Pelangi Cinta

Pelangi Cinta
Terkejut


__ADS_3

"Maaf, maaf!" ucap Manisya sambil menyeka air matanya sesaat setelah pelukannya pada tubuh Adam ia lepaskan.


"Cie!"


"Ehem!"


"Huuuuu!"


"Asik nih!" Dan masih banyak lagi perkataan teman-teman sekelas mereka menyoraki Manisya yang tengah memeluk Adam.


Sebenernya saat itu, Ingin sekali Adam membalas pelukan Manisya, sekedar mengusap kepalanya ataupun mengeringkan airmata yang terjatuh membasahi pipi Manisya, namun urung ia lakukan mengingat saat itu ia dan Manisya menjadi pusat perhatian seluruh teman kelasnya.


Manisya mengalihkan pandangannya menatap ke arah teman-temannya yang tengah melihat ke arahnya seakan sepakat menarik kedua sudut bibirnya masing-masing menatap dirinya dan Adam, pipi Manisya merah merona seketika mendengar perkataan yang keluar dari mulut teman-temannya itu, setelah Manisya menggeser tubuhnya memberi jarak dari Adam, Manisya pun segera mengangkat tubuhnya untuk berdiri kemudian segera berlari meninggalkan perasaan malunya karena membuat satu kelas heboh di buatnya.


"Apa yang kamu lakukan Manisya, kamu bodoh sekali!" Tutur Manisya kepada dirinya sendiri, kini ia berada di dalam toilet, tepatnya di depan sebuah cermin wastafel.


"Bodoh bodoh bodoh!" Manisya memukul kepalanya secara perlahan menggunakan kepalan tangannya.


Kemudian Manisya segera membasuh mukanya, berharap sisa tangisnya tak meninggalkan bekas di kedua kelopak matanya.


"Manisya kamu bodoh!" Menatap cermin yang memantulkan bayangannya sendiri.


"Sangat bodoh!"


Tiba-tiba pantulan wajah seorang laki-laki muncul dari dalam cermin. Manisya membulatkan kedua matanya menatap ke arah cermin, Manisya sangat terkejut melihat bayangan Adam ada di sana.


"Adam!" Kemudian menoleh ke kebelakang, memastikan jika orang yang muncul di cermin memang ada tepat di belakangnya.


"Kenapa kamu ada di sini?" Tanya Manisya dengan mengangkat salah satu alisnya.


Adam menatap dalam ke arah Manisya, kini ia sengaja menyilangkan kedua tangannya di atas dada. "Bukannya seharusnya aku yang bertanya kenapa kamu ada sini?"


"Aku hanya mencuci mukaku!" Jawab Manisya.


Adam terlihat berjalan mendekat dengan mata tak ia lepaskan menatap ke arah Manisya.


"Mencuci muka? di sini?" Adam menarik salah satu alisnya ke atas dengan tak melepaskan tatapannya kepada Manisya.


"I, iya!" Jawab Manisya kikuk, karena mereka kini saling berhadapan dengan jarak yang dekat. Kemudian tak sengaja menoleh ke arah kiri, dan ia melihat sesuatu benda yang tak mungkin terpajang di dalam toilet wanita.


"Ya ampun, aku salah masuk toilet lagi!" Tutur Manisya sesaat setelah ia melihat Urinoir milik pria terpajang di dalam toilet tersebut. Manisya melangkahkan kakinya memberi jarak dari Adam hendak berlalu melarikan diri dari Adam karena merasa ia sudah melakukan kesalahan, namun tangan Adam berhasil meraih tangan Manisya, membuat ia tak bisa bergerak dan masih dengan posisi berhadapan akibat ulah Adam.


"Hehe, maaf aku salah toilet lagi!" Ucap Manisya saat tangannya berhasil di pegang oleh Adam.

__ADS_1


Adam menggeleng-gelengkan kepalanya dengan apa yang dilakukan oleh Manisya, untuk ke dua kalinya ia mengetahui Manisya salah masuk ke dalam toilet.


Kini wajah Adam dan Manisya saling berhadapan. "Sudah jelas ada tulisannya di depan, dan letaknya juga berbeda kenapa bisa salah?" Adam mencoba menginterogasi Manisya.


"Hehe, aku ga sempat membacanya, tadi buru-buru!"


"Gimana kalau di sini lagi ada murid laki-laki yang sedang melakukan aktivitasnya?"


"Tapi kan sekarang ga ada!" Jawab Manisya.


"Aku bilang kalau!" Jawab Adam dengan membentuk ujung jarinya membulat hendak menjentikkan di atas dahi Manisya, dengan segera Manisya menutupnya dengan kedua tangannya.


Namun bukannya menjentikkan jarinya di dahi Manisya, Adam malah mengusap lembut kedua pipi Manisya.


"Kenapa tadi kamu menangis?" Menatap Manisya dengan sorot mata yang penuh kasih sayang.


Manisya sedikit terkejut, karena tangan Adam menyentuh pipinya.


"Tidak, tidak kenapa-napa!" Jawab Manisya


Saat mendengar jawaban Manisya, Adam menatap gadis itu dengan tajam, merasa tak puas dengan apa yang di ucapkan Manisya kepadanya.


"Em, aku, aku hanya merasa khawatir takut terjadi apa-apa denganmu!" Tutur Manisya, akhirnya memberi penjelasan kepada Adam jika ia sangat khawatir jika sesuatu menimpa Adam.


"Aku baik-baik saja, dan maaf sudah membuatmu khawatir!" Mengusap lembut kembali pipi Manisya menggunakan tangannya penuh dengan perasaan, kali ini tangan Adampun menyentuh rambut Manisya dengan sangat lembut, membuat jantung Manisya berdegup kencang.


Adam yang kala itu tengah memegang kedua pipi Manisya segera melepaskannya.


"Aku pergi dulu, aku salah toilet!" Manisya memanfaatkan kesempatan itu untuk segera berlari dari Adam dan juga Rangga, dengan cepat Manisya meninggalkan toilet.


"Kenapa selalu Lo yang datang mengganggu!" Adam menumpahkan kekesalannya kepada Rangga.


"Apa maksud Lo? Gua kesini cuma buat buang air kecil, Lo aja pacaran salah tempat, masa di toilet, gak level banget deh Lo!"


"Bukan urusan Lo!" Jawab Adam sambil berlalu meninggalkan Rangga sendirian di dalam toilet, dan tatapan tajamnya pun berhasil membuat Rangga merinding.


Manisya yang hendak masuk ke dalama kelas, tertahan di depan pintu kelas, ia begitu malu jika harus masuk ke dalam kelas, "Apa yang harus aku katakan jika mereka bertanya!" Ucap Manisya dari dalam hatinya.


"Kenapa tidak masuk?" Tanya Adam yang Baru saja tiba di depan kelas tepat di hadapan Adam.


"Kamu duluan aja!" Jawab Manisya merasa dirinya belum mengumpulkan kekuatannya jika harus masuk kedalam saat itu juga.


"Kamu ingin aku menarikmu?" Tiba-tiba tangan Adam menggenggam jemari Manisya.

__ADS_1


Manisya merasa terkejut, dengan segera membulatkan kedua matanya menatap tajam.


"Jangan! ini akan membuat mereka lebih terkejut!" Tutur Manisya


Adam melepaskan tangannya yang menggenggam jemari Manisya, kemudian menyentuh bagian atas kepala Manisya


"Berjalan lah di belakangku aku saat aku masuk!" Ucap Adam memberi perintah, kemudian Adampun segera membuka pintu kelas dan segera melangkah kan kakinya kedalam kelas.


Sementara itu dengan penuh keraguan, Manisya pun melangkahkan kakinya tepat di belakang Adam, ia menunduk tak berani menatap teman-temannya, dan benar saja apa yang di bayangkan oleh Manisya sebelumnya sorak sorai terdengar saat Manisya dan Adam masuk ke dalam kelas.


Manisya memberanikan mengangkat kepalannya dan menyapa teman-temannya saat hendak menduduki bangku miliknya.


"Ssst, kalian jangan berisik!" Ucap Manisya Menarik kedua sudut bibirnya sambil memperlihatkan kedua pipinya yang merona. Sementara Adam tak memberikan komentar, hanya memasang wajah tanpa ekspresi.


"Sya, emang kamu jadian sama Adam?" Nina berbisik di telinga Manisya.


Manisya menengok ke arah Adam, menatapnya sesaat, sebelum akhirnya Adam menyadari Manisya menatap ke arahnya, kemudian menatap balik ke arah Manisya dengan wajah tanpa ekspresi. Manisya menarik kedua sudut bibirnya namun tidak di balas oleh Adam.


"Entahlah nin!" Jawab Manisya.


"Loh kok gitu?" Tanya Nina kembali.


"Aku juga bingung!" Jawab Manisya.


"Jangan bikin aku pusing!" Tutur Nina.


"Kalau kata jadian sih ga ada, tapi sikapnya skr menjurus ke sana, mau di bilang berasa pacaran, tapi kan aku ga tau gimana rasanya pacaran, hehe!" Jelas Manisya kepada Nina.


"Iyah aku ngerti, ngerti!" Nina menganggukkan kepalanya secara perlahan.


Suasana kelas saat itu sangat ramai, hingga membuat gaduh, Manisya dan Adam kala itu menjadi perbincangan di antara teman-temannya, dan kericuhan berhenti tatkala Guru mata pelajaran datang kedalam kelas.


Selama pelajaran Manisya tak bisa berkonsentrasi, fikirannya jauh melayang memikirkan bagaimana Adam bisa mengalami kecelakaan, Manisya juga merasa bersalah karena kecelakaan terjadi saat Adam hendak menjemputnya ke tempat kerja, kini Manisya sedang memikirkan untuk melanjutkan pekerjaannya atau tidak, jika ia melanjutkan pekerjaannya, kemungkinan besar setiap hari Adam akan datang menghampiri nya, jika tidak di lanjutkan, ia akan kesulitan untuk melanjutkan pekerjaannya.


Ditengah lamunannya, Guru yang sedang memberikan pelajaran tiba-tiba memanggil Manisya.


"Manisya!"


Tak Ada jawaban.


"Manisya!" Menaikkan nada suaranya.


"Manisya!" Nada suara pak guru semakin meninggi.

__ADS_1


Manisya terkejut dengan panggilan pak Guru, kemudian menjawab dengan segera.


"Adam pak!"


__ADS_2