya berhasil melingkar pada tubuhnya.


Akhirnya motor yang di kemudikan Adam telah sampai pada restoran tempat ia akan bekerja.


Manisya pun segera turun dari motor kemudian membuka hendak membuka helmnya, Manisya terlihat kesulitan saat mencoba membuka tali pengikat helm tersebut.


Adam tersenyum dari balik helmnya kemudian berpangku tangan memperhatikan Manisya yang terlihat kesulitan membuka tali pengikat helmnya.


"Ish, susah sekali!" Manisya kini terlihat panik karena tali pengikat helmnya sulit di buka.


Adam menggeleng-gelengkan kepalanya secara perlahan di ikuti dengan suara desahan nafasnya mendekati Manisya mengambil alih tali pengikat helm miliknya.


"Ceklek!" Tali helm yang di pakai Manisya berhasil terbuka.


"Kenapa di buka sama kamu gampang sekali, aku yang buka dari tadi ga bisa-bisa!" Manisya berkata sambil membuka helm miliknya.


"Di tekan dulu, angkat sedikit ke atas baru di tarik!" Adam memberitahu cara membukanya.


"Sudah aku lakukan!"


"Kalau sudah kamu lakukan kenapa masih tidak bisa terbuka?"


"He, he, iya juga ya, mungkin masih ada yang terlewat!" Ucap Manisya sambil memberikan helm miliknya kepada Adam.


"Maksih yah, aku ke dalam dulu!" Menarik kedua sudut bibirnya sambil melambaikan tangan kepada Adam bermaksud berpamitan kepada Adam, sebelum akhirnya Manisya melangkahkan kakinya menuju restoran tersebut.


Adam tidak berucap hanya memperhatikan langkah Manisya yang semakin menjauhinya, hendak memasuki restoran yang akan menjadi tempat ia bekerja.


Setelah langkah Manisya menjauh, Adam menyimpan helm miliknya dan juga helm Manisya di atas motor yang terparkir di depan restoran tersebut, Adam melangkahkan kakinya menuju restoran tempat Manisya akan bekerja.


"Selamat siang Mas, untuk berapa orang?" Ucap pelayan yang menyambut kedatangan Adam saat masuk ke dalam resto.


"Satu orang!"

__ADS_1


__ADS_2