Pelangi Cinta

Pelangi Cinta
Pelukan Hangat


__ADS_3

"Aku menunggu mu!" Ucap Manisya sambil mengangkat kepalanya secara perlahan saat sebuah tangan dengan lembut membelai rambut hitam miliknya.


Manisya saat itu tengah mencoba memejamkan matanya berusaha melawan angin dingin yang berhasil menyapu seluruh tubuhnya serta sebuah perasaan takut dengan suasana sunyi bercampur dengan suasana malam yang gelap, ia juga sangat takut jika Adam benar-benar tak lagi datang menjemputnya.


"Maafkan aku!" Ucap Adam dengan mengusap lembut kedua pipi Manisya, di tatapnya wajah gadis itu begitu dalam, sebelum akhirnya Adam memberikan sebuah dekapan pada tubuhnya, dekapan yang membuat hangat seluruh tubuh Manisya.


Melihat Adam yang memeluknya secara tiba-tiba membuat Manisya terkejut, namun membuat perasaannya begitu senang mendapat sebuah dekapan hangat dari Adam, Manisya memperlihatkan senyuman lebarnya dan membalas pelukan Adam, dengan melingkarkan kedua tangannya pada tubuh Adam.


"Tak perlu minta maaf, aku baik-baik saja!" Ucap Manisya menjawab perkataan Adam padanya.


"Apa kamu kedinginan?" Tanya Adam, merasakan angin dingin saat ia mendekap erat tubuh Manisya.


Manisya menggelengkan kepalanya, "Tidak, pelukanmu sangat hangat." Manisya mengencangkan lengannya yang melingkar pada tubuh Manisya.


"Wanita bodoh! kenapa kamu tidak pulang saja?" Ucap Adam dengan tak melepaskan dekapan nya pada tubuh Manisya.


Di balik tubuh Adam, Manisya menggelengkan kembali kepalanya secara perlahan, "Aku sudah berjanji akan menunggumu."


Hening sesaat, kemudian sambil mendekap Manisya, Adam membelai kembali rambut hitam yang sudah terlihat kusut itu, "Terimakasih sudah menungguku!"


Manisya menjawab perkataan Adam hanya dengan menggelengkan kepalanya.


"Maafkan aku, membuatmu menunggu lama!" Kata Adam sambil perlahan melepaskan dekapannya, kemudian menatap wajah wanita yang akhir-akhir ini selalu berputar dalam fikirannya.


"Apa yang terjadi? aku ke toilet sebentar tapi kamu sudah pergi!" Tanya Manisya dengan menatap ke wajah Adam penuh dengan tanda tanya.


"Tadi saat pertandingan ada sebuah kecelakaan yang mengakibatkan Rangga jatuh pingsan, aku begitu terkejut, dan menemaninya hingga tersadar!"


Mendengar nama Rangga di sebut, membuat Manisya membelalakkan kedua matanya kemudian memegang tangan Adam dengan erat. "Apa Rangga baik-baik saja?" Ada perasaan khawatir mendengar seorang temannya jatuh sakit dalam hati Manisya.


"Untungnya Rangga baik-baik saja, Nina sekarang sedang menemaninya di rumah sakit, karena orang tuanya sedang berada di luar kota!" Jelas Adam kepada Manisya.


"Syukurlah Rangga baik-baik saja!" Manisya melemaskan Kembali badannya setelah sesaat meregang akibat terkejut mendengar Rangga yang jatuh pingsan.


"Bisakah kamu mengantarku ke sana, aku ingin menjenguknya." Ucap Manisya dengan tangannya masih memegang erat tangan Adam.


"Kamu bisa menjenguknya besok, ini sudah larut, aku akan mengatarkan mu pulang!" Adam sedikit menaikan nada bicaranya pada Manisya merasa khawatir dengan perempuan yang berada di hadapannya itu.


"Em, baiklah!" Ucap Manisya dengan mengerutkan bibirnya, dan sebuah tatapan yang tak beralih dari wajah Adam.


"Tanganmu begitu dingin, dan wajahmu terlihat pucat, apa kamu baik-baik saja?" tanya Adam sambil menyentuh kembali pipi Manisya.


"Aku sangat baik, kamu tak perlu khawatir!"


"Bangun lah!" Adam memegang tangan Manisya, mencoba membantu Manisya untuk berdiri.


Kemudian mereka pun bergegas masuk kedalam mobil, mencoba menghindar dari angin malam yang menyapu tubuh mereka.


"Kamu membawa mobil?" tanya Manisya mengangkat salah satu alisnya, seingatnya Adam datang bersamanya dengan sebuah sepeda motor.


"Iya aku menyuruh pak komar membawa motorku!"


Manisya mengangguk-anggukkan perlahan kepalanya mengiyakan ucapan Adam dengan memperlihatkan muka pucat nya.


"Masuk lah!" Adam membukakan pintu mobil untuk Manisya, ia pun bergegas memasuki mobilnya saat selesai menutupkan pintu untuk Manisya.


Setelah mereka menduduki kursi yang berada di dalam mobil, Adam menatap ke arah Manisya, di lihatnya wajah wanita yang biasanya selalu cerita, kini nampak tak berselera, ada perasaan khawatir yang begitu besar dalam hatinya melihat Manisya dengan raut muka seperti itu, namun Adam tak menunjukkan nya, ia sangat pintar menyembunyikan perasaannya.


Manisya yang kala itu sedang menyenderkan kepalanya pada jendela pintu, dan menatap lurus kedepan, kini beralih menatap Adam, saat Adam sibuk membuka sebuah jaket yang terpasang pada badannya, lalu Manisya mengulum bibirnya, tersenyum lebar dengan wajah yang sudah tak berbentuk lagi rupanya.


Mata mereka kini saling bertemu saat Adam berhasil memergoki Manisya yang sedang tersenyum ke arahnya. Kali ini Adam memberikan tatapan tajamnya pada Manisya kemudian berkata, "Bukan kah ini seperti dalam sebuah drama percintaan!" Adam berhasil membuka jaket miliknya, kemudian memakai kan nya pada tubuh Manisya.


"Sangat mirip, harusnya aku merekamnya!" Kata Manisya dengan nada bicara yang sedikit berbeda dari biasanya, ia pun tersenyum melihat Adam yang bertingkah seperti di dalam sebuah mimpi.


"Apa mau aku ulangi?" Tanya Adam sambil menaikan resleting jaket yang kini sudah terpasang pada tubuh Manisya.


Manisya tersenyum sambil menatap ke arah Adam, kemudian menggelengkan kepalanya secara perlahan, "Mungkin lain kali!"

__ADS_1


"Lain kali, bayarnya akan sangat Mahal!" Jawab Adam sambil menekan tombol start pada mobilnya yang membuat mobilnya kini telah menyala.


Manisya hanya tersenyum menanggapi perkataan Adam.


"Terimakasih, ini hangat!" tutur Manisya dengan memegang jaket yang menempel pada tubuhnya.


Alangkah terkejutnya Manisya, ia membelalakkan kedua matanya saat Adam menyentuh ujung kepalanya dengan bibir tebal miliknya, Setelah itu Adam tersenyum menatap Manisya.


"Itu akan lebih menghangatkan mu!" Ucap Adam sambil menyentuh rambut bagaian atas kepala Manisya. Kala itu Manisya dibuat mematung dengan tingkah Adam kepadanya.


"Kenapa wajahmu begitu pucat?" tanya Adam sambil memegang pipi Manisya kembali.


"Tidak apa-apa, mungkin hanya sedikit lelah!" Ucap Manisya yang kala itu sebetulnya sedang menahan rasa sakit di kepalanya sejak awal bertemu Adam.


"Apa kamu sungguh-sungguh!"


Tanya Adam menaruh rasa curiga pada Manisya.


"Iyah, aku sangat baik!" Jawaban Manisya tak membuat Adam merasa puas, Adam menarik salah satu alisnya, kemudian segera menekan gasnya memajukan mobil sport berwarna merah miliknya itu.


"Kita makan dulu!" Kata Adam sambil melihat ke kiri dan kanan jalan, mencoba mencari menu makanan yang Manisya sukai.


"Aku tidak ingin makan!" Jawab Manisya dengan nada suara yang begitu lemas.


"Kamu harus makan, maksudku aku sangat lapar, aku akan makan dulu, kamu mau kan nemenin aku!" Cara Adam membujuk Manisya agar bersedia makan malam.


"Kamu lapar?" tanya Manisya kepada Adam.


"Iyah, aku sangat lapar!" Jawab Adam.


"Baiklah aku akan menemanimu makan, aku akan ikut makan dengan mu!" Cara pintar Adam membujuk Manisya untuk makan sungguh ampuh.


"Aku ingin makan pecel lele!" Tutur Adam yang sebetulnya sengaja memilih menu tersebut karena sepanjang perjalanan yang terlihat hanya pedagang pecel lele, Adam hanya merasa khawatir jika memilih menu yang lain, akan membuat Manisya semakin malas untuk makan.


"Aku juga!" Jawab Manisya dengan secara tidak langsung memberi sebuah kode, kode jika ia akan makan apa yang Adam makan.


"Apa benar?"


"Baiklah, kita makan di depan ya, pecel lele langganan aku!"


Manisya tak menjawab perkataan Adam, ia hanya menganggukkan kepalanya secara perlahan.


Setelah itu, Adam mengentikan laju mobilnya, kemudian ia memarkirkan mobilnya sejajar dengan mobil lainnya di sebuah tempat parkir.


Saat itu Manisya yang hendak membuka pintu mobil, namun di dahuli oleh Adam yang dengan sengaja membukakan pintu mobil miliknya itu.


Ada perasaan aneh tentang sikap Adam kepadanya, namun Manisya tidak terlalu memikirkan hal itu, "Terimakasih!" ucap Manisya saat Adam membantunya keluar dari mobil.


Kini perasan anehnya kepada Adam semakin bertambah saat ia telah berhasil keluar dari mobil dengan bantuan Adam, dan Adam tak melepaskannya dengan melingkarkan tangannya pada pundak Manisya.


Kemudian merekapun duduk di sebuah kursi yang di sediakan oleh penjual pecel lele, mereka duduk berdekatan, namun saat sampai, Adam telah melepaskan pelukannya pada pundak Manisya.


Bapak penjual pecel lele mendekat ke arah Adam.


"Mas apa kabar?, sudah lama ya ga ngelihat Mas Adam makan disini?" tanya Bapak Penjual pecel lele kepada Adam.


"Iyah udah lama memang ga kesini!" Jawab Adam menanggapi perkataan Bapak Penjual Pecel lele.


"Terakhir, kayaknya sama ya Mas, sama yang ini juga!" Bapak Penjual Pecel Lele.


"Adam mengerutkan dahinya, mencoba mengingat kembali apa yang di maksud perkataan penjual pecel lele itu.


"Iya ya Pak, mungkin yang waktu itu sama aku ya, waktu itu Adam lagi galak-galaknya!" Jawab Manisya sambil menutup mulutnya, kemudian menatap Adam sambil mengulum bibir pucatnya. Adam hanya diam tak menjawab perkataan Manisya, ia hanya memperhatikan wajah pucat Manisya dari balik matanya.


"Maaf mas, saya hanya bercanda!" ucap Bapak Penjual pecel lele saat melihat raut muka Adam yang tidak berubah saat di ajak bercanda, ia salah mengartikannya, saat itu Adam tidak memperhatikan perkataan bapak penjual pecel lele, ia hanya memperhatikan wajah pucat Manisya.


Adam tak menjawab perkataan Bapak penjual pecel lele, hanya fokus menatap wajah Manisya.

__ADS_1


"Mas, seperti biasa?" tanya bapak penjual pecel Lele, kali ini Manisya menyentuh pipi Adam, membuat ia tersadar dari lamunannya.


"Adam?" Panggil Manisya dengan tangannya masih menyentuh pipi Adam, berusaha menyadarkannya.


"Eh, iya iya Pak, pesananku seperti biasa!" Adam mencoba menebak apa yang harus ia katakan saat itu.


"Kamu mau apa?" tanya Adam kepada Manisya.


"Aku samain aja kayak kamu dam!" Jawab Manisya yang sedang tidak berselera makan itu.


Bapak penjual pecel lele itu, tiba - tiba berbisik di telinga Manisya. "Mbak, kayaknya sudah jinak ya!"


Mendengar perkataan Bapak Penjual Pecel Lele di telinganya membuat Manisya terkekeh di buatnya kemudian membalas perkataan Bapak Penjual pecel lele tersebut.


"Belum sepenuhnya jinak Pak!" Manisya dan Bapak Penjual Pecel Lele tertawa bersama, mengabaikan Adam yang kala itu memperhatikan tingkah mereka, namun Adam tak merespon apapun hanya sibuk menatap ke arah Manisya.


"Sebentar, saya ambilkan dulu!" Bapak Penjual Pecel Lele pun pamit untuk menyiapkan pesanan mereka.


"Apa kamu mendengar apa yang di katakan Bapak Pecel Lele tadi?" Tanya Manisya sedkit penasaran kepada Adam.


"Bukan Bapak Pecel Lele, tapi Bapak Penjual Pecel lele, Nona!" Adam memperjelas perkataan Manisya.


"Iya, maksudku apa kamu mendengar apa yang di katakan Bapak Penjual Pecel Lele di telingaku tadi?" Tanya Manisya sambil melebarkan senyumannya kepada Adam yang tengah menatapnya.


"Tentu saja!"


Manisya membelalakkan matanya saat mendengar jawaban Adam, "Kamu mendengarnya?" Tanya Manisya kembali memastikan perkataan Adam.


"Bagaimana mungkin aku tidak mendengarnya, kalian berbisik begitu kencang, semua orang disini saja bisa mendengar nya!" Adam memperjelas perkataannya.


"Dan kamu diam saja?" Manisya terlihat heran dengan perkataan Adam, tak biasanya laki-laki Yang ada dihadapannya itu bersikap tak perduli seperti ini.


"Tidak, aku sedang merencanakan sesuatu untukmu!" kata Adam mencoba memprovokasi perasan Manisya.


"Apa yang kamu rencanakan?" Tanya Manisya dengan menaikkan nada suaranya namun masih terlihat lemas.


"Aku tidak akan memberitahumu!" Jawab Adam berusaha menjahili Manisya yang kini terlihat sedikit ketakutan melihat Adam.


"Sini, dekatkan telingamu, aku akan memberitahumu dengan berbisik di telingamu!"


Manisya pun mengikuti perintah Adam, mendekatkan telinganya kepada Adam, kemudian dengan segera Adam membisikan sebuah kata di dekat telinga Manisya,


"Aku berencana memelukmu sekarang juga!"


Mendengar perkataan Adam, membuat Manisya membelalakkan kedua matanya dan tanpa sebuah aba-aba Adam mendekap tubuh Manisya dari balik kursinya, mengabaikan semua mata yang menatap geli ke arahnya.


Manisya berontak, tak ingin Adam memeluknya di hadapan semua orang yang menatap ke arahnya, membuatnya ingin menghilang saat itu juga, namun Adam memang sengaja melakukannya untuk menjahili wanita yang kini menampakkan wajah pucatnya.


"Baiklah, kali ini akan ku ampuni, akan aku lanjutkan nanti!"


Mendengar perkataan nya saja membuat Manisya merinding, tak ingin menanggapi perkataan Adam.


Setah itu tak ada lagi percakapan di antara mereka, Adam masih memperhatikan Manisya, menatapnya begitu dalam, ia tak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Manisya.


"Apa kamu baik-baik saja, kenapa menatapku terus seperti itu?" tanya Manisya yang merasa heran dengan tingkah Adam sejak dari tadi, kini Manisya pun menyentuh dahi Adam menggunakan salah satu tangannya, khawatir Adam sakit, ia menempelkan juga tangannya ke atas dahinya, membandingkan suhu tubuhnya dan tubuh milik Adam, takut jika terjadi sesuatu kepada Adam. Namun hasilnya tidak ada perbedaan.


"Pesanannya mba, Mas Adam!" Bapak Penjual Pecel Lele itu menyajikan makanan yang dipesan Adam dan Manisya di atas mejanya.


"Terimakasih Pak!" Jawab Manisya yang kemudian mulai menyantap makanan pesanannya yang kini tersaji di atas meja.


Adam melahap habis makanan yang di pesannya, namun tidak dengan Manisya, ia hanya menyantap beberapa suap saja makanan yang di pesannya.


"Apa perlu aku suapi!" Ancam Adam kepada Manisya.


"Perutku benar-benar sudah penuh!" Jawab Manisya masih dengan nada lemas nya.


Melihat Raut muka Manisya, Adam membiarkan Manisya menghentikan makannya , ia kemudian memanggil bapak penjual pecel lele untuk membayar semua makanan dan miliknya dan Manisya yang telah dipesan.

__ADS_1


"Terimakasih banyak Pak!" ucap Manisya kepada Bapak penjual pecel lele, bermaksud berpamitan, namun kala itu Manisya melihat Adam menghampiri Bapak Penjual Pecel Lele, kemudian Manisya juga memperhatikan Adam mendekatkan mulutnya pada telinga Bapak Penjual Pecel Lele tersebut hendak berbisik sesuatu, kemudian menunjuk Manisya dengan menggunakan telunjuk kanan Nya dan berbisik, namun berbisikn nya bisa terdengar oleh Manisya dan beberapa orang yang tengah makan di sana.


"Bapak tahu, dia itu pacarku!"


__ADS_2