Pelangi Cinta

Pelangi Cinta
Sepupu


__ADS_3

"Hai semuanya!" Sapa seorang wanita memeka kan keheningan saat itu, dengan senyuman yang begitu menawan di bibirnya, di tambah tubuh yang langsing, kulit yang putih mulus, serta rambut panjang bergelombang yang akan membuat semua laki-laki yang melihatnya terpesona di buatnya.


"Kamu di sini juga Manisya?" tanya perempuan tersebut sambil menarik kedua sudut bibirnya saat melihat Manisya yang telah duduk di samping Baron itu.


"Hei Samira!" Jawab Manisya dengan membelalakkan kedua matanya kepada Samira sebelum akhirnya Manisya memperlihatkan gigi putihnya yang berjejer rapih saat membalas senyuman Samira.


"Iyah, aku di sini, kamu sepupunya Baron?" tanya Manisya dengan sebuah gerakkan di tangannya menandakan sebuah sapaan kepada Samira, dengan memperlihatkan senyuman indah di bibirnya.


"Iyah dia sepupu Aku," Baron mengambil alih jawaban atas pertanyaan Manisya.


"Kamu mengenalnya Manis?" tanya Baron kepada Manisya.


"Iya kita sekelas." Jawab Manisya kepada Baron sambil menggerakkan tangannya, ke arah Manisya dan Adam.


"Sama Adam juga, Gua kenal!" Lanjut Samira sambil menatap ke arah Adam memberikan sebuah senyuman kepada Adam, tentu saja senyuman itu di abaikan oleh Adam.


"Apa aku boleh duduk di sin?" tanya Samira sambil menunjuk ke sebuah kursi kosong yang letaknya tepat di sebelah kiri Adam.


"Duduk saja!" Jawab Adam kepada Samira, dan kini Samira pun duduk tepat di pinggir Adam berhadapan dengan Baron, sedangkan Adam berhadapan dengan Manisya.


Melihat Samira yang duduk tepat di samping Adam, membuat Manisya menundukkan kepalanya, ada perasaan cemburu disertai dengan ketidak percayaan dirinya melihat dua mahluk yang begitu serasi yang ada di hadapannya kini, namun perasaan itu berhasil ia tutupi dengan seulas senyum di bibir Manisya.


"Mereka sangat cocok!" Manisya berkata dalam hatinya, saat melihat Adam dan Samira yang duduk berdampingan.


"Benarkah kalian sepupu?" tanya Adam menatap ke arah Baron sambil menunjuk menggunakan telunjuk kanannya ke arah Baron kemudian berganti ke arah Samira.


"Wah ternyata kalian ini sepupuan yah, yang satu cantik yang satu cakep, pantas saja!" Manisya mengungkapkan kekagumannya kepada Baron dan Samira.


"Norak Lo!" Jawab Adam kepada Manisya menyilangkan kedua tangan di dadanya dengan memasang muka datarnya.


"Biarin!" Jawab Manisya menanggapi perkataan Adam dengan mencibirkan bibirnya kepada Adam.


"Makasih Manisya!" Jawab Samira merespon perkataan Manisya.


"Iyah dia kakak sepupuku, laki-laki paling jahil sedunia!" Jawab Samira dengan memutarkan kedua bola matanya kemudian menarik salah satu pipinya.

__ADS_1


"Enak aja Lo!" Jawab Baron sambil menyondongkan badannya ke arah Samira sebelum akhirnya mengacak-acak rambut Samira dengan salah satu tangannya.


"Apaan si Lo, berantakan tau!" Samira menarik salah satu sudut bibirnya kemudian mengedepankan kedua bibirnya.


"Mau lagi?" tanya Baron sambil menyondongkan kembali badannya ke arah Samira, bermaksud mengancam Samira untuk mengacak-acak rambut Samira yang sudah terlihat rapih tersebut.


"Jangan, iya enggak enggak." Jawaban Samira dengan menutupi kepalanya, Baron pun duduk kembali ke kursi yang sebelumnya ia duduki tepat di pinggir Manisya.


"Awas Lo ya!" Ancam Baron kepada Samira dengan mengangkat kedua alisnya ke hadapan Samira.


"Ah Lo mah, giliran sama Gua ngomongnya ga asik, giliran sama Manisya ngomongnya halus banget, Pasti ada maunya nih?" Samira protes kepada Baron, karena melihat perlakuan Baron berbeda kepada Manisya.


"Hei sakit tau, kaki Gua di injak-injak lagi!" kata Samira berkata kepada Baron dengan menahan rasa sakit di kakinya yang sengaja Baron injak dari balik meja tersebut.


Mendengar hal tersebut membuat Adam menatap ke arah Manisya yang sedang menarik kedua sudut bibirnya, Adam memberi tatapan tajam ke arahnya, dan Manisya mengerutkan bibirnya yang sedang ia tarik, saat tau Adam kini sedang menatapnya dengan sebuah tatapan tidak senang kepada nya.


"Tapi, kalau di lihat, kalian cocok juga!" Samira menatap kedua orang yang ada di hadapannya kini.


"Benar kan dam?" Tanya Samira kepada Adam mencari sebuah dukungan.


Adam tak menjawab pertanyaan Samira kepadanya, Ada perasaan tidak senang saat Samira berkata jika Baron telihat serasi dengan Manisya, Adam menatap kembali ke arah Manisya dengan tatapan lebih tajam dari biasanya.


"Apaan si Lo!" Baron menginjak kaki Samira kembali.


Merekapun menghentikan percakapannya saat giliran Hidangan yang di pesan Baron dan Samira sudah tersedia di meja, dua buah steak yang mereka pesan kini tengah di lahap oleh Baron dan Samira.


Terdengar suara panggilan ponsel milik Samira, Samira yang kala itu telah selesai menyantap steak miliknya, Samira pun mengangkat panggilan telepon miliknya dengan berjalan menjauhi menjauhi kursi yang ia duduki.


"Manis," Baron bermaksud berkata sesuatu kepada Manisya namun perkataannya terhenti karena Manisya memotong pembicaraannya.


"Maaf Baron, apa, apa aku boleh meminta sesuatu?" tanya Manisya sedikit ragu.


"Katakanlah, kamu mau apa?" jawab Baron sambil menatap arah Manisya yang duduk tepat di sampingnya.


"Bukan-bukan itu, aku ingin kamu jangan memanggil aku dengan nama depan atau nama belakangku!" Kata Manisya dengan perasan tidak enaknya berkata kepada Baron.

__ADS_1


"Memangnya nama belakang mu apa?" tanya Baron penasaran.


"Aralan!"Jawaban Manisya.


"Aralan?" Adam mengulangi perkataan Manisya.


"Bukan kah, Manisya itu lebih Manis?" Goda Baron kepada Manisya sambil terkekeh di buatnya.


"Iya iya aku bercanda!" Kata Baron yang melihat Manisya menekuk wajahnya.


"Lantas aku harus memanggilmu apa?" tanya Baron kepada Manisya.


"Em, kamu bisa memanggilku Ara atau Alan!" jawab Manisya sambil mengingat perkataan Pak Komar yang tiba - tiba merubah nama panggilannya menjadi Ara.


"Apa itu ulah Adam juga?" tanya Manisya dalam hatinya, sambil mengalihkan tatapannya kepada Adam yang kala itu sedang menarik kedua bibirnya ke atas.


"Sudahlah, sepertinya bukan!" Manisya mengambil sebuah kesimpulan.


"Ara?" Kata Baron menarik kedua alisnya ke atas.


"Bagus juga, baiklah aku akan memanggilmu dengan Ara saja kalau begitu." Beruntungnya Manisya saat Baron tidak menanyakan alasan kenapa ia tidak boleh memanggilnya dengan nama depan atau tengah Manisya.


Di sisi lain Adam yang mendengar hal tersebut membuatnya merubah raut mukanya, ia menarik salah satu sudut bibirnya menyembunyikan sesuatu dalam hatinya, tapi tidak dengan tatapannya kepada Manisya, masih tetap sama.


"Habis ini kalian mau pada kemana?" tanya Baron kepada Manisya dan Adam, saat itu Samira pun kembali menduduki kursinya setelah sedikit menjauh untuk menerima panggilan telepon.


"Ini sudah larut, Aku memakai seragam jadi aku akan langsung pulang!" Jawab Manisya.


"Kalau begitu Aku anterin Kamu ya" Baron langsung menyambar perkataan Manisya, membuat Adam memasang tatapan tajam serta raut muka yang terlihat kesal.


"Aku, Aku!" Manisya kebingungan, entah harus berkata apa.


"Kalau gitu, Aku biar Adam aja yang antar ya!" Samira menggelayutkan tangannya kepada tangan Adam.


"Boleh kan dam?" tanya Samira masih melingkarkan tangannya di tangan Adam.

__ADS_1


Melihat Samira bersikap Manja kepada Adam, membuat Manisya membelalakkan kedua matanya merasa ada yang tersakiti jauh di dalam hatinya, ketidakpercayaan dirinya pun tiba-tiba muncul begitu saja, namun Manisya berusaha untuk menutupinya.


Adam belum merespon perkataan Samira, ia hanya diam menatap ke arah Manisya yang tengah di tatap oleh Baron yang sama menunggu jawaban Manisya.


__ADS_2