Pelangi Cinta

Pelangi Cinta
Helm Hilang


__ADS_3

Manisya memejamkan matanya saat helm yang ia pakai terkena pukulan dari tangan Adam.


"Aku juga tahu, aku hanya bercanda!" jawab Manisya dengan seulas senyum di bibir tipisnya.


Tiba-tiba Adam berjongkok di depan Manisya dan menyentuh sebuah goresan di punggung kaki Manisya.


"Apa itu masih sakit?" tanya Adam hendak menyentuh lutut Manisya, namun dengan segera Manisya menggeserkan kakinya ke arah belakang, tak ingin Adam menyentuh lututnya yang terlihat mulai mengering itu.


"Ti, tidak, itu tidak sakit, sebentar lagi juga akan sembuh, tidak perlu khawatir!" Jawab Manisya sambil menatap Adam. Adam kini kembali berdiri dari jongkoknya.


Tanpa sebuah aba-aba, Manisya melangkahkan kakinya kedepan, melewati Adam, dan kini membelakangi Adam yang saat itu sedang berdiri dihadapannya.


"Mau kemana Lo?" Tanya Adam saat melihat Manisya membelakanginya.


Manisya membalikkan lagi Badannya menghadap kepada Adam, "Apa aku harus buka baju dan celana di sini?" Manisya terkekeh sendiri, menertawakan apa yang ia katakan barusan kepada Adam.


Namun Adam tak merespon tawa canda Manisya kepadanya, ia hanya menatap ke arah Manisya, kemudian Adam menyilangkan tangannya di atas dadanya, perlahan berjalan mendekat ke arah Manisya,


"Bukalah!" Ucap Adam sambil memandang tubuh bagian atas Manisya, kemudian beralih memandang ke bagian bawah tubuh Manisya.


"Gua bilang buka!" Adam yang kini merubah pandangannya menatap ke arah Manisya.


"Tidaaaakkk!" Teriak Manisya saat melihat Adam menatapnya, Manisya kemudian menutupi dadanya menggunakan kedua tangannya, kemudian dengan segara berlari terbirit-birit lengkap dengan sebuah helm di kepalanya, meninggalkan Adam yang kala itu sedang berdiri menatap dirinya.


Adam tak merubah pandangannya melihat Manisya yang berlari terbirit-birit karena ketakutan dengan perkataan dirinya.


"Wanita bodoh!" Ucap Adam sambil menggelengkan perlahan kepalanya sambil memperlihatkan senyuman manis di bibir tebalnya itu.


Adampun menunggu Manisya sambil duduk di di atas jok motor miliknya sambil menatap sebuah gambar pada layar ponselnya, ia menarik kedua sudut bibirnya saat melihat foto yang ada di layar ponsel miliknya itu.


"Apa yang sedang kamu lihat?" Tanya Manisya sambil mencoba mengintip apa yang tertera pada layar ponsel Adam, namun dengan segera Adam menutup ponselnya agar tidak terlihat oleh Manisya.


"Foto siapa itu?" Tanya Manisya yang terlihat penasaran karena melihat senyuman Adam saat menatap ponsel miliknya.


"Aku tahu, sepertinya itu seorang perempuan ya?" Manisya mencoba menebak foto tersebut.


"Benarkah?" Adam balik bertanya sambil memasukkan ponsel pada saku celana miliknya.


"Betulkan, Apa itu kekasihmu?" tanya Manisya masih penasaran.


"Mau tahu?" Manisya mengangguk kan kepalanya, memberi tanda bahwa ia ingin mengetahui foto siapa yang di lihat Adam sampai ia tersenyum di buatnya.


"Tak usah menumpang motor Gua, Kalo Lo mau tahu, gunakan kaki Lo sampai sana, dan Gua pasti kasih tahu!"


Manisya terdiam mendengar perkataan Adam, ia memasang raut muka cemberut nya kala itu.


Adam kini memasang sebuah helm berwarna hitam pada kepalanya, Manisya hanya menatap ke arah Adam kala itu yang sedang memakai sebuah helm pada kepalanya, tiba-tiba ia mengingat sesuatu, Manisya memegang kepalanya dengan kedua tangannya.


"Ya ampun helm ku!" Manisya berlari dengan kencang untuk mengambil helm yang ia simpan di dalam toilet saat mengganti pakaian seragam putih abunya dengan pakaian olahraga miliknya.


"Mau kemana Lo?" teriak Adam kepada Manisya yang tak menghiraukan nya, Manisya hanya fokus berlari.


Adam menggelengkan kepalanya secara perlahan sambil menatap ke arah Manisya sampai bayangannya pun tak terlihat lagi, "Wanita bodoh!" Bisik Adam secara perlahan.


Tak lama kemudian Manisya kembali lagi dengan melangkahkan kaki seribu nya.


Ia mencoba mengatur nafasnya yang tersengal-sengal akibat berlari kencang.


Adam hanya menatap tersenyum ke arah Manisya.


"Maafkan aku!" Kata Manisya dengan tatapan penuh iba.


"Maaf?" Tanya Adam, menarik bibirnya yang sesaat terlihat melebar itu, kini dengan tanda kerutan pada dahi miliknya


"Apa Lo sudah melakukan kesalahan?" tanya Adam kepada Manisya, Adam sedang mencoba menebak apa yang sedang terjadi saat itu.


"Sepertinya begitu!" Jawab Manisya sambil menundukkan kepalanya.


"Apa maksud Lo, Gua gak ngerti?" ucap Adam yang kala itu gagal memahami maksud perkataan Manisya.

__ADS_1


"Aku minta maaf, Aku sudah melakukan kesalahan!" ucap Manisya secara berterus terang.


"Trus?" Tanya Adam terlihat heran dengan tingkah Manisya.


"Aku sudah mencarinya ke tempat aku tadi mengganti baju, tapi tidak ada!" Jawab Manisya dengan perasaan bersalahnya.


"Sepertinya helm mu hilang!" Ucap Manisya secara perlahan kemudian menundukkan kepalanya.


"Apa!, hilang kata Lo?" tanya Adam sambil membelalakkan kedua matanya.


"Bagaimana mungkin bisa hilang, apa Lo udah cari dengan benar?" Tanya Adam dengan tatapan tajamnya.


"Aku hanya menyimpannya di dalam toilet, tapi tidak Ada!" Manisya berusaha menjelaskan kepada Adam.


"Bagaimana mungkin di sekolah ini ada seorang pencuri!" Tutur Adam, sambil berjalan hendak melihat tempat Manisya menyimpan helm tersebut.


Tanpa berkata lagi Adam berjalan di depan Manisya, Manisya mendudukkan kepalanya merasa bersalah karena ia telah menghilangkan sebuah helm milik Adam, saat Itu Manisya melihat Adam membuka helm yang telah berada di kepalanya, ia pegang helm tersebut dengan salah satu tangannya dan kembali berjalan.


Saat mereka sampai, "Di mana tadi Lo simpan Helm Gua?" tanya Adam kepada Manisya.


"Tadi aku simpan di situ, dekat wastafel toliet wanita!" Manisya menunjukkan jarinya memberitahu Adam, karena memang kondisi toilet yang sepi, Adam pun masuk dengan segera ke dalam toilet wanita tersebut, Manisya mengikuti Adam dari belakang, dan benar saja yang dikatakan Manisya, tidak ada helm miliknya tergeletak di sana.


Sejenak, Adam menatap ke arah Manisya dengan penuh selidik, kemudian dia keluar dari toilet wanita, dan Adam kini memasuki toliet Pria yang tepat berada sebelahnya.


"Tapi aku tidak kesana!" Teriak Manisya, sambil mematung di depan pintu masuk toilet Pria, membiarkan Adam memasuki toilet tersebut seorang diri, tak ada perkataan yang keluar dari mulut Adam saat itu.


Setelah sesaat, akhirnya Adam keluar dari dalam toilet Pria, dan alangkah kagetnya Manisya saat Adam membawa dua buah helm di kedua tangannya.


"Itu, kenapa, kenapa bisa di situ?" Tanya Manisya yang gelagapan, ia sangat bingung kenapa Helm tersebut berada di dalam toilet Pria.


"Harusnya Gua yang nanya, kenapa helm Gua Ada di sini?" tanya Adam sambil memberikan salah satu helmnya kepada Manisya.


"Aku juga tidak mengerti, kenapa helm mu ada di sana, aku tadi cuma menyimpannya di dekat wastafel dan..!" Manisya menghentikan perkataanya, ia mencoba mengingat apa yang terjadi saat berada di toilet, dan kini ia mengingat saat ia melihat Urinoir yang berjajar saat ia hendak masuk kedalam toliet tersebut, Manisya kemudian menatap sebuah tanda yang berada di pintu toilet, sebuah petunjuk bawah toilet tersebut di tujukan untuk kaum laki-laki.


"Sekarang Lo sadar?" Tanya Adam dengan tatapan tajamnya mengarah kepada Manisya.


"Em, hehe, Sepertinya aku salah masuk toilet ya!" Ucap Manisya sambil memutar kedua bola matanya.


"Aw, Sakit tahu!" Ucap Manisya dengan mengembangkan kedua pipinya dengan satu tangan mengusap-usap dahi nya.


"Itu hukuman!"


"Karena ngilangin Helm Gua dan Karena Lo salah masuk toliet!" Tutur Adam dengan memberikan tatapan pada dahi Manisya yang terlihat merah di buatnya, Adam hendak menyentuh dahi Manisya yang terlihat memerah itu, namun dengan segera Manisya menutup Dahinya dengan salah satu tangannya, takut jika Adam akan menjentikkan lagi jarinya.


"Iyah aku yang salah aku minta maaf!" Ucap Manisya yang terlihat ketakutan melihat Adam.


"Dasar wanita ceroboh!" Kemudian Adam melangkahkan kembali kakinya hendak menuju parkiran tempat motor miliknya yang masih berada ditempat parkir itu.


Suasana di parkiran motor sekolah mereka saat itu memang sepi, sebagian sudah melajukkan motor milik mereka dengan tujuan mereka masing-masing, sebetulnya memang tak banyak murid yang memakai motor datang ke sekolah mereka, hanya siswa dengan pemilik SIM dan memiliki E-KTP saja yang di perbolehkan membawa motor pribadi mereka oleh pihak sekolah.


Adam terlihat sedang memakai helm miliknya, begitupun dengan Manisya, ia mengikuti Adam untuk memakai helm yang sedari tadi ia pegang, Adam dan Manisya kini bersiap untuk menaiki motor yang akan di kendarai oleh Adam tersebut.


Adam menatap ke arah Manisya yang sedang sibuk mengaitkan tali pengunci helm miliknya, ia memperhatikan Manisya dengan seksama, sebelum akhirnya, bibir Adam melebar dibuatnya, Adam seketika mengambil alih tali pengikat helm Manisya, hingga kepalanya bergerak Maju ke arah Adam, Adam membantu mengaitkan tali pengikat helm Manisya.


"Pluk!" Adam menepuk helm Manisya dengan menggunakan tangannya.


"Begitu saja tidak bisa!" Ucap Adam sambil menaiki motor miliknya.


Manisya masih berdiri mematung menghadap Adam.


"Mau naik ga Lo?" tanya Adam kepada Manisya yang masih berdiri mematung, entah apa yang Ada di fikirannya.


"Ko aku kayak pernah ngalamin hal ini ya" ucap Manisya jauh di dalam hatinya, sebetulnya ia sedang mengingat saat pertama kali naik motor bersama Adam, ia mengingat bagaimana Adam memperlakukannya.


"Pluk!" Adam menepuk kembali helm Manisya agar ia segera menaiki motor miliknya .


"Iya, iya aku naik!" Ucap Manisya sambil menaiki motor Adam, dan kini motor mereka pun mulai melaju, menyusuri jalanan ramai dimana semua kendaraan roda dua maupun roda empat melaju bersama-sama.


Saat di perjalanan, tiba-tiba Manisya membelalakkan kedua matanya saat Adam tiba-tiba menarik salah satu tangannya kedepan, dengan sengaja Adam lingkarkan tangan Manisya ke tubuh miliknya itu.

__ADS_1


"Pegangan yang kuat, atau Lo akan jatuh!" teriak Adam kepada Manisya dari arah depan, kemudian saat itu Adam melajukkan motornya dengan kencang, Manisya yang kala itu terlihat terkejut dengan kecepatan motor yang dikendarai Adam, dengan segera melingkarkan kedua tangannya pada tubuh Adam, dan akhirnya Manisya mendekap erat tubuh Adam di sepanjang perjalanan.


"Apa Lo sedang mencari sebuah kesempatan!" tanya Adam yang kini telah menghentikan motornya dengan helm yang sudah ia lepas, Manisya kala itu masih mendekap tubuh Adam dengan sebuah pelukkan menggunakan kedua tangannya dan Manisya pun memeluknya dengan sangat kencang.


Perlahan Manisya membuka kedua matanya saat mendengar perkataan Adam, yang memang sejak saat tadi sengaja ia pejamkan, setelah itu, Manisya segera melepaskan pelukannya, melepaskan tangannya yang melingkar pada tubuh Adam.


"Maaf, aku kira belum sampai!" Kata Manisya sesaat setelah ia melepaskan tangannya, dengan segera Manisya turun dari motor Adam di ikuti oleh Adam yang sedari tadi tertahan oleh tangan Manisya saat hendak menuruni motor miliknya.


Adam saat itu terlihat telah membuka helmnya dan telah bersiap dengan sebuah tas di punggungnya. Adam menatap ke arah Manisya saat ia melihat Manisya tengah mengalami kesulitan saat membuka sebuah pengunci tali helm yang menutupi kepala Manisya, Adam mendekat ke arah Manisya, di ambil alihnya pengunci tali helm milik Manisya, kemudian dengan cepat pengunci helm itu berhasil terbuka oleh Adam.


"Begini saja Lo ga bisa!" Ucap Adam sambil membantu Manisya membuka helm yang menutupi kepalanya.


"Maaf, hanya saja aku belum terbiasa!" ucap Manisya membela dirinya.


Kemudian Adam menyimpan helm yang sudah di pakai oleh Manisya itu ke atas jok motor miliknya.


"Kita belum telat kan?" tanya Manisya sambil membetulkan rambutnya yang terlihat berantakan karena sebuah helm yang telah terpasang di kepalanya.


"Mungkin saja!" Jawab Adam sambil berjalan mendahului Manisya.


"Semoga tidak!" ucap Manisya mengikuti langkah Adam, suasana di parkiran gedung olah raga saat itu, tak begitu ramai , hanya terlihat motor dan mobil yang di parkir dengan sangat rapih, namun tak terlihat para pemiliknya.


Saat sedang berjalan, tiba-tiba Adam menghentikan langkahnya, kemudian berbalik badan menatap Manisya yang kala itu sedang berjalan tepat di belakangnya.


"Bug!" Manisya menabrak bagian depan tubuh Adam yang tengah menatap ke arahnya.


"Bisa ga Lo kalau jalan itu, depan Lo tuh dilihat!" Ucap Adam yang terlihat gemas dengan tingkah Manisya.


"Iyah Maaf!" Jawab Manisya dengan membulatkan bibirnya.


"Lo tidak sedang mencari kesempatan kan!" tutur Adam seolah menuduh Manisya sedang mencari sebuah kesempatan kepada Adam.


"Apa maksudmu, memangnya aku seperti akan mencium mu?" ucap Manisya yang merasa tidak terima dengan perkataan Adam.


"Apa?"


"Lo mau cium Gua?" Adam sengaja memutar balikkan perkataan Manisya.


"Baiklah jika Lo memaksa!" Kemudian Adam melangkahkan kembali kakinya lebih mendekat ke arah Manisya, bermaksud menjahili Manisya.


"Apa maksudmu?" tanya Manisya sambil menaikkan salah satu alisnya.


Kala itu Manisya tengah bersiap dengan posisi tubuhnya untuk berlari, namun Sialnya, saat Manisya hendak berlari, tiba-tiba tangan Adam berhasil menarik Manisya, dengan cepat Manisya menarik tangannya untuk ia tutupi pada bibirnya.


"Lakukanlah kalau Lo sangat ingin mencium ku!" kata Adam tak melepaskan tatapan nya kepada Manisya, lalu ia pun menarik salah satu sudut bibirnya.


"Ti, tidak!" Jawab Manisya dengan gelagapan.


"Aku tidak ingin mencium mu!" Ucap Manisya Namun Adam tak menghiraukan perkataannya.


Adam semakin mendekatkan wajahnya pada Manisya, hingga jarak mereka kini hanya beberapa centimeter saja.


"Lo masih ingat kata Gua kan!"


"Lo akan tahu akibatnya kalau di dalam sana Lo bikin ulah!"


"Iyah aku mengingatnya!" Jawab Manisya.


"Dan satu lagi?" tanya Adam.


"Jangan beranjak satu langkah pun dari tempat dudukku, sebelum kamu selesai pertandingan!"


"Begitu kan!" Ucap Manisya dengan rasa penuh kebanggaan karena masih mengingat perkataan Adam.


Adam masih menatap Manisya.


"Lakukanlah!" kata Adam.


"Lakukan?" Manisya berfikir.

__ADS_1


"Lo harus lakukan..!"


Tiba-tiba perkataan Adam terhenti saat Manisya mendaratkan sebuah ciuman di bibir Adam.


__ADS_2