
"Apa benar dia akan kuliah d luar?" Lirih Manisya jauh di dalam hatinya.
Sedangkan Manisya ia telah mengisi form pilihan rencana kuliahnya dengan sebuah universitas swasta yang letaknya tak jauh dari rumahnya.
"Adam mau kuliah di mana sya?" Tanya Nina membuat Manisya tersadar dari lamunannya
"Sepertinya dia akan kuliah di luar Nin!" Jawab Manisya.
"Di luar?" Tanya Nina kembali.
"Ya Amerika!"
"Kamu serius?" Tanya Nina menatap iba ke arah Manisya yang kala itu tengah mengerutkan bibirnya.
Manisya menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan Nina.
"Trus kamu membiarkannya?"
"Tentu saja aku harus mendukungnya, tapi gimana ya Nin, aku hanya takut jika kita LDR nanti"
"Apa yang kamu takutkan?"
"Takut aku gak kuat menahan rindu Nin, hihi!" Jawab Manisya sedikit menambah bumbu candaan.
Sebetulnya Manisya memang merasa sangat tidak percaya diri, karena Adam yang sangat pintar dalam berbagai hal dan Adam juga berasal dari keluarga dengan tingkat ekonomi yang tinggi, sedangkan Manisya, dari segi akademis ia tidak pintar, tidak pandai bergaul dan ia berasal dari kalangan ekonomi yang paling bawah.
Manisya menghela nafas, menempelkan kepalanya pada sebuah bangku dengan kedua mata terpejam.
"Drrt Drrt!" Ponsel Manisya tiba-tiba bergetar, segera Manisya membuka isi pesan tersebut dengan seksama, saat membaca pesan itu Manisya tiba-tiba membulatkan kedua bola matanya, raut wajahnya tiba-tiba berubah menjadi sendu sesaat setelah Manisya selesai membaca isi pesan tersebut, setelah itu Manisya menutup ponsel miliknya saat Nina mencoba untuk membaca pesan yang masuk kedalam ponsel miliknya. Ya pesan tersebut berisi ancaman dan juga makian terhadapnya, tepatnya tentang hubungannya dengan Adam, ya semenjak Manisya dekat dengan Adam, setiap hari ia mendapat sebuah pesan yang berisi ancaman dan makian dari nomor ponsel yang berbeda.
"Nin!" Tanya Manisya.
"Ya?" Jawab Nina.
"Apa menurutmu Adam benar-benar menyukaiku?"
Nina terlihat mengerutkan dahinya, mendengar pertanyaan Manisya kepadanya.
__ADS_1
"Memangnya kenapa Sya?"
"Aku hanya takut, Adam hanya merasa kahisan kepadaku?" Jawab Manisya dengan raut sedihnya.
"Lho kenapa begitu Sya? aku sih percaya jika Adam itu benar-benar menyukaimu!"
"Entahlah Nin, aku hanya sedikit ragu!" Jawab Manisya.
"Kok kamu gitu si Sya, kamu sendiri kan yang berusaha buat ngedeketin dia, nah sekarang dia udah suka sama kamu, kenapa kamu jadi begini?"
"Iya ya Nin, apa mungkin karena aku merasa minder ya sama Adam, coba Nin bayangkan, dia Pintar, tampan, orang kayak juga, sedangkan aku, Aku gak cantik, aku gak pintar, orang tuaku juga bisa saja, aku sebaliknya Nin, aku yakin dia akan menjadi orang yang sukses kelak, nah aku? bahkan lanjut kuliah saja entah aku mampu atau tidak Nin!"
Nina terlihat menghela nafas kemudian menggelengkan kepalanya perlahan kepada Manisya.
"Sya, aku ga suka ah kamu ngerendahin diri kamu sendiri kayak gitu, walau bagaimanapun kita tetap harus bersyukur atas apa yang tuhan berikan buat kita, Adam memang punya segalanya, tapi aku yakin Sya kamu ituh lebih segalanya di banding yang Adam punya! kamu harus yakin akan hal itu.
"Beneran Nin?" Ada sorot kebahagiaan terpancar di wajah Manisya saat sahabatnya berkata akan hal itu.
"Nanti Adam malu ga ya sama aku?"
"Ya engga lah Sya, dia udah memilih kamu, jadi aku yakin di gak akan malu sama sekali sama kamu, bahkan dia akan sangat bangga punya kamu!"
Nina menganggukkan kepalanya secara perlahan mengiyakan ucapan Manisya.
"Kapan aku bohong Sya!" Jawab Nina dengan penuh keyakinan.
"Iyah kamu emang sahabatku yang paling cantik dan baik!"
"Coba beritahu aku, kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu?" Nina mengerutkan dahinya menatap serius kepada Manisya.
"Engga aku hanya nanya aja Nin!"
"Aku gak mau denger kamu minder lagi ah, kemana perginya Manisya yang malu-maluin?" Dengan sebuah Rangkulan memberi semangat kepada Manisya.
"Hehe, ternyata selama ini aku malu-maluin ya, pantas saja Adam ga pernah lirik aku!" Manisya memberi balasan dengan sebuah senyuman lebar kepada sahabatnya itu.
"Baru nyadar kamu Sya?" Nina menggelengkan kepalanya mencoba menggoda Manisya.
__ADS_1
Saat sedang bercakap, ponsel Manisya bunyi kembali, "Drrt Drrt Drrt!" Kali ini Adam yang memberikan sebuah pesan, Manisya melebarkan kedua sudut bibirnya dengan mata berbinar saat membacanya.
"Sudah mengisi form rencana kuliah?"
Bukannya membalas pesan Adam, Manisya hanya menatap ke arah Adam, tiba-tiba Adam terlihat menatap pula ke arahnya, Manisya segera memberikan sebuah jawaban dengan mengangguk secara perlahan tentu saja senyuman lebarnya selalu ia sematkan saat menatap Adam.
"Kemana?" tanya Adam lagi dalam pesannya.
Manisya memotret Form rencana kuliahnya, kemudian ia kirim kepada Adam, Adam menatap ke arah Manisya mengangguk perlahan seolah menyetujui apa yang di tulis Manisya dalam Form tersebut.
"Punyamu?" Manisya mengirim sebuah pesan, bertanya mengenai Form yang di isi oleh Adam.
Adam pun memberikan foto Form tersebut.
Saat menerima form tersebut Manisya sedikit terkejut walaupun sebenarnya ia sudah tahu apa yang akan di tuliskan oleh Adam dalam form tersebu, ya sesuai dengan dugaan Manisya Adam menuliskan sebuah universitas ternama di Amerika.
"Bukankah kamu akan selalu mendukungku?"
Adam mengirimkan sebuah pesan kembali.
"Tentu saja, istri yang baik harus mendukung segala keputusan suaminya, itu juga untuk masa depannya, wkwkwkw!" Balas Manisya dengan sebuah canda di dalamnya.
Namun sayang Adam tak membalasnya.
Manisya segera membalas kembali pesan Adam, takut juga Adam marah kepadanya.
"Maaf, aku hanya bercanda!"
Adam tak membalas pesan dari Manisya, Manisya kini menatap ke arahnya berharap Adam melihat ke arahnya, dan benar saja Adam melihat ke arah Manisya tanpa sebuah expresi, walaupun Manisya melebarkan bibirnya menatap ke arah Adam.
"Kamu marah?" Manisya mengirim pesan Kembali kepada Adam.
"Tidak" Akhirnya Adam membalas pesan Manisya yang sedari tadi Manisya tunggu, takut jika Adam benar-benar marah kepadanya.
Sebenarnya hari itu merupakan salah satu hari tersulit untuk Manisya, bagaimana tidak saat ia mengetahui jika Adam menuliskan rencana kuliahnya di salah satu universitas ternama di Amerika membuat hati Manisya kacau, ia membayangkan kedepanya akan menjadi hari yang sangat sulit untuknya karena Adam akan berada jauh dari jangkauan nya, belum lagi sebuah pesan yang berisi caci makian yang ia terima.
"Wanita idiot, kamu tidak pantas berhubungan dengan Adam, terlalu memaksakan!" Ya isi pesan itu yang Manisya terima siang ini, yang dikirim dengan nomor yang berbeda setiap hari, dan dengan kata-kata yang berbeda pula.
__ADS_1
Awalnya memang Manisya terkejut dengan pesan yang meneror dirinya, namun ia sudah merasa Biasa saat pesan tersebut dikirim setiap hari, tak ada satupun teman maupun keluarga nya yang tahu tentang teror pesan yang ia terima, Manisya hanya tidak ingin keluarga ataupun teman dekatnya menjadi khawatir akan hal tersebut.
***