Pelangi Cinta

Pelangi Cinta
Itu Sebuah Hutang


__ADS_3

"Adam, aku mau tanya boleh, tapi ini mungkin aga kurang enak di dengar" Manisya menatap ke arah Adam.


Adam hanya menjawab dengan membalas tatapan Manisya.


"Apa kamu tau, berapa biaya rumah sakit di sini permalam, tepatnya di kamar yang aku tiduri saat ini?"


Adam memandang ke arah Manisya yang kini tengah duduk di atas tempat tidur lengkap dengan infus ditangannya.


"Apa itu yang membuat lo menolak di ajak ke mari?" Adam balik bertanya pada Manisya.


"Mmm.. Salah satunya" Jawab Manisya ragu.


Adam mengerutkan kedua Alisnya menebak apa yang Manisya fikiran.


"Apa biaya di sini sangat mahal?" Tanya Manisya kepada Adam yang masih duduk di sofa dengan menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Menurut lo?" Adam balik bertanya.


"mmm" Manisya berfikir dalam.


"Apa di rumah sakit ini bisa memberi cicilan untuk sebuah pembayaran?" Manisya mengeluarkan pertanyaan yang berada di benaknya kini.


Adam menatap Manisya penuh tanya.


"Bisa" Adam menjawab singkat.


"Benarkah" jawab Manisya dengan membulatkan kedua bola Matanya dengan disertai tarikan di kedua sudut bibir tipisnya.


"Tapi seumur hidup lo harus mengabdi di rumah sakit ini" Adam memperjelas perkataannya.


Seketika Manisya mengerucutkan bibirnya, bibirnya pucat seketika, dan Manisya kini berhenti bertanya pada Adam.


Tiba - tiba di ruangan menjadi hening.


"Gak papa lah aku bekerja seumur hidup di sini, yang penting ga nyusahin Ayah dan Ibu" Manisya bertekad dalam hatinya.


"Kebagian mana aku harus melapor untuk Pembayaran cicilan tersebut?" Manisya bertanya kembali kepada Adam.


"Astaga" Adam seketika mengencangkan suaranya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Benar-benar gadis bodoh" Adam memejamkan mata kemudian menarik nafasnya dalam-dalam bermaksud mengeluarkan emosinya berhadapan dengan gadis bodoh di hadapannya.


"Gua udah bayar semua pembayaran rumah sakit lo" Adam menjelaskan secara detail karena tak mau menguras emosinya.


"Mmm maksutmu" tanya Manisya.


"Karna gua yang bawa lo ke sini jadi gua yang bayar, ngerti lo" Adam mulai gemas dengan Manisya yang tak kunjung mengerti.


"Em, apa itu artinya aku harus membayar padamu?, apa aku juga harus mengabdi seumur hidup?"

__ADS_1


"Tak apalah berurusan dengan dia seumur hidup, toh aku mengidolakan nya" Manisya berkata dalam hati kecilnya.


"Tentu saja, itu sebuah hutang" Jawab Adam.


"Apa cicilan juga berlaku dam?" Manisya menanyakan kembali.


"Itu belum di fikirkan" Adam menjawab kembali.


"Berpa hutang yang harus aku bayar dam?" tanya Manisya.


"Belum ada kepastian, lo harus balik dulu baru lo bakal tau berapa biaya nya" Adam menjelaskan.


"Mm, baiklah, semoga tidak sebanyak yang aku fikirkan, tolong infokan padaku jika semua pembayaran sudah dilakukan ya Dam" Ungkap Manisya kepada Adam.


Adam menganggukkan kepala pertanda meng iyakan permintaan Manisya.


"Kamu punya uang sebanyak itu dam?" tanya Manisya pada Adam penasaran.


"Bukan uang punya gua, tapi bokap gua" Adam menjelaskan.


"Ooh, apa itu uang bulanan Mu?" tanya Manisya.


Adam tak menjawab.


"Maaf karena membuat mu menghabiskan uang bulanan yang orangtuamu berikan padamu" Manisya merasa bersalah kepada Adam karena memakai uang Adam.


"Apa lo benar-benar menyesal?" tanya Adam.


"Kalau begitu jangan bertindak ceroboh, dan jangan pernah melibatkan gua berurusan dengan kelakuan bodoh lo itu" Adam memberikan peringatan kepada Manisya.


"Em, baiklah, tapi aku tidak berjanji" Nisya berkata dengan penuh keraguan.


"Aku berjanjia akan segera melunasinya, aku akan mencari pekerjaan" Manisya berkata sungguh-sungguh.


"Pekerjaan?" Adam membualatkan kedua matanya di ikuti dengan kerutan di kedua alisnya, seakan tak yakin dengan perkataan Manisya.


"Bersikap saja dia ceroboh, Apalagi bekerja" Adam tidak yakin dengan perkataan Manisya.


"Nanti aku akan mencari pekerjaan" Manisya mengulangi kata - katanya.


"Tapi apa kamu mau berjanji sesuatu kepadaku Dam" Manisya memohon kepada Adam.


"Gua gak suka mengubar janji" Jawab Adam tegas.


"Ini permohonan ku, tolong jangan beritahu hal ini pada kedua orangtua ku" Manisya memohon pada Adam.


"Itu tergantung kelakuan lo" Jawab Adam.


"Ikuti semua perintah gua" Adam seakan meminta imbalan.

__ADS_1


"Perintah?, perintah apa maksud mu?" tanya Mnisya yang terlihat bingung.


Manisya terlihat menurunkan kasurnya yang sedari tadi menopang tubuhnya hingga terduduk, ia merasakan kepalanya yang mulai terasa berat kembali.


Belum Adam menjawab pertanyaan Manisya berkata kembali.


"Adam, apa aku boleh tidur dulu" tanpa memeperdulikan perkataan Adam, Manisya memejamkan kepalanya, kini ia tidak bisa menahan kepalanya yang memutar kembali.


Adam dari sofa memperhatikan Manisya.


"wanita aneh**" Adam bergumam


Namun ia melihat Manisya yang seperti mengigau, dengan keringat di sekujur kepala dan badannya, Adam mendekati Manisya yang tengah tertidur.


Dengan ragu-ragu Adam memegang kepala Manisya mengecek suhu badannya, Kamudian menarik selimut yang dikenakan Manisya agar menutupi seluruh badannya.


"Kenapa gua harus berurusan sama lo terus"


Saat sedang memperhatikan Manisya, Ibu Dewi yang tak lain ibu Manisya membuka pintu kamar, datang kembali ke kamar Manisya setelah meminta Ijin untuk membeli makanan dan keperluan Manisya.


"Nak Adam" sapa Ibu Dewi.


"Tante sudah kembali" Jawab Adam.


"Maaf ya tante lama, tadi sekalian beli keperluan Mandi dulu, Makasih ya udah jagain Si Manis". Ibu Dewi mengucapkan terimakasih kepada Adam.


"Ga papa tante, sama-sama" ucap Adam kepada Ibu Dewi.


Adam memang selalu bersikap Manis jika dihadapan orangtua.


"Tante, Coba liat, Adam perhatikan tadi Manisya seperti sedang pusing, terus berkeringat" Adam mengungkapkan Rasa khawatirnyan kepada Ibu Dewi.


Ibu Dewi mendekat ke arah Manisya, kemudian memegang kepala dan badan Manisya.


"Dari semalam juga sperti ini, tante udah nanyain ke dokter katanya itu hal biasa, efek dari obat, kebetulan sebelum keluar, tadi Manisya sempet minum obat dulu" Ibu Dewi menjelaskan kepada Adam.


"O begitu tante, syukurlah kalau begitu" Jawab Adam yang merasa lega mendengar penjelasan Ibu Dewi.


Sebetulnya, Adam sempat bertemu dengan Ibu Dewi saat sedang berjalan menuju luar Rumah Sakit, karena merasa khawatir, Ibu Dewi yang tau Adam akan menjenguk Manisya, Ibu Dewi minta tolong kepada Adam untuk menemani Manisya sebelum Ibu Dewi kembali. Oleh karena itu, Adam yang tidak mungkin menolak permintaan Ibu Dewi, sampai saat ini masih menemani Manisya walaupun Nina dan Rangga sudah meninggalkan Rumah Sakit terlebih Dahulu.


"Tante, apa adalagi yang bisa Adam bantu" Adam bertanya kepada Ibu Dewi, bermaksud menolong.


"Sudah sudah, tante sudah selesai, nak Adam boleh pulang" Jawab Ibu Dewi.


"Makasih banyak ya Nak Adam, sudah membantu Ibu untuk menjaga si Manis". Ibu Dewi berterimakasih kepada Adam.


"Sama-sama bu, jangan sungkan" Adam menjawab.


"Kalau begitu, Adam pamit pulang dulu ya tante" Adam berpamitan kepada Ibu Dewi, kemudian keluar dari kamar Manisya.

__ADS_1


"hati-hati nak Adam" Ibu Dewi berteriak kepada Adam.


"Baik bu" Adam menjawab.


__ADS_2