
"Sempurna" Manisya menepu-nepuk kedua tangannya merasa puas.
"Kamu di sini dulu ya, nanti kalau kangen sama aku, minta anterin Adam saja yah dateng kerumah ku, jaga dirimu baik-baik ya sweaterku sayang" Manisya terkekeh menutup bibir dengan kedua tangannya, kemudian ia segera kembali ke tempat duduknya.
Tak lama suasan di dalam kelas semakin ramai, bangku - bangku kini terlihat telah di duduki oleh masing - masing pemiliknya, teman-teman Manisya pun saling menyapa, bertanya ke adaan Manisya, yang selama tiga hari berturut- turut tidak masuk sekolah karena di rawat akibat sakit yang menimpanya, Adam yang tadi keluar kelas pun kini sudah datang kembali dan duduk berdampingan dengan Rangga.
"Kamu udah sembuh sya?" tanya Nina yang selama ini memikirkan Manisya selama tiga hari tidak masuk sekolah.
"Serius Nin, aku sudah sehat sekarang, buktinya nih aku nyampe sekolah duduk di sini dekat denganmu" jawab Manisya sambil menyelipkan candaan kepada Nina.
"Kamu ingat, kamu masih hutang penjelasan padaku" Nina mengingatkan.
"Penjelasan apa?" tanya Manisya.
"Penjelasan kenapa kamu bisa sampai masuk rumah sakit, dan Adam orang pertama yang mengetahui kamu di rawat di sana" Nina menocba mengingatkan Manisya agar ia memberikan penjelasan kepadanya.
"Hmm.. " Manisya menarik nafasnya.
"Singkat cerita, aku kan sama Adam sedang di hukum, dan aku merasakan kepala sangat gelap dan berat dan seudah itu aku tak mengingat apa-apa" Manisya menjelaskan tidak secara detail.
"Maksudmu Adam yang menggendong kamu dan membawanya ke rumah sakit?" tanya NIina kembali yang semakin penasaran dengan jawaban Manisya.
"Emm.." Manisya mencoba merangkai kata dalam fikirannya.
"Sepertinya begitu" Jawab Manisya mengangkat kedua tangannya di ikuti dengan mengangkat kedua bahunya.
"Benarkah Adam menggendongmu seperti di drama percintaan korea yang sering aku tonton?" tanya NIna kembali bertanya.
"Begitulah, kamu itu kebanyakaan nonton drama korea, ujungnya imajinasimu terlalu tinggi, pasti kamu sekarang lagi ngebayangin saat Adam mengendong aku kan, expresi yang elegan layaknya di gendong seorang Lee Min Ho, hayoo ngaku!" giliran Manisya yang meminta penjelasan.
"Hehe.. " Nina terkekeh sambil memeluk pundak Manisya se akan meng iya kan perkataan sahabatnya tersebut.
"Sebegitu perdulikah Adam dengan mu sya" tanya Nina masih belum seratus persen percaya dengan penjelasan Manisya.
"Kalau kamu tidak percaya tanya saja sama orangnya" Manisya memberi kode dengan mengangkat kepalanya yang di arahkan kepada Adam.
"Kalau begitu aku tanyakan pada Adam ah " Jawab Nina menantang.
"Eits kamu mau kemana" Manisya menarik tangan Nina yang hendak bergerak mendekati Adam, kini mereka saling tarik menarik tangan, hingga Nina merasa kesakitan.
"Iya iya aku ga akan tanyain, lepasin sya, nih tanganku sakit" Nina menunjuk tangan yang masih di pegang erat oleh Manisya.
__ADS_1
"Eh iya, maaf maaf Nin, aku gak sengaja" Seketika Manisya melepaskan tangan Nina.
"Ngapain si minta maaf orang aku juga salah" Jawab Nina yang merasa tidak benar jika Manisya yang sahabatnya itu harus meminta maaf kepada nya.
Suasana kelas yang sedang ramai tiba-tiba menjadi hening saat seorang guru memasuki kelas, mereka pun mengikuti kelas dengan khidmat.
***
Di akhir jam pelajaran.
"Baiklah sampai disni, apakah ada yang di tanyakan" Guru mata pelajaran Bahasa yang saat itu berada di jam pelajaran terakhir menutup perjumpaan mereka.
"Kalau tidak Ada, Bapak tutup dulu ya, sampai di sini dan sampai juma besok, selamat siang" pak Guru menutup pertemuan mata pelajaranya, kemudian pergi meninggalkan kelas.
Suasana kelas yang tadinya hening, kini berubah menjadi ramai, murid-murid sedang sibuk mempersiapkan tasnya untuk mereka bawa pulang, ada yang sambil bercakap dengan teman sebangkunya, Ada juga yang sudah berpamitan dengan tergesa-gesa pergi meninggalkan kelas.
"Sya.. aku mau tanya sesuatu sama kamu" Nina memulai percakapan sambil memasukan buku-buku yang tergeletak di atas meja untuk ia masukan ke dalam tas nya.
"Asal jangan tanya kapan nikah sama Adam aja nin, hihi, kalau yang lain pasti aku jawab" Dengan asal Manisya menjawab pertanyaan Nina.
"Hemm, maunya" jawab Nina.
Namun dengan cepat Manisya menutup mulut Nina dengan kedua tangan nya.
Adam yang tengah berdiri sambil mengaitkan tas punggungnya di kedua lengannya menoleh ke arah Nina yang memang memanggilnya.
"Engga dam ga apa apa, ga jadi katanya " dengan cepat Manisya mengalihkan perkataan Nina kepada Adam, takut jika Nina benar-benar bertanya pada Adam.
Adam pun tak menghiraukan panggilan Nina, hanya menatap ke arah Manisya dan Nina sambil mengangkat kedua alisnya, kemudian berlalu pergi meninggalkan kelas.
Nina yang mulutnya masih dalam dekapan tangan Manisya, mencoba untuk berbicara, namun kata-katanya nyaris tak membentuk sebuah kata yang berarti karena terhalang tangan Manisya. Saat Nina di rasa sudah tak meronta-ronta, Manisya melepaskan dekapannya sambil memberi peringatan.
"Awas ya kalo bilang yang aneh-aneh, tau akibatnya nanti" sambil menyilangkan kedua tangannya di atas dada, seakan memberi peringatan pada Naina.
"Ampun, ampun, iyah iyah ga akan lagi-lagi mbah, ampun mbah" Nina mengikuti gerakan seorang Anak yang memohon ampunan ibu nya saat sudah melakukan sebuah kesalahan
Manisya dan Nina pun mengakhiri percakapan mereka dan pergi meninggalkan kelas yang memang sudah semakin sepi, kini mereka tengah berjalan menuju pintu keluar sekolah.
"Kamu dijemput Nin" tanya Manisya memulai percakapan kembali.
"Iyah" Sambil menganggukan kepalanya.
__ADS_1
"Kamu naik Bis?" tanya Nina kepada Manisya.
"Iyah seperti biasa, semoga nanti di bis aku ketemu lagi sama Adam" Jawab Manisya.
"Adam suka naik bis bareng kamu?" tanya Nina sambil mengerutkan dahinya, perkataan Manisya membuat banyak pertanyaan dalam benaknya.
"Enggak tau aku juga, baru satu kali satu bis, tadi pagi aja sebis sama dia" jawab Mansiya.
"Owh, ada peningkatan nih" Nina menyenggol badan Manisya.
"Tentu saja, siapa sih yang gak suka sama Manisya" Manisya mengelus dagunya tanda merasa bangga akan dirinya.
"Hehehe" Akhirnya Manisya terkekeh dengan tingkahnya sendiri.
"Salah kata-katanya tuh sya, harusnya, siapa sih yang suka sama Manisya" Nina menjulurkan lidahnya kepada Manisya, seakan meledek sahabatnya tersebut.
Mereka berdua pun terkekeh - kekeh di tengah perbincangan saat menuju gerbang sekolah.
Tak lama merekapun sampai di pintu gerbang, terlihat mobil jemputan Nina sudah menunggunya.
"Aku duluan ya sya" Nina berpamitan pada Manisya.
"Iyah hati-hati dijalan ya" Manisya melambaikan tangannya, kemudian pergi ketempat pemberhentian Bis untuk menggu Bis yang menuju ke arah rumahnya.
Manisya menatapa ke arah langit, ia berhenti sejenak.
"Langitnya indah sekali, sebentar-sebentar itukan pelangi" Manisya membulatkan kedua matanya seakan tak percaya apa yang baru saja ia lihat, kemudian manisya menarik kedua sudut bibirnya se akan takjub dan bahagia di hadiahi pelangi dan langit yang indah saat ini.
"Mungkin ini pertanda baik" Manisya mengeluarkan ponselnya kemudian mengambil sebauh foto yang ia arahkan ke pada pelangi tersebut.
Saat Manisya sedang mengambil gambar ke arah pelangi, tiba-tiba Manisya membulatkan kedua bola matanya, ia di kejutkan dengan sesuatu di dalam kamera ponselnya, terlihat sebuah pelangi yang indah dan seorang laki-laki yang sedang duduk se akan pelangi menjadi atapnya.
Manisya memperbesar gambar yang berada di ponselnya dan memastikan kembali ke arah pelangi dan pria yang sedang duduk tersebut.
"Pelangi" Manisya menatap ke arah langit.
Kemudian ia berkata kembali.
"Cinta" Menatap ke arah seorang laki-laki yang sedang duduk asik dengan ponselnya.
"Pelangi Cinta "
__ADS_1