Pelangi Cinta

Pelangi Cinta
Rencana Kabur yang Gagal


__ADS_3

"Jadi benar di antara kalian sedang terjadi sesuatu?" Nina bertanya pada Manisya menginterogasi.


"Apaan sih Nin jangan suka ngarang ya" Jawab Manisya, khawatir Adam terganggu dengan perkataan Nina.


Nina yang tengah duduk di bangku bersama Manisya berbisik di telinga Manisya "Bukankah itu yang kamu inginkan?" tanya Nina.


"Tentu saja itu yang aku inginkan, Adam hari ini lagi sensitif aku takut kena semprot" jawab Manisya berbisik di telinga Nina.


"Oow baiklah" Nina menganggukkan kepalanya tanda mengerti penjelasan Manisya.


Pelajaran Sekolah pun di mulai.


Di mata pelajaran terakhir, tepatnya pelajaran matematika, "coba Manisya kamu maju kedepan kerjakan soal ini" perintah guru Matematika membuyarkan lamunannya yang masih memikirkan kejadian di Bis.


Manisya langsung berdiri dan menjawab perkataan Pak Guru "Baik Adam" Jawab Manisya.


"Huuuu" Suara teman sekelasnya kompak menyoraki Manisya dan membuat teman-teman sekelasnya tertawa terbahak-bahak begitu juga dengan sang guru. Melihat teman-temannya Menyoraki nya dan menertawakan nya Manisya hanya menatap sekeliling bingung.


Kemudian Nina menepuk Manisya dan berbisik ke telinga Manisya memberitahukan apa kesalahannya "Hei baiklah Pak bukan Baiklah Adam" bisik Nina.


"I i i iya maksut saya baiklah Pak" Manisya mengoreksi kata-katanya kemudian menoleh ke arah Adam, Adam yang tak senang sedang menatap amarah ke arah Manisya.


"Hehe Maaf dam" berbisik sambil mengatupkan kedua tangannya.


"Ayooo maju maju, kamu ini melamun terus" perintah Pak Guru.


Manisya pun Maju dan mengerjakan soal yang Pak Guru berikan. Namun bukannya mengerjakan jawaban dari soal yang pak guru berikan ia malah menyalin kembali soal tersebut.


"Manisya di jawab soalnya bukan di salin soalnya" Pak Guru geleng-geleng kepala.


"Maaf pak guru, saya gak bisa, daripada kosong kan, Hehe" jawab Manisya tanpa merasa ragu.


"Kamu ituh melamun terus, karena tadi yang di panggil Adam, jadi Adam coba kamu maju bantu Manisya mengerjakan soal!" perintah guru membuat teman-teman nya bersorak kembali.


"Cie cie, huuuu, asiikk, witwiw," suara suara teman-teman sekelas Manisya membuat gaduh, ada juga yang bertepuk tangan.


Hal tersebut membuat pipi Manisya merah merona, namun berbeda dengan Adam yang sangat risih dengan hal tersebut, Adam memasang muka masam dan mengerutkan bibirnya, menatap sebuah peringatan kepada Manisya. Melihat muka Adam yang seperti itu membuat Manisya ketakukan, Manisya yang sedang tersenyum senang tiba-tiba menarik kedua bibirnya sambil memalingkan muka dari tatapan Adam.


Saat hendak menulis jawaban di papan tulis, Adam berkata pelan agar hanya Manisya yang mendengar, Manisya yang tengah memperhatikan Adam menatapnya dengan penuh semangat "Cakep.. cakep banget" Batin Manisya, melihat Adam dari dekat selalu berhasil membuat pipi Manisya merona dan salah tingkah.

__ADS_1


"Puas Lo" perkataan Adam membuat kaget Manisya, kemudian Manisya memalingkan mukanya. Perlahan melirik ke arah Adam dan berbisik "Maaf" sebuah kata yang hanya didengar oleh Adam dan Manisya saja.


Tak lama Adam pun menyelesaikan soal Matematika tersebut. Adam dan Manisya Masih dalam posisi membelakangi papan tulis, dan Guru matematika sedang memeriksa jawaban Adam.


"Kamu ngerti ga Manisya?" tanya Pak Guru kepada Manisya.


"Hehe, kalau belajar pasti ngerti Pak" Jawab Manisya yang sebetulnya masih jauh dari kata mengerti.


Pak Guru geleng-geleng kepala, "baiklah kalian boleh duduk kembali "perintah Pak Guru kepada Adam dan Manisya.


"Makasih Pak" jawab Manisya sambil berlalu menuju tempat duduknya, di ikuti oleh Adam yang berjalan menuju tempat duduknya pula.


"Bapak punya tugas buat kamu Manisya, ini hukuman karena kamu sering ngelamun saat belajar, buka halaman 33, kerjakan no 1 sampai dengan 5, Oia ini juga tugas buat kalian semua" perkataan tersebut mambuat gaduh se isi kelas.


"Yaah bapak" seluruh siswa kompak menjawab pertanyaan Pak Guru matematika tersebut.


"Besok pagi harus udah ada di meja saya" Pak guru meneruskan perkataannya.


"Khusus buat kamu Adam, tolong bantu Manisya mengerjakan soal itu" perintah Pak Guru kepada Adam.


"Baik Pak" jawab Manisya dengan cepat sambil tersenyum penuh kemenangan.


"Tapi pak, kenapa harus saya" Jawab Adam berbanding terbalik dengan Manisya, merasa tidak adil.


Mendengar jawaban dari sang Guru, Adam kembali memberikan tatapan tak senangnya kepada Manisya, ia pun menarik penuh bibirnya, hingga membuat Manisya ketakutan untuk kesekian kalinya.


"Kita akhiri pertemuan hari ini, jangan lupa tugasnya besok di kumpulkan" Pamit Bapak Guru tersebut.


"Baik pak" seluruh siswa menjawab perkataan Guru Matematika tersebut.


"Nin, aku takut nih sama Adam, bantu aku donk ngerjain tugas" Pinta Manisya kepada Nina sambil merapihkan buku mereka ke dalam tas bersiap untuk pulang.


"Hei ini kesempatan emas lho Sya, yakin mau kamu sia-sia in" Nina meyakinkan Manisya.


"Tapi Nin aku sedang tidak ingin berdebat" jawab Manisya.


"Hei, kata Pak Guru tadi denger ga, tidak ada tapi tapian, paham nona?" Nina meyakinkan.


"Udah ah aku duluan, aku di suruh nemenin adik ku nih, dia lagi sakit di rumah" Nina kemuadian berlalu pergi meninggalkan Manisya.

__ADS_1


Manisya yang takut akan Adam, berlari mengejar Nina, tepatnya menghindari Adam.


"Nina tunggu hei" Manisya mengejar Nina.


Dengan berjalan terburu-buru dan mengabaikan sapaan teman-temannya, Manisya akhirnya sampai di pintu gerbang sekolah.


Saat berjalan melewati gerbang sekolah tiba-tiba ponsel Manisya bergetar, kemudian Manisya menghentikan langkahnya untuk mengecek sebuah pesan dari Aplikasi WhatsApp, seketika Manisya membulatkan matanya saat tau siapa yang mengirim pesan.


Adamku: "Lo sengaja kan mau buat gua di hukum"


Manisya tersenyum melihat pesan dari Adam tersebut, namun ia sulit mengartikan kata-kata yang Adam kirim.


"apa maksudnya, apa dia tahu, aku sengaja menghindarinya" Manisya berkata dalam hati.


Manisya diam sejenak merangkai kata yang akan dia kirim kepada Adam.


"Enggak kok, aku nunggu kamu di depan" kata tersebut ia kirimkan lewat aplikasi WhatsApp kepada Adam.


"Rencana kabur yang gagal" Berkata sambil memukul ringan kepalanya. "Aduh gimana ini" Manisya terlihat gelisah karena takut di marahi Adam, mencoba menenangkan fikiran dan hatinya, Manisya melompat dan menarik nafasnya dalam-dalam berharap perasaannya setenang sebelumnya.


Tidak lama kemudian Adam datang, menghampiri Manisya.


Seperti biasa Manisya selalu menyapa duluan. "Adam aku di sini" melambaikan tangannya sambil menarik kedua ujung bibirnya kepada Adam.


Adam tak menghiraukan sapaan Manisya.


"Ngapain Lo di sini?" tanya Adam.


"Kan katanya di suruh nungguin kamu" Jawab Manisya.


"Siapa yang nyuruh?" Adam lagi.


"Kan kata kamu tadi WA aku" Giliran Manisya.


"Gua enggak nyuruh" Adam jawab.


"Tadi kamu WA loh dam" masih Manisya.


"Gua gak nyuruh Lo nungguin gua" Adam dengan pertahanannya.

__ADS_1


"Ya udah kalau gitu aku pulang aja, mungkin aku salah mengartikan" Manisya mulai pasrah.


"Lo emang sengaja mau bikin gua di hukum"


__ADS_2