Pelangi Cinta

Pelangi Cinta
Green Book


__ADS_3

Ada kebingungan terpancar dari wajah Adam, sesekali ia mengusap gusar wajahnya, mengacak-acak rambutnya, sampai ponsel yang ia pegang pun sempat terjatuh karena ia putar-putar ke segala arah.


Sudah setengah jam berlalu Manisya menangis, kedua tangannya pun masih menutup mukanya. Adam tak henti menatap Manisya, kini mobil yang ia kemudikan pun sudah ia parkirkan di sebuah lahan parkir sebuah gedung, tepatnya sebuah perpustakaan bergaya modern lengkap dengan Cafe dan sebuah mini marketnya, namun Adam masih duduk di dalam mobil tepatnya di kursi kemudi.


Manisya pun sudah tak mengeluarkan buliran air matanya, namun masih enggan untuk membuka telapak tangan yang masih menutupi mukanya.


"Apa Lo akan terus nutupin muka Lo dengan kedua telapak tangan Lo itu?" tanya Adam.


Namun Manisya tak menjawab, Adam mengambil sebuah tisu yang terletak di dekat kemudi gigi, kemudian ia memberikannya pada Manisya, tepatnya menempalkannya pada tangannya.


"Ambil ini" memberikan tisu pada Manisya.


Manisya pun mengambilnya dengan satu tangan agar wajahnya masih tertutup.


"Gua keluar dulu sebentar" pamit Adam kepada Manisya, Adam pun meninggalkan mobil dalam ke adaan mesin masih menyala.


Saat tau Adam telah keluar, Manisya melepaskan kedua tangan yang menutupi mukanya kemudian segera me lap mukanya dengan tisu yang Adam berikan.


"Muka sama hidungku merah" batin Manisya sambil bercermin pada ponsel miliknya.


Tak lama Adam kembali lagi ke dalam mobil dengan membawa sebuah tas plastik, sebentar Adam menatap ke arah Manisya hingga membuat Manisya menundukkan kepalanya, Adam melihat mata Manisya yang bengkak, dan hidung Manisya yang memerah.


Adam mengeluarkan botol Air mineral dingin dari tas plastik yang dia bawa, Adam berikan pada Manisya, "Minumlah, dan kompres mata Lo dengan itu, gua gak mau orang ngira Gua udah ngapa-ngapain Lo".


Tak banyak bicara Manisya pun mengambil Ari mineral yang Adam berikan kemudian mengompres mukanya.


"Kita ada di mana ini?" tanya Manisya kepada Adam.


Adam menunjuk sebuah tulisan besar yang terdapat di depan bangunan "Greeeen Book" Manisya membaca tulisan tersebut, "Mau apa kita kesini?" tanya Manisya masih belum mengerti.


"Dasar wanita bo.." Adam menghela nafasnya, memotong kata yang ingin ia ucapkan, khawatir akan membuat Manisya mengeluarkan Air matanya kembali.


"Sudahlah, kalau sudah tidak terlalu bengkak ayo kita turun" Adam memberikan perintah kepada Manisya, dan Adam sendiri keluar dari mobil. Tak lama Manisya pun turun mengikuti langkah Adam.


"Memangnya kita mau ngapain Dam" tanya Manisya dengan suara pelan beringingan dengan langkah kakinya.


"Sebenernya Lo pernah ga sih ke sini?" tanya Adam mengehentikan langkahnya kemudian merilik ke arah Manisya.


"Pernah ko, aku ke kafenya Green Book sama Nina" Jawab Manisya dengan pasti.

__ADS_1


"Dan Lo ga tau kan fungsi utama bangunan ini terletak di mana?" Adam mencoba mengetes.


"Maksudnya, aku ga ngerti?" Jawaban Manisya membuat Adam menghela nafas sangat dalam, menahan sejuta emosi yang kini terkumpul dalam firkirannya.


"Fungsi utama gedung ini tuh terletak di perpustakaanya, Lo ngerti?" tanya Adam memastikan.


"Enggak" jawab Manisya tanpa basa basi.


"Astagaaa" Adam mulai menaikan nada bicaranya.


"Ya ampun Adam, ya masa gini aja aku ga ngerti" jawab Manisya.


"Ngapain si Dam kita ke sini, kan perpus di sekolah juga ada, lagian ini udah mulai gelap loh" Manisya mulai merasa khawatir.


"Justru itu, sengaja Gua milih di sini, kalau nanti Lo pingsan lagi, Gua bakalan tinggalin Lo di sini, karena banyak orang yang bakal angkut Lo ke rumah sakit" Jawab Adam sangat jelas membuat Manisya membulatkan kedua bola matanya.


"Ya enggak lah, masa tanpa sebab aku pingsan, Aku kan lagi gak enak badan waktu itu" jawab Manisya.


Tanpa sadar dua sejoli itu di perhatikan orang-orang sekitar mereka, percakapan Adam dan Manisya layaknya suami istri yang tengah berdebat di tempat umum.


"Emm, udah ah yu Dam, orang-orang pada ngeliatin kita tuh" Manisya menarik sedikit baju Adam agar Adam segera melangkahkan kaki mereka kembali.


"Tau ga Dam, kalau ini sih menurutku lebih asik dari sebuah perpustakaan, kayaknya kalau tidur di sini bakalan nyenyak deh, duh jadi ngantuk" Manisya berkata sambil mengeluarkan buku yang ada dalam tasnya.


Mendengar perkataan Manisya hanya membuat Adam geleng-geleng kepala.


"Hentikan lamunan ga berarti Lo itu, cepat mulai kerjakan soal yang Pak Guru Matematika berikan" Adam memberikan sebuah perintah.


Adam dan Manisya pun mulai belajar, Adam mengajari Manisya dengan sangat baik walaupun terkadang mereka berdebat karena susahnya mengajari Manisya mengerjakan soal matematika, dan akhirnya Manisya pun selesai mengerjakan soal matematika tersebut, di bantu oleh Adam tentunya.


"Huaaaaaaaa akhirnya " Manisya menggeliat sambil mengangkat kedua tangannya ke atas.


"Sekali kali otak Lo itu di bersihkan supaya materi yang penting yang harus terserap bisa ke save di sana" Adam memberikan nasehat kepada Manisya.


"Iya iya" Manisya mengerucutkan kedua bibirnya.


"Adam kita kan udah beres nih, kamu lapar apa enggak ?" tanya Manisya memberi sebuah kode.


Adam tak menjawab pertanyaan Manisya, ia berdiri kemudian mengaitkan tas sekolah pada lengannya kemudian berlalu meninggalkan Manisya yang masih duduk di kursi menunggu jawaban dari Adam.

__ADS_1


"Yaaaaaah, padahal aku lapar" Manisya berkata sambil memegang perutnya yang keroncongan.


Saat Adam tak terlihat lagi punggung badannya, Manisya pun bergegas pergi meninggalkan meja perpustakaan tempat ia belajar tersebut.


Manisya berlari keluar perpustakaan, tiba-tiba seseorang menarik tasnya dari arah belakang.


"Aduuh"" Manisya kaget karena tasnya yang di tarik secara tiba-tiba, membuat badannya ikut tertarik ke belakang


"Mau kemana Lo" tanya Adam masih memegang tas Manisya, kini mereka berada pada posisi sejajar.


"Aku takut di tinggalin kamu, Makannya aku lari" jawaban Manisya di hiraukan Adam, dan Adam pun berjalan kembali mendahuli Manisya.


Adam berbelok ke Green Book Cafe.


Manisya berlari kecil mengikuti Adam, karena ia kesulitan menyusul langkah kaki Adam yang cepat.


Saat hendak memasuki Cafe, "Untuk berapa orang Mas" tanya seorang Pramusaji Laki-laki menyambut ke datangan Adam.


"Dua orang" Jawab Adam singkat.


"Baik, boleh ikut saya" Pramusaji hendak mengantarkan Adam ke tempat duduknya.


"Sebentar Mas" Melihat Manisya yang masih tertinggal di belakang.


"Nunggu Pacarnya ya Mas?" Pramusaji melihat Manisya berjalan ke arahnya.


Adam tak menjawab pertanyaan Pramusaji tersebut.


"Lama banget sii Lo" Pramusaji terkejut mendengar kata-kata Adam kepada Manisya.


"Kamu tuh jalan nya kecepetan" Manisya menyanggah perkataan Adam.


"Hallo Mas" Manisya menyapa Pramusaji yang berdiri di dekat Adam dan tak lupa tarikan kedua sudut bibir Manisya yang sempurna Manisya berikan untuk Pramusaji tersebut.


"Malam Mba" Jawab Pramusaji dengan sopan, ia pun memberikan tarikan kedua ujung bibirnya pada Manisya, Namun entah kenapa Pramusaji tersebut mendapat tatapan tajam dari Adam yang membuatnya tidak nyaman.


"Mari saya antar" Pramusaji tersebut mengarahkan Manisya dan Adam ke mejanya, namun saat hendak Masuk ke dalam.


"Adam, hei Adam" membuat semua mata tertuju pada panggilan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2