Pelangi Cinta

Pelangi Cinta
Aku Akan Selalu Mengingatnya


__ADS_3

"Masih kurang?" Tanya Adam setelah beberapa kali Manisya meminta foto di ulangi karena wajahnya yang tidak terlihat bagus di dalam foto.


"Kamu sudah mengambil foto lebih dari sepuluh kali, dan itu masih belum cukup?" Protes Adam kepada wanita yang kini tengah duduk di sampingnya itu.


"Maaf, coba lihat!" Manisya memperlihatkan foto mereka di ponsel milik Manisya.


Dengan teliti Adam melihat foto-foto yang ada ponsel Manisya itu.


"Apanya yang kurang, ini semua bagus!" Adam mengerutkan dahinya melakukan aksi protes kepada Manisya.


"Kamu benar-benar tidak bisa melihatnya?" Manisya menggelengkan kepalanya menatap Adam, saat Manisya berkata seperti itu, Adam meraih ponsel Manisya kembali yang sebelumnya sudah ia serahkan kepada Manisya.


"Ada apa memangnya?"


"Kamu lihat wajahku di sana! tidak ada satupun wajahku yang cantik dalam foto itu?" Manisya mengerutkan bibirnya.


Adam menghela nafas.


"Apa mungkin ini karena kamu?" Manisya mengarahkan telunjuknya kepada Adam dengan memasang wajahnya yang paling menakutkan, namun hanya membuat Adam gemas.


"Aku, kenapa jadi aku yang di salahkan? Gadis bodoh!" Adam menarik telunjuk Manisya yang mengarah kepadanya.


"Iyah, itu karena kamu terlalu tampan, dan tingkat ketampananmu akan naik saat kamu tersenyum!" Jawab Manisya tanpa basa-basi membuat raut Adam berubah seketika, bukan merona atau tersenyum, Adam memasang wajah masam dan tatapan tajamnya kepada Manisya, ya Adam memang sangat tidak senang mendengar pujian apapun tentang dirinya.


"Ayo satu kali lagi di fotonya ya, tapi kamu jangan senyum, biarkan aku saja yang cantik kali ini!" Manisya merengek-rengek meminta Adam berfoto kembali dengannya.


"Tidak, itu sudah cukup!" Jawab Adam.


"Pelit!" Manisya terlihat menggerutu.


Setelah menyelesaikan Makanannya, dan menyelesaikan perdebatan tentang sebuah foto, Adam segera mengajak pulang Manisya, yang memang saat itu sudah cukup larut.


"Apa kamu tidak menyesal berhenti bekerja?" Tanya Adam saat memperhatikan Manisya yang tengah berusaha membuka tali pengikat helm di depan rumahnya.


Manisya menggeleng-geleng kan kepalanya.


"Tentu saja tidak, aku kan bisa maen terus sama kamu, hehe!" Jawab Manisya.


Dengan wajah datarnya, Adam menepuk helem yang masih terpasang di kepala Manisya.

__ADS_1


"Apa benar?" tanya Adam.


"Tentu saja, aku yakin akan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, kamu gak perlu khawatir!" Jawab Manisya masih kesulitan membuka tali pengikat helmnya.


Adam yang kala itu tengah berdiri di hadapan Manisya, melihat Gadis itu kesulitan membuka helmnya, dengan segera menarik tali pengikat helm milik Manisya membuat tubuh Manisya juga tergoncang hingga jarak mereka sangat berdekatan, jantung Manisya berdegup kencang menatap wajah Adam yang begitu indah dengan jarak yang sangat dekat, kemudian dengan hati-hati Adam membuka tali pengikat helm milik Manisya.


"Sudah berkali-kali memakai helm, masih tidak bisa membukanya!" Protes Adam menatap ke arah Manisya, yang terlihat mematung menatap Adam.


Helm Manisya pun berhasil ia buka, Adam membuka helm miliknya hendak menggantinya dengan helm yang Manisya gunakan sebelumnya, karena memang helm yang di pakai Manisya merupakan helm Favoritnya.


"Kenapa menatapku seperti itu?" Tanya Adam yang melihat Manisya masih mematung menatap ke arahnya, saat itu Adam hendak memasang helm di kepalanya.


Manisya menggeleng-geleng kan kepalanya menatap ke arah Adam, Adam terlihat mengerutkan dahinya melihat tingkah Manisya.


"Apa ada sesuatu di wajahku?" Tanya Adam sambil menyentuh wajahnya menggunakan tangan kanannya.


Manisya menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan Adam.


"Biar aku bantu!" Ucap Manisya secara perlahan.


Adampun terlihat sedikit menurunkan kepalanya agar Manisya mudah meraihnya.


Mendapat ciuman di hidung dan bibir oleh Manisya secara tiba-tiba, membuat Adam begitu terkejut, ia berdiri mematung menatap Manisya yang tengah berlari masuk kedalam rumahnya, bahkan saat ia hendak berkata, gadis itu sudah berhasil melarikan diri darinya.


Adam terlihat menyilangkan kedua tangan di atas dadanya dengan tatapannya ia tujukan kerumah Manisya, bibirnya pun tertarik lebar penuh dengan kebahagiaan. "Gadis Bodoh!" Setelah itu Adam segera melajukan motornya untuk segera pulang ke rumahnya.


Di rumah Manisya, Manisya tengah memukuli kepalanya secara perlahan menggunakan telapak tangannya, "Bodoh bodoh bodoh, bodoh banget kamu Manisya, bisa bisanya kamu mencium Adam, haduh bagaimana ini!" Keringat dingin kini tengah menyelimuti seluruh tubuhnya menandakan perasaan Manisya kini tak menentu, yaitu perasaan malu dan bahagia atas apa yang ia lakukan.


"Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan besok di sekolah, kenapa aku bodoh sekali?" saat Masih dengan perasaan kacaunya, ia mendapat sebuah pesan dari Adam.


"Aku sudah di rumah, tidurlah yang nyenyak, aku akan mengingat hadiah yang kamu berikan, makasih!"


Setelah membaca pesan dari Adam, Manisya yang kala itu tengah duduk di atas kasur, seketika melemparkan ponselnya namun masih di atas kasur.


"Hadiah? tidak tidak tidak, memalukan!" kini sebuah bantal menjadi sasaran, ia membenamkan wajahnya di atas sebuah bantal dengan kedua tangannya menepuk-nepuk banyak tersebut.


Malam itu Manisya, tidak bisa tidur nyenyak, ia Mulai terlelap saat jam 02 dini hari, sedangkan Adam terlelap lebih awal dengan perasaan bahagia karena sebuah hadiah yang Manisya berikan untuknya.


Ke esokan paginya di sekolah.

__ADS_1


Manisya pagi itu terlihat mengendap-endap berjalan menuju ruangan kelasnya, ia tak henti melihat ke arah kanan dan kekiri, maksud terselubung Manisya adalah, jika ia bertemu dengan Adam ia kan segera menghindarinya.


"Untunglah dia belum datang!" Langkah kaki Manisya sudah sampai di pintu kelas.


"Aku di belakangmu?"


Manisya mematung dengan membulatkan kedua bola matanya, ia begitu kaget mendengar perkataannya tiba-tiba ada yang menjawab, terlebih lagi ia begitu kenal dengan suara laki-laki tersebut. Bukannya menengok ke arah Adam, Manisya berjalan lurus menuju kursinya mengabaikan Adam yang berdiri tepat di belakangnya.


Lagi-lagi tingkah Manisya saat itu berhasil membuat Adam melebarkan bibirnya.


Adam segera mengikuti langkah kaki Manisya, saat langkahnya mendekat dengan Manisya, segera di tarik tas gendong yang menempel pada punggungnya membuat Manisya.


"Mau kemana?" Tanya Adam masih berusaha menarik Manisya, kala itu Manisya masih berusaha menghindari Adam.


"Mau duduk!" Jawab Manisya.


"Kenapa terburu-buru?" Kali ini Adam berhasil menghadang Manisya, Adam sedikit menjongkokkan badannya menatap ke arah Manisya karena mereka kini saling berhadapan, tangan Adam pun menyentuh kepala Manisya menahannya karena Manisya masih berusaha menghindari Adam.


"Tidur mu nyenyak?" Tanya Adam.


Manisya menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan Adam, Manisya terlalu malu untuk berkata sejujurnya.


"Jika tidurmu nyenyak, kenapa ada lingkaran hitam di kedua kelopak matamu?" Adam memperhatikan dengan kedua mata Manisya dengan seksama, ia juga menyentuhnya secara perlahan.


"Apa kamu..?" Adam hendak berkata kepada Manisya dan ucapannya terpotong karena Manisya lagi-lagi menutup mulut Adam yang akan berbicara itu.


Manisya menggeleng-geleng kepalanya.


"Aku mohon jangan membahasnya lagi!" kemudian melepaskan tangan yang menutup mulut Adam. Setelah itu Adam menegakkan badannya memberi jarak dengan Manisya.


"Aku akan selalu mengingatnya!" Kemudian berlalu pergi menuju bangku tempat duduk yang biasa Adam duduki.


Depan kedua pipi yang merona Manisya pun segera duduk di bangku miliknya, Manisya masih tak berani menatap ke arah Adam.


Siang harinya, guru wali kelas datang, "Yang belum mengumpulkan rencana kuliah kalian segera mengisinya sebelum pulang kumpulkan di meja bapak!"


Manisya terlihat memegang kertas yang dimaksudkan wali kelas, sesekali ia menatap ke arah Adam, "Apa benar dia akan kuliah d luar?"


***

__ADS_1


Yuk kirim doa dan semangat untuk temen-temen kita di Palestina. 😇❤️


__ADS_2