Pelangi Cinta

Pelangi Cinta
Handphone yang Tertinggal


__ADS_3

"Hati - hati di jalan Adam!" Ucap Manisya sambil berjalan mengantar Adam ke depan pintu, setelah Adam berpamitan pulang dengan kedua orangtuanya.


"Masuklah, ini sangat dingin!" Ucap Adam sambil memasang helm dan menaiki sepeda motor miliknya, kemudian Adam menekan tombol start yang membuat mesin motornya seketika menyala.


Manisya menatap ke arah Adam dengan senyuman lebar di bibir tipisnya.


"Aku pulang dulu!" Teriak Adam sambil berlalu meninggalkan Manisya yang berdiri di depan pintu.


"Menjijikkan sekali!" Ucap Gibran yang memperhatikan gerak-gerik Manisya dan Adam.


"Makan nya Punya Pacar Dong!" Ucap Manisya sambil menarik pipi Gibran.


"Memang kalian pacaran!" Tatap Gibran dengan bola matanya di sudut kan ke salah satu sisi.


"Tidak, Hehe!" Kekeh Manisya, sambil merebahkan badannya di atas kursi tepat di samping Gibran.


"Kamu denger kan, Apa kata Adam tadi?" Manisya mengingatkan Gibran.


"Memangnya dia bilang apa?" Gibran pura-pura lupa.


"Jangan macem-macem sama kakak mu yang cantik ini, atau dia akan menonjok mu!" Ucap Manisya dengan mengepalkan satu tangannya, dengan satu tangannya lagi terlihat menekan bagian dahinya.


Gibran menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tangan yang berpangku pada dadanya kemudian berkata, "Kalian sama-sama gila!"


"Ngapain Lo?" tanya Gibran, melihat Kakak perempuannya yang terbangun mendekatinya, wajah Manisya sengaja ia dekatkan kepada Gibran.


"Galak mu itu mirip sekali dengan Adam, membuatku ingin mencium mu!" Manisya sudah bersiap memegang wajah Gibran untuk segera mencium pipinya, saat itu Gibran memberontak menghindari Manisya, namun berontak nya sudah tak berguna, Wajah Gibran sudah terkunci ditangan Manisya, sehingga Gibran hanya bisa pasrah membiarkan dirinya dihujani ciuman oleh Manisya.


"Sialan!" Ucap Gibran dengan mengusap pipinya, kemudian berlari menjauhi Manisya karena Manisya yang terlihat sudah bersiap hendak mencium pipinya kembali.


Melihat Adik laki-lakinya yang ketakutan membuat Manisya terkekeh di buatnya, Manisya merebahkan kembali Badannya di atas kursi, karena memang kepalanya kala itu masih terasa berputar.


"Apa itu?" tatap Manisya dari kursinya yang melihat sebuah benda tergeletak di atas meja.


Manisya yang tertidur, kemudian terbangun saat melihat sebuah benda yang tak asing baginya, di raihnya benda tersebut menggunakan tangan kirinya, kemudian membolak-balik kan benda tersebut saat berada di tangannya.


"Ponsel Adam ketinggalan?" Ucap Manisya mengerutkan keningnya.


"Iyah ini ponsel milik Adam!" Manisya membulatkan kedua bola matanya setelah yakin betul, pemilik ponsel itu adalah Adam.


"Dia lupa membawa ponselnya!" Ucap Manisya sambil berdiri melangkahkan kakinya menuju kamarnya.


Setelah berada di dalam kamarnya, Manisya merebahkan tubuhnya kembali di atas kasur, menatap sebuah ponsel yang ia simpan tepat di pinggir wajahnya.


"Ponsel Adam tertinggal!" Manisya tersenyum melihat benda berukuran kecil itu.


"Drrt, Drrt, Drrt!" Sebuah panggilan datang dari ponsel Adam, hanya sebuah nomor yang tertera di sana tanpa sebuah nama di di bawah atau di atasnya.


Manisya hanya menatap ponsel tersebut, membiarkan sebuah panggilan pada ponsel Adam berhenti dengan sendirinya, "Siap ya yang menelepon?" Tanya Manisya masih menatap ponsel tersebut.


"Drrt, Drrt, Drrt!" Ponsel milik Adam bunyi kembali, nomor yang sama persis dengan panggilan sebelumnya, Manisya mengerutkan keningnya mencoba menebak, siapa yang menelpon Adam saat itu, namun dengan berbagai pertimbangan, Manisya memutuskan untuk tidak menjawab panggilan telepon tersebut hingga panggilan pun berhenti dengan sendirinya.


"Apa penting?" Pertanyaan yang muncul dalam benaknya.


"Drrt, Drrt, Drrt!" Suara panggilan pada ponsel Adam kembali, Manisya menatapnya sesaat, dengan pikirannya yang memutar, akhirnya Manisya memutuskan untuk mengangkat panggilan tersebut.


"Sepertinya sangat penting!" ucap Manisya sambil memegang ponsel


milik Adam, kemudian menempelkan ponsel tersebut dengan telinganya.


"Hallo!" Ucap Manisya menjawab panggilan tersebut.


"Hallo!" Jawab seseorang dari balik panggilannya.


"Saya temannya Adam, kebetulan ponselnya tertinggal di sini!" Tutur Manisnya kepada orang yang menelpon Adam itu.


"Teman?" Tanya orang tersebut, sudah bisa di pastikan jika orang yang sedang berbicara adalah seorang laki-laki.


"Iyah aku temannya Adam!" Manisya menegaskan kembali perkataanya pada seseorang dengan suara beratnya itu.


"Ada perlu apa ya, akan aku sampaikan nanti!" tutur Manisya bermaksud memberi sebuah penjelasan kepada orang tersebut.


"Kamu tidak mengenali suaraku?" ucap laki- laki tersebut dari balik ponsel.


Manisya terdiam sesaat, mencoba mengingat suara berat yang sering ia dengar jika berada di sekolah, setelah mengingatnya, Manisya membelalakkan kedua matanya, menutup mulutnya menggunakan salah satu tangannya.


"Adam?" Ucap Manisya dengan sedikit mengencangkan suaranya.


"Kamu Adam kan?" Ucap Manisya dengan menarik kedua sudut bibirnya.


"Kamu akan mendapat hukuman jika salah menebak!" Kata laki-laki tersebut dari balik ponsel yang menempel pada telinga Manisya.


"Tapi aku tidak salah menebak kan?" Jawab Manisya mengedepankan bibir tipisnya.


"Kamu hampir salah!" Jawab Adam mengisi suara di telinga Manisya.

__ADS_1


"Tidak!" Sanggah Manisya menjawab perkataan Adam.


"Kenapa begitu lama mengangkat teleponnya?" tanya Adam, karena di panggilan ke tiga Manisya baru mengangkat teleponnya.


"Aku takut bukan kamu yang menelepon!" Jawab Manisya dengan seadanya.


"Kenapa takut?" tanya Adam.


"Tidak kenapa-napa, hanya tidak enak saja, jika ada yang menelpon pada ponselmu tapi aku yang menjawabnya!" Manisya memberi sebuah penjelasan.


"Jika ada yang bertanya, kenapa ponsel mu ada padaku bagaimana?" Ucap Manisya.


"Kamu hanya perlu menjawab, aku pacarnya!" Jawab Adam memberikan sebuah isyarat.


Mendengar perkataan Adam, rasanya membuat jantung Manisya berhenti untuk sesaat, seluruh badannya yang saat itu memang sedang lemas, mendadak lebih lemas dari sebelumnya, tubuhnya yang baru saja reda dari demam, seketika merasakan panas di sekujur tubuhnya.


"Tidak, aku tidak akan menjawab seperti itu!" Jawab Manisya.


"Lantas?" tanya Adam dari balik ponselnya.


"Aku akan menjawab, aku istrinya!" Ucap Manisya, sambil bercanda, menutupi perasaannya yang tak menentu saat itu.


"Terserah!" Ucap Adam.


"Terserah?" tanya Manisya mengangkat satu alisnya, ia kembali di buat bingung dengan sikap Adam.


"Baiklah jika begitu aku akan menjawab sesuka hatiku, hehe!" tutur Manisya sambil tertawa kecil membalas ucapan Adam dari balik ponsel yang menempel pada telinganya.


"Kamu punya dua nomor?" tanya Manisya.


"Tidak, ini aku pinjam punya Pak Komar, aku akan membawanya besok ke rumahmu!"


"Baiklah, kalau mau aku akan menyuruh Gibran untuk mengantarkannya untukmu!" Manisya memberikan sebuah pilihan kepada Adam.


"Tidak perlu, simpan kan untuk ku, aku akan kesana untuk membawa nya besok!"


"Baiklah kalau begitu, ponsel mu aman bersamaku!" ucap Manisya dengan menarik kedua sudut bibirnya.


"Istirahat lah, Tutup saja telepon nya!" perintah Adam kepada Manisya yang menyuruhnya untuk menutup ponselnya terlebih dahulu oleh Manisya.


"Adam?" tanya Manisya dari balik ponsel Adam yang ada pada dirinya.


"Ya?" Jawab Adam dengan cepat tanggap menanggapi pertanyaan Manisya.


"Memangnya selama ini aku tidak baik kepadamu?" tanya Adam.


"Tidak, tidak bukan begitu!" Jawab Manisya menanggapi perkataan Adam.


"Aku akan bertanya yang lain saja, sepertinya aku salah bicara!" Manisya mengerutkan bibirnya.


"Apa lagi?" tanya Adam menjahili Manisya.


"Aku tahu, kamu menyukaiku kan?" Tanya Manisya yang begitu berterus terang kepada Adam.


"Tidak!" jawab Adam sangat singkat.


"Aku tahu kamu berbohong!" Ucap Manisya.


"Jujur saja!" kata Manisya masih belum puas dengan jawaban Adam.


"Aku bilang tidak!" Adam masih keukeuh dengan jawabannya.


"Bohong!" Manisya masih belum puas dengan jawabannya.


"Aku tahu kamu tidak menyukaiku kan, tapi kamu sangat sangat menyukaiku, dan sayang padaku kan, hehe!" Manisya terkekeh dengan perkataannya sendiri, yang begitu berani kepada Adam.


"Iya!" Ucap Adam, mendengar ucapan Adam membuat Manisya mematung.


"Aku bilang iya!" Adam memastikan kembali ucapannya.


"Kamu dengar, aku bilang iya!"


Manisya tak berkomentar sedikitpun, ia hanya terdiam mencerna apa yang di katakan Adam kepadanya saat itu.


"Apa, apa kamu serius?" tanya Manisya.


"Apa aku terdengar sedang bercanda!" Ucap Adam dengan penuh kepastian.


Manisya terdiam kembali tak memberi komentar.


"Hallo,halo!" Adam memanggil Manisya, namun tak ada jawaban.


"Halo!"


Manisya masih mematung, tak menjawab panggilan Adam.

__ADS_1


"Kamu harus bertanggung-jawab, aku bisa tidak tidur malam ini!" kata Manisya secara tiba-tiba dari balik ponselnya, dengan perasaan yang begitu gembira Manisya berucap kala itu.


"Jika kamu, tidak ingin aku menarik kembali kata-kataku, kamu harus tidur nyenyak malam ini!"


"Sepertinya itu akan sulit!" Jawab Manisya.


"Pokoknya aku gak mau tahu, kamu harus tidur nyenyak malam ini, kalau tidak, aku akan menarik kembali ucapan ku!"


"Selalu saja mengancam!" Protes Manisya.


"Iya iya, aku akan tidur nyenyak malam ini!" Manisya tersenyum lebar masih mengingat Adam yang berkata iya.


"Tutuplah telepon nya, dan tidurlah!" Ucap Adam.


"Iyah aku akan menutup teleponnya sekarang!"


"Kamu harus janji dulu, kamu ga akan menarik kata-kata mu yang tadi!"


"Kata - kata yang mana?" tanya Adam menjahili Manisya, ia menarik salah satu sudut bibirnya, membayangkan bagaimana wajah Manisya saat itu.


"Kamu menyebalkan!" ucap Manisya.


"Iya aku tidak akan menarik kata-kataku!"


"Aku janji!"


"Nah gitu dong!" Kata Manisya menarik kedua sudut bibirnya dengan sempurna.


"Em, terimakasih Adam, Aku tutup ya!"


"Iya!" ucap Adam, setelah itu Manisya memutuskan panggilan telepon tersebut.


Setelah menutup panggilan telepon, Manisya melompat-lompat di atas kasur miliknya, Menarik kedua sudut bibirnya dengan teriakan teriakan kecil saah melompat, sesekali Manisya juga menghujani ciuman kepada ponsel Adam yang kini di pegang olehnya, malam itu, merupakan malam yang terindah baginya, selama tiga tahun mengenal Adam.


"Ya tuhan aku senang sekali!" Ucap Manisya mengekspresikan perasaannya.


"Apa yang harus aku lakukan aku sangat senang sekali!" Manisya berkata sendiri di dalam kamarnya.


Saat itu, Manisya yang awalnya merasakan seluruh badannya yang lemas karema ia sedang sakit, tiba-tiba saja rasa sakit itu menghilang, berganti dengan rasa bahagia yang ia rasakan saat ini.


"Aku ingin memeluk Adam!" Ucap Manisya yang kini telah berbaring kembali di atas kasur dengan memeluk sebuah guling.


Malam itu, sesuai dengan yang di pesan oleh Adam, Manisya tertidur lebih awal dengan sangat pulas, Manisya hanya berharap malam cepat berganti, agar cepat bertemu kembali dengan Adam.


Pagi itu, Manisya terbangun oleh sapuan Angin dari arah jendela kamarnya, yang memang sengaja dibiarkan terbuka oleh Ibu Dewi yang tak lain adalajh ibu kandung Manisya. Manisya membuka kedua matanya secara perlahan, menatap kosong kedepan, kemudian tersenyum saat mengingat perkataan Adam kepadanya memalui saluran telepon.


Manisya mengentikan lamunannya saat melihat sebuah jam yang menempel pada dinding kamarnya, saat itu watu menunjukan pukul 06.00. Manisya bergegas mengambil sebuah handuk, kemudian memasuki kamar mandi keluarganya, setelah itu Manisya bersiap memakai seragam sekolahnya, Saat ia sudah menggendong tas miliknya Manisya segera keluar dari kamarnya menuju meja makan.


Saat mengahmpiri keluarganya di meja makan, semua mata yang ada di meja makan itu menatap kearahnya.


"Mau kemana Lo?" tanya Gibran dengan mengangkat salah satu alisnya.


"Ya sekolah lah!" Jawab Manisya kepada Gibran, sambil melahap sepotong roti yang tersaji di atas meja makan.


"Kamu itu masih sakit Loh sayang!" ucap ibunya memberi nasehat kepada Manisya.


"Manisya udah sembuh ko Bu, ibu tenang aja!" Jawab Manisya, menyembunyikan kebahagiaannya.


Sebetulnya kondisi tubuh Manisya saat itu memang sudah agak membaik, namun tidak disarankan untuk sekolah terlebih dahulu, awalnya Manisya hari itu tidak berencana untuk pergi ke sekolah, namun karena mendapat sebuah telepon yang membahagiakan, Manisya merubah rencananya, dari tidak akan masuk sekolah, menjadi berangkat ke sekolah, rasa rindu kepada Adam lah yang membuatnya ingin berangkat ke sekolah, walaupun kondisi badannya tidak terlalu baik.


"Iya sayang istirahatlah sehari lagi!" Giliran sang ayah yang mengungkapkan rasa khawatirnya.


"Ga papa ko Ayah, Ibu, Manisya udah sembuh kok!" Manisya mencoba menenangkan ayah dan ibunya yang terlihat sangat khawatir kepadanya.


"Gua tahu kenapa Lo pengen buru-buru masuk sekolah!" Kata Gibran.


"Apa coba?" tanya Manisya menantang Gibran.


"Ibu, Ayah, anakmu yang centil ini sedang kasmaran, itu kenapa walaupun sakit dia pengen kesekolah!" Ucap Gibran kepada ayah dan ibunya, mencoba menebak fikiran Manisya.


Saat mendengar perkataan Gibran, Manisya melebarkan kedua matanya menatap ke arah Gibran, kemudian segera menutup mulutnya menggunakan tangan Manisya.


"Jangan berisik!" Ucap Manisya memperingati Gibran, yang seolah-olah tahu apa yang ada di dalam hati dan fikirannya.


Menyaksikan kedua anak mereka bertingkah, ayah dan ibu Manisya hanya menggelengkan kepalanya.


Setelah itu, Manisya berpamitan untuk segera berangkat menuju sekolahnya.


Saat sudah sampai tepat di depan kelasnya, Manisya berjalan mengendap-endap seolah sedang menghindari sesuatu, dilihatnya kondisi kelas pagi itu, Namun masih nampak sepi, tak terlihat siapapun dari dalam kelas, kursi-kursi terlihat berjejer rapih terismpan di atas bangku, saat itu dalam hati Manisya ada perasaan bergejolak ingin segera beretemu dengan Adam, namun setelah Manisya datang kesekolah perasan bergejolaknya tiba-tiba saja berubah menjadi perasaan malu dan canggung jika harus beretemu dengan Adam.


"Ya ampun Manisya, bisa-bisanya kamu memaksakan sekolah hari ini, bikin malu saja!" Manisya menggelengkan kepalanya, tepat di pintu masuk kelasnya, ia baru menyadari hal bodoh yang di lakukannya.


"Sebaiknya aku pulang saja!" Manisya tiba-tiba berbalik badan, dan "Bruk!" ia menabrak seseorang.


"Mau kemana kamu!"

__ADS_1


__ADS_2